
Kisah cinta yang manis kini harus berakhir dengan cara yang menyakitkan. Rasa rindun. terabaikan, hanya ada rasa benci yang menyelimuti hati mereka. Kenangan yang manis harus terkubur oleh rasa benci yang lebih besar.
Hari terus berganti. Flora maupun Leo pun tetap menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Meski tidak ada tutur sapa ketika di Kampus, mereka terlihat baik-baik saja. Meskipun sebenarnya hati mereka berkata lain.
Flora lebih banyak mengisi waktu luangnya bersama Adrian, bahkan hampir setiap waktu mereka terlihat bersama baik itu di Kampus ataupun di luar kampus. Sedangkan Leo harus bersabar dengan Raisa yang selalu mengikutinya dan menempel padanya. Cemburu jelas terlihat dimata mereka berdua, namun mau diapa, rasa egois dan gengsih keduanya terlalu besar.
Meskipun hubungan mereka sudah berakhir, tapi bukan berarti hubungan Flora dengan orang tua Leo berakhir. Begitupun dengan Leo yang sesekali mengunjungi rumah Flora saat Flora tidak ada di rumah. Hubungan kekeluargaan mereka tetap terjalin dengan baik. Flora masih sering mengunjungi rumah Leo ketika dia pulang dari kampus.
"selamat siang tante?" Flora memeluk tante Sinta ramah.
"Selamat siang sayang. Tante rindu sekali sama kamu padahal baru ketemu kemarin," membelai rambut Flora.
"Flo juga rindu sama tante, Leo belum pulang yah tante?" Flora melihat ke sekeliling rumah.
"Iya sayang, sepertinya dia mampir ke kantor."
"Baguslah, Flo gak enak kalau ketemu sama Leo," Flora terlihat sedih.
"Hmm, kamu udah makan?"
"Belum, sebenarnya Flo sengaja gak makan biar bisa makan bareng tante," Flora menggoda tante Sinta.
"Ada-ada saja kamu, tapi tante emang udah masakin makanan kesukaan kamu," tante Sinta tersenyum dan mengajak Flora ke meja makan.
"Enaknya..Flo udah gak sabar nih," antusias Flora.
Flora terlihat begitu menikmati makanannya. Tapi suara dibalik pintu menghilangkan nafsu makannya. Leo memasuki rumah bersama Raisa dan langsung menghampiri meja makan tempat Flora berada.
"Ayo sayang, sini makan bareng," ajak tante Sinta.
"Malas ma, nafsu makan Leo tiba-tiba hilang," kata Leo menyindir Flora.
"Leo, mama gak suka kamu seperti itu," ancam Tante Sinta.
"Leo gak suka makan makanan sisa," Leo mengacak-ngacak beberapa makanan di meja.
"Jaga ucapan kamu Leo," tante Sinta membentak Leo.
"Leo naik ke atas dulu. Mama makan aja sama anak kesayangan mama," Leo meninggalkan mereka.
"Leo, tungguin Raisa," Raisa mengikuti Leo.
"Raisa, berhenti di sana! Jangan berani mengikuti Leo ke kamarnya," tante Sinta menghentikan langkah Raisa.
"Maaf tante," Raisa kemudian duduk di sofa dengan kesal.
Flora hanya terdiam memandangi piringnya. Tak sepata kata pun keluar dari mulutnya. Ingin rasanya dia segera pergi dari rumah itu.
__ADS_1
"Jangan dihiraukan yah perkataan Leo!" tante Raisa merasa bersalah.
"Gak apa-apa kok tante, Flo juga udah kebal dengan setiap ucapan Leo."
"Tante gak menyangka hubungan kalian berakhir seperti ini, padahal tante sangat berharap banyak dengan hubungan kalian. Aku udah menganggap kamu seperti anak tante sendiri."
"Tante jangan sedih, mungkin hubungan kami udah berakhir, tapi Aku tetap Flora yang tante kenal. Aku akan tetap jadi anak perempuan tante yang cantik," Flora mengedipkan matanya dan membuat tante Sinta tertawa.
"Terima kasih sayang," tante Sinta terlihat bahagia.
Di tengah perbincangan mereka, Raisa mendatangi mereka dan langsung duduk di samping tante Sinta.
"Raisa juga lapar tante, apa boleh Aku makan?" Raisa pura-pura memelas.
"Silahkan saja, tante tidak pernah melarang kamu makan," kata tante Sinta cuek.
Raisa mengambil piring dan menyuruh Flora untuk mengambilkan makanan.
"Flo, tolong dong ambilin gue sayur, tapi dikit aja yah," sambil menyodorkan piringnya.
Meskipun Flora enggan melakukannya, tapi dia tidak mau membuat keributan dengan tidak menuruti permintaan Raisa. Tapi ketika hendak mengambilkan makanan, tante Sinta menghentikannya.
"Raisa, Flo bukan pembantu dan kamu juga bisa ambil sendiri," tante Sinta tampak marah.
"Raisa cuma minta tolong tante."
