
Kesehatan Leo benar-benar sudah membaik. Dia sudah kembali menjalani aktivitas seperti sebelum dia kecelakaan. Pagi itu Leo menjemput Flora untuk berangkat bersama ke kampus.
“Pagi Tante.” Sapa leo dengan senyum manisnya.
“Eh nak Leo, bagaimana kondisi kamu?”
“Sudah membaik tante.”
“Syukurlah.”
“Floranya masih tidur ya?” melirik ke arah kamar Flora.
“Mungkin lagi siap-siap. Bentar lagi juga turun.”
Leo menangkap sesuatu yang aneh dari cara Tante Lina menanggapi pertanyaannya. Tapi dia tidak mau mempertanyakan ada apa karena takut membuat suasana jadi canggung. Tidak lama kemudian Flora keluar dari kamarnya. Tidak ada tutur sapa seperti biasanya, flora langsung menuju makan.
“Nak Leo, ayo sarapan sebelum ke kampus.” Ajak tante Lina
“Iya tante.”
“Dari tadi datangnya?” tanya Flora ketika menyadari kehadiran Leo.
“Iya.”
Beberapa menit di meja makan, tidak ada suara candaan seperti dulu. Keadaan menjadi sunyi. Leo yang menyadari hal itu menjadi canggung sendiri. Dia ingin bersuara, tapi takut membuat suasana menjadi lebih tegang lagi. Seusai sarapan, Flora langsung mengambil langkat cepat untuk segera meninggalkan rumah, kemudian ditahan oleh Leo.
“Ada apa?”
“kenapa buru-buru?” bisik Leo
“Nanti kita terlambat. Ayo cepat!”
“Maaf tante, saya berencana memperkenalkan Flora ke Papa. Kalau tante tidak keberatan, saya memohon izin agar kami diberi restu.”
Tante Lina memandang Flora yang mengarahkan pandangannya ke arah lain.
“Terserah Flonya aja. Tante Cuma ingin kalian bahagia.”
“Terima kasih banyak tante.” Leo terlihat kegirangan.
“Baiklah Ma kami berangkat dulu. Love You..” Ucap Flora cuek
“Love you too.” Tatapan sendu jelas tergambar di wajah tante Lina melihat yang Flora yang bersikap dingin padanya.
Leo menjadi heran melihat tingkah Flora yang tidak seperti biasanya. Dia mengejar Flora yang semakin menjauh dari darinya. Tanpa aba-aba pun Flora langsung menaiki mobil Leo.
Sepanjang perjalanan, Flora berbincang sambil tertawa. Dia sama sekali tidak menampak ekspresi seseorang yang sedang mempunyai masalah. Entah dia memang tidak mau ambil pusing atau dia Cuma menyembunyikannya dari Leo.
Akan tetapi berbeda dengan Leo yang merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Dia menjadi penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya.
“Flo.”
__ADS_1
“Iya, ada apa Leo?”
“Apa kamu ada masalah ?”
Flora mendelikkan matanya tanda tidak mengerti dengan pertnyaan Leo.
“Maksudnya?”
“hubungan kalian baik-baik aja kan? Maksudnya dengan mama kamu.”
“Iya, gak ada masalah kok. Semuanya baik-baik aja. Apa aku terlihat seperti orang yang sedang dalam masalah?”
“Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku. Perlakuan kamu ke Mamamu itu tidak seperti biasanya. Ada perasaan canggung di antara kalian.”
“Barangkali itu Cuma perasaan kamu doang. Aku sama Mama baik-baik aja.” Flora berusaha tersenyum lebar.
Leo menghentikan mobilnya yang membuat Flora terkejut.
“Ada apa Leo, apa mobilnya mogok?”
Leo memandang Flora serius. Begitu serius sehingga membuat Flora menjadi tidak nyaman.
“Kamu kenapa mandangin aku kayak gitu?” Flora terlihat gugup.
“Jangan berbohong Flo, kamu bisa senyum selebar mungkin, tapi matamu tidak bisa berbohong.”
“Kamu ngomong apaan sih?”
“Leo, aku benar-benar tidak ada masalah. Apa lagi yang perlu aku pikirkan, sedangkan kamu sudah bersama denganku lagi. Itu sudah cukup menghilangkan semua masalahku.” Flora tersenyum kaku.
“Apa aku tidak berarti bagimu sehingga kamu harus menyembunyikannya dariku? Kalau terlalu berat masalahnya maka ceritalah setidaknya aku bisa bantu mengurangi beban itu!” Leo kembali menatap Flora lekat.
Flora terdiam karena tidak bisa lagi mengelak dari pertanyaan Leo. Tatapan matanya mulai sayu tapi tetap berusaha tersenyum.
“Papa aku kembali.” Singkat Flora membuka suara.
