
Kampus hari itu masih sama seperti sebelumnya. Penghuni Kampus masih tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Huru hara para mahasiswa tetap menjadi nomor satu di Kampus. Begitu halnya dengan Flora yang tampak senang bersenda gurau dengan kedua sahabatnya di kelas. Sedangkan Leo tetap tenang dalam duduknya yang selalu digoda Ranti.
"Ranti, daripada loh godain Leo, mendingan sama gue!" goda sala satu mahasiswa laki-laki.
"Jangan harap," Ranti melototkan matanya.
"Sampai kapanpun Leo gak bakal melihat ke arah loh," ejek seorang mahasiswa lainnya.
"Kemarin Bang Adrian sekarang kembali ke Leo," ujar yang lain sambil tertawa.
"Berisik loh," Ranti kemudian melempar pulpen ke arah mahasiswa laki-laki.
Seisi kelas kembali ramai dengan suara tawa mahasiswa. Sama halnya dengan Flora yang tidak bisa menahan tawanya melihat aksi konyol teman-temannya yang membuat onar.
"Gays, ke kantin yuk!" ajak Flora.
"Ayo, gue udah lapar banget," jawab Lila antusias.
"Loh maa kalau bahas kantin langsung lapar," ejek Davina.
Setelah memesan makanan masing-masing, Flora menatap kedua sahabatnya serius.
"Gays, gue mau cerita sesuatu."
"Apaan? Kayaknya serius bangat," Lila memandang Flora penasaran.
"Bang Adrian nembak gue kemaren."
Davina yang mendengar Flora sambil minum langsung tersedak karena terkejut. Dia terdengar batuk beberapa kali.
"Apa, serius loh?" tanya Davina.
"Masa gue bohong," Flora mengerutkan alisnya.
"Terus loh jawab apa?" tanya Lila.
"Gue belum jawab apa-apa, gue gak tau mau ngomong apa," Flora cemberut.
"Loh suka gak sama Bang Adrian?" tanya Lila lagi.
"Bagaimana yah, Dia emang baik, ramah, pintar tapi perasaan gue ke dia beda dengan perasaan gue ke Leo. Gue takut ngecewain Bang Adrian," Flora terlihat sedih.
"Yaa, emang sulit sih. Tapi jawablah sesuai dengan isi hati loh," saran Lila.
"Kok loh diam aja Vin?" tanya Flora
"eh, hmm.. Loh yang tau jawabannya Flo. Maaf gue permisi sebentar," Davina segera meninggalkan mereka.
Flora heran dengan tingkah Davina yang tiba-tiba pergi. Biasanya Davina sangat antusias dengan setiap cerita Flora, tapi ketika membahas tentang Adrian dia menjadi sedikit diam dan memilih untuk pergi.
"Kenapa dia?" tanya Flora penasaran.
"Entahlah, dia terlalu sensitif setiap kali loh membahas tentang Adrian," jawab Lila santai.
"Oh ya, sejak kapan dia seperti itu?"
"Udah lama kali, emang loh gak pernah memperhatikan sikap Davina? Gue pikir loh udah tau."
__ADS_1
"Kok gue gak sadar yah?"
Flora terdiam memikirkan sesuatu, seperti dia tau kenapa sikap Davina berubah setiap kali membahas tentang Adrian. Bukan karena dia tidak suka tapi karena dia merasa cemburu. Tapi dia tidak pernah mengatakan perasaannya yang menyukai Adrian kepada kedua sahabatnya. Davina sadar Adrian menyukai Flora, dia hanya tidak mau mengganggu hubungan Flora dengan Adrian.
Flora merasa bersalah terhadap Davina. Tanpa disadarinya dia telah menyakiti perasaan sahabatnya. Dia baru sadar ternyata Davina menyukai Adrian. Perubahan tingkah laku Davina setiap kali bertemu dengan Adrian terjadi karena dia menyukai Adrian.
"Vin, kenapa loh gak pernah cerita? Maafin gue yang tidak tau tentang perasaan loh," batin Flora.
"La, kayaknya gue udah punya jawaban tentang pertanyaan Bang Adrian."
"Apa? Gue penasaran nih?"
"Sorry, tapi loh gak boleh tau. Gue cabut dulu yah," Flora meninggalkan Lila yang masih terlihat bingung.
"Yaa..gue ditinggal," Lila kemudian melanjutkan makannya.
Di tempak lain Enruw sedang duduk di sebuah Kafe menunggu seseorang. Beberapa saat kemudian orang yang ditunggu akhirnya datang.
"Hay, udah lama?" tanya Raisa kemudian duduk
"Lumayan," jawab Enruw seadanya.
"Tumben ngajak gue ketemuan? Ada hal penting apa?" Raisa tersenyum manis menatap Enruw.
Enruw tidak langsung menjaeab pertanyaan Raisa. Pandangan matanya menatap tajam ke Raisa.
"Kenapa loh liatin gue kayak gitu? Ada yang salah dengan penampilan gue?" Raisa memperhatikan penampilannya.
"Bukan penampilan loh yang salah tapi sikap loh yang udah keterlaluan."
"Emang salah gue apa Nruw?" Raisa menatap Enruw senduh.
"Gue benar-benar gak ngerti? Tolong jelaskan dengan baik-baik salah gue apa?" Raisa berusaha sabar.
"Leo dan Flora putus. Apa itu karena ulah loh?"
"Kenapa gue yang disalahin? Gue gak ada hubungannya dengan mereka?" Raisa berusah membela diri.
