Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
Flora Aurelia


__ADS_3

Flora Aurelia nama gadis itu berparas cantik tapi cuek. Memiliki bentuk tubuh ideal dengan tinggi badan 167 cm dengan berat badan 50 kg. Gadis yang biasa di sapa Flo ini memiliki mata yang hitam dengan bulu mata yang panjang dan lentik serta dengan alis yang tebal membuatnya banyak disukai lawan jenisnya. Gadis yang berambut panjang ikal ini dengan bentuk bibir yang sedikit tebal membuatnya terkesan seksi.


Tapi memiliki kepribadian yang tegas dan sembrono membuat para cowok-cowok berfikir 2 kali kalau ingin mendekati dirinya. Dia juga memiliki sisi yang aneh yaitu sangat menyukai drama korea. Dia merasa hidupnya akan hampa tanpa menonton drama korea dalam sehari.


Flora akan senang menghabiskan waktunya seharian di dalam kamar menonton drama korea. Terkadang dia sampai lupa makan, bahkan dia bisa sampai lupa jam jika sudah di depan laptop.


"Hidup itu hanya sekali jadi harus di manfaatin dengan benar, buat hidupmu bahagia dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti saya." Katanya sembari tersenyum tiap kali di tanya oleh Ibunya


"Flo, bukan drama korea yang akan menghidupimu, mending kuliah benar-benar trus cari kerja," nasehat Ibunya.


"Ma, Flo kan masih mudah, bukan saatnya mikirin kerjaan toh kuliahku juga baik-baik saja," ujarnya ketus membuat Ibunya hanya geleng-geleng kepala.


"Hmmm,,benar-benar keras kepala, ya udah terserah. kalau begitu ayo bangun mandi trus bantuin Mama di dapur."


"Ntar lagi ma, ceritanya belum kelar nanti Flo bisa mati penasaran kalau langsung berhenti sekarang," ujarnya lagi dengan nada manja.


"Yaa ampun anak gadis Mama, nanti juga bisa dilanjut lagi."


"Oppa...sorry ya aku tinggal dulu udah dipanggil Mama," katanya sambil mencium gambar Ji Chang Wook pada layar laptonya.


Flora pun berlalu dengan lesuh mungkin karena seharian di kamar tanpa terkena papasan sinar matahari.


Flora hanya tinggal berdua dengan Ibunya di sebuah rumah sederhana dengan desain kayu yang mendominasi bangunan itu membuatnya terkesan mewah. Ayahnya pergi meninggalkannya saat umurnya baru menginjak 12 tahun dan sejak saat itu Dia tidak pernah mencari ayahnya justru kata "Ayah" akan membuat adanya sesak dan menjadi kelemahannya.


Siang itu benar-benar panas, Flora enggan ke kampus mungkin bukan karena teriknya matahari tapi karena tidak sanggup meninggalkan layar laptopnya. Ponsel Flora dari tadi berdering tapi dia malas merespon karena dia tau yang menelponnya adalah sahabatnya Davina.


"Ngapain sih nelpon? gue baik-baik aja kok," katanya ketika mengangkat telponnya.


"Flo, loh di mana, cepat ke kampus udah mulai nih?"


"Malas Vina, panas tau."

__ADS_1


"Pokoknya loh harus ke kampus sekarang ada berita besar. Cepat yah gue tunggu, tidak pake tapi. Ok!" ujarnya di ujung telpon.


"tu..tung..apaan sih Vina dia gak tau apa Gue lagi asyik mandangin calon pacar Gue Cha In Woo."


Flora pun bersiap-siap dengan mengenakan celana Jeans robek dipadukan dengan kemeja kotak-kotak warna hitam keabu-abuan dengan rambut yang disengaja dibuat bergerai.


Flora tidak membutuhkan waktu lama untuk berdandan hanya pelembab dan lipstik seadanya, dia tidak suka berbelit-belit dalam hal penampilan. Dia segera mengenakan sepatu snikernya dan menuju skuternya yang di beri nama Bimbo.


