
Waktu seakan berhenti di kelas itu. Hanya ada dua pasang bola mata yang masih terus berpandangan.
"Selamat siang semua, kita mulai mata kuliah kita hari ini. itu yang di belakang kok masih berdiri."
"A..a..maaf Pak saya tadi tidak dengar." jawab Flora terkejut.
"Kamu siapa namanya, mahasiswa pindahan dari mana?"
"Eh, iya saya Leo tepat Leo sanjaya pindahan dari Universitas Gadjah Mada Jokjakarta," jawabnya sembari duduk dengan tangan disilangkan.
"Nanya boleh, kenapa pindah kuliah?" tanya sorang cowok.
"Karena pekerjaan orang tua," jawab Leo ketus
"Wah,,benar-benar tampan," kata seorang gadis di bangkuh depan Flora.
"Ganteng dari mananya, cowok kaya gitu dibilang tampan yang ada juga gantengan cowok gue Ji Chang Wook, ahh jadi kangen," ujar Flora pelan sambil tersenyum.
"Loh udah pacar belum?"tanya Lila
"tidak," Leo terlihat malas menjawab pertanyaan tersebut.
Semua orang di kelas itu tertawa terkejut dengan jawaban yang singkat dan jelas.
"Waahh, benar-benar gak percaya cowok ganteng kayak loh gak punya pacar," ujar Lila
"boleh minta nomor ponselnya dong?"
Davina menyodorkan ponselnya
"apa-apaan sih loh, malu-maluin aja," Flora meraih ponsel Davina.
kelas itu pun berlangsung dengan cepat. Flora beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kelasnya menuju ke kantin.
"Benar-benar melelahkan, gue lapar bangat," Flora memukul pelan bahunya.
semua orang di kantin bergosip tentang si Leo. Kantin di hari itu benar-benar di penuhi dengan si tampan Leo.
"Eh..kalian rabun ya, masa cowok kayak gitu di bilang tampan. gak ngerti gue."
"Eh Flo, loh diam aja deh kaya mana loh tau dia tampan loh kan taunya cuma drama korea doang, dasar halu," ujar seorang mahasiswi
"Emang kenapa, mendingan nonton drama korea daripada liatin muka dingin si Leo aneh." Flora membalas ucapannya dengan cuek.
"Gays, dia datang, dia datang. Leo datang, benar-benar tipe gue bangat," Lila terlihat kegirangan sambil melotot.
__ADS_1
Leo memasuki Kantin dengan tangan kanan di masukkan kesaku celananya dan tangan satu memegang ranselnya yang hanya ditanguhkannya pada satu lengannya. Leo melangkah dengan pandangan angkuh yang mrmbuat seisi kantin itu berteriak histeris. bukan hanya pandangan matanya, Leo juga memiliki bentuk tubuh yang ideal dengan tinggi badan 180 cm dan bentuk dada yang bidang di lengkapi dengan hidung mancung dengan bibir basah yang merona sungguh benar-benar karismatik. Sungguh Leo adalah cowok dengan ketampanan yang maksimal. Dia juga memiliki rambut hitam dengan sedikit berponi.
Leo berjalan dengan elegannya melewati setiap mata yang memandangnya kemudian berhenti di bangkuh disudut kantin dan tanpa basa basi langsung duduk dan meletakkan kepalanya di ujung meja.
"Benar-benar membosankan," dia pun tertidur.
"Aahh, dasar taunya cuma tidur doang,"
kata Flora dalam hati.
"Flo, sumpah gue benar-benar menyukainya," Lila menopang dagunya sambil memandangi Leo.
"Maksud kamu si Ice Man?" Flora memgikuti arah pandangan Lila
"Ice Man? Leo kali. loh kenapa sih, mata loh taro mata gak bisa liat cowok setampan Leo," Lila tampak kesal.
"Mata gue gak ke mana-mana, tapi mata gue ditakdirkan hanya untuk melihat kekasih gue, Cha In Wook, Ji Chang Wok, Kim Soo Hyun. Oppa..tungguin gue." jawab Flora sambil menopang dagunya dan tersenyum.
"Mulai deh halunya, sadar Flo sadar gak usah mimpi ketinggian nanti jatuh sakit loh," Davina mengguncang badan Flora
"Vin, setiap orang harus punya mimpi meskipun itu mustahil, dan mimpi gue adalah pergi ke Korea dan bertemu dengan idola gue," katanya sambil memegang pundak Davina.
