
Flora yang sudah berjanji untuk tidak menyukai Leo benar-benar bertekad untuk menghindari Leo. Flora menghapus kontak Leo di ponselnya.
Di kampus Flora berusaha sebisa mungkin untuk tidak bertemu Leo.
Meskipun sulit tapi janji harus ditepati. Flora akan mempertahankan harga dirinya meskipun itu akan menyakiti hatinya.
"Kuat Flo, Leo bukan satu-satunya cowok yang ada di dunia ini," batin Flora.
"Gue bukan gadis lemah yang memohon untuk dikasihani. Lupain Leo itu harus," tekad Flora.
Di lain waktu Leo bingung memikirkan cara untuk meminta maaf kepada Flora. Dia tidak tau dengan cara apa supaya Flora memaafkannya.
"Pokoknya gue akan melakukan apapun yang penting Flora memaafkan gue," batinnya.
"****..gue emang ****. Gue tidak mau kehilangan Flora karena kebodohan gue," Leo berbicara sendiri.
Leo terlihat tidak tenang dan hanya mondar mandir di kamarnya.
"Mama, iya mama tau apa yang harus gue lakukan."
Leo keluar kamar dan mencari mamanya.
"Ma!"
"Iya sayang ada apa?"
"Ma, Leo punya salah sama teman tapi tidak tau harus minta maaf dengan apa. Leo harus bagaimana?"
"Minta maaf dengan tulus dan mengakui semua kesalahan kamu."
"Tapi kalau misalnya gak dimaafin, bagaimana Ma?"
"Berarti kamu minta maafnya tidak tulus."
"Baiklah jadi Leo harus minta maaf dengan tulus."
"Emang Leo punya salah sama siapa?"
"Adalah Ma, calon pacar Leo."
"Kenalin Mama!"
"Nanti kalau udah jadi pacar, sekarang tidak bisa karen masih calon pacar Ma."
"Mama akan menunggu."
"Baiklah, Ma Leo ke kampus dulu ya," kemudian mengecup pipi mamanya
"hati-hati."
Leo berangkat ke kampus dengan perasaan tidak sabar. Perasaannya campur aduk takut kalau Flora tidak memaafkannya.
Sampai kampus dia sama sekali tidak melihat keberadaan Flora.
"Bima, loh liat Flora gak?"
"Nggak tuh."
Leo kemudian menuju kantin tapi tidak menemukan Flora.
"Vin, loh kok gak bareng Flo? Tanya Leo basa basi.
"Tadi gue liat dia ke perpustakaan."
"Perpustakaan ya, thanks."
Leo berlari menuju perpustakaan dan melihat Flora sedang duduk membaca buku sambil mendengarkan lagu lewat headsetnya.
"Flo gue perlu ngomongin sesuatu sama loh,"
Tapi Flora tidak menanggapi perkataan Leo.
"Baiklah, loh tidak perlu melihat gue cukup dengarkan saja. Flo, gue Leo benar-benar minta maaf sama loh, gue sadar ucapan gue sangat kasar waktu itu dan seharusnya gue malu untuk menemui loh."
Flora masih tidak menanggapi permintaan maaf Leo.
"Flo, gue tau telah memperlakukan loh dengan sangat tidak baik tapi tolong terima permintaan maaf ini. Gue akan melakukan apa saja yang penting loh maafin gue."
Flora sama sekali tidak menanggapi setiap pernyataan Leo entah karena dia tidak dengar atau karena memang malas menanggapi
"Flo, loh dengar gue gak?" tanya Leo menambah volume suaranya.
__ADS_1
Flora kemudian berbalik dan melihat Leo berdiri di sampingnya
"Loh ngomong apaan tadi, sorry gue tidak dengar." memperlihatkan headsetnya
Flora kemudian pergi meninggalkan Leo yang masih berdiri bingung.
"Sabar Leo, loh yang salah, jadi jangan menyerah untuk meminta maaf."
"Mungkin gue tidak tulus minta maafnya, gue harus berusaha lebih keras lagi," batin Leo.
Flora menemui sahabatnya di kantin, cacing di perutnya dari tadi protes karena tidak diberi jatah makan.
"Hay gays."
"hay, loh makannya bakso mulu." celoteh Lila
"Emang kenapa dengan bakso?" tanya Flora heran.
"Gak bosan apa kemarin Bakso, sekarang bakso, besok gue yakin loh pasti makan bakso lagi." protes Lila.
"Gak mungkinlah gue bosan sama makanan pavorit gue."
"Flo, tadi Leo nyariin loh." ujar Davina.
"Ngapain dia nyariin gue?" pura-pura bertanya.
"Gue bilang loh di perpus, emang dia gak nemuin loh?"
"Nggak tuh, ngapain dia mau nemuin gue?"
"Entahlah, tapi gue merasa ada yang penting."
"Mungkin karena tugas kali. Udahlah tidak usah dibahas."
"Gue gak yakin, sepertinya ada sesuatu yang lain."
"Vin, tolong, gue lagi malas bahas soal Leo."
Kedua sahabatnya heran dengan sikap Flora yang tidak seperti biasanya.
"Vin, kayaknya ada sesuatu antara Leo dan Flo," bisik Lila.
"Iua, gue yakin mereka bertengkar." jawab Davina berbisik.
