Ketika Hati Bicara

Ketika Hati Bicara
Bab 36 Bimbang


__ADS_3

Hari-hari berganti,semakin terbiasa hidup di perantauan membuatku merasa waktu cepat berlalu,aktifitas monoton tak lagi kurasakan menjadi beban,semua mengalir begitu saja,begitu pun antara Aku dan Dion,,


Meski aku tak yakin dengan hati,,setidak nya aku mencoba membuka hati perlahan-lahan.


Aku percaya pepatah lama,cinta akan tumbuh karena terbiasa.


Mungkin sekarang belum,tapi mungkin jika kelak bertemu cinta itu akan hadir.


Hampir di penghujung tahun,itu berarti tak berapa lama lagi aku akan mengakhiri masa kontrak kerja ku di kota ini,ada bimbang yang tiba menjerat hatiku,antara pulang dan bertahan..antara cita dan cinta..antara angan dan rindu..semua menorehkan rasa yang tak bisa ku fahami dengan kewarasan,,ya...ini hampir saja membuat ku gila.


Aku rindu orang tuaku,,aku rindu tanah kelahiranku,aku rindu rumah ternyamanku,,namun bagaimana dengan impian ku? bukankah niat awalku untuk melanjutkan pendidikan ke universitas,,tapi sepertinya semua hanya sebatas mimpi.


Hampir 2 tahun aku berada disini,,,tak ada tanda-tanda aku mampu merealisasikan cita-cita itu.


"Ahh...sudahlah...lupakan universitas...lupakan fakultas sastra..lupakan cita-cita.!!"


Aku menarik nafas panjang,,lalu menghempaskan tubuh ku di atas tempat tidur,,terbayang wajah sendu mama yang semakin menua,mereka benar-benar mengharap aku kembali ditengah-tengah mereka seperti dulu,teringat saat semalam mama menelpon dengan isaknya bilang bahwa mereka merindukan aku.


Aku menutup muka ku dengan telapak tangan dan mengusap perlahan,kemudian beranjak ke kamar mandi,hari ini aku kerja shift malam.


Selepas magrib,Aku dan puluhan karyawan lain nya berangkat menuju tempat kerja.


"Din,,gimana nyambung atau pulang??"


Pertanyaan Indah memecah lamunanku di dalam angkot.


"Eh..kayak nya pulang deh Ndah,,kangen orang tua."


Jawab ku pelan.


"Kamu gak sayang karir,,kabar nya yang nyambung bakal di promosi loh Din"


"Biarin deh Ndah...mungkin rejeki ku bukan disini"


"Okelah kalo kamu anggap gitu"


"Kamu??"


"Sepertinya masih betah disini Din"


"Oke,,sukses ya Ndah..."


Angkot berhenti di depan gerbang perusahaan.


Aku berjalan sedikit cepat,bukan karena terlambat tapi aku hanya ingin lebih lama bersantai di rest room sebelum jam kerja masuk.


Baru saja duduk,ponselku bergetar,Aku tahu..ini pasti pesan dari Dion,seperti biasa Dion akan mengirimkan pesan manis sekedar mengucap selamat malam dan selamat bekerja,,tapi aku salah,ternyata itu bukan Dion,,


Sebuah nomor baru.

__ADS_1


"Selamat malam Din,lagi sibuk??"


Masih dengan perasaan penasaran aku membalas,


"*Maaf,siapa ya??"


"Ari*"


Balasan pendek itu cukup membuatku bagai tersengat aliran listrik tegangan tinggi.


Seketika bayangan dan kenangan masa lalu yang pernah ada kembali berkelebat di pikiran ku.


Sakit dan luka yang pernah ada seperti terbuka kembali


Ada apa??kenapa dia muncul lagi,,pertanyaan itu memenuhi isi kepala ku.


Aku memilih untuk tidak melanjutkan berbalas pesan,dan segera masuk ke area kerja ku dengan hati yang entahlah bagaimana aku menjabarkan nya.


***


Hampir tengah malam,sebelum break makan malam,semua yang akan finish kontrak di kumpulkan untuk di minta kepastian tentang pulang atau menyambung kembali kontrak kerja.


Dengan penuh kemantapan dan keyakinan,aku mengutarakan kepada atasan ku bahwa aku memilih menyudahi kontrak kerja ku,itu artinya,bulan depan aku bisa pulang.


