
Sementara Flora sibuk menghibur hatinya yang kalut, dan Leo yang tidak tahu apa-apa tetap tenang karena belum menyadari perilaku Flora yang berusaha menghindarinya.
Malam itu Flora kembali ke rumahnya. Di sana tante Lina sedang menunggu dengan perasaan gelisah.
“Kamu akhirnya pulang sayang. Mama sangat khawatir karena tidak ada kabarmu seharian ini.” Tante Lina menghampiri dan memeluk putrinya.
Flora diam saja, mulutnya terkunci hanya ada senyum tipis yang hampir tidak terlihat terlukis di sudut bibirnya.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tante Lina melepas pelukannya.
“Apa aku terlihat baik-baik saja?” jawab Flora dalam hati
“kenapa diam saja. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Apa mama yang merebut suami tante Sinta? Maksudku apa mama yang menjadi selingkuhan Papa?” tanya Flora dalam hati.
“jangan diam saja sayang. Mama jadi khawatir.”
“Apa aku adalah anak hasil hubungan terlarang kalian?” batin Flora
“jangan seperti ini, mama jadinya takut melihat sikap kamu yang kayak gini.”
“Tidak apa-apa ma, Flo mau istirahat dulu.” Ujarnya dengan tersenyum.
Flora berlalu meninggalkan Mamanya. Tante Lina jelas merasakan sikap dingin putrinya terhadapnya. Flora memang sengaja menghindari percakapan yang lama karena takut mengungkit masa lalu orang tuanya.
Flora menyalahkan ponselnya dan baru beberapa lama, ponselnya langsung mendapat panggilan
“Halo Leo.”
“Halo Flo, kenapa ponsel kamu baru aktif?”
“Sorry, ponselnya tadi kehabisan baterai, jadi aku cash.”
“Oh begitu, kamu uadah makan?”
“Belum, mama baru nyiapin makan malam.”
“Bagaimana kalau kita makan di luar aja?”
“Maaf Leo, tapi aku lagi capek bangat.”
“Yah udah gak apa-apa. Padahala aku udah ada di depan rumah kamu.” Kecewa.
Flora yang bermaksud menghindar untuk bertemu Leo menjadi tidak tega. Bagaimanapun juga dia sangat mencintai kekasihnya dan tidak mau membuatnya kecewa.
“Baiklah, tunggu 5 menit aku siap-siap dulu.”
“Baiklah.” Lalu mematikan ponselnya.
Tidak lama kemudian flora keluar menghampiri Leo.
__ADS_1
“Hai.” Sapa Flora
“Hai, ayo kita pergi!” membukan pintu mobilnya untuk Flora
“Mau makan di mana di mana” menyalahkan mesin mobinya
“Di tempat biasa aja.” jawab flora datar
Tidak ada percakapan di dalam mobil sampai mereka tiba di tempat tujuan Kafe Zidan.
“Mau pesa apa?” tanya Leo melihat menu.
“Makan stiek aja.” Singkat Flora
“Stieknya 2 yah Mbak, terus minumnya jus jeruk aja dengan sedikit gula!”
Leo menyerahkan menunya dan kembali fokus dengan kekasihnya. Tanpak Flora yang tepaku dengan dengan ponselnya dan menghiraukan pacarnya.
“Flo?”meraih ponsel pacarnya
“kenapa?”
“Apa kamu ada masalah? Atau sengaja menghindar dari aku?” tanya Leo serius.
“kok nanya gitu, kenapa aku harus mengindar dari pacarku sendiri?” tersenyum kaku.
“Entahlah. Tapi aku merasa kamu memang berusaha menghindariku. Apa aku melakukan kesalahan?”
“bukan gitu, tapi sikap kamu sedikit berubah hari ini.”
“Mungkin karena banyak pikiran dan kecapen karena tekanan menghadapi skripsi.” Alasan Flora
“Maaf karena berpikir macam-macam.”
“Tidak apa-apa Leo.”
“Maaf Leo, aku memang lagi berusaha melawan perasaanku untuk menghindar darimu. Bagaimanapun hubungan diantara kita tidak boleh dilanjutkan.” Batin Flora
Flora kembali terhanyut dalam pikirannya. Sungguh berat baginya pura-pura bersikap tenang di depan kekasihnya, padahal perasaannya saat itu seperti mau meledak tidak sanggup menahan pedih akan kenyataan yang akan dihadapinya kelak. Dia menatap kekasihnya lekat
“Leo, boleh aku nanya sesuatu?”
