
Hubungan Flora dan Leo berjalan dengan baik. Hari berganti ke pekan kemudian berganti bulan dan hubungan mereka tidak pernah mengalami pertengkaran.
Leo yang dulunya bersikap dingin, seiring bergantinya waktu dia mulai bersikap hangat. Leo mulai terbiasa dengan dunia barunya dan sedikit demi sedikit keluar dari keterpurukannya.
Leo semakin sibuk dengan kerjaan kantor yang semakin bertambah dan tugas kuliah yang semakin menumpuk. Hari itu Enruw mengunjunginya di kantor.
"Sepertinya loh sibuk banget?" tanya Enrue
"Yaa seperti yang loh liat, ngapain ke kantor?"
"kangen aja sama loh!"
"Iih..jijik gue dengarnya."
"By the way, bagaimana hubungan loh sama si Flora?"
"Baik-baik aja, kenapa?"
"Cuma nanya doang."
"Oh yah Nruw, loh ada acara gak ntar malam?" tanya Leo.
"Sepertinya tidak ada, kenapa?"
"Gue tunggu loh di apartement ntar malam, jangan sampai tidak datang."
"Tumben loh ngundang gue ke apartemen loh?"
"Pokoknya datang aja."
"Ok, baiklah."
Siang berganti sore tapi Leo masih tampak sibuk di kantornya. Dia berusaha menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia pulang.
Tut..tut..tut..ponselnya menerima pesan dari Flora.
"Kamu di mana?"
"Masih di kantor."
"Lembur yaa?"
"Hmm, kamu udah pulang?"
"Iya nih baru aja nyampe rumah."
"Maaf gak bisa nganterin kamu pulang."
"Gak apa-apa, ntar malam ada acara gak?"
"Oh iya lupa kalau gue nyuruh Enruw ke apartement." guman Leo
"Aku ada pertemuan dengan Enruw, kenapa Flo?"
"Gak apa-apa."
"Kenapa?"
"Rencananya mama mau ngundang kamu makan malam di rumah, tapi ternyata kamu ada acara lain."
"Kenapa baru bilang sekarang Flo, atau aku batalin aja acaranya sama si Enruw?"
__ADS_1
"Jangan dibatalin, lain kali masih bisa kok, nanti aku bilang mama kamu gak bisa datang karena lagi ada acara."
"Maaf ya, tapi janji lain kali kita makan malam bareng mamamu."
"Baiklah, bersenang-senanglah."
"Terima kasih, kamu juga istirahatlah."
"Hmm, see you."
"See you to."
Leo mengakhiri pesannya kemudianbersiap-siap untuk pulang. Dia terlihat lelah sekali dan langkah kakinya terlihat berat.
Di apartemen Leo hanya berbaring di sofa setelah mandi. Sepertinya dia masih lelah dan enggan melakukan apa-apa.
"Bukain pintu, gue di depan apartemen loh sekarang," kata Enruw dipesan singkatnya.
Leo berdiri menuju pintu untuk membukakan pintu.
"Cepat bangat loh datangnya."
"Gue cuma gak mau loh nunggu kelamaan."
"Silahkan duduk, gue ambilin minum dulu."
Leo kemudian menuju ke dapurnya mengambil sebotol wine dan beberapa snack lainnya.
"Loh ngundang gue cuma untuk minum dan makan snack doang?"
"Cuma ini yang bisa gue siapain, gue gak sempat beli apa-apa karena terlambat pulang."
"Bilang aja lih pelit."
"Ngomong-ngomong, mengenai hubungan loh sama Flora, loh udah ngasih tau dia gak?"
"Ngasih tau apaan?"
"Tentang Raisa, loh udah ngasih tau Flora gak?"
"Belum, gue pikir dia tidak perlu tau." jawab Leo santai.
"Serius loh?" enruw terkejut.
"Masa lalu ya masa lalu, yang penting adalah hubungan gue sama Flora baik-baik saja."
"Tapi Leo, bagaimana pun Flora harus tau," Enruw berusaha tegas.
"Kenapa dia harus tau?"
"Karena itu akan membuat masalah dalam hubungan kalian nanti. Kenapa loh gak mau Flora tau?" Enruw terlihat khawatir.
"Karena itu tidak penting."
"Loh harusnya terbuka dengan Flora, dia berhak tau atas masa lalu loh karena dia itu pacar loh."
"Enruw, gue gak mau Flora kecewa karena masa lalu gue. Lagian gue udah lupain Raisa."
