Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
Balas Dendam


__ADS_3

Di tempat lain Leo sangat terpukul dengan keputusan Flora yang tiba-tiba memutus hubungan dengannya. Leo tidak habis pikir mengapa Flora meninggalkan dirinya. Apakah dirinya tidak cukup baik untuk Flora? Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah Flora sudah bosan dengannya? Apakah Flora memiliki seseorang selain dirinya?. Semua pertanyaan tersebut selalu menari-nari di kepalanya tapi tetap saja dia Leo tidak menemukan jawabannya.


Leo hanya bisa meratapi nasibnya yang kembali merasakan pedihnya ditinggal seseorang yang sangat dicintainya. Dia tidak pernah membayangkan hidupnya tanpa Flora. Padahal dia sudah merencanakan masa depannya bersama Flora kelak.


Dalam ruang kantor yang luas itu, tampak Leo yang sangat sibuk dengan segala urusan kantornya. Berkas penting menumpuk di meja kerjanya, Leo sesekali membolak balik berkas- berkasnya kemudian kembali terdiam kala Flora kembali hadir dipikirannya. Leo tidak bisa berpikir jernih, pekerjaannya belum selesai- selesai juga.


Terdengar pintu kantornya diketuk seseorang dari luar.


"Masuk!"


"Hey Leo, kamu tampaknya sibuk bangat?" Raisa menghampiri Leo.


"Iya nih, ngapain loh ke kantor?"


"Emang gak boleh? Gue cuma pengen ketemu sama kamu," Raisa mendekati Leo dan berusaha memeluknya dari belakang.


"Jangan melakukan hal-hal yang tidak gue suka," Leo melepaskan tangan Raisa dari punggungnya.


"Sorry, Aku liat kamu seperti sedang ada masalah?"


"Gue baik-baik aja."


"Oh ya, apa loh udah ngasih tau Flora tentang hububan kita?" tanya Leo ketika mengingat sesuatu.


"Udah, aku bilang kalau hubungan kita cuma sebatas teman. Kenapa?" kata Raisa berbohong.


"Gak apa-apa."


"Apa ada masalah?"


"Dia mutusin gue."


Raisa tersentak kaget, senyum kemenangan terukir jelas di bibirnya. Ingin rasanya Raisa berteriak saat itu, rencananya akhirnya berhasil.


"Kenapa bisa? Aku gak percaya Flora akan mutusin kamu," Raisa pura-pura sedih.

__ADS_1


"Entahlah, gue juga gak merasa punya salah."


Raisa terdiam memikirkan sesuatu. Dia mengambil kesempatan untuk mengadu domba Leo dengan Flora. Raisa mengarang cerita agar Leo membenci Flora.


"Maaf Leo, tapi aku harus ngasih tau kamu tentang sesuatu yang dikatakan Flora," Raisa memasang wajah bersalah.


"Sesuatu? Emang Flora bilang apa?" Leo menghentikan pekerjaannya dan menatap Raisa.


"Flora bilang, dia gak peduli dengan hubungan diantara kita. Bagi dia, kamu cuma tempat persinggahan dia doang. Sebenarnya dia menyukai seseorang selain kamu," Raisa sungguh lihai memanfaatkan kesempatan.


"Gak mungkin Flora seperti itu, gue yakin ada hal lain," Leo tidak mempercayai ucapan Raisa.


"Gue juga gak percaya, tapi kalau kamu mau bukti, kita bisa ke kampus dan memastikannya sendiri," Raisa berusaha membuat pikiran Leo kacau.


Tanpa pikir panjang Leo mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju Kampusnya. Dia telah termakan hasutan Raisa. Sedangkan Raisa tertawa dalam diamnya mengetahui rencananya yang berjalan lancar.


"Ini baru permulaan Leo, gue akan bikin orang-orang yang mencintai loh pergi meninggalkan loh. Gue akan balas dendam atas perbuatan orang tua loh. Tidak ada yang akan menghentikan balas dendam gue," batin Raisa penuh kebencian.


Leo mencari di seluruh tempat di mana Flora biasa menghabiskan waktu di Kampus. Tapi Leo tidak juga menemukan Flora. Setelah lama berpikir, Leo menuju ke taman Kampus tempat terakhir yang biasa di tempati Flora.