“Iya ada apa?”
“Hmm, Papa kamu orang yang seperti apa?”
“Oh Papa. Hmm, papa oranya baik, dermawan dan memandang bahwa semua orang itu sama.”
“Kamu pasti bangga bangat punya Papa yang seperti itu?”
“Pastilah, aku sangat bangga dan pengen menjadi orang yang seperti dia. Orang yang hangat dan tidak pernah meninggalkan keluarganya.”
__ADS_1
“Apa Papa kamu pernah melakukan kesalahan, kesalahn yang sangat fatal?” selidik Flora
“Papa tidak pernah melakukan kesalahan.”
“Ternyata dia sangat pintar menyembunyikan kebusukannya. Kamu salah Leo, papa kamu tidak sebaik yang kamu lihat, dia itu sangat jahat.” Inginrasanya Flora mengatakan seperti itu, tapi itu hanya tersemat dalam hatinya.
“Seandainya Papa kamu melakukan kesalahan, misalnya memiki anak dari hubungan terlarangnya dengan wanita simpanannya, apa yang harus kamu lakukan?” tanya Flora penuh hati-hati
Leo terdiam sejenak, kemudian kembali tersenyum
“Tidak mungkinlah Papa melakukan hal itu. Tapi seandainya memang papa seperti itu, itu sih keterlaluan bangat dan tidak termaafkan. Yang pastinya aku kecewa bangat apalagi mama. Tapi papa bukan orang yang relah meninggalkan keluarganya demi wanita lain apalagi sampai memiliki anak.” Jawab Leo penuh keyakinan.
“Aku penasaran bagaimana reaksi kamu saat tau bahwa kita ini saudara seayah? Kamu pasti sangat membenciku.” Batin Flora.
“Tapi kenapa kamu bertanya seperti itu Flo?” Leo menjadi penasaran
“Ya pengen tau aja papa kamu orangnya seperti apa. Ternyata dia orang yang sangat baik.”
“Apa tidak ada maksud lain dibalik pertanyaan kamu? Apa ada hubungannya dengan sikap kamu yang sedikit berubah?” selidik Leo
“hehehe, kamu apaan sih. Aku lagi mencari tau calon mertua aku orangnya seperti apa, biar nanti kalau ketemu aku tidak ketakutan.” Flora menggoda Leo untuk menghindar.
“Baguslah kalau seperti itu. Aku jadi lega.”
Flora menyeruput minumannya dan kembali dalam pikirannya.
“Melamun lagi kan, ayo kita makan. Stieknya nanti jadi tidak enak kalau udah dingin.”
“Iya.”
Keadaan menjadi sunyi. Hanya ada suara dari gesekan piring dan pisau makan yang kadang terdengar. Setelah membayar makanannya mereka pun pulang. Sesampai di depan rumah Flora, tanpa sepata kata Flora langsung berlalu masuk ke pekarangan rumahnya.
“Flo?”
“Iya, ada apa?” Flora berbailik ke arah Leo
“Apa tidak ada yang mau kamu sampaikan?”
“Sepertinya tidak ada.”
Leo menghampiri kekasihnya dan langsung memeluknya.
“Maafkan aku Leo. Aku sangat mencintaimu tapi aku harus melepaskanmu. Aku takut kehilangan kamu tapi aku tidak mau menjadih orang yang serakah. Aku sangat takut kamu membenciku tapi pada akhirnya itu akan terjadi.” Batin Flora
“Ada apa Flo, kenapa kamu berusaha menjauhiku? Jangan melakukan ini lagi Flo, hatiku tidak bisa menerimanya. Aku tidak mau kamu pergi dariku. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta. Tapi tinggallah disisiku untuk sekarang, nanti dan selamanya. Apa jadinya hidupku tanpamu.” Batin Leo.
“Mending kamu pulang deh, tidak enank diliatin orang.”Melepaskan pelukan Leo.
“Baiklah, aku pulang. Kamu juga istirahat yah!”
“Baiklah. Hati-hati.”
__ADS_1
Leo meninggalkan rumah Flora dengan perasaan gelisah. Gelisah menyadari perubahan sikap kekasihnya.