
Hubungan anak dan Ibu menjadi rancu karena kesalahpahaman yang tidak bisa diluruskan. Tante Lina yang berupaya menjelaskan letak permasalahannya sedangkan Flora dengan emosi yang mudah naik hanya percaya dengan apa yang dilihatnya.
Flora yang sebelumnya hanya gadis lugu penikmat drama Korea, kini menjadi seorang gadis dewasa dengan segudang masalah. Kisah cintanya dengan Leo yang belum menemukan titik terang cukup membuatnya sedih, ditambah dengan kehadiran Papanya yang masih menyimpan luka di hatinya, sedangkan Mamanya tidak mendukungnya.
Perasaan letih sungguh menyelimuti hatinya. Dia tidak tahu harus bersandar di pundak siapa. Orang yang selama ini selalu ada untuknya, entah akan kembali seperti dulu atau memang akan berakhir. Akan tetapi, Flora selalu menanamkan harapan yang besar untuk kembali kepada Leo seperti dulu. Dia tidak akan menyerah demi pujaan hatinya.
Flora yang meninggalkan pertikaiannya dengan sang Mama hanya bisa mendesah sedih. Ada perasaan bersalah, tapi dia tidak mau itu semakin berlarut karena hanya akan membuat pikiran semakin kacau dan tentunya membuatnya semakin lemah. Dia mengendarai Bimbo dan menuju rumah sakit untuk menjaga Leo.
Di depan kamar rawat Leo, Flora menarik nafas panjang untuk menenangkan pikirannya. Kakinya gemetar untuk melangkah menuju Leo, dia tahu Leo masih akan mengacuhkannya seperti yang dilkukannya sebelumnya. Flora tersenyum kemudian masuk dan menyapa leo dengan manisnya. Seperti dugaan Flora, Leo masih juga mengabaikannya.
“ Apa kamu udah makan?”
Orang yang ditanya hanya diam memandangi layar ponselnya. Kehadiran Flora sama sekali tidak dipedulikan.
“Mama kamu udah pulang ya? Maaf, harusnya aku datangnya lebih awal biar kamu ada teman.”
Flora terus saja mengoceh tapi tidak digubris oleh Leo. Flora tidak menyerah, dia hanya perlu bertahan dengan sikapa Leo. Sedangkan Leo memang sengaja mengabaikan Flora. Dia sesekali mengambil kesempatan melirik Flora kemudian memalingkan wajahnya ketika Flora menghadapnya.
Flora meraih tangan leo dan mengusapnya dengan kain basah untuk membersihkannya. Tapi dengan sigap Leo menarik tangannya. Sekali lagi Flora berusaha menarik tangan Leo, tapi perlakuan Leo tetap sama.
“Jangan sentuh Gue!” bentak Leo.
Flora tersentak kaget kemudian menatap Leo sedih. Tanpa berkata apapun dia berbalik dan mendesah pelan. Tanpa disadarinya air matanya jatuh. Dengan perasaan sesak dia berusaha menahan isakannya.
“Maaf, jika aku mengganggumu.”
Flora berdiri hendak meninggalkan ruangan itu, kemudian langkahnya terhenti karena tertahan oleh pelukan seseorang. Flora tidak memberontak, tangisnya tak terbendung lagi. Dia berdiri kaku dalam pelukan Leo.
“Kenapa Leo? Apa aku benar-benar tidak punya tempat lagi di hatimu? Kenapa aku merasa seperti kamu sengaja mempermainkan perasaanku?”
Leo memutar tubuh Flora dan menyekah air matanya. Kemudian menariknya duduk di sampingnya.
“Maafkan aku Flo, aku tidak menyangkah kamu akan menangis. Sebenarnya dari tadi aku menunggu kamu datang.”
__ADS_1
“Aku bingung jika sikap kamu seperti ini. Kadang aku ingin menyerah dan pergi tapi selalu saja perasaan ini selalu tertuju padamu.”
“Aku tau kamu capek menghadapiku, tapi meskipun begitu jangan pernah berpaling dariku Flo. Tidak ada yang mampu menggantikan kamu di sini.” Leo meletakkan tangan Flora di dadanya.
“Terkadang kamu marah tidak jelas, kadang kamu bersikap sangat baik. Kamu membuatku bimbang dengan perubahan sikap kamu yang seperti itu. Tapi sialnya aku terus merasa bersalah dan berpikir aku membuatmu marah.” Menatap Leo sendu.