Tidak lama kemudian Flora menuju ke Kampus dengan menggandeng ranselnya disalah satu bahunya. keliatannya tomboy tapi justru penampilannya yang seperti itu justru membuatnya terlihat anggun dan seksi. Di depan Kampus Universitas Hasanuddin Davina sedang menunggunya dengan tidak tenang.


"Hai.." Ujarnya lemas.


"Akhirnya loh nyampe juga. kita harus bergegas ke kelas," sambil menyeret Flora yang masih kebingungan.


"Tapi kan gue baru nyampe, capek tau."


"Nanti aja capeknya kita ke kelas aja dulu."


"Terserah loh mau bilang apa, cepat Lila udah nungguin!"


Sepanjang perjalanan menuju kampus terlihat para mahasiswi kegirangan di depan kelasnya


"Ada apa yah, tumben rame," katanya dalam hati.


Flora benar-benar terheran-heran melihat tingkah Mahasiswi yang huru hara itu.


"Minggir dong, gue mau masuk kelas nih!"


"Biasa aja kali gak usah ngegas," jawab seorang gadis di depan pintu kelasnya


"Waduh nantangin, ini kelas gue, loh gak ada kerjaan datang ke kelas gue. Noh baca baik-baik kelas PSIKOLOGI jadi minggir sana gue mau lewat!" Kemudian beranjak ke dalam kelasnya.

__ADS_1


"Dasar sialan, emang dia pikir dia siapa, gadis aneh," ujar seorang mahasiswi kemudian berlalu meninggalkan kelas Flora.


Semua gadis di kelasnya seperti orang yang kesurupan dengan pandangan yang hanya mengarah pada satu titik di sudut kelas.


"Hello,,teman-teman liatin siapa sih sampai segitunya."


"Loh dari mana aja sih, di tungguin dari tadi," Lila terlihat tidak sabaran.


"Emang loh gak liat apa cowok di sudut itu ganteng bangat," Davina menunjuk ke arah si cowok.


"Tau tuh Flora, gak pekah bangat," sanggah Lila.


"Cowok mana? perasaan tidak ada yang spesial deh," kemudian melihat ke sudut yang ditunjuk Davina.


"Emang loh gak liat, di sana noh disudut kelas," Lila memegang kedua pipi Flora dan menghadapkannya ke arah si cowok.


Flora pun menghampiri cowok yang ditunjuk temannya dengan menyilangkan tangannya di dada dan mulai berbicara.


"Eh, loh, bangun kelas udah mulai nih. Coba gue mau liatin wajah loh yang udah bikin semua Mahasiswi tidak berkedip," katanya lagi sambil menendang bangkuh si cowok


tapi rupanya tidak ada respon dari yang diajak bicara.


"Wah benar-benar nih, hello kalau loh gak bangun sekarang gue tendang nih!" ujar Flora mulai emosi sambil menggerai rambutnya dan meniup rambut poninya dengan bibirnya.


"Huaa, siapa sih? benar-benar mengganggu," ujar si cowok sembari beranjak dari tidurnya dan berdiri tepat di depan Flora. Mata mereka tidak sengaja beradu.


Pandangan, duk..duk..duk entah jantung siapa yang berdegup kencang saat itu. Pandangan itu begitu lama dan keduanya hanya terpaku dalam diam. Tidak pernah Flora memandang seorang cowok dengan begitu lama. Mereka tidak sadar kalau orang-orang di sekitarnya memperhatikan mereka. Entah apa arti dari pandangan itu Flora pun tidak tau.


"Flo..Flo..dosen udah datang tuh," Davina memanggilnya dengan pelan.


Tapi Flora seakan menghiraukan teriakan sahabatnya rupanya dia masih terjebak dalam pandangan itu. Si cowok pun sepertinya enggan berlalu dari pandangan itu. Ada sesuatu di sudut mata Flora yang tidak bisa di artikannya. Baru kali ini dia memandang wanita dengan pandangan mata yang seperti itu. Rasa benci, sedih, bahagia, dendam semuanya seakan dirasakannya tapi justru membuatnya kebingungan.

__ADS_1


"Siapakah dia, ada apa denganku, kenapa gue tidak dapat berpaling dari matanya?" ujar si cowok dalam benaknya.


__ADS_2