
Hari libur pun tiba semua mahasiswa jurusan PSIKOLOGI bersiap untuk berangkat tur ke hutan pinus Malino.
"Kalau sudah hadir semua silahkan naik bus dengan tertib kita akan segera berangkat," komando Ibu dekan.
"Gue kok gak liat Leo?"batin Davina.
"Flo, dari tadi gue Gak pernah liat Leo?" tanya Davina tiba-tiba.
Rupanya Davina juga menyadari kalau Leo tidak ikut dengan mereka.
"Oh ya?" Pura-pura tidak tau.
"Padahal udah dibilangin wajib ikut."Lila cemberut.
"Mungkin sibuk kali atau dia gak suka ikut dengan kegiatan seperti ini." Flora berusaha berpikir positif.
"Mungkin juga, atau dia di bus lain kali?" sambung Davina.
"Ngapain dipikirin, menurut gue ice Man gak bakal datang."
"loh kok tau?" tanya Lila.
"Nebak doang."
Bus berlalu dengan cepat, para mahasiswa sepertinya menikmati perjalan mereka. Suara gitar dari salah satu mahasiswa terdengar begitu indah diiringi dengan nyanyian dari semua mahasiswa membuat perjananan jauh mereka semakin menyenangkan. Dua jam berlalu bus mereka tiba di tempat tujuan.
"Silahkan berkumpul dan jangan ada yang meninggalkan rombongan sebelum pemandu tur datang."
"Baik bu." sahut mahasiswa serentak
"Sebelum itu Ibu mau kalian membuat beberapa kelompok tur beranggotan 8 orang supaya lebih mudah!"
Flora, Davina, Lila dan beberapa mahasiswa lain sudah membentuk satu kelompok.
"Kalau sudah selesai, silahkan ikuti pemandu tur kalian," intruksi Ibu dekan.
"Ingat kembali ke titik awal pukul 16.00 nanti," kata Bu dekan menambahkan.
Semua mahasiswa meninggalkan tempat mereka dan berpencar mengikuti pemanduh masing-masing.
"Waahh...tempat ini benar-benar indah."
"Tempatnya sejuk, bersih, pohon pinus menjulang tinggi dengan pegunungan hijau yang indah," tambah Flora.
"Bang, wisata apa yang paling terkenal di sini?" tanya Bima.
"Sebenarnya banyak, kalian bisa mengunjungi air terjun Takapala, perkebunan teh Nittoh atau lembah biru dan beberapa tempat wisata lainnya."
"Gue pengen ke perkebunan tehnya," kata Lila.
"Mending kita ke lembah biru aja," ajak Bima.
"Kedengarannya menyeramkan deh," sahut yang lain.
"Kalau ke air terjunnya bagaimana?" usul Flora.
"Baiknya," jawab yang lain sepakat.
Mereka mengikuti pemandunya menuju air terjun.
"Kalian hati-hati karena jalanan lumayan licin!" ujar si pemandu.
"Wah benar-benar menakjubkan." kata Davina
"Sungguh mahakarya yang luar biasa," ucap Flora memejamkan matanya sambil menghela nafas.
"Kapan-kapan kalau ada waktu senggang kita liburan di sini. Bagaimana?" usul Lila tiba-tiba.
"Gue setuju, tapi kita harus nginap," jawab Davina.
"Baiklah, mari kita datang kembali dilain waktu," ujar Flora.
"Bang toiletnya di mana?" tanya Flora.
"Kamu jalan ke kanan, terus lurus nanti ada persimpangan kamu belok kiri terus sampai."
__ADS_1
Tapi Flora tidak begitu memperhatikan karena tidak bisa menahannya lagi
"Gue cabut dulu yah, kebelet pipis."
"Ok, cepat kembali." teriak Lila
Flora meninggalkan rombongannya, tapi ketika sampai di persimpangan dia bingung harus mengambil jalan yang mana.
"Belok kiri atau belok kanan ya? Gue lupa lagi Abangnya bilang apa, udahlah gue belok kanan ajalah."
Flora berjalan semakin jauh tapi tidak menemukan toiletnya.
"Toiletnya mana sih kok gak keliatan dari tadi? Mungkin gue harus jalan sedikit lagi."
Flora pun melanjutkan perjalanannya tapi tetap saja tidak menemukan toiletnya.
"Gue udah jalan terlalu jauh tapi belum ketemu juga. Jangan-jangan gue salah jalan lagi."
Flora melihat ke sekelilingnya tapi tidak melihat siapa-siapa di sana. Flora memutar badan dan kembali dengan cepat tapi bukannya sampai di persimpangan awal justru dia mengambil jalan lain.
"Kok gue gak sampai-sampai, jangan-jangan gue beneran kesasar?"
Flora mengambil ponselnya tapi sayang tidak ada sinyal. Dia berusaha meletakkan ponselnya di tempat yang tinggi tapi tetap saja tidak ada sinyal.
"Bagaimana ini? Tidak ada orang lagi."
Flora berusaha berteriak dan terus mencari jalan kembali tapi semakin dia mencari jalan dia justru semakin masuk ke dalam hutan.
"Udah pukul 15.28, gue harus ngapain, bagaimana kalau gue mati di sini?"