Leo terkejut, dia tidak menduga kalau itu adalah masalah yang menyangkut Ayahnya Flora. Leo tidak bersuara, dia seharunya tidak memaksa Flora menceritakan masalahnya. Tapi bagaimana pun juga dia harus membantu kekasihnya untuk terlepas dari masalah tersebut.
“Aku tidak pernah berharap papa akan kembali. Mengingat rupanya saja aku muak. Tapi kenapa sekarang dia kembali? Sakit yang susah payah aku kubur, kini bangkit lagi.”
“Tapi kenapa dengan mama kamu?”
“Aku marah. Mama selalu membelah orang itu, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Seharusnya mama yang lebih marah. Tapi kenapa dia begitu tenang menerima orang itu. Aku merasa sedang dipermainkan.”
“Mungkin papa kamu memang sudah berubah dan ingin memperbaiki semuanya. Barangkali ada sesuatu yang tidak kamu ketahui tentang mereka.”
“Mungkin dia sudah dicampakkan oleh keluarganya sehingga dia kembali lagi. Aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataaan bahwa papa pergi karena wanita lain.”
“Maaf Flo, bukan maksud menyalahkan. Tapi coba lihat dari sudut pandang orang tua kamu. Tidak mungkin Mama kamu menerima papamu begitu saja kalau emang ada masalah.”
“Apa kamu juga berpihak kepada mereka? Aku pikir kamu akan membelahku, tapi nyatanya..” Flora menatap Leo kesal dan keluar dari mobil.
__ADS_1
Leo memukul mulutnya karena salah mengucapkan kalimat yang akhirnya membuat Flora kesal.
"Ngambek deh, mulut gue juga." batin Leo.
“Flo, maksud aku bukan seperti itu.” Leo keluar dari mobil dan mengejar Flora
Namu Flora tidak menghiraukan Leo. Dia terus berjalan menjauh dari Leo. Sedangkan Leo mempercepat langkahnya mengejar Flora dan menarik tangannya.
“Dengerin dulu, jangan langsung berpikir yang macam-macam. Tentulah aku berpihak ke kamu, tapi kamu juga harus mendengarkan penjelasan mereka.”
“Tuh kan, apa namanya kalau bukan berpihak kepada mereka. Kenapa semua orang menyalahkan aku.” Flora menarik tangannya dari genggaman Leo.
“Flo, aku mungkin tidak tau rasa sakit yang kamu rasakan. Tapi aku ingin kamu selalu bahagia entah itu tanpa Papa kamu atau pun ada papa kamu. Bukankah kembalinya papa kamu merupakan sebuah anugerah karena nyatanya dia masih mengingat dan kembali kepadamu.”
“Tapi aku tidak pernah mengharapkannya.” Mata Flora berkaca-kaca.
“Jangan berpura-pura egois, apa hati kamu tidak merindukannya? Apa dia benar-benar sudah hilang dari hati kamu? Jangan berbuat sesuatu yang akan berujung penyesalan. Aku benar-benar ingin kamu tetap tersenyum karena bahagia.”
“Aku tidak tau, tapi hati ini hanya menyisahkan rasa sakit jika mengingatnya.” Flora menunduk.
Leo menarik Flora ke dalam pelukannya dan membiarkannya menumpahkan segala perasaan sakit yang dipendamnya.
“Maafkan aku yang salah paham.” Flora memeluk Leo erat.
“Tidak apa-apa. Menangislah! Buang semua perasaan yang mengganjal di hati kamu!” Leo membelai rambut Flora lembut.
“Jangan pergi dariku. jangan seperti orang itu yang pergi dan datang sesuka hatinya. Atau kalau kamu ingin pergi, maka pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah muncul dihadapanku.”
“Kamu ini ngomong apa Flo. Tidak mungkin aku pergi, bahkan jika kamu berpaling aku akan terus mengikutimu dan mencintaimu meskipun cintaku tak mendapat balasan.” Leo melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Flora.
“Aku mencintaimu Leo. Hari ini, besok, besok dan besoknya lagi.
Leo menatap kekasinya dalam. Dia benar-benar mencintai wanita itu.
“Kalau begitu kamu harus menjadi istriku segera.”
“Tapi nanti kalau udah dapat gelar sarjananya.” Manja Flora
“Lusa, kita dinner dengan papa ku. Aku tidak sabar untuk mengenalkan kamu dengannya.”
“huuhh, aku benar-benar gugup kalau membahas itu.”
“Kamu harus datang sama mama kamu. Kalau bisa sama papa kamu juga.”
“Mulai lagi deh.”
“Iya maaf. Cobalah untuk tenang dan selesaikan masalahmu dengan kepala yang dingin. Orang bilang kalau nikah itu, mempelai wanitanya harus ada papanya sebagai wali.”
“Aku punya mama kok. Cukup bilang aja aku gak punya papa.”
“Yaa udah terserah kamu. Ayo Kita lanjutin perjalanan kita, udah jam berapa ini.” Leo melihat jam tangannya.
__ADS_1
“Baiklah.”