Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
dag, dig, dug


__ADS_3

Sudah 3 hari berlalu sejak perdebatan itu terjadi tapi hal itu entah kenapa membuat Flora tidak bisa melupakan kejadian itu. Kejadian itu selalu terngiang-ngiang di kepala Flora.


"Ah, ada apa denganku kenapa gue harus inget si ice man terus sih. Aish.. Leo gue benci sama loh," Flora berbicara sendiri di dalam kamarnya.


Flora pun kembali tersenyum menatap layar laptopnya rupanya dia lagi menonton drama Korea.


"Oppa..maafin Flo ya karena memikirkan cowok lain tapi percayalah hatiku hanya untuk kalian. Oppa..saranghe..hahahaha." dia pun kembali tertawa sendiri.


Sungguh gadis yang aneh moodnya cepat sekali beruba. Flora akan berada di kamarnya sepanjang waktu kalau lagi libur dia lebih memilih nonton drama korea dari pada keluar nongkrong bersama sahabatnya Davina. Flora hanya punya satu tempat tujuan kalau keluar rumah yaitu kafe Zidan karena letaknya yang jauh dari pusat kota.


Rupanya pertemuan itu juga ternyata membuat Leo tidak bisa tenang. Bayangan Flora selalu menari diingatannya.


"Flora Aurelia, dasar gadis aneh," ucap Leo pelan kemudian tersenyum.


Leo benar-benar dibuat tidak bisa tenang oleh Flora. Leo tidak bisa fokus dengan kerjaannya karena diingatannya cuma ada Flora.


"Wah..benar-benar gila, ada apa sih dengan gue," kemudian memukul kepalanya sendiri.


Leo mengingat cara Flora berbicara, dia mengingat ekspresi wajah Flora saat marah, dia mengingat ekspresi Flora saat terkejut. Leo mengingat semuanya dengan sangat baik.


"Gue benar-benar udah gila, bagaimana mungkin gue suka cewek aneh kayak dia. Aish gila," teriak Leo.


"Ada apa sayang, mama dengar kamu teriak?" kata mamanya tiba-tiba masuk kamar.


"Tidak apa-apa kok Ma," sambut leo terkejut.


"Hmm, tapi mama dengar kamu teriak "gila", siapa yang gila?" mamanya pun mendekati putranya.


Leo berpikit sejenak kemudian menjawab petanyaan mamanya.


"Aaa..bukan siapa-siapa kok ma, Leo cuma kecapean aja."


"Benar nih, bukan karena si dia?" ujar mamanya menggoda.


"Ma..maksud mama apa?" Leo tergagap karena terkejut


"Gadis mana yang mampu membuat putraku tertawa sendiri?"


"Bukan siapa-siapa kok Ma, cuma gadis aneh di kampus."


"Oh ya, sekali-kali kenalin mama dong!"


"Apa-apaan sih Ma lagian Leo juga baru kenal terus kenalannya bukan karena hal baik. awal perkenalan aja langsung ngajakin Leo bertengkar."


"Berani juga ya dia, biasa cewek-cewek akan berusaha cari-cari perhatian sama anakku, mama jadi penasaran."


"Masa Leo di panggil ice man, apa-apaan coba."


"Yaa salah sendiri sih, jangan bersikap terlalu dingin berusahalah memberi sedikit ruang."


"Ngapain Ma, Leo akan tetap seperti ini."


"Tidak ada gunanya menyimpan masa lalu itu hanya akan membuatmu semakin sakit nak," nasehat Mamanya.


"Ya udah mama keluar ya, Leo lagi pengen istirahat," kemudian beranjak dari duduknya dan memandu Mamanya keluar.

__ADS_1


"Leo dengerin Mama dulu, ini demi kebaikan kamu juga,"


"udah ya ma," Leo pun menutup pintu kamarnya.


Mamanya sangat sedih melihat putranya yang belum bisa lepas dari bayang-bayang Raisa mantan kekasihnya yang meninggalkannya tiba-tiba tanpa penjelasan apapun.


Di dalam kamar Leo kembali ke meja kerjanya. Moodnya langsung beruba lesuh.


"bagaimana mungkin sakit ini akan hilang, bagaimana mungkin gue melupakan luka yang masih berdarah ini. Aahh..benar-benar sakit," Leo menyentuh dadanya dsn menghelah mafas.


Kalau sudah begitu Leo akan keluar rumah untuk sekedar menghilangkan kesedihannya.


Leo langsung menghubungi sahabatnya Enruw.


"Hallo, gue tungguin loh di tempat biasa!" Leo pun langsung mematikan telponnya tanpa persetujuan Enruw diujung telpon.


"Dasar nih anak, emang gue bilang mau nemuin dia nggak kan?" kata Enruw bicara sendiri


"Benar-benar menyebalkan, dia pikir gue gak ada kerjaan apa."


Enruw masih terus mengomel tapi dia tidak pernah membuat sahabatnya menunggu karena dia tau hanya dia yang dibutuhkan setiap kali Leo ada masalah. Tanpa basa basi lagi Enruw mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju tempat yang ditujukan Leo.


Dari luar kafe Zidan Leo terlihat seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Leo mengambil tempat duduk dipojokan kafe di mana tempat itu adalah tempat favoritnya menghabiskan waktu bersama Enruw kalau lagi sedang bad mood.


