
Leo hanya menatap Flora pergi. Dia tidak berusaha mengejarnya karena dia tahu bahwa dirinya yang bersalah. Leo merasa bahwa Flora berhak membenci dirinya tapi dia juga tidak akan membiarkan kesalahpahaman diantara mereka berlanjut. Leo mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dengan pesan teks.
Di Apartemen Leo tampak tenang menunggu seseorang datang.
"Hay Leo, apakah kamu merindukanku sampai kamu harus mengirim pesan?" Raisa memperlihatkan ponselnya.
Tapi Leo hanya menatapnya nanar. Raisa yang menangkap maksud dari tatapan mata Leo pura-pura tidak mengerti.
"Leo, gue juga merindukanmu, senang sekali rasanya akhirnya kamu mau menghubungiku juga," Raisa mendekati Leo dan bersandar di bahunya.
"Maksud loh apaan bilang ke Flora kalau kita tunangan?"
"Gue gak pernah bilang kayak gitu, gue cuma bilang ke Flora tentang hubungan pertemanan kita," Raisa masih saja berbohong.
"Terus maksud loh menghancurkan hubungan kami apaan? Loh kan yang ada dibalik putusnya gue sama Flora?" Leo menatap Raisa tajam.
Raisa yang mendapati dirinya sedang ketahuan berusaha melakukan pembelaan dan menyangkal semua tuduhan Leo.
"Aku gak mungkin melakukan itu Leo, aku tidak akan melakukan hal-hal yang kamu benci. Semua itu hanya fitnah untuk menjauhkan kita."
"Hentikan sandiwara loh! Gue muak dengan semua tingkah loh itu. Aku kamu, loh pikir gue suka loh manggil gue sopan. Gue bukan siapa-siapa yang harus loh panggil formal, itu justru membuat gue geli," Leo menatap Raisa sambil tersenyum sinis.
"Leo, aku cuma ingin menghargai kamu dengan panggilan yang formal. Tapi aku tidak pernah bermaksud untuk menghancurkan hubungan kalian. Aku tidak sehajat itu," mata Raisa berkaca-kaca.
"Gue bilang hentikan sandiwara loh! Kalau bukan karena hutang budi, gue juga tidak sudi bertemu loh," Leo menunjuk Raisa.
Raisa yang terpancing dengan perkataan Leo, tidak sanggup menahan kesabarannya. Dia akhirnya menunjukkan sifat aslinya.
"Kenapa? Kenapa emang kalau gue yang menghancurkan hubungan kalian? Gue bahagia bangat akhirnya kalian putus, bibir gue tidak mau berhenti tersenyum mengetahui kalian udahan," Raisa tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa loh lakuin ini?" Leo memegang kedua bahu Raisa dengan tatapan kebencian.
"Karena gue masih sangat menyukai loh, tapi loh hanya menatap Flora. Gue benci mengetahui loh yang sangat mencintai Flora. Gue juga ingin loh menerima gue kembali," Raisa memeluk Leo.
"Lepas Raisa! Sampai kapanpun gue tidak akan bisa menerima loh lagi. Loh yang membuat jarak diantara kita, loh yang menciftakan jurang pemisah jadi jangan coba-coba untuk mendekati gue lagi."
"Tolong kasih gue kesempatan! Gue akan memperbaiki semuanya. Tolong maafkan semua kesalahan gue!" Raisa akhirnya menangis.
"Baiklah gue akan memaafkan loh, tapi dengan 1 syarat, loh harus menjelaskan semua kesalahpahaman ini kepada Flora."
__ADS_1
"Baiklah, gue akan melakukan sesuai permintaan loh. Besok gue akan menemui Flora untuk menjelaskan semuanya."
"Gue pegang janji loh."
Raisa yang terdiam merasa dipermainkan oleh Leo. Dia tidak bisa menerima bahwa Leo tidak mengharapkannya lagi. Daripada melihat Leo dan Flora kembali bersama, dia lebih memilih untuk memisahkan mereka selamanya.
Raisa sudah menyusun rencana untuk mencelakai Flora. Dia menyewa seseorang untuk melakukan rencana jahatnya.
Pertemuan dengan Flora akhirnya datang juga.
Raisa sudah menunggu kedatangan Flora dengan rencana jahatnya. Leo yang sudah datang sejak awal terlihat melambaikan tangannya ke arah Flora di seberang jalan. Dia menjadi tidsk sabar untuk segera menemui Flora.
Akan tetapi ketika Flora hendak menyebrang, dari arah lain terlihat sebuah mobil yang melaju sangat kencang ke arah Flora. Leo yang menyadari hal tersebut segera memperingatkan Flora.