Tangis Flora pecah dia tidak tahu harus berbuat apa. Flora duduk di batang kayu besar karena merasa kelelahan
"Ma, tolongin Flo, Flo takut." air matanya tidak berhenti jatuh.
Sedangkan di lokasi Air terjun Davina dan Lila merasa tidak tenang karena Flora belum kembali.
"Bagaimana ini, Flo belum kembali juga?" tanya Davina cemas.
"Gue juga tidak tau."
"Tapi Bang teman saya belum juga kembali dari tadi."
"Tapi di sini bahaya kalau sudah gelap."
"Tapi bang, kalau teman kami kenapa-napa, bagaimana?"
"Mungkin teman kamu sudah pulang duluan."
"Semoga saja," jawab Davina.
Mereka kembali ke titik awal dan tidak menemukan Flora di sana. Davina dan Lila mulai panik tidak tahu harus berbuat apa-apa
"Kita kasih tau Bu dekan yuk Vin?"
"Baiklah karena tidak ada jalan lain."
Tiba-tiba saja Leo datang dan memghampiri mereka.
"Ada apa, kalian keliatan panik?"
"Flora belum juga kembali," jawab Lila.
"Bagaimana mungkin kalian meninggalkannya sendirian."
"Kita mikirnya dia udah kembali duluan karena dia pergi terlalu lama," kata Davina.
Mereka pun menceritakan awal kejadiannya
"Baiklah kalian pulang aja duluan nanti gue yang cari!"
"Terus bagaimana dengan Flora?" tanya Lila cemas.
"Tidak usah cemas, gue pasti nemuin dia."
"Tapi bagaimana kalau dia kenapa-napa?" Davina sangat cemas.
__ADS_1
"Jangan cemas, kalian pulang aja duluan! Jangan bilang siapa-siapa. berusahalah bersikap seperti biasanya. Ok!"
"Baiklah, loh hati-hati."
Leo bergegas mencari Flora ke lokasi air terjun kemudian menuju tempat toilet yang di maksud Davina. Semakin jauh Leo berjalan dia tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan Flora. Leo menemukan Toilet tapi tidak menemukan Flora di sana
"Jangan-jangan dia kesasar."
Leo melihat jam tangannya menunjukkan pukul 17. 15. Hari sudah mulai gelap tapi belum menemukan keberadaan Flora.
Leo mengambil jalan lain jauh masuk ke dalam hutan.
"Flo..Flora loh di mana?" teriak Leo.
Tapi yang dipanggil tidak juga menyahut. Leo terus mencari keberadaan Flora. Hari benar-benar sudah gelap.
"Flo, loh di mana?" batin Leo.
"Flo..Flora loh di mana?" teriaknya lagi tapi tidak ad respon.
Flora yang masih terdiam duduk mencoba untuk berteriak.
"Hallo,,tolongin gue!" teriak Flora dengan lemah.
"Hallo..gue di sini, siapa pun tolongin gue," tangisnya kembali pecah.
Leo mendengar suara Flora meskipun terdengar samar-samar tapi dia tau itu suara Flora.
"Flo..loh dengar gue gak?" kata Leo terus berjalan.
"Flo..tolong menya.." suara Leo tiba-tiba berhenti.
Leo menemukan Flora yang terduduk sambil memeluk lututnya dengan isak tangis yang tiada henti.
"Flo, loh gak apa-apa?"
Flora yang menyadari kedatangan seseorang langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Leo berdiri di depannya.
"Leo gue takut, takut bangat," berdiri dan langsung memeluk Leo.
"Gak apa-apa, ada gue di sini," menepuk-nepuk pundak dan mengusap rambut Flora dengan lembut.
"Gue takut sendirian," tangisnya kembali pecah dan menambah erat pelukannya.
"Udah ya, gue ada di sini."
"Dari mana aja loh, gue tungguin dari tadi."
"Maafin gue karena datang terlambat."
"Terima kasih udah mencariku."
Flora mnedongakkan kepalanya tepat di depan wajah Leo. Leo yang kaget dengan tindakan Flora tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Leo mengecup bibir Flora dengan pelan. Flora yang tidak siap hanya melotot tanpa bereaksi apapun. Leo melanjutkan aksinya dengan mengecup bibir Flora lebih dalam lagi karena merasa tidak mendapat penolakan Leo ******* bibir Flora dengan lembut dan tidak ingin berhenti.
"Kenyal," batin Leo.
Flora merasa mendapat sengatan listrik kemudian memejamkan matanya dan membalas setiap perlakuan bibir Leo. Mereka menikmati setiap gerakan bibir mereka.
"Stop Leo, gue gak bisa nafas."
"Sorry, membuat loh tidak nyaman."
"Ciuman pertama gue."
"Benarkah?"
"Kenapa harus sama loh sih?" ucap Flora sedikit menyesal.
"Apa loh bilang?, emang kenapa kalau gue?"
"Hahh, gue cuma gak berpikir kalau gue akan melakukannya sama loh."
Leo menggenggam tangan Flora dan membawanya kembali. Terukir senyum di sudut bibir mereka meskipun tidak ada percakapan tapi mereka terlihat begitu bahagia.
__ADS_1