Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
Gue Tidak Peduli


__ADS_3

Leo yang bingung dengan semua perkataan Flora mulai berpikir bahwa telah terjadi sesuatu yang salah. Dia yakin bahwa tidak mungkin Flora meninggalkannya seandainya tidak ada masalah.


Di kafe Zidan tampak Leo sedang memandang Enruw serius. Tapi dia sepertinya masih asyik dalam diamnya hanya matanya yang terus menatap Enruw.


"Kalau loh gak ngomong sekarang, gue ninggal nih! Pekerjaan gue masih banyak di kantor," Enruw melihat jam tangannya.


Tapi Leo masih saja diam, bahkan dia sama sekali tidak mengindahkan ucapan Enruw.


"Woi...! Loh masih di sana? Enruw menggerakkan badan Leo.


"Gue masih di sini Nruw, tapi mungkin jiwa gue udah pergi sekarang," jawabnya lemas.


"Lebay loh! Mau ngomongin apaan?"


"Flora Nruw, gue udah putus sama dia."


"Gue udah tau kali, gue pikir loh bakalan cerita ke gue dari awal tapi kenapa baru sekarang." Enruw terlihat kecewa.


Leo bangkit dari sandarannya dan duduk tegap menghadap Enruw.


"Bagaimana loh bisa tau?"


"Flora udah cerita ke gue sejak awal kalian putus. Tapi loh yang sahabat gue gak pernah cerita apa-apa," Enruw terlihat kesal.


"Maaf, gue terlalu malu untuk cerita ke loh, gue gak mau loh ngejek gue yang selalu gagal," Leo kembali bersandar.


"Emang gue pernah mengolok-olok loh dengan masalah percintaan loh itu?"


"Gak pernah sih, gue gak ngerti kenapa Flora mutusin gue?"


"Mungkin karena ini," Enruw memutar sebuah rekaman.


"Kenapa? Emang kenapa kalau gue yang menghancurkan hubungan mereka?" tanya Raisa emosi.


"Gue suka liat asli loh yang kayak gini,"


"Apa salah Leo? Apa tidak cukup yang sudah kamu lakuin dulu?"


"Emang salah kalau gue menginginkan Leo kembali? Gue masih sayang sama dia."


Mendengar rekaman tersebut Leo menjadi semakin tidak mengerti.


"Ini maksudnya apaan Nruw?"

__ADS_1


"Loh bodoh atau emang tidak tau? Maksudnya, Raisa yang udah hancurin hubungan kalian."


"Gue tau kalau Raisa masih suka sama gue, tapi gue gak percaya bahwa dia dalang dari retaknya hubungan kami," Leo terlihat yakin.


"Apa loh seyakin itu? Raisa bukanlah gadis sebaik yang loh pikir. Apa loh lupa? Raisa sanggup melakukan apa saja untuk meraih tujuaannya. Kenapa loh terlalu naif Leo?" Enruw menggeleng-gelengkan kepalanya.


Leo terdiam dan kembali memikirkan semua yang telah terjadi sejak kedatangan Flora. Mulai dari kurangnya kesempatan untuk bertemu, Raisa yang selalucmengikutinya sampai putusnya dia dengan Flora.


"Tunangan. Mungkinkah Raisa yang mengarang cerita bahwa kami telah tunangan? Jadi selama ini Raisa berbohong ke gue. Hhsss...kenapa gue **** bangat?" Leo memukul kepalanya.


"Baru sadar loh?"


"Gue harus jelasin ke Flora tentang kesalahpahaman ini. Flora pasti sangat terpukul dengan kebongan Raisa. Tapi gue malah menuduh dia yang tidak seharusnya."


"Terus kenapa loh masih diam di sini? Apa loh masih mau membuang-buang waktu untuk berpikir padahal semuanya sudah jelas?" Enruw menatap Leo tajam.


"Tapi gue gak tau harus bagaimana sekarang, apa gue ke Raisa meminta penjelasannya atau ketemu dengan Flora untuk minta maaf dan menjelaskan semuanya?" Leo terlihat sedang berpikir.


"Menurut loh siapa yang lebih penting?"


"Baiklah, gue harus ketemu Flora dulu, urusan Raisa belakangan. Thank you, loh emang yang terbaik Nruw, gue sayang sama loh," Leo meraih tangan Enruw dan mengelus-elusnya.


"Apa-apaan loh, jijik gue. Mendingan loh pergi sekarang sebelum gue tabok kepala loh!" Enruw menarik tangannya dan badannya menjadi merinding karena geli.


