Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
Menghilang


__ADS_3

Operasi berjalan lancar. Leo di pindahkan ke ruangan lain, akan tetapi sudah 3 hari usai operasi Leo belum juga bangun. Selama itu Flora tidak pernah meninggalkan Leo. Dia dengan sabar menjaga dan merawat Leo.


Flora cekatan dalam merawat Leo seperti membersihkan tangan atau wajah Leo dengan lap basah atau tissu basah. Tidak sekalipun Flora merasa bosan bahkan dia sampai menginap untuk menjaga Leo.


"Leo, kenapa kamu belum terbangun juga? Apakah kamu mimpi indah di sana? Tolong bangunlah, semua orang mencemaskanmu!" Flora menggenggam tangan Leo sedih.


Melihat kondisi Leo, Flora selalu berusaha menghibur diri dengan mengajak Leo bercakap meskipun tidak mendapat balasan. Flora akan mulai membacakan dongeng atau sekedar basa basi jika dia mulai sedih dan kesepian.


"Leo, apa kamu tau, hari ini teman-teman kampus datang menjenguk kamu. Kamu mungkin akan terharu atau mungkin tertawa melihar tingkah Ranti yang menangis keras melihatmu sakit," Flora tersenyum kemudian mulai mengeluarkan air matanya.


"Bangun Leo! Aku sungguh merindukanmu. Apa kamu belum puas meihatku mencemaskanmu?" Flora menelungkupkan kepalanya di tangan Leo.


"Kenapa kamu masih di sini Flo? Kamu tidak kuliah? Tanya tante Sinta tiba-tiba datang.


"Flo harus merawat Leo tante, setidaknya sampai dia siuman. Tolong tante jangan minta Flo untuk pergi!" Flora memegang tangan tante Sinta memohon.


"Sayang, tante senang kamu di sini jagain Leo. Tapi kamu juga harus memperhatikan dirimu, lihat kamu belum juga ganti baju dari kemarin, rambut kamu kusut, wajahmu terlihat begitu lelah. Pulanglah istirahat! Nanti kamu bisa kembali lagi kok."


"Flo gak apa-apa kok tante, Aku akan tetap di sini jagain Leo."


"Ada tante, pulanglah istirahat! Bagaimana bisa kamu jagain Leo kalau nanti kamu sakit," tante Sinta menatap Flora terharu


"Baiklah, tolong kabarin Flo kalau Leo udah sadar!"


"Jangan khawatir, pulanglah!" tante Sinta tersenyum.


Flora bolak balik Rumah Sakit untuk menjaga Leo. Dia sama sekali tidak pernah mengeluh. Hari itu hari ke lima Leo terbaring di Rumah Sakit tapi dia belum juga terbangun. Baik Flora, tante Sinta, ataupun Enruw, Raisa juga sering mengunjungi Leo seperti hari itu.


"Flo, bisa bicara sebentar!"


"Apa ada yang penting?"


"Iya," Raisa meninggalkan ruangan Leo diikuti oleh Flora.

__ADS_1


Di halaman Rumah Sakit, Raisa tampak begitu serius memandangi Flora sedangkan Flora terlihat tidak sabar menunggu Raisa untuk berbicara.


"Sampai kapan loh akan seperti ini?" tanya Raisa memulai pembicaraan.


"Emangnya apa yang gue lakukan?" jawab Flora merasa tadak melakulan sesuatu yang salah.


"Apa loh pikir Leo akan tersentuh jika tau loh menjaganya? Di mana letak rasa malu loh? Berapa kali gue bilang untuk menjauhi Leo, kenapa loh tidak mengerti juga," Riasa menatap Flora tajam.


"Apa loh begitu takutnya Leo akan kembali ke gue? Kenapa harus takut kalau Leo juga suka sama Loh?" Flora tersenyum.


"Gue gak takut. Toh, pada akhirnya Leo juga akan menjadi milik gue. Tolong berhenti mengemis cinta Leo dan mulai sekarang berhenti datang untuk melihatnya."


"Gue gak pernah mengemis cinta Leo. Gue menjaganya tulus dan dan tidak mengharapkan imbalan. Gue gak pernah pura-pura karena gue emang tulus tidak seperti orang lain."