"Mungkin loh bisa bohongin Leo, tapi gue tidak akan tertipu dengan akting loh. Hati loh tak semanis mulut loh itu. Pasti loh udah lakuin sesuatu sehingga mereka putus? Jadi ngaku deh!" Adrian mengintimidasi Raisa.
Raisa yang merasa terpojok masih bersikap sabar dan besikap manis.
"Enruw, tolong jangan sangkut pautkan gue dengan mereka. Gue benar-benar gak tau apa-apa," mata Raisa berkaca-kaca.
"Wahh...loh benar-benar pintar acting, loh patut mendapat penghargaan seandainya loh itu aktris.
"Sebenci itukah loh sama gue?"
"Hentikan sandiwara loh dan akui semuanya? Gue muak liat muka palsu loh itu," Adrian memaksa Raisa.
Raisa tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia menatap Enruw penuh amarah.
"Kenapa? Emang kenapa kalau gue yang menghancurkan hubungan mereka?" tanya Raisa emosi.
"Gue suka liat asli loh yang kayak gini," Enruw tersenyum sinis lalu melanjutkan ucapannya.
"Apa salah Leo? Apa tidak cukup yang sudah kamu lakuin dulu?"
__ADS_1
"Emang salah kalau gue menginginkan Leo kembali? Gue masih sayang sama dia."
"Tapi kenapa gue merasa kalau loh itu punya maksud lain? Sebenarnya bukan Leo yang loh incar tapi ada yang lebih dari itu," Mata Enruw memperhatikan setiap gerak gerik Raisa.
"Sepertinya loh penasaran bangat? Apa perlu gue kasih tau loh sebuah rahasia!" Raisa menyilangkan kedua tangannya.
Enruw yang mendengar itu tidak memperlihatkan reaksi yang berlebihan. Dia berusaha tenang dan bersikap seolah-olah dia tidak merasa penasaran.
"Apa loh gak penasaran? Sepertinya loh gak tertarik dengan cerita gue. Tap gue akan tetap ngasih tau loh."
Enruw tetap tenang dan menunggu Raisa berbicara.
"Sebenarnya bukan gue yang donorin sumsum tulang buat si Leo yang penyakitan itu."
Mata Enruw terbelalak kaget. Dia tidak menyangka Raisa akan membuka rahasianya sendiri.
"Apa loh serius?"
"Emang loh kira gue bodoh, ngapain gue nyakitin badan gue untuk orang yang tidak penting seperti Leo," senyum Raisa.
"Tapi bagaimana mungkin itu bukan loh, padahal gue jelas-jelas melihat loh di ruang operasi," tanya Enruw penasaran.
"Itulah karena gue jenius, sampai kalian semua tertipu. Kalian terlalu bodoh untuk melihat kenyataan," senyum mengejek terukir di bibirnya.
"Gue kira loh suka sama Leo?"
"Emang iya, tapi gue juga harus pintar mengambil keuntungan. Ketika gue tau tentang penyakit Leo, gue berusaha mencari pendonor yang cocok dengan Leo tanpa sepengetahuan keluarganya. Loh pikir kenapa gue bisa kuliah di luar negeri? Itu karena Papanya Leo yang membiayai kehidupan gue sebagai imbalan atas kesembuhan Leo."
"Padahal mereka tidak tau kalau bukan loh pendonor Leo dan kamu memeras mereka atas dasar balas budi." sambung Enruw.
"Tepat sekali, dan sekarang Leo tidak bisa menghindari gue karena merasa berutang budi. Rencana gue berjalan dengan sempurna," kata Raisa memainkan jari-jarinya.
Enruw tercengang melihat Raisa yang dianggapnya biasa-biasa saja ternyata memiliki banyak hal-hal tak terduga dalam dirinya.
"Jadi siapa yang mendonorkan sumsum tulangnya buat Leo?" Tanya Enruw tetap tenang.
"Seorang gadis bodoh yang tidak berpikir panjang untuk melakukannya. Bahkan dia mempermudah rencana gue dengan tidak meminta banyak imbalan. Loh akan lebih terkejut jika tau siapa nama gadis itu," Raisa menatap Enruw.
"Apakah gue kenal orangnya?"
"Tentu, tapi Leo lebih mengenal siapa gadis itu."
Enruw berpikir sejenak kemudian menutup mulutnya dengan tangannya. Matanya terbelalak ketika mengetahui gadis yang dimaksud.
"Apa loh udah tau orangnya?" Raisa mendekatkan wajahnya ke arah Enruw.
"Flora, apa benar dia Flora?"
"Tebakan loh selalu benar. Rupanya Flora emang terlahir untuk Leo."
"Gue gak percaya."
"Terlepas dari masalah Leo, gue punya rencana yang lebih besar dari itu. Kenapa gue kembali? Gue kembali untuk merebut semua yang dimiliki Leo. Balas dendam yang gue pendam selama ini harus berhasil. Keluarga mereka harus hancur seperti Papanya menghancurkan keluarga gue," mata Raisa dipenuhi kebencian.
Sekali lagi Enruw dibuat terkejut dengan pengakuan Raisa. Dia hanya memandangi Raisa tanpa sepata kata pun keluar dari mulutnya.
"Huussshhh..."Raisa meniup jari telunjuknya jemudian melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Ini rahasia kita bedua. Ok?" dia mengedipkan mata kirinya setelah itu dia tersenyum dan beranjak pergi.
"Apapun rencana loh, gue akan selalu ada untyk menggagalkannya," Enruw mengambil ponselnya dan menekan salah satu tombol untuk menyimpan rekamannya.