"Nggak, ngapain gosipin loh?" jawab Lila.
"Gue duluan mau ketemu Bang Adrian."
Flora pergi meninggalkan kantin dan berpapasan denga Leo tapi Flora hanya cuek dan tidak menghiraukan sapaan Leo. Kali ini Flora tidak bercanda dengan omongannya. Dia memasang muka datarnya dan melewati Leo.
Flora menuju taman kampus menemui Adrian untuk membahas mata kuliah yang Flora tidak mengerti.
"Maaf saya terlambat." ujar Flora.
"Tidak apa-apa, saya juga baru sampai."
"Sekarang kamu mau nanya soal yang mana?"
"Maaf tentang metode untuk mengetahui isi hati seseorang, aku sedikit kurang paham."
"Memang ada beberapa metode untuk mengetahui sesuatu yang sedang dipikirkan seseorang."
"Contohnya seperti apa Bang?"
"Contohnya, kalau kita ingin mengetahui apakah seseorang itu bersedih dapat kita lihat dari pandangan matanya yang terlihat sayu atau berusaha melihat ke bawah untuk menyembunyikan kesedihannya," kata Adrian panjang lebar.
"Jadi kalau misalnya seseorang menyukai aku kira-kira dapat diketahuk dengan metode seperti apa Bang?" tanya Flora bercanda.
"Hmm..misalnya aku yang suka sama kamu, kamu dapat melihat dari cara saya memperlakukan kamu, atau dari cara saya mengajak kamu ngobrol."
"Aku mengerti sekarang."
Keduanya terlihat sangat senang dengan saling melontarkan canda dan tertawa bersama-sama.
Leo yang dari tadi mengikuti Flora merasa cemburu dengan keakraban mereka. Tapi dia harus sabar dan meminta maaf pada Flora.
"apapun yang terjadi diantara mereka, gue tetap akan minta maaf pada Flora." gumannya
"Kalaupun mereka saling menyukai gue ikhlas karena itu hak mereka," kemudian menghampiri Flora.
"Flo, bisa ngobrol bentar nggak?"
__ADS_1
"Maaf tapi gue merasa tidak ada yang perlu diomongin." jawab Flora datar.
"Bntar aja, 5 menit doang atau 2 menit." Leo memohon.
"Bang pergi yuk!" ajak Flora menghiraukan Leo.
"Flo, please 1 menit." kata Leo memelas.
"Leo, Flora udah bilang nggak, jadi gak usah dipaksa!" ujar Adrian.
"Loh gak usah ikut campur masalah gue."
"Tapi Flora merasa tidak nyaman dengan keberadaan loh," kata Adrian lagi.
"Diam gak loh kalau tidak gue tonjok!"
Leo mulai emosi dan mengepalkan tinjunya.
"Emang gue takut sama bocah ingusan kaya loh."
Emosi Adrian terpancing oleh ancaman Leo.
"Sini loh brengsek." teriak Leo marah.
Tapi Flora langsung melerai mereka sebelum terjadi pertengkaran.
"Maaf, tapi Bang Adrian duluan saja."
"Kamu tidak apa-apa saya tinggal?"
"Iya, saya baik-baik saja."
Adrian meninggalkan Flora dan Leo
"Mau ngomong apaan?"
"Flo, tolong maafin gue, kali ini aja."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan." Flora besikap dingin.
"Gue tau loh marah, gue akan melakukan apa saja yang loh minta yang penting loh maafin gue."
"Gue udah maafin loh, tapi tolong jauhin gue!"
"Kenapa gue harus menjauh dari loh?"
"Karena gue gak suka loh dekatin gue."
"Apa karena loh suka Adrian?"
"Mau loh apa sih sebenarnya? Gue udah maafin loh, jadi tolong jangan ganggu hidup gue." Emosi Flora naik.
"Tapi Flo gue tidak bisa terima kalau loh minta gue jauhin loh."
"Apa susahnya jauhin gue, gue juga udah berusaha menjauh dari loh."
"Gue udah coba jauhin loh dengan berusaha cuekin loh tapi gue tidak bisa."
"Gue cemburu melihat kamu akrab dengan Adrian, gue pikir loh suka sama dia makanya gue berusaha menjauh dari loh." sambung Leo.
"Tapi cara loh malah nyakitin perasaan gue."
"Gue minta maaf, gue tidak suka melihat loh dekat sama si Adrian karena gue suka sama loh."
"Maaf, tapi gue udah gak suka sama loh, lebih tepatnya gue tidak pernah suka sama loh."
"Terus ciuman yang waktu itu apakah tidak berarti buat kamu?"
"Maaf gue pikir itu karena gue shyok dan takut."
"Seandainya cowok lain yang menemukan loh, apakah kamu juga akan tetap menciumnya?"
Flora terdiam begitu lama mendengar pertanyaan Leo kemudian menjawabnya
"Tidak, gue tidak akan melakukannya, gue melakukannya karena itu kamu."
Flora mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Leo.
"Tolong jauhin gue!" Flora menatap Leo berharap.
"Maaf Flo, tapi gue tidak akan melakukannya karena gue yakin kita memiliki perasaan yang sama."
__ADS_1
Akan tetapi Flora tidak menghiraukan perkataan Leo dan beranjak pergi dari pandangan Leo