
Pagi-pagi sekali Leo mengunjungi kediaman Flora karena khawatir dengan keadaan pacarnya. Dia mengetuk pintu tapi tidak ada balasan. Lama sekali dia menunggu tapi tetap tidak ada yang menyambutnya.
“Tumben sekali rumah Flora sepi, biasanya tante Lina sudah bangun jam segini.” Batinnya melirik jam tangannya.
Leo mengintip di balik jendela dan masih tidak ada tanda-tanda pergerakan dari dalam rumah.
“Apa mereka ke Rumah sakit? Leo mulai cemas.
Sekali lagi Leo mengetuk pintu dengan sedikit keras berharap ada yang mendengar ketukannya. Tidak berselang beberapa menit, terdengar suara langkah seseorang yang menuju arahnya. Terlihat tante Lina dengan wajah yang sedikit kusut seperti orang yang kurang tidur.
“Nak Leo maaf telat bukain pintunya.”
“Tidak apa-apa tante, apa tante baik-baik saja? Tante terlihat seperti tidak enak badan.” Ujar Leo dengan nada cemas.
“Tante tidak apa-apa, tapi Flora dari kemaren mengurung diri di kamar. Dia seperti orang tidak waras yang kadang tertawa terus menangis dengan tiada henti. Makanya tante seperti ini karena mengkhawatirkan Flora.”
“Apa Flora sakit keras tante?”
“Entahlah, tapi dia tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Dia baik-baik saja kemaren sebelum ke rumah kamu. Apa kalian ada masalah?”
“Kami baik-baik aja tante, aku ke sini karena katanya dia sedang tidak enak badan.”
“Tunggu ya! Tante cek Flonya dulu.”
Tante Lina menuju kamar Flora. Dia mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam. Tante Lina memutar gagang pintu dan ternyata tidak terkunci. Dia memasuki kamar dan tidak menemukan Flora di sana. Dia kembali ke menemui Leo dengan panik.
“Flo tidak ada di kamarnya.”
“Apa tante udah periksa semuanya?”
__ADS_1
“Iya, masa iya dia ke kampus sepagi ini. Sebelumnya dia tidak pernah melakukan ini.”
“Baiklah Tante kalau begitu Leo ke kampus dulu. Siapa tau Flora emang udah ada di kampus.”
“Tante juga berharap begitu nak Leo. Hubungi tante kalau udah ketemu Flora!”
Di perpustakaan kampus, nampak Flora sedang merebahkan kepalanya di ujung meja. Matanya menatap lurus dengan pandangan kosong. Matanya bengkak dengan lingkaran hitam di bawa matanya, hal ini menandakan bahwa dia menangis semalaman.
Dia memalingkan pandangannya ke arah pintu perpustakaan dan melihat Leo di sana. Segera dia memperbaiki posisi duduknya dengan mengambil sebuah buku dan pura-pura sibuk membaca.
“Flo, ternyata kamu di sini. Aku khawatir bangat tau, soalnya kamu pergi pagi-pagi sekali.” Mnegusap dadanya tanda lega.
“Iya maaf, aku lagi banyak tugas makanya aku ke kampus pagi-pagi.” Berusaha serileks mungkin
“Tapi kamu udah enakkan kan badannya?” Leo hendak meraih kepala Flora tapi langsung ditangkis Flora.
“Iya aku udah enakkan kok sekarang.”
“lagi pengen aja. Cuacanya juga masih dingin bangat.”
Leo mulai curiga dengan prilaku Flora. Tapi kemudian mengurungkannya kembali mendengar penjelasan Flora yang masuk akal. Memang cuaca pagi itu lagi dingin sekali disebabkan hujan pagi.
“Muka kamu kenapa ikut ditutupin gitu? Baca bukunya kan bisa jauhan sedikit, nanti mata kamu cepat rabun.” Leo menarik buku yang menutupi wajah flora.
“Leo, mendingan kamu pergi dulu deh, aku lagi sibuk belajar ini.” Flora mempertahankan tarikan Leo.
“Tante bilang semalam kamu seperti orang yang tidak waras. Apa benar tidak ada apa-apa?” selidik Leo.
Flora terkesiap medapat pertanyaan Leo yang tidak diduganya. Dia memutar otak mencari jawaban yang tepat dan masuk akal.
__ADS_1
“Hahahahahaha. Oh itu, aku lagi nonton drama Korea. Tau sendirilah aku suka nonton drakor gitu, jadi wajarlah kalau aku ketawa ataupun nangis.” Flora tegang takut Leo semakin curiga padanya.
“Oh gitu, lain kali dipelani suaranya biar mama kamu tidak khawatir.” Lega
“Iya lain kali tidak lagi.”
“Tapi muka kamu..”
“Muka aku lagi bengkak gara-gara nonton drama Koreanya terlalu kemalaman, jadi aku tutupin deh. Aku gak mau kamu liatin muka jelekku. Nanti kamu ketawain lagi.”
“Oh gitu, ya udah aku tinggal dulu. Nanti pulang bareng ya!”
“Ok.”
Leo berlalu meninggalkannya. Flora kemudian meletakkan bukunya kembali. Dia menarik nafas panjang dengan wajah sedih. Flora tidak tahu harus bereaksi seperti apa jika bertemu Leo. Dia hanya perlu pura-pura tidak terjadi apa-apa dan berusaha bersikap seperti biasanya. Meskipun sikapnya jelas terlihat seperti dibuat-buat.
“Aku hanya perlu bersikap tenang dan menghindarinya perlahan. Aku harus membuatnya membenci dan memutuskan hubungan denganku. Iya hanya itu.” Batinnya meyakinkan dirinya sendirinya.
Hari itu Flora tidak pernah mengisi kelasnnya. Dia hanya menghabiskan waktunya di perpustakaan, dia hanya ingin sendiri hari itu. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan bahwa kelasnya sebentar lagi selesai. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Leo.
“Maaf Leo, hari ini aku pulang duluan. Disuruh pulang cepat soalnya. Kamu hati-hati pulangnya.”
Flora mematikan ponselnya karena dia tahu Leo pasti akan menghubunginya terus menerus. Flora meninggalkan kampus tapi tidak pulang ke rumahnya. Dia pergi ke Mall sendiri untuk menghibur dirinya. Dia bermain dengan bebrapa wahana. Dia tertawa riang tapi matanya menjatuhkan bulir-bulir air mata.
“Kenapa mata gue masih nangis padahal mulut gue udah capek ketawa?” gerutunya.
Dia kemudian pergi meninggalkan Mall tersebut dan melajukan Bimbo tanpa tujuan yang jelas.
“Ke mana lagi kita Bimbo? Gue udah capek tapi di sini masih saja berdenyut sakitnya.” Flora memukul dadanya pelan.
__ADS_1
“Siapa yang harus gue benci? Siapa yang harus gue salahkan? Gue takut lebih sakit lagi kalau mempertanyakan hal ini. Tapi ini benar-benar membuat gila.” Batinnya.
Ketika kebahagian baru sejengkal mendekati dirinya, masalah baru datang selangkah meraih kebahagian itu untuk menjauh darinya. Apa yang harus dilakukan Flora ke depannya menjadi penentu nasibnya kelak.