"Yaa ampun, apa jadinya kalau Leo punya istri kayak kamu. Bisa-bisa tante mati mendadak," sindir tante Sinta.
"Kalau begitu jauhin anak tante."
"Maaf tante, tapi Raisa gak bisa lakuin itu. Aku sangat sayang sama Leo. Apa tante tidak bisa merestui hubungan kami," Ucap Raisa tampak sedih tapi sedikit memaksa.
Tante Sinta tidak menjawab, raut wajah tante Sinta tampak tidak nyaman dengan ucapan Raisa. Flora juga demikian tidak senang dengan perkataan Raisa. Ponsel Flora tiba-tiba berdering. Flora meminta izin untuk mengangkat telpon.
"Hallo, ada apa Bang?"
"Hallo Flo, kamu ada di mana sekarang?" tanya Adrian diujung telpon.
"Flo ada di rumah, kenapa Bang?"
"Aku mau ngajakin kamu ke toko buku, tapi itu pun kalau kamu tidak sibuk," Adrian terdengar seperti berharap.
"Oh, Aku gak sibuk kok, sekarang Bang Adrian di mana?"
"Masih di Kampus sih, apa perlu aku jemput kamu?"
"Hhmmm..kita ketemu di toko buku aja. Bagaimana?"
__ADS_1
"Ok, baiknya. Aku berangkat sekarang."
"Baiklah," Flora menutup telponnya.
Flora segera merapikan meja makan dan mencuci piringnya kemudian berpamitan pulang.
"Maaf tante, Flo harus pergi sekarang karena ada janji sama teman," Flora mencium tangan tante Sinta.
"Baiklah, kamu hati-hati yah sayang."
Leo yang ternyata mendengar percakapan Flora di telpon segera menghampirinya dan menghadang di depan pintu.
"Minggir gak! Gue mau lewat."
"Mau ke mana loh?"
"Bukan urusan loh," jawab Flora jutek.
Leo terlihat begitu kesal dengan jawaban Flora yang tidak sesuai dengan harapannya.
"Bisa gak loh berhenti ke rumah gue? Gue malas liat muka loh," Leo menatap Flora tajam.
"Kenapa? Tante Sinta juga gak ngelarang gue datang. Gue juga malas kali liat muka loh," Flora juga manatap Leo tajam.
"Kenapa harus rumah gue? Mendingan loh ke rumah pacar loh itu!"
"Terserah gue dong mau ke rumah siapa, kenapa loh yang sibuk?" Ucapan Flora terdengar menantang.
"Bukan urusan gue emang, tapi Gue gak suka kalau loh ke rumah gue numpang makan baru pergi begitu saja. Jangan coba-coba cari perhatian mama!" Leo mengacak pinggang.
"Emang loh kira gue gak tau kalau loh sering ngunjungin mama kalau gue lagi gak ada di rumah. Loh juga cuma numpang makan baru pergi begitu saja," Flora kembali melawan sambil berkacak pinggang.
"Kata siapa gue ke rumah loh? Jangan mengada-ngada!" Leo menaikkan nada bicaranya.
"Berhenti bersikap seperti anak-anak. Kita udah putus, jadi tolong berhenti ngurusin urusan gue. Terserah gue mau punya pacar kek, jalan sama siapa kek, loh gak ada hak untuk tau. Gue juga tidak mengganggu hidup loh. Gue cuma pengen hidup tenang, jadi tolong jangan muncul di hadapan gue," Flora menatap Leo penuh harap.
"Siapa yang muncul di hadapan loh? Loh kali yang muncul di hadapan gue."
"Baiklah, ini hari terakhir gue datang ke rumah loh," kata Flora tegas.
"Ok, gue juga akan berhenti mengunjungi rumah loh."
"Kalau begitu minggir, gue mau lewat. Bang Adrian udah nungguin gue," Flora melototi Leo.
Leo hanya bisa menatap Flora dari belakang. Hatinya begitu cemburu mengetahui Flora akan pergi menemui Pria lain. Sebenarnya Leo tidak ingin Flora pergi. Leo hanya mencari alasan untuk bertengkar denga Flora sebagai satu-satunya cara agar bisa berbicara dengannya. Mungkin rasa benci menguasai hatinya tapi rasa rindu tidak bisa dihindarinya.
Flora juga demikian yang sangat merindukan Leo. Meskipun hatinya masih sakit atas hinaan Leo tapi perasaan cintanya tidak berkurang sedikit pun. Meskipun hanya bertengkar, itu sudah menjadi obat penawar rindunya. Flora menghela nafas sedih kemudian meninggalkan Leo yang masih terus menatapnya. Tak terasa dua bulir air mata jatuh dari kedua mata mereka berdua.
__ADS_1
"kenapa harus seperti ini Leo? Gue kangen bangat sama loh," batin Flora.
"Flo, apa benar loh gak sayang sama gue? Apa benar loh lebih milih Adrian daripada gue? Gue sayang sama Loh," batin Leo sedih.