“Harusnya kamu yang marah dengan semua sikap aku terhadap kamu. Maafkan aku yang selalu mengabaikanmu. Maafkan sudah membuatmu menangis. Tapi juga terima kasih karena selalu menyelamatkan hidupku. Terima kasih karena sudah mendonorkan sumsum tulangmu untukku waktu itu.”
Flora berusaha mengingat sesuatu, kemudian menutup mulutnya yang menganga karena terkejut tidak percaya.
“Apa kamu yang menerima donor itu?”
“Iya, seandainya hari itu kamu tidak mendonorkan sumsum tulang belakangmu, mungkin aku sudah tiada saat ini.”
“waktu itu aku tidak punya pilihan lain selain menjadi pendonor. Saat itu Mamaku juga sedang dalam keadaan kritis dan harus segera dioperasi, sedangkan aku tidak punya uang sama sekali. Seandainya bukan perempuan itu yang menawari aku menjadi pendonor, mungkin Mamaku juga sudah tiada sekarang.”
“kami pikir Raisa yang mendonorkan sumsum tulang belakangnya, tapi ternyata bukan. Selama ini dia sudah menipu kami.”
“jadi perempuan yang waktu itu adalah Raisa.”
“Aku bersyukur itu kamu, bahkan jika harus berkorban nyawa untuk menyelamatkan hidupmu, maka aku akan lakukan.” Flora memandang leo dengan lekat.
Leo merasa begitu simpatik dengan ucapan Flora. Dia membalas tatapan Flora kemudian memeluknya dengan erat.
“Maaf, selama ini aku selalu membuatmu kecewa. Maafkan semua sikapku yang menyakitimu. Maaf, karena aku, Raisa selalu mengganggumu. Leo terus saja meminta maaf. Tidak ada kata yang bisa diucapkannya selain kata maaf. Flora melepas pelukannya dan memegang tang Leo.”
“jangan meminta maaf, cinta itu selalu memafkan tanpa ada ucap kata. Biarkan kata maaf itu pergi dengan sendirinya. Karena cinta tidak akan membiarkannya hadir untuk mengacaukan perasaan sang pemilik hati.”
“Tapi aku udah banyak salah sama kamu?”
“Bukan kamu saja yang punya salah, selama ini aku juga udah banyak salah sama kamu.”
“kamu tidak ada salah, hanya aku yang salah.” Ucap Leo
__ADS_1
“tidak Leo, aku juga salah.” Balas Flora dengan sedih
“biar aku aja yang salah Flo!”
Keduanya tidak ada yang mau mengalah tentang siapa yang salah. Mereka kemudian tertawa dengan tingkah konyolnya. Rona kebahagian jelas tergambar di wajah dua sejoli ini, tidak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka.
“Flo, aku mau ngenalin kamu ke Papa!”
“Kenapa?”
“karena kamu orang special, aku juga ingin minta restu untuk nikahin kamu.”
“Apa tidak terlalu buru-buru, kita baru aja baikan?”
“Kenapa, apa kamu tidak mau menikah denganku?”
“Bukan seperti itu, tapi aku takut aja Papa kamu tidak setuju.”
“Jangan khawatir, Papa aku orangnya baik kok, tidak lama lagi kuliah kita selesai, aku juga udah punya pekerjaan yang tetap. Aku takut kehilangan kamu karena kesalahan yang akan aku perbuat ke depannya.”
Lama sekali Flora memandangi wajah Leo. Ada perasaan ragu tapi dia juga tidak menampik bahwa dia sangat bahagia dan sangat berharap dengan ucapan Leo.
“Baiklah, kapan kita akan menemui Papamu?”
“secepatnya kalau aku udah keluar dari rumah sakit. Sebenarnya aku udah bosan tinggal di sini tapi Mama tidak izinin keluar, katanya aku belum sembuh total.” Cemberut.
“Kamu yang sabar, setidaknya aku masih punya waktu untuk bernafas lega sebelum ketemu Papamu.”
“Apa kamu segerogi itu?”
“Iya, mau ketemu sama calon Mertua tentu saja aku gerogi.”
“Yaa ampun.” Leo mencubit pipi Flora kemudian mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Sejenak, hanya ada tawa, senda gurau, kerinduan, cinta yang terpancar hari itu.