"Flo, awaaaass!" teriak Leo
Tapi rupanya Flora tidak mendengar teriakan Leo. Dia hanya berjalan dengan santainya tanpa melihat kanan kiri. Leo yang panik langsung berlari ke arah Flora untuk menolongnya. Dengan segenap kekuatannya dia mendorong Flora dan bruuukkk akhirnya Leo yang tertabrak.
Tubuhnya terhempas jauh dan kepalanya tepat jatuh mengenai sisi tembok di pinggir jalan. Flora yang melihat Leo tertabrak langsung mendekati Leo. Betapa syoknya dia melihat keadaan Leo yang mengenaskan. Darah segar mengalir tiada henti, Leo tidak sadarkan diri.
"Tolong, siapapun tolong!" teriak Flora histeris.
"Leo, loh harus bertahan! Jangan tinggalin gue!" isak Flora.
Tidak lama kemudian mobil ambulans datang dan membawa Leo menuju Rumah Sakit terdekat. Sedangkan Raisa yang mengetahui bukan Flora yang tertabrak melain Leo terlihat begitu marah. Dia segera mengikuti ambulans Leo.
Sesampai di Rumah Sakit, Leo langsung di bawah menuju ke ruang operasi. Flora terlihat begitu panik, dia hanya biss mondar-mandir di depan ruang operasi sambil menangis.
"Maaf, siapa wali pasien?" tanya seorang dokter yang menangani Leo.
"Aku Dok, apa dia baik-baik saja?"
"Pasien kehilangan banyak darah dan kami tidak bisa melakukan operasi karena itu. Kami harus mendapat donor darah segera.
"Ambil darahku aja Dok," Flora sangat cemas.
"Baiklah, ayo kita melakukan tes darah segera."
Berkat golongan darah mereka yang sama, akhirnya operasi dapat dilakukan dengan segera. Flora yang baru saja melakukan donor darah tidak merasa tenang. Dia segera meninggalkan ruangannya dan melihat Leocyang sedang di operasi. Air matanya tetap saja tidak berhenti keluar, keadaannya menjadi memprihatinkan.
__ADS_1
Raisa yang juga berada di Rumah Sakit, terlihat sedang melakukan panggilan telpon dengan seseorang.
"******, kenapa kalian mala menabrak Leo. Dasar tidak becus," teriak Raisa di telpon.
"Awas kalau sampai ada yang tau kalau gue yang menyuruh kalian!" ancam Raisa.
"Bagaimana dengan bayarannya Bos?" tanya seseorang di ujung telpon.
"Masih berani minta bayaran. Dasar sialan! Nanti gue transfer uangnya," Raisa terlihat takut.
Tante Sinta dan Enruw baru tiba di Rumah Sakit setelah mendapat telpon dari Flora.
"Bagaimana kondisi Leo?" tanya tante Sinta panik.
"Operasinya masih berlangsung tante. Flo sangat takut, bagaimana kalau Leo kenapa-napa?" isak Flora sambil memeluk tante Sinta.
"Kamu yang tenang yah! Kita doakan semoga Leo baik-baik saja," kata tante Sinta.
"Kamu harus kuat Flo, Leo tidak akan kenapa-napa kok," Enruw berusaha menyemangati Flora.
"Badan kamu lemas Flo, apa kamu sakit?"
"Gak apa-apa kok tante, Flo cuma syok aja."
"Bagaimana keadaan Leo tante? Bagaimana dia bisa mengalami kecelakaan?" tanya Raisa tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
"Bagaimana loh bisa tau kalau Leo mengalami kecelakaan? Padahal gak ada yang ngasih tau loh," tanya Flora merasa ada yang aneh.
"Tadi gue pergi ke Kafe tempat kita janjian. Tapi orang-orang di sana bilang Leo mengalami kecelakaan," jawab Raisa terbata-bata.
Flora menatap Raisa penuh curiga, dia merasa ada yang aneh dengan Raisa. Enruw hanya menatap Raisa sambil terenyum kecut.
"Maaf, kamu harus istirahat di ruangan pasien, kamu tidak boleh terlalu bergerak karena darahmu belum stabil," kata seorang perawat.
"Aku gak apa-apa kok Suster," ujar Flora pelan.
"Apa kamu mendonorkan darshmu untuk Leo? Tanya tante Sinta terharu.
"Iya tante, Leo kehilangan banyak darah dsn harus segera di operasi. Hanya ini yang bisa Flo lakukan untuk Leo," Flora kembali menangis.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, kamu sungguh telah menyelamatkan nyawa Leo.