
Setelah menceritakan masalahnya dengan Leo, pikiran Flora menjadi lebih tenang. Dia mempertimbangkan semua perkataan Leo. Mungkin hatinya belum luluh sepenuhnya, tapi dia akn mencoba untuk menerima Papanya kembali.
Di ruang keluarga terlihat Flora dan mamanya sedang menonto televisi. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka, hanya ada suara televisi yang memenuhi ruangan itu. Flora sesekali melihat ke arah mamanya.
“Ma, maafkan Flo yang udah ngelawan mama selama ini.” Suara Flora memecah kesunyian.
Tante Lina mengecilkan volume televisi. Dia sangat kaget dengan permintaan maaf putrinya.
“Kenapa mendadak berubah pikiran?”
“Yaa, setelah aku pikir-pikir mungkin memang seharusnya aku mendengar penjelasan orang itu. Maksud Flo papa.” Tersenyum.
“Apa mama tidak salah dengar?” tante Lina masih belum percaya.
“Iya. Flo akan berusaha menerima kehadiran papa lagi.”
“Mama senang mendengarnya.”
“Hubungi Papa dan minta dia datang ke rumah. Aku akan mendengar semua penjelasannya.”
“Baiklah, Mama akan menghubungi papa kamu.”
Tut..tut..tut.. ponsel Flora bergetar tanda ada panggilan telpon yang masuk.
“Ada apa Leo?”
“Gini Flo, apa kamu bisa ke rumah bantuin mama?”
“Emang ada apa?”
“Kamu lupa atau emang gak ingat. Nanti kan kita dinner sama papa aku.”
“Oh iya, sorry aku lupa. Menepuk jidatnya sendiri. “Baiklah aku ke sana sekarang” mematikan sambungan telponnya.
“Ma, aku ke rumah Leo dulu ya.”
“Baiklah hati-hati.”
Flora segera mengambil kunci motornya dan melajukan Bimbo menuju rumah Leo. Akan tetapi sesampainya di depan pintu rumah Leo, pemandangan yang tidak pernah ia sangkah-sangkah sebelumnya akan hadir di depan matanya. Pemandangan yang sekali lagi akan mebuatnya kecewa dan bahkan lebih membuatnya sakit lagi.
“Kenapa papa bisa di rumah Leo?” dia menutup mulutnya yang mengangah karena terkejut.
“Pa, ingat nanti cepat pulang. Putra kita akan ngenalin pacarnya ke papa.” Kata tante Sinta merapihkan dasi Haris.
Mata Flora terbelalak kaget. Hatinya remuk mendengar perkataan tante Sinta.
“Apa? Jadi Papa adalah Papanya Leo? Jadi selama ini selingkuhan Papa adalah tante sinta. Aku mungkin salah liat. tidak mungkin, ini pasti ada yang salah.” Batin Flora
Pikirannya menjadi kacau. Badannya menjadi gemetar. Dia kembali mengingat tentang foto keluarga yang pernah di liatnya lantai 2 rumah Leo dan juga mengingat ketika Leo mencari Papanya.
“Ternyata mereka memang orang yang sama. Oh Tuhan kau mempermainkanku lagi kali ini.” Batinnya, kemudian berlalu meninggalkan rumah Leo.
“Apakah papa harus datang dinner?”
__ADS_1
“harus dong Pa. Leo akan sangat kecewa kalau papanya tidak datang.”
“Siapa gadis itu yang mampu membuat putraku jatu cinta lagi. Papa pikir setelah dengan Raisa dia akan susah move on.”
“Makanya Papa harus datang. Dia cantik loh pa. Mama juga sangat menyukainya.” Tersenyum bahagia.
“Padahal Papa berencana menjodohkannya dengan gadis pilihan Papa.”
“Gadis yang mana Pa?”
“Putri Papa dong.”
“Maksud papa gadis yang itu.” Tebak Tante Sinta.
“Gadis yang mana lagi.”
“Yaa, mau bagaimana lagi pa, anak kita udah punya pilihannya sendiri.”
“Padahal Papa yakin Leo akan menyukai gadis ini. Dia benar-benar tumbuh menjadi gadis yang cantik.”
“kapan-kapan kita berkunjung yuk Pa ke rumah dia. Tapi kalau dipikir-pikir Leo mungkin akan marah kalau mengetahui tentang putri Papa yang lain. Dia akan merasa cemburu.”
“Papa juga pikir begitu. Tapi sekarang Leo udah dewasa, dia pasti bisa mengerti situasi papa. Aku menyayangi mereka berdua. Mereka adalah hidup papa.”
“Mama juga ikut senang mendengarnya.”
Di sisi lain Flora pulang dengan berbagai pertanyaan yang menumpuk dipikirannya. Baru beberapa menit yang lalu dia inginmemulai kehidupannya yang baru dengan sang Papa. Tapi kemudian lenyap sekedip mata mengetahui kebenaran bahwa dia memiliki Papa yang sama dengan kekasihnya.