"Tumben loh cepat biasanya gue yang tungguin loh."


"Dari mana aja loh? ditungguin dari tadi juga." Leo memandang Enruw kesal.


"Gak usah marah-marah, loh fikir gue gak ada kerjaan apa."


"Alasan aja loh."


"Malas aja gue di rumah terus," sangkal Leo


"Kalau ada masalah ceritalah, loh udah dapat kabar gak dari Raisa?"


Terlalu lama Leo diam dengan pertanyaan Enruw. Ada sesuatu yang menjanggal di dadanya kalau mendengar nama itu.


"Sorry kalau gue ungkit nama itu."


Leo terdiam dsn meletakkan ponselnya.


"Udahlah gak perlu dibahas, gue udah ngelupain dia. lagian dia cuma masa lalu gue."


"Baguslah kalau begitu, jadi sekarang cobalah membuka diri siapa tau loh bisa menemukan pengganti Raisa."


"Entahlah Nruw apakah gue sanggup mencintai wanita lain. Luka ini masih menganga dan terasa masih sangat menyesakkan," ucap leo sambil menarik nafas.


"Udahlah bro di bawah santai aja, loh hanya perlu merubah muka dingin loh menjadi lebih friendly lagi," saran Enruw.


"Entahlah apakah gue bisa keluar dari zona nyaman ini. Luka ini membuatku menikmati kesendirian gue."


Enruw hanya bisa menarik nafas melihat sahabatnya yang tidak memiliki tujuan hidup.


"rupanya loh belum bisa menerima kepergian Raisa, gue fikir dengan Kuliah di Jogja loh akan dengan mudah melupakan Raisa tapi ternyata gue salah. Leo yang malang." ujar Enruw dalam hati.

__ADS_1


Sudah 2 tahun sejak kepergian Raisa tapi Leo masih terjebak dalam pertanyaannya. Mengapa Raisa meninggalkannya tiba-tiba?


"Eh bro bagaimana hari loh di kampus baru?"


"Baik-baik aja." leo kemudian mengernyitkan alisnya.


"Baguslah semoga loh beta."


"Eh loh tau gak di kampus gue ketemu.seorang cewek bar-bar," kata Leo tiba-tiba


"Cewek bar-bar, siapa, canti gak?" tanya Enruw penasaran.


Leo terdiam sepertinya dia sedang Mengingat sesuatu kemudian bangkit dan memberbaiki posisi duduknya.


"Namanya Flora, cewek teraneh yang pernah gue kenal. Dia tidak seperti cewek pada umumnya," Jawabnya kemudian tersenyum dan melihat ke langit-langit kafe


"Kok aneh, anggun, seksi, peminim, tomboy atau bagaimana?" Enruw terlihat antusias dengan cerita Leo.


"Dia lumayan tinggi, rambut panjang, bukan tipe cewek peminim, penampilannya agak seperti tomboy mungkin karena cara berpakaiannya yang memakai celana jeans bukan rok mini." Leo mulai tersenyum sendiri


"Terus apa lagi, gue penasaran nih!"


"Tapi meskipun begitu dengan rambut yang tergerai panjang dia terlihat anggun dan seksi dengan riasan wajah tanpa make up," sambung Leo mendiskripsikan tiap detil penampilan Flora.


"wah perfect. jadi penasan gue."


"eitsh tapi tunggu dulu dia bukan gadis dengan suara lembut. dia gadis yang pemarah yag sukanya nonton drama korea doang," lanjutnya lagi.


Mereka kemudian tertawa dengan penjelasan Leo yang terakhir. Enruw melihat sekelilingnya dan matanya tertuju pada sudut kafe yang dipenuhi dengan bunga tempat itu begitu tenang dan terlihat seorang cewek sedang duduk dengan headset di telinganya sambil menatap layar laptopnya.


"Ada cewek cantik tuh!"


"Loh kan mata keranjang siapa aja loh panggil cantik."


"Serius gue, rambutnya panjang seperti si cewek yang loh bilang tadi."


Leo seketika menghentikan makannya kemudian melanjutkannya lagi.


"Tidak mungkin si muka datar," batinnya.


"bro..bro..dia menuju kemari. Benar-benar cantik," Enruw melihat si gadis dengan mulut terbuka.


Leo kemudian mendongakkan kepalanya dan matanya tidak sengaja tertuju pada objek yang dimaksud Enruw. Dua pasang bola mata kembali beraduh pandang. dag, dig, dug jantung keduanya bertedak kencang.


"Ngapain si muka datar di sini?" tanya Leo dalam hati.


"Sial, kenapa gue bisa ketemu ice man di tempat ini," kata Flora dalam hati.


pandangan itu masih terus berlanjut seakan-akan keduanya mengisyaratkan sesuatu


"Hello."


Mereka tersentak dengan suara Enruw. Flora pun pergi dengan cepat.


"ada apa dengan jantung gue, kayaknya gue harus ke dokter," batin Flora.

__ADS_1


Leo masih terkejut dengan apa yang barusan dilihatnya.


"apakah Kota ini begitu kecil sehingga di mana-mana gue bisa bertemu dengannya lagi," Gerutu Leo dalam hati.


__ADS_2