Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
Firasat


__ADS_3

Beberapa hari setelah menjalani perawatan intensif di rimah sakit, Leo akhirnya diizinkan pulang dan menjalani masa pemulihan di rumah. Tante Sinta yang sudah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit memapah putranya keluar dari Rumah Sakit. Meskipun sebenarnya Leo sudah mampu berjalan sendiri dengan tegap, akan tetapi kekhawatiran sang Ibulah yang menjadikannya anak yang terlihat cengeng.


Leo sedari tadi melihat sekeliling rumah sakit, matanya jelas mencari seseorang. Akan tetapi matanya itu tak menemukan objek sasarannya yang membuatnya sedikit kecewa.


“Apa kamu menungguku?” tiba-tiba Flora muncul dari arah belakang.


“Nggak, aku gak nungguin kamu.” Leo mendehem.


“Masa sih? Terus mata kamu kenapa melirik ke sana sini?” Flora tersenyum tipis menyudutkan Leo.


Telinga Leo menjadi merah, mukanya menjadi panas mengetahui dirinya sedang ketahuan.


“Bilang aja kali kalau lagi nungguin aku!” goda Flora.


“Iya, aku emang lagi nungguin kamu.” Ujar Leo “Rindu soalnya.” Bisik Leo


“Oww..anak olang lagi lindu rupanya.” Flora berbicara seperti seorang bayi sambil mengusap kepala Leo.


Tante Sinta yang melihat kelakuan Flora hanya tersenyum geli. Dia senang mereka tidak terlihat seperti orang sedang bertengkar lagi. kemudian menghampiri mereka setelah meletakkan semua barang-barang di dalam mobilnya.


“udah lama Flo?”


“Belum lama kok tante. Bagaimana kabar tante?”


“Ya lebih baik dari sebelum Leo sembuh. Kamu sehat?”


“Sehat Tante.”


“Mau langsung pulang atau ikut nganterin Leo pulang?” Tante Sinta melirik ke arah Leo.


“Ngapain juga Flo ke sini kalau Cuma liatin Leo doang, pastilah ikut nganterin aku pulang. Iya kan Flo?” Leo pura-pura mendongakkan kepalanya.


Flora hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sepanjang perjalanan mereka penuh dengan senda gurau. Supir yang serius menyetir pun sesekali ikut tertawa mendengar lelucon Flora dan Leo.


Sesampai di rumah Leo, Flora segera memapah Leo untuk masuk ke rumah.


“Sengaja mau ambil kesempatan yah?” bisik Leo menggoda Flora.


“Maksud kamu?” Flora tidak mengerti.


“Padahal kamu tau, aku udah bisa jalan sendiri tapi kamu sengaja memapah untuk ngambil kesempatan untuk deket-dekat aku.” Leo tersenyum kecil.


Flora menghentikan langkanya dan melepaskan tangan Leo dari pundaknya. Kemudian berlalu meninggalkan Leo yang masih berdiri.


“Kenapa di lepas? Aku masih belum bisa jalan. Flo, tolong dong!”


“Katanya bisa jalan sendiri? Dasar cengeng.”

__ADS_1


“Tadi itu Cuma bercanda Flo. Kaki gue pegal nih.” Teriak Leo


“Bi’, tolong bantuin Leo yah!”


Si pembantu mengangguk dan segera menghampiri Leo. Leo melirik Flora kesal, sedang Flora menjulurkan lidahnya tanda mengejek.


“Papa mana bi’?”


“Tuan Haris sedang ke kantor, katanya ada rapat mendadak.”


Flora yang mendengar nama itu spontan menghentikan langkanya karena kaget. Nama itu seperti mengingatkannya kepada seseorang.


“Nama Papa kamu Haris?”


“Iya, kenapa?”


“tidak apa-apa, nanya doang.” Tersenyum tipis.


Flora kembali diam memikirkan nama itu. Nama yang sama dengan nama Papanya.


“Mungkin hanya kebetulan doang, tidak mungkin mereka adalah orang yang sama. Apa yang gue pikirkan?” batin Flora, dia kemudian menggeleng-geleng kepala.


“Kamu kenapa geleng-geleng kepala? Apa kamu sakit?” tanya Leo yang melihat tingkah Flora.


“Eh, aah, aku gak apa-apa kok.” Jawabnya tergagap.


“Terus kenapa kayak orang bengong gitu?”


Meskipun berusaha bersikap tenang, tetap saja nama itu mengacaukan pikirannya. Dia membenci Papanya, tapi dia juga tidak bisa menerima bahwa Papanya memang pergi karena ada orang ketiga. Flora terhanyut dalam pikirannya, dia tidak menghiraukan sekelilingnya bahwa orang di sana sedang memperhatiak sikapnya.