Flora memakirkan motornya kemudian memasuki rumahnya tanpa suara. Sambutan mamanya dihiraukan. Mamanya heran melihat tingkah Flora yang berubah.
Di dalam kamar Flora mondar-mandir sambil menggigit ujung jari jempolnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Jadi selingkuhan Papa itu Tante Sinta? Tapi kenapa harus mamanya Leo? Bagaimana aku harus menghadapi Leo? Jadi aku saudaraan sam Leo, masa iya?” Flora mengacak-ngacak rambutnya kemudian berteriak dan akhirnya tertawa.
“Apa lagi ini tuhan?” teriaknya yang membuatnya kaget.
“Kamu kenapa sayang?” panggil Tante Lina dibalik pintu.
Tapi tidak dipedulukan oleh Flora. Dia terus berteriak dan tertawa seperti orang yang tidak waras. Sang Bunda yang khawatir berusaha membuka pintu kamar putrinya. Tapi kamar dikunci dari dalam. Mamanya menjadi panik dan terus memanggil putrinya tapi alhasil tidak ada jawaban dari dalam kamar. Hanya ada suara teriakan, tawa dan tangisan dari Flora.
Hari meredup menjadi malam dan Flora tetap mengurung diri di kamarnya. Sedangkan di tempat lain Leo menjadi gelisa karena Flora sama sekali tidak mengangkat telponya. 27 panggilan terjawab dan 10 pesan memenuhi layar ponsel Flora. Tapi dia hanya memandangi layar ponselnya dengan air mata yang terus mengalir.
“Angkat Flo, tolong diangkat. Kamu di mana?” Leo berbicara sendiri.
“Belum ada kabar dari Flora?” tanya sang Bunda.
“Belum Ma, dia tidak angkat telpon Leo.”
“Kamu yang sabar siapa tau dia lagi di jalan.”
“Tapi ini udah jam berapa Ma? Padahal tadi udah ke sini?”
“Flora tidak pernah datang hari ini.” Kata Mamanya heran.
__ADS_1
“tapi dia tadi bilang mau ke rumah bantuin mama.” Leo menjadi terkejut.
“Coba di chat lagi. Siapa tau Flo kenapa-napa!”
Leo kembali mengetik pesan teks.
“Flo, apa kamu baik-baik aja? Aku udah nungguin dari tadi. Atau Bimbo mogok ya? Atau aku jemput aja?”
Leo mondar-mandir gelisah menunggu balasan pesan dari Flora. Tut..tut..tut..ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.
“Maaf Leo, kayak hari ini aku tidak bisa menhadiri makan malam bersama papa kamu. Aku lagi tidak enak badan sekarang. Lain kali aja ya, salam sama papa dan mama kamu dan juga sampaikan permintaan maafku kepada mereka. Kamu jangan khawatir, nikmati dinner kamu dengan mereka. Terus tidak usah datang ke rumah nanti, aku janji akan baik-baik saja.”
“Cepat sembuh. Besok aku ke rumah kamu. I love You.”
Ada perasaa kecewa yang menerpa hatinya. Tapi Leo juga tidak bisa menyalahkan Flora.
“Apa sudah ada kabar dari Flora?”
“Flora lagi sakit ma, katanya tidak bisa datang. Padahal Leo berharap bangat Flora bisa datang.” Ucapnya dengan kecewa.
“Tidak apa-apa sayang. Masih banyak waktu kok. Papa kamu juga akan tinggal lama di sini.”
“Mana gadis itu Leo?” tanya Papanya yang keluar dari kamarnya.
“Dia tidak bisa datang malam ini pa. Pacar Leo lagi sakit.”
“Oh begitu, padahal Papa penasan sekali mau bertemu dengannya.”
“Maaf pa, tapi lain kali aku pasti kenalin dia ke papa.”
“Jangan lama-lama karena Papa juga udah punya gadis yang cocok buat kamu.
“ Pa, Leo tidak mau dijodoh-jodohkan.” Kesal Leo.
“Itukan kalau kamu tidak punya pacar. Papa juga tidak maksaain kok. Ucap papanya santai.
“Nanti kalau udah kenal pacar Leo. Papa pasti menyukainya seperti mamanya yang sayang sama Flora.”
“Flora?” Harris seperti mengenal nama itu.
“Kenapa Pa?” tanya istrinya
“Tidak apa-apa ma. Cuma nama itu sama dengan nama gadis papa.”
“Apa papa mengenal Flora?” tanya Leo.
“Iya kenal. Tapi bukan Flora yang kamu kenal.”
Harris terdiam sejenak dalam lamunannya.
“Tidak mungkin mereka gadis yang sama. Tapi kalau emnag mereka ada gadis yang sama, maka itu membuat semuanya menjadi...” terbangun dari lamunannya.
“Mikirin apa pa?” membubarkan lamunan suaminya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa sayang. Papa udah lapar nih.”
“Ya udah ayo kita makan, nanti makanannya keburu dingin. Ayo Leo kita makan dulu.”