Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
Dia kembali


__ADS_3

Flora pulang ke rumahnya dengan wajah sedih. Dia memasuki rumah dan melihat sosok pria baru baya sedang duduk di ruang tamu. Flora hanya menatapnya sekilas kemudian berlalu ke kamarnya.


Dia sama sekali tidak bertindak apa-apa melihat siapa yang datang ke rumahnya hari itu.


Flora memasuki kamarnya kemudian duduk di ujung kasurnya sambil menghela nafas panjang. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Setelah beberapa saat dia berbalik dan menenggelamkan wajahnya di bantal. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Flo sayang, ayo kita makan nak!" panggil tante Lina di balik pintu.


Flora hanya diam. Dia merasa dia perlu membalas panggilan mamanya.


"Mama tau kamu di dalam sayang, apa kamu tidur nak?"


"Flo gak lapar ma, aku mau tidur sekarang. Mama juga gak sendirian sekarang," sahut Flora.


"Mama tau kamu cuma ingin menghindari papamu. Apa kamu tidak merindukannya?"


Flora terlihat kesal dengan ucapan mamanya. Tidak seharusnya mamanya mengatakan kata itu dengan begitu tenang.


"Kenapa mama begitu tenang? Seharusnya dia marah dengan kedatangan orang itu," batin Flora kesal.


"Mama tunggu di ruang makan!"


Dengan perasaan kesal dia meninggalkan kamarnya dan pergi ke ruang makan. Dia melihat mama dan papanya berbincang dengan santainya sesekali mereka tertawa seakan-akan tidak ada yang terjadi. Hal itu membuat Flora semakin kesal. Dia mengambil kursih di depan papanya kemudian mengambil makanannya tanpa sepata kata pun.


"Kamu tumbuh dengan baik anakku," kata Om Haris tersenyum.


Akan tetapi orang yang diajak berbicara tidak menghiraukannya. Dia hanya berhenti mengunyah makanannya sejenak kemudian kembali fokus dengan makanannya.


"Papa sangat merindukanmu, dan akhirnya sekarang papa dapat melihatmu dengan sangat dekat," om Haris tersenyum.


"Aku tidak meminta untuk anda rindukan," Flora membuka pembicaraannya.


"Flo, kenapa bicara seperti itu?" kata tante Lina kaget.


"Apa salah jika papa merindukanmu? Apa papa tidak boleh merindukanmu?"


"Jangan berani-rani mengucapakan kata itu! Aku sungguh jijik mendengarnya dari mulut anda," Flora tetap fokus pada makanannya.


Tante Lina yang tidak menyangka Flora akan berkata seperti itu langsung berdiri dan menggertak Flora.


"Jaga ucapanmu! Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk berkata kasar seperti ini," kata tante Lina marah.

__ADS_1


"Kenapa mama terlihat begitu tenang seakan tidak terjadi sesuatu? Apa mama lupa dengan perbuatannya? Kenapa mama bisa mengizinkannya masuk?" Flora menatap mamanya tajam.


Tante Lina kembali terduduk. Tidak satu pun pertanyaan anaknya yang terjawab. Tenggorokannya terasa keluh. Dia baru sadar bahwa Flora belum mengetahui yang sebenarnya dan betapa bencinya Flora terhadap Om Haris.


"Kenapa diam ma? Apa tidak jawaban untuk pertanyaanku?"


"Nak, papa minta maaf karena sudah meninggalkanmu selama ini, maaf karena tidak punya kesempatan untuk mengunjungimu. Pekerjaan papa sangat banyak sehingga tidak punya waktu untuk menghubungimu," kata om Haris menyesal.


"Pekerjaan seperti apa yang anda lakukan sehingga butuh 10 tahun baru bisa mendatangi kami?" tanya Flora dengan tatapan penuh kebencian.


Om Haris di buat bisu seketika. Dia tidak mampu lagi mengucapkan sepata kata pun.


"Aku tidak melarang anda pergi waktu itu tapi aku juga tidak pernah berharap anda akan kembali. Kenapa tidak menghilang selamanya? Itu yang lebih bagus lagi. Jadi tolong pergilah sekarang! Flora menatap om Haris dengan senyum sinis.


"Nak, ada sesuatu yang tidak kamu ketahui, tolong dengar penjelasan papa yah!"


"Aku lebih senang tidak mengetahui apa-apa. Tidak ada lagi tempat anda di hatiku. Sejak anda melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, perasaan untuk anda saat itu pun mati untuk selamanya."


"Semua ada alasannya sayang, jadi izinkan papamu untuk menjelaskan semuanya!" kata tante Lina.


"Apa sekarang mama berpihak padanya? Apa sekarang mama juga ingin melukai perasaanku? Kenapa kalian tidak mengerti perasaanku?" tanya Flora marah menahan air matanya.


"Mama sangat menyayangi kamu, mana mungkin mama akan melukai perasaanmu?"


"Jika tidak melukai perasaanku, lalu kenapa anda meninggalkan bekas luka yang begitu dalam? Aku membenci anda, aku tidak ingin melihat anda," teriak Flora dalam tangisnya.