"Sekarang kamu tau kan siapa yang disukai Flora!" Raisa mencoba menghasut Leo.


Tanpa sepata kata pun Leo menghampiri Flora dan Adrian.


"Jadi dia cowok baru loh?" tanya Leo menahan amarahnya.


"Maksud loh apaan?" tanya Flora terkejut.


"Sok lugu loh, selama ini loh cuma pura-pura kan baik sama gue, biar loh bisa manfaatin gue?" Leo dengan gamblangnya mengucapkan kata-kata yang menyakiti perasaan Flora.


"Maaf, gue gak pernah main-main dengan perasaan gue ke loh. Justru loh yang seenaknya mainin perasaan gue," emosi Flora mulai naik.


"pintar bangat loh cari alasan, jadi ini semua salah gue gitu? Gue pikir loh gadis baik-baik tapi ternyata loh tidak ada bedanya dengan gadis-gadis di luar sana yang cuma menganggap cowok sebagai tempat persinggahan doang," Leo tidak bisa mengontrol setiap kata yang dilontarkannya.


Raisa yang melihat pertengkaran mulut antara Flora dan Leo tersenyum puas. Dia menikmati setiap momen pertengkaran mereka.

__ADS_1


"Silahkan bertengkar sepuasnya, ayo Leo luapkan semua amarah loh! Flo, loh juga gak boleh diam aja, ayo balas setiap makian Leo. Jangan buat gue kecewa, pertengkaran kalian harus seru," Batin Flora bahagia.


Flora yang tidak menduga dengan perkataan Leo tanpa sengaja berdiri dan melayangkan tamparan di wajah Leo.


"Jangan samakan gue dengan mereka, loh siapa yang berani menilai gue seperti itu?" Flora memegang tangannya yang terasa sakit dan menatap Leo tajam.


"Jadi ini sifat asli loh, ternyata loh cuma gadis kasar yang suka manfaatin orang lain demi tujuan loh," maki Leo.


"Cukup, cukup Leo. Loh boleh membenci gue sepuas loh. Tapi tolong hentikan hinaan loh itu," Flora berusaha memendam emosinya.


"Kenapa? Apakah semua yang gue bilang itu benar?" Leo terus menyerang Flora.


"Leo, apa loh sadar setiap ucapan yang loh lontarkan itu menyakiti perasaan Flora," Adrian menunjuk Leo.


"Loh gak berhak ikut campur masalah gue," Leo menarik kerah kemeja Adrian.


"Udah Bang, gak usah diladenin mendingan kita pergi dari sini," Flora menarik Adrian pergi.


Leo tersenyum sinis melihat ke arah Flora, timbul rada benci di dalam hatinya.


"Pergi loh sana! Dasar gadis sialan," teriak Leo.


Leo masih berdiri kemudian mengacak-ngacak rambutnya. Dia terlihat seperti orang sinting, air matanya pun terjatuh tanpa disadarinya. Rasa penyesalan menyelimuti batinnya atas setiap kata yang dilontarkannya terhadap Flora.


Sedangkan Flora yang sudah pergi menjauh dari Leo benar-benar tidak menduga atas perlakuan Leo. Jantungnya terasa remuk, harga dirinya terasa terinjak-injak atas hinaan Leo. Sungai di sudut matanya tak sanggup lagi dibendungnya.


Flora tidak sanggup menahan beban di hatinya. Dia berjalan dengan pandangan kosong dan tubuhnya yang lemah tidak sanggup berdiri dengan tegap. Tubuhnya tumbang begitu saja tapi untung saja Adrian langsung menangkap tubuhnya.


"Kamu sakit ya? Ayo aku bawah ke rumah sakit," Adrian tampak cemas dengan keadaan Flora.


"Aku gak apa-apa."


"Tapi badan kamu lemas Flo, kamu sepertinya demam."


"hhsss...badan gue yang lemas, tapi kenapa hati gue yang merasa sakit," Flora tersenyum dalam tangisannya.

__ADS_1


"Kamu yang tenang yah! Aku akan selalu ada buat kamu. Jadi berhenti menangis, kamu harus kuat," Adrian berusaha menguatkan Flora.


__ADS_2