Kisah Cintaku Bak Drama Korea

Kisah Cintaku Bak Drama Korea
Dosen Baru


__ADS_3

Hari itu seperti biasa Flora dan kedua sahabatnya memasuki kelas dengan semangat diiringi canda tawa. Suasana di kelas selalu ramai dengan kegaduhan para mahasiswa.


Di bagian bangkuh belakang sebelah kanan terlihat Ranti sibuk dengan riasan wajahnya bersama dengan beberapa mahasiswi lainnya.


Sedangkan di sudut belakang sebelah kiri Leo masih sangat menikmati tidurnya.


"Heran gue sama si Leo hampir setiap hari dia tertidur," ujar Lila.


"Gue juga heran, dia datang kuliah atau datang tidur?" kata Davina geleng-geleng kepala.


"Mungkin dia tidak punya waktu untuk tidur kalau malam." Ujar Lila sambil mengunyah krupuknya.


"Gue yakin kalau malam dia tidak di rumah tapi pergi dugem sama teman-temannya." tambah Davina mengangguk.


"Gue juga mikirnya gitu, dia kan kaya." sambung Lila setuju.


"Eh ngapain sih ngegosipin orang?" tanya Flora.


"Bukan ngegosip Flo cuma ngomong doang." bantah Lila.


"Apa bedanya ngegosip dengan ngomongin orang?" tanya Flora sambil mengacak-ngacak rambut Lila.


"Hehehehe...sorry." jawab Lila tertawa.


"Gