Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
BIOPSIKOLOGI


__ADS_3

Leo mengajak Flora kembali dengan menggenggam tangannya. Flora sangat nyaman dengan perlakuan Leo kepadanya. Flora berjalan di samping Leo dan sesekali melirik Leo.


Flora tidak pernah berfikir bahwa orang seperti Leo akan memperlakukannya dengan baik kalau dilihat dari ekspresi wajahnya yang dingin.


"kalau mau liat wajah gue bilang aja , gak usah malu-malu!" kata Leo


"Siapa yang liatan loh?"


"Gue suka kalau loh liatin gue."


"Kapan gue liatin wajah loh?"


"Gak usah bohong. gue tau semuanya."


"Eh ngomong-ngomong loh kok bisa ada di sini? padahal gue gak pernah liat loh turun dari Bus."


"Kenapa, loh berharap gue datang?"


"Yaa bukan apa-apa, soalnya kan ini tur wajib."


"Gak mungkinlah gue tidak datang kalau loh nya ada di sini."


"Maksudnya?"


"Gue gak bisa kalau gak liat muka datar loh."


"Gombal, kok terlambat?"


"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan dulu."


"Oh."


"Tunggu sini ya gue ambil mobil dulu!"


Flora hanya mengangguk dan menunggu Leo mengambil mobilnya di parkiran. Hanya butuh beberapa menit dan Leo pun datang. Flora masuk ke mobil dan mereka pulang Ke kota.


"Loh lapar gak Flo?"


"Nggak, Loh?"


"Sama gue juga tidak lapar."


"Oh ya kapan kita bisa mengerjakan tesis dari Prof. Baskoro?"


"Gue udah gak ingat, atur aja kapan waktunya."


"Baiklah, bagaimana kalau sore otu juga kalau loh gak sibuk?"


"Baiklah."


Mereka kembali terdiam dengan fikiran masing-masing. Flora menghadap ke Leo dan menatap setiap sudut wajah Leo.


"Kenapa Flo?"


"Sikap loh dingin."


"Yaa karena emang gue seperti itu."


"Loh sepertinya menyimpan sesuatu yang besar."


"Gak ada apa-apa, justru loh yang aneh?"


"maksudnya?"


"Gue tau loh bukan tipe cewek manja yang menyukai berbagai hal yang bersifat peminim."


"Terus?"


"Tapi kenapa loh suka nonton korea drama? gak cocok tau dengan kepribadian loh."

__ADS_1


"Oh ya, Entahlah menurut gue korea drama itu berjalan sesuai dengan realita, dan gue mendapat banyak pelajaran hidup dari nonton korea drama."


"oh, gue mengerti."


"Guue pengen dengar kisah loh?"


"Hmm..ap yah gue tinggal bersama kedua orang tua gue, Trus gue anak tunggal, trus apa lagi ya?"


Leo melihat Flora yang ternyata sudah terlelap. Leo melihat wajah Flora begitu polos dan cantik.


"Gue kan tidak tau alamat rumahnya." batin Leo


Tapi Leo juga tidak tega mengganggu tidur Flora. Leo membawa Flora ke Apartemennya dan membawanya ke kamarnya.


Leo memandang wajah Flora sambil membelai rambutnya. Ketika hendak pergi Flora memegang tangannya


"Pa, jangan tinggalin Flo."


Leo terdiam memandang Flora, ada rasa penasaran yang terselip dibenak Leo


"Sepertinya loh menyimpan begitu banya luka."


"Gue akan berada di sisi loh mulai dari sekarang, entah loh suka atau tidak."


Leo berbaring di samping Flora sambil terus menatapnya hingga dia terlelap.


Keesokan paginya Flora terbangun dan melihat sekelilingnya dia merasa ada yang aneh dengan tempatnya dan kemudian tersadar itu bukan kamarnya.


"Gue di mana? pakaian gue." melihat pakaiannya yang sudah diganti


"Apa yang terjadi? gue harus ngapain?"


Flora bicara sendiri dan mondar mandir di kamar. Tidak lama kemudian dia mendapat pesan


"Good morning, gue yakin loh pasti kaget kalau udah bangun. Loh ada di Apartemen gue dan mengenai pakaian loh bukan gue yang ganti tapi Bibi yang biasa bersihin Apartement."


"Gue udah siapin sarapan di dapur. Nanti sore kita ketemu di Bioskop. Sorry gue bawa loh ke tempat gue karena gak tau alamat rumah loh. By Leo."


"Aaaaa..apa yang sudah gue lakukan. Apa yang harus gue katakan sama Leo?"


Flora bertingkah aneh dan perasaannya tidak karuan. Dia tidak tahu harus berbuat apa kalau ketemu Leo.


"Mendingan gue balik deh, pasti mama udah kwatir."


Flora memperbaiki pakaiannya dan kembali ke rumahnya. Dia berpikir bahwa Ibunya pasti sangat cemas


"Ma, Flo pulang."


"Kok cepat pulangnya?"


"Maksud mama apa?, emang mama mau Flo pulang jam berapa, mama gak kwatir?"


"Bagaiman sih? kan Flo yang bilang mau nginap di tempat temanmu?" Mamanya jadi kebingungan.


"Eh, oh iya Flo lupa."


Flora berpikir mungkin itu Leo yang mengirim pesan kepada mamanya dan benar saja Leo memang melakukannya dengan ponselnya.


"Syukurlah, gue harus siap-siap nanti gue terlambat."


"Tunggu dulu, ngapain Leo ngajakin gue ke bioskop?"kata Flora menyadari sesuatu.


"Sudahlah mendingan gue bersiap-siap."


Flora membuka lemari pakaiannya dan memilih beberapa lembar pakaian tapi dia merasa tidak ada yang cocok dengannya.


"Aduh bagaimana ini, gue harus pake yang mana," sambil menatap pakaiaannya di depan cermin.


Flora membuang badannya di kasur karena tidak tahu harus mengenakan pakaian yang mana. Dia benar-benar sibuk dan seisi kamarnya berantakan.

__ADS_1


"Ngapain gue sibuk, ini kan bukan kencan. Sadar Flo loh cuma diajakin nonton biasa bukan kencan," Flora bicara sendiri.


Bagaimanapun ajakan Leo itu membuatnya harus terlihat cantik.


"Ma, Flo bagusan pake yang mana?" menunjukkan 2 pasang pakaian.


"Tumben anak mama sibuk dengan penampilannya, mau kencan yah?"


"Bukan kok Ma, bagusan mana ma?"


Mamanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya. Baru kali ini anaknya terlihat peduli dengan penampilannya.


"Menurut mama, Flo mending pake yang ini deh," menunjuk pakaian di tangan kanan Flo.


"Yang ini yah? baiklah, ma kasih ma."


Flora kembali ke kamar mengenakan pakaiannya dengan celana jiens hitam robek dipadukan dengan kaos warnah putih polos yang di masukkan ke dalam celananya dengan kemeja garis-garis lengan panjang sebagai lapisan luarnya . Flora tidak lupa dengan riasan wajahnya dengan sedikit krim wajah dan lipstik red velvet, rambut yang biasa bergerai diikatnya dengan meninggalkan sedikit poni memperlihatkan lehernya. Terlihat seksi dan menawan.


"Ok selesai, sekarang udah jam 3 sore gue harus berangkat."


Flora mengambil tas kecil selempang dan mengenakan sepatu kesayangannya sepatu sniker warnah putih.


"Ma Flo berangkat ya."


"Hati-hati."


Flora melaju dengan skuternya. Dia membutuhkan beberapa menit untuk sampai ke tempat tujuannya. Flora memasuki gedung bioskop dan melihat Leo berdiri di dekat loker pembelian tiket. Leo dengan gayanya dengan tas ranselnya dan tangan dimasukkan ke saku celananya.


"Ah gantengnya." cuma terdiam sambil memandang Leo.


"Flo, loh dari tadi?" memanggil Flora.


"Baru kok. ngapain ngajakin gue nonton?"


"itu, anu.." Leo menggaruk kepalanya.


"Anu apaan?"


Leo lupa menyiapkan alasan untuk pertanyaan Flora.


"Oh itu BIOPSIKOLOGI, iya itu kita harus mengerjakan tugas kan."


"Hampir saja gue gak punya alasan."batin leo


"Haa, BIOPSIKOLOGI, gak ada hubungannya denga bioskop."


"Adalah, kita akan mengamati mental setiap orang yang nonton bioskop."


"Yang benar aja loh, gak masuk akal tau."


"Kita masuk yuk!" ajak Leo


"Seharian gue hampir gila memikirkan penampilan gue trus dia bilangnya karena tugas. BIOPSIKOLOGI apaan?" gerutu Flora dalam hati.


"Seandainya gue tau gak bakal gue dandan kayak gini, dasar ice man." Flora masih mengomel dalam hati.


Leo tersenyum melihat ekspresi wajah Flora. Leo menyukai ekspresi itu.


"Ngomong-ngomong hari ini loh cantik bangat."


"Ah biasa aja." wajah Flora memerah


"Sebenarnya bukan karena BIOPSIKOLOGI gue ngajakin loh nonton tapi emang gue pengen jalan sama loh."


Flora hanya diam tersipu malu. Dia tidak berani melihat wajah Leo.


"Tapi kalau sama orang lain jangan mengikat rambut loh seperti ini, bahaya."


"Bahaya bagaimana?"

__ADS_1


"Pokoknya jangan, tapi kalau sama gue boleh aja."


"Karena leher itu membuat siapa saja akan merasa gerah." batin Leo


__ADS_2