"Harusnya loh ngambil jurusan Sastra Korea kalau loh mau ke Korea bukannya Psikologi," Lila terlihat serius
"yeee...gue kan punya alasan tersendiri, lagian kan belajar bahasa Korea bisa di internet," Flora kemudian menjulurkan lidahnya.
"Hmmm, seperti apa yah? yang pasti tipe gue bukan orang seperti si Ice Man."
"Gue gak suka cowok dingin kayak dia, sombong dan yang paling penting gue gak suka cowok sok ganteng seperti Leo."
"Maksud loh gue? gue juga gak bakal suka sama cewek muka datar kayak loh," ujar Leo sambil menatap Flora tepat beberapa senti meter di depannya.
"eh, kalau ngomong mikir-mikir dulu donk, siapa yang loh maksud muka datar?" Flora meninggiman nada bicaranya.
"Udah tau masih nanya," jawab Leo tersenyum tipis.
Tapi meskipun senyuman itu tipis dan terkesan sinis tapi entah kenapa begitu manis. Flora tertegun dan happ seperti ada yang mengetuk pintu hatinya.
"Jangan coba-coba loh nyari masalah sama gue," kecam Flora.
"Bukannya loh yang nyari masalah sama gue yah? buktinya dari tadi loh gangguin gue terus. Jangan-jangan loh naksir lagi sama gue."
Ucapan Leo membuat Flora Jengkel dan refleks Flora berdiri di depan Leo dengan mendongakkan kepalanya tepat di wajah Leo dan mata mereka kembali beradu pandangan. Cuma seperkian detik tapi pandangan itu sepertinya memiliki arti yang mendalam buat mereka berdua padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.
"Kenapa loh, mau nyium gue?" Leo berusaha menggoda Flora
__ADS_1
"Waahh..benar-benar nih orang, kalau ngomong tuh di jaga mulutnya jangan asal nyerocos aja," kata Flora emosi sambil menunjuk Leo.
"Lah..trus ngapain loh mandangin gue segitunya," memegang tangan telunjuk Flora
"Jangan pegang-pegang, dasar Ice Man."
"Jangan begitu benci nanti jatuh cinta loh," ejek Leo sambil tersenyum.
"What...ngarep loh, siapa yang suka sama loh lagian loh bukan tipe gue kali." Flora menyilangkan kedua tangannya.
"Masa sih?" ejek Leo lagi yang membuat Flora semakin emosi.
"lagian kan gue udah punya pacar yang jauh lebih ganteng dari loh."
Leo kemudian membungkukkan kepalanya tepat di depan wajah Flora dan hampir saja hidung mereka bersentuhan bahkan Flora dapat merasakan desahan napas Leo yang hangat dan menyenangkan.
"A..apa-apaan nih, loh mau ngapain gue?" Flora menarik badannya beberapa langkah ke belakang
"Cantik." Leo pun tersenyum kemudian berlalu
"loh bilang apa tadi, woi..woi!" teriak Flora
Tapi orang yang dipanggil tidak menyahut.
Tatapan Flora tetap tertujuh tajam memandangi punggung Leo yang mulai hilang dari pandangannya bukan karena dia tidak ingin Leo pergi tapi pandangan itu sebagai bentuk protes atas apa yang dilakukan Leo terhadapnya. Tidak ada satu pun cowok yang berani memandangi Flora seperti itu.
"Leo benar-benar keren, baru kali ini ada cowok yang berani natap loh langsung," kata Davina tiba-tiba.
"Maksud loh apa Vin?"
"Ya maksud gue Leo kayaknya ada hati sama loh."
"gini ya Vin gue gak bilang tidak mau tapi jika diizinkan gue akan meminta pada tuhan agar tidak mempertemukan gue dengan Leo. Gue benar-benar tidak suka sama orang kayak dia."
"Eh gak usah banyak omong deh, belum tentu juga dia suka sama cewek muka datar kayak loh," ujar Ranti lewat di depannya.
"Eh loh gak usah ikut campur deh, mungkin gue muka datar tapi gue jauh lebih cantik dari loh," emosi Flora meledak.
"Eh kalau ngomong dijaga yah, semua orang juga tau kalau gue ratu kampus." Ranti mendorong Flora.
"Tapi buktinya banyak yang ngejar-ngejar gue bukan gue yang ngejar-ngejar cowok."
"maksud loh apa?" Ranti terlihat marah dengan sindiran Flora.
"Cari tau aja sendri." Flora pun mengambil ranselnya dan berlalu dengan emosi
__ADS_1
"Flo, tungguin gue!" kejar Davina.
Mood Flora benar-benar dibuat hancur oleh Leo hari itu.