Selepas makan malam,aku memilih untuk beristirahat di rest room,sembari memainkan ponselku,,tak berapa lama aku memutar-mutarkan ponsel diantara jemariku sebuah panggilan masuk,dan aku tersentak ketika melihat deretan angka tersebut adalah angka yang mengirimkan ku pesan tadi.


"Ari???"


Seketika,tubuhku berkeringat dadaku berdegup kencang,antara benci dan rindu yang telah menjebakku mlm ini.


Dengan jari gemetar,,ku tekan tombol jawab.


Terdengar suara sapaan dari seberang sana,suara halus lembut yang sampai detik ini masih ku hafal,


"Hai....Din.."


"Ha..Haii.."


Jawab ku gugup.


"Lagi masuk malem ya?"


"Ehm..iya..eh..ehmmm..maaf,ada apa ya Ri nelpon?"


"Oh..itu,,ehm...enggak sih,,cuma pengen nelpon aja?apa aku ganggu?"


"Gak juga sih...cuma aneh aja"


"Sebener nya,,aku kangen kamu..!"

__ADS_1


"Hah..kangen??kok bisa?..kamu lagi gak salah ngomong kan??"


"Ya enggak lah,,ehmm...masih boleh kangen kan?atau kangen kamu dah milik orang lain??"


Ditodong pertanyaan seperti itu,,terasa sekali perih yang aku tak tau dimana luka nya.


"Maaf Ri...aku mau kerja,,udah dulu ya...bye"


Aku mematikan ponselku,tanpa menunggu jawaban dari Ari terlebih dahulu.


Aku memeluk lututku di sudut ruangan,menenggelamkan mukaku,memejamkan Mata mencoba mencari asal perih yang baru saja terasa menyayat.


Ada rindu yang sengaja mempermainkan hati ku,namun aku tersesat saat menyelami nya lebih dalam,,rindu yang tak pantas lagi kurasa,rindu yang seharusnya ku hempas.


Tiba- tiba teringat semua yang pernah ku lalui dimana Ari lah orang yang selalu ada untuk ku kala itu,orang yang selalu siap dengan segala kemauan ku,,orang yang memahami keras kepalaku.


Dan apa mungkin,selingkuh nya Ari kala itu karena kesalahan ku?


"Ah....tidak!!,,tidak ada pembenaran apapun untuk sebuah perselingkuhan!!"


Aku menggelengkan kepalaku.


Kembali kutatap ponsel ditangan ku,menjelajahi galeri koleksi foto,,Dan jari ku terhenti pada sebuah potret laki-laki yang menurut ku adalah takdir.


"Dion....kemana dia,,dari kemarin tak ada kabar,,biasa nya seperti jadwal minum obat nelponin aku"


Ujarku dalam hati.


"Apa,,aku telp duluan ya?"


Batinku.


"Ahh..enggak deh,,nanti malah ge-er"


Gerutu ku dalam hati.


Seperti ada kontak,tiba-tiba saja ponsel yang baru saja ku masuk kan ke saku bergetar,


Dion nengirimiku pesan.


"**.Dek..maaf ya aku gak ada kabar,,tadi hape nya mati,terus aku ketiduran"


"Iya,gak papa*"


Aku tak pernah basa basi,dan selalu pendek ketika mengirimi Dion, atau membalas pesan Dion,mungkin aku terbiasa seperti itu ketika bertahun-tahun menjalani hubungan dengan Ari.


***


Jam dinding ruang kerja ku menunjuk kan pukul 6 pagi,tangan- tangan terampil kami sebagai operator menjadi lebih cepat bergerak,terlihat juga beberapa operator semakin sibuk mondar-mandir saling membantu dalam mengejar target yang belum tercapai, sementara hanya tersisa satu jam lagi,suara riuh mulai terdengar dari ujung line,berteriak- teriak memberi semangat,pemandangan rutin ketika menjelang jam pulang,hal yang mungkin akan aku rindukan ketika aku tak lagi di barisan mereka.

__ADS_1


Ada sedih yang menggantung,ketika mengingat aku akan menyelesaikan kontrak,,meninggalkan sahabat,team dan mesin kesayangan yang 2 tahun ini menjadi sahabat sejati ku siang malam.


Bersambung***


__ADS_2