“Apa kamu baik-baik aja Flo?” suara Tante Sinta mengagetkan Flora.


“Iya tante.” Singkat Flora membuat tante Sinta heran.


“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”


“Tidak ada kok Tante.” Flora tersenyum.


“Tapi dari tadi kamu hanya melamun, sepertinya ada masalah. Ayo bilang sama tante, siapa tau bisa bantu!”


“Flo tidak ada masalah apa-apa, mungkin hanya kecapean dong.” Flora kembali tersenyum.


“Syukurlah. Tante ikut senang kalau kamu baik-baik saja.


Suasana menjadi hening. Flora kembali ke dalam pikirannya. Kemudian menghadap tante Sinta


“Maaf kalau Flo lancang, sejak kapan tante menikah dengan Papanya Leo? Flora terlihat begitu serius.

__ADS_1


Tante Sinta menjadi heran. Dia tidak menyangkah akan mendapat pertanyaan seperti itu.


“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan pernikahan tante?”


“Maaf kalau pertanyaanku mengganggu tante, Flo Cuma penasaran aja.” Flora mengetuk kepalanya sendiri karena merasa bersalah.


“Pernikahan kami udah berlangsung sangat lama, tinggal beberapa tahun lagi umur Leo mencapai 30 tahun. Itu berarti pernikahan kami sudah sejak itu.” Tante Sinta menjelaskan dan menahan Flora mengetuk kepalanya.


“Tante pasti sangat mencintai Papanya Leo?”


Tante Sinta sontak tertawa keras mendengar pertanyaan Flora yang tiba-tiba dan membuatnya merasa malu.


“Dari mana kamu mendapat pertanyaan itu? Apa tante juga harus menjawab pertanyaan itu?”


“Tidak dijawab juga tidak apa-apa. Flo Cuma pengen tau aja.”


“Meskipun suami tante jarang di rumah karena pekerjaan. Tante sangat mencintainya, Papanya Leo adalah sosok suami yang bertanggung jawab. Dia orang yang sangat baik dengan semua orang. Suami tante memperlakukan semua orang seperti keluarganya sendiri.” Tante Sinta tersenyum, nampak rona kebahagian di wajahnya.


“Papa Leo benar-benar baik, pantas saja Leo baik ternyata turunan dari Papanya.”


“Apa dari papanya saja? Jadi maksud kamu Tante tidak baik?” Tante Sinta memasang wajah sedih.


“Maksud Flo bukan seperti itu.” Flora menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tante juga baik, baik bangat malah. Flo beruntung ketemu sama keluarga ini yang sangat menyayangiku. Flo juga sangat sayang sama tante seperti Mamaku sendiri.” Sambung Flora dan langsung memeluk tante Sinta.


Tante Sinta yang tidak bersiap mendapat pelukan itu terkejut. Tapi kemudian mebalas pelukan itu dengan senang sambil mengusap-ngusap rambut Flora lembut.


“Yaa ampun anak tante, sejak kapan jadi manja gini?” air matanya jatuh tanpa disadarinya.


“Apa tante menangis?”


“Nggak kok, tante Cuma merasa bahagia mempunyai putri cantik seperti kamu. Tante berharap kamu selamanya di sini dan menjadi putri tante.”


“Jangan Khawatir, Flo tidak akan ke mana-mana.”


“Mama kamu pasti orang yang sangat baik. Sampaikan ucapan terima kasih tante sama mama kamu kalau udah pulang nanti.”


“Ucapan terima kasih untuk apa?”


“Karena sudah melahirkan seorang putri yang cantik dan baik hati seperti kamu.”


“Tante bisa aja. Lain kali Flo ngajak Tante ke rumah buat ketemu sama mama. Mama juga pengen bangat ketemu sama tante. Katanya dia pengen ketemu sama orang tua Flo yang lain.”


“Benarkah? Tante tidak sabar menunggu saat itu tiba.”


Dering telpon rumah yang begitu nyaring menghentikan obrolan mereka. Tante Sinta bergegas menuju gagang telpon berada. Sedangkan Flora kembali dalam pikirannya.

__ADS_1


“Tidak mungkin mereka adalah orang sama. Kalaupun orang itu selingkuh, bukankah anaknya harusnya lebih mudah dariku. Sedangkan Leo jauh lebih tua dariku. Pernikahan tante Sinta juga udah mau 30 tahun, sedangkan aku baru berumur 20-an lebih. Jadi sangat tidak mungkin mereka adalah orang yang sama.” Batin Flora merusaha menenangkan pikirannya.


Akan tetapi entah mengapa meskipun dia berusaha tenang, hatinya kembali tidak tenang. Dia mendapat firasat yang tidak baik tentang hal itu.


__ADS_2