Flora beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah. Dia berlari dengan kencangnya dan berurai air mata.


"Kenapa ini terjadi dalam hidupku? Kenapa semua masalah menghampiriku? Apa aku melakukan kesalahan sehingga tuhan begitu benci denganku?" batin Flora.


Dia terus berjalan menyusuri jalan yang ramai. Berjalan dan berjalan hingga dia merasakan lelah di kakinya. Dia meraba saku jaketnya dan tidak menemukan ponselnya di sana.


"Bagaimana ini? Aku tidak akan kembali ke rumah. Mengunjungi Davina atau Lila juga tidak mungkin karena aku tidak punya uang. Benar-benar komplit penderitaanku. Aku harus kehilangan Leo terus mama tidak lagi memihakku. Ke mana kaki ini akan melangkah?" guman Flora kebingungan.


Flora melanjutkan langkahnya tanpa tujuan. Dia sama sekali tidak punya tempat untuk di tujunya. Dalam kebingungannya, tuhan masih merasa kasihan padanya. Entah sengaja atau hanya kebetulan Flora bertemu dengan Adrian di depan sebuah kedai kopi.


"Flo, ngapain kamu di sini?" tanya Adrian terkejut.


"Aku kabur dari rumah."


"Kenapa? Apa kamu sedang dalam masalah? Apa yang bisa aku bantu?"

__ADS_1


"Aku hanya butuh tempat untuk melepas lelahku, tapi aku tidak punya tempat untuk di tujuh."


Adrian berpikir sejenak kemudian menawarkan Flora untuk menginap di tempatnya.


"Maaf Flo, bukan bermaksud apa-apa, tapi jika mau, kamu bisa menginap di tempatku," Adrian terlihat ragu.


"Maaf merepotkan, tapi terima kasih banyak untuk bantuannya. Setidaknya aku bisa tidur malam ini," jawab Flora dengan senangnya.


Adrian membawa Flora ke tempat tinggalnya. Dia menyiapkan teh hangat untuk Flora kemudian membersihkan kamar untuknya.


"Maaf merepotkan bang Adrian."


"Gak apa-apa, aku senang bisa membantu. Kamu bisa tidur di kamarku dan aku akan tidur di sofa."


"Terima kasih banyak, entah apa yang terjadi andai kita tidak bertemu."


"Sebenarnya apa yang terjadi Flo?"


"Hmmm,,entahlah, sepertinya tuhan tidak lagi berpihak padaku. Aku tidak lagi bisa bersama Leo dan itu sangat membuatku sedih. Kemudian orang yang tidak pernah aku tunggu kehadirannya sekarang kembali lagi. Hatiku masih kacau karena Leo dan sekarang luka lama kembali karena papaku. Hatiku sekarang benar-benar tidak sakit parah."


"Aku tidak tau harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalahmu, tapi menurutku semua yang terjadi karena ada sebab dan alasannya. Kamu hanya perlu untuk mencari tau alasannya. Jangan mengambil kesimpulan tentang sesuatu yang kamu tidak ketahui seluk beluknya. Tidak ada obat yang tidak mempunyai penawar, begitu juga dengan masalah. Semua masalah mempunyai solusi. Sabar dan terus berpikir positif."


"Terima kasih atas sarannya, perasaanku menjadi sedikit lebih tenang sekarang," Flora tersenyum.


"Syukurlah, aku turut senang."


Keduanya kembali terdiam. Flora mengambil cangkir dan menyeruput tehnya.


"Mau mendengar cerita?" Flora memecah kesunyian.


"Silahkan ceritakan!"


"Aku sangat suka dengan drama Korea, sebagian waktuku ku habiskan untuk itu. Mungkin tidak sesuai dengan kepribadianku tapi itulah kenyataannya," Flora tersenyum memulai ceritanya.


"Oh ya? Emang gak cocok sih dengan kamu," Adrian juga ikut tersenyum.


"Kemudian aku bertemu dengan Leo, entah kebetulan atau karena obsesi, aku mengaitkan semua kisah kami dengan drama Korea. Menyadari hal itu, membuatku menggantungkan hubungan kami dengan kisah drama, aku seakan dapat menebak kejadian yang akan terjadi selanjutnya dan aku membiarkannya mengikuti alur drama yang aku inginkan," Flora kembali tersenyum tipis.


"Terus bagaimana selanjutnya?"


"Aku mungkin terlihat main-main dan itu yang aku rasakan. Tapi mengetahui perasaanku yang sangat mencintai Leo, aku sadar bahwa hubungan kami adalah nyata. Di saat aku memikirkan kelanjutan kisah kami sesuai dengan realita, aku tidak bisa lagi mempertahankan hubungan kami. Sekarang papaku kembali dan sepertinya kisah bak drama korea ini akan berlanjut. Sepertinya ini benar-benar karena obsesi. Tapi aku akan berusaha untuk tidak terjebak dalam obsesi gilaku lagi."

__ADS_1


"Aku tidak mengerti tentang itu, tapi aku yakin kamu bisa mengatasi setiap masalahmu."


__ADS_2