Di kantin Kampus Flora dan kedua sahabatnya sedang asyik menikmati makan siang mereka. Davina dan Lila tampak serius dan tidak sabar menunggu Flora berbicara.


"Jadi...jadi gue menolak perasaan Bang Adrian," kata Flora kemudian melanjutkan makannya.


"Yaa..tapi gue udah yakin sih loh bakal nolak dia," ujar Lila.


"Kalah taruhan dong gue, padahal gue udah yakin bangat kalau loh bakal nerima perasaan Bang Adrian," Davina terlihat lesuh padahal jauh dilubuk hatinya dia sangat senang.


"What? Kalian taruhan untuk itu? Wah..kalian kelewatan bangat," Flora pura-pura kecewa.


"Sorry Flo, lain kali nggak lagi deh. Vin mana uang gue?"


"Separuh aja yah! Kantong gue udah tipis nih. Please...!" Davina tampak memohon.


" Yaa mau bagaimana lagi, tapi kantong gue juga minta di isi. Jadi please relain yah uangnya!" Lila mengedipkan kedua matanya tanda memelas.


"Dengan berat hati, gue harus menyerahkan sisa hidup gue ke loh," Davina menyerahkan uangnya dengan wajah menyesal.


"Kalian lebay bangat tau. Tolong dong traktir gue, boleh yah?" Flora juga mengedipkan kedua matanya memohon.

__ADS_1


Melihat tingkah Flora, mereka kemudian tertawa lepas.


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa loh nolak Bang Adrian? Gue pikir loh akan nerima dia sebagai jalan untuk ngelupain Leo," Kata Lila blak-blakan.


"Gue gak sehajat itu kali. Gue emang berusaha ngelupain Leo, tapi tidak dengan cara menjadikan Bang Adrian sebagai pelarian."


"Terus kenapa dong?" tanya Davina.


"Gue tidak mungkin menyakiti perasaan orang lain yang benar-benar tulus mencintai Bang Adrian. Gue tidak mau menjadi penghalang perasaan seseorang," Flora melirik Davina tersenyum.


"Maksud loh ada orang lain yang menyukai Bang Adrian?" tanya Lila.


"Loh tau kali kalau banyak yang menyukai Bang Adrian, jadi tidak heran kalau dia juga jadi idola di kampus kita."


"Gue jadi penasaran, siapa yang loh maksud itu."


"Nanti juga loh tau kok. Gays gue cabut dulu ya!" Flora beranjak dari duduknya dan meninggalkan mereka.


"Flo, makanan loh siapa yang bayarin?" teriak Lila.


"Biarkan dia pergi, nanti gue yang bayarin," Davina tersenyum.


Di Koridor Kampus Flora melihat Leo yang terlihat menghampiri dirinya. Dengan segera Flora berbalik dan mempercepat langkahnya untuk menghindari Leo.


"Flo, tunggu! Ada yang mau gue omongin," teriak Leo sambil mengejar Flora.


Tapi Flora justru semakin mempercepat langkahnya. Dia sama sekali tidak menghiraukan Leo. Dia hanya berusaha untuk tidak beurusan dengan Leo lagi.


"Flo, gue bilang berhenti! Gue gak bakal berhenti ngejar sampai loh berhenti."


Flora yang merasa tidak punya pilihan lain segera menghentikan langkahnya. Dengan perasaan kesal dia berusaha menahan dirinya.


"Ada apa Leo? Mau hina gue lagi?"


"Bukan seperti itu Flo, tapi ada sesuatu yang harus gue katakan. Selama ini terjadi kesalahpahaman diantara kita, semua yang Raisa katakan itu tidak benar."


"Sekarang apa lagi Leo? Apakah hinaan loh belum cukup?"


"Flo, gue minta maaf atas semua yang udah gue katakan sama loh. Tapi itu semua karena gue tidak tau yang sebenarnya. Semua yang dikatakan Raisa itu semua tidak benar, dia cuma ingin memisahkan kita."


"Apakah Raisa mencampakanmu, dan sekarang kamu mau kembali ke gue?" Flora menatapnya benci.


"Bukan seperti itu, gue gak pernah punya hubungan dengan Raisa," Leo berusaha menjelaskannya.

__ADS_1


"Maaf Leo, tapi gue udah gak peduli. Terserah loh mau pacaran atau gak dengan Raisa intinya gue gak peduli. Jadi tolong, jangan muncul di depan gue lagi," Flora berbalik dan meninggalkan Leo.


__ADS_2