"Bagaimana kalau Raisa kembali?"
Leo terdiam begitu lama dan tidak menjawab pertanyaan Leo.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan loh belum bisa lupain Raisa?" tanya Leo hati-hati.
"Ngomong apaan sih loh? gue udah move on kali," Leo memukul bahu Enruw.
"jangan merusak kepercayaan Flora. Loh tidak hanya akan kehilangan kepercayaannya tapi loh juga akan kehilangan dirinya.
"Enruw, gue cuma gak mau menatap masa lalu. Flora sangat penting dalam hidup gue dan gue tidak akan kehilangan dia," Leo berusaha membuat Enruw tidak cemas.
"Apa loh yakin hubungan kalian akan baik-baik saja?"
"Raisa cuma masa lalu gue, dan Flora masa depan gue."
"Bagaimana kalau Raisa kembali? Apa perasaan loh tidak akan berubah?" tanya Enruw serius.
"Apa loh gak ingat yang Raisa lakukan, dia pergi ninggalin gue tiba-tiba tanpa penjelasan sedikit pun. Leocmenatap Enruw serius.
"Tapi loh masih sayang sama dia Leo!"
"2 tahun gue tersiksa dengan rasa sakit ini dan selama itu gue tidak tidak pernah mendapat kabar dari Raisa. Jadi bagaimana mungkin gue akan kembali sama dia," Leo menarik nafas.
"2 tahun gue mencari keberadaannya, kamu tau betapa itu membuatku lelah. Kemudian gue bertemu Flora yang memberi gue harapan." sambung Leo
"Tapi Leo..?" Enruw masih kurang yakin.
"Flora menemukan gue dalam keterpurukan dan menghilangkan luka gue. Flora memberiku harapan untuk bangkit dan melupakan masa lalu. Flora merubah gue menjadi orang yang lebih baik lagi. Jadi apapun yang terjadi Flora akan tetap ada dalam hidup gue," Leo bercerita panjang.
"Gue tau suatu hari Raisa akan kembali, mungkin gue tidak akan membencinya tapi bukan berarti gue akan menerima dia kembali dalam hidup gue. Apa pun alasan dia pergi sekarang gue udah tidak peduli. Gue cuma ingin Flora yang ada dalam hidup gue."
"gue cuma tidak ingin loh terluka lagi, gue cuma ingin pastiin perasaan loh, gue tau penderitaan loh selama ini, gue gak mau loh kembali terluka nantinya."
"Enruw, apapun yang terjadi nantinya tolong ada untuk menyadarkanku kalau gue melakukan kesalahan. Sungguh gue mencintai Flora dan gue tidak pernah mencintai seseorang dengan cinta yang begitu besar seperti ini."
"Gue mengerti dan akan mendukung hubungan kalian."
"Terima kasih Enruw, gue berharap tidak melakukan kesalahan. Gue akan mencari waktu yang tepat untuk menceritakan Flora mengenai masalah Raisa."
"Baguslah, cobalah sedikit terbuka," Enruw merasa lega.
"Loh emang sahabat gue Nruw." goda Leo tersenyum.
"Makanya jangan pelit-pelit dan perhitungan sama gue."
Mereka kembali minum kemudian tertawa bersama.
"Tapi loh benar-benar udah move on kan?" tanya Enruw menyipitkan matanya.
"Gue pastiin di hati ini cuma ada Flora." leo menunjuk dadanya.
"Gue tidak pernah berpikir kalau kamu bisa melupakan Raisa."
"Gue juga baru sadar bukan karena rasa cinta gue tidak bisa melupakan Raisa tapi karena perasaan benci yang gue pendam membuat Raisa selalu muncul dipikiranku."
"Gue gak ngerti maksud loh."
"Maksudnya, gue susah move on dari Raisa bukan karena cinta tapi karena perasaan benci. Seandainya, dari awal gue cepat ketemu dengan Flora mungkin gue tidak akan terlarut-larut dalam keterpurukan gue."
Enruw hanya mengangguk mendengarkan Leo
"Kuliah gue terbengkalai karena selalu memikirkan Raisa yang seharusnya gue udah wisuda beberapa yang tahun lalu."
"Oh iya ya, sekarang loh udah umur 25 padahal seharusnyaa loh selesai umur 22. Dinikmati aja bro."
__ADS_1
"Loh ngeledek gue?"
"Yaaa nggak lah justru gue memberi loh semangat."