"Maksud loh gue pura-pura suka sama Leo?" Raisa terlihat kesal


"Gue tidak bilang seperti itu, lohnya aja yang merasa. Jangan khawatir, gue cuma di sini sampai dia siuman. Kemudian seterusnya gue akan menghilang dari pandangannya. Jika itu bisa membuat loh puas, maka loh harus berterima kasih ke gue," Flora kembali tersenyum.


"Jangan sampai loh ingkar janji," ancam Raisa.


Flora melangkah masuk Rumah Sakit. Langkahnya begitu berat, hatinya terasa perih dengan setiap ucapan untuk tifak melihat Leo.


"Apakah gue emang tidak pantas untuk Leo, melihatnya saja terasa begitu susah? Bahkan untuk mengingatnya saja terasa begitu mahal dan jauh dari jangkauan," batin Flora menyekah buliran aor matanya.


"Flora yah? Teman kamu sudah sadar," kata seorang perawat.


Flora langsung berlari menuju ruangan Leo. Sesampai di sana bukannya menghampiri Leo dia hanya berdiri di balik pintu sambil memandangi Leo. Dia tidak berani melangkahkan kakinya ke arah Leo.


"Ingat janji loh!" kata Raisa dari belakang kemudian langsung masuk menghampiri Leo.


Tante Sinta terlihat begitu bahagia melihat putranya yang sudah siuman. Tangis bahagia mewarnai wajahnya.


"Syukurlah, akhirnya kamu bangun nak."

__ADS_1


"Aku senang sekali melihat kamu bangun Leo," kata Raisa tersenyun.


"Ma, Flo gak ada di sini?" Leo melihat ke arah lain mencari Flora.


Tante Sinta yang baru tersadar kemudian mencari Floracdan melihatnya berdiri di balik pintu. Dia terlihat sedih melihat Flora yang hanya berdiri di depan pintu melihat Leo melalui kaca pintu.


Flora menangis bahagia. Air matanya berurai tiads henti. Ingin rasanya dia mendatangi Leo dan memeluknya erat sambil mengatakan aku merindukanmu. Tapi dia tidak akan melakukannya karena terikat janji.


"Terima kasih Leo karena sudah bangun. Aku bahagia karena kamu mendengarkanku untuk bangun dari tidur panjangmu. Setelah ini, hiduplah dengan baik dan berbahagialah. Tetaplah dengan kebencianmu terhadapku agar aku juga bisa melupakanmu dengan mudah," Flora sangat sedih.


"Akhirnya, aku bisa pulang dengan tenang. Selamat tinggal Leo," Flora kemudian berbalik dan hendak meninggalkan pintu tersebut.


"Kenapa kamu tidak masuk sayang?" tanya tante Sinta tiba- riba keluar.


"Flo tidak harus masuk kan tante? Melihatnya dari sini sudah cukup buatku. Aku sangat senang sekarang tante, sampai-sampai air mataku tidak mau berhenti keluar," Flora tersenyum dalam tangisnya.


"Kenapa menyiksa diri seperti ini Flo? Kamu harus menghampirinya karena Leo juga mencarimu! Kenapa kalian terlalu angkuh dengan perasaan masing-masing padahal kalian begitu saling membutuhkan? Ayo masuklah nak!" tante Sinta meraih tangan Flora dan menariknya masuk.


"Jangan tante, Flo sungguh ingin memghampirinya tapi aku rasa itu tidak perlu," Flora menahan tangannya.


"Kenapa sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Flora memeluk tante Sinta dengan begitu erat dan menumpahkan semua air matanya di sana.


"Kenapa begitu sulit untuk kami bersama tante? Apakah Flo tidak cukup baik untuk Leo? Apakah tuhan begitu membenci Flo sehingga tidak mengizinkanku untuk bersama Leo? Bahkan untuk melihatnya saja begitu susah."


"Kenapa Bicara seperti itu Flo? Siapa yang bilang kalian tidak pantas bersama? Kalian saling mencintai dan terlihat begitu serasi," Tante Sinta mengelus-elus kepala Flora.


Flora melepas pelukannya dan kemudian meraih tangan Tante Sinta.


"Tante, apapun yang terjadi tolong jangan beritahu Leo kalau Flo di sini! Jangan beritahu tentang donor darah ataupun tentang Flo yang selalu menjaganya! Biarlah itu menjadi rahasia kita."


"Tapi kenapa? Leo berhak mengetahui semuanya."

__ADS_1


"Tolong yah tante. Maaf, aku harus pergi sekarang," Flora kemudian berlalu tanpa melihat ke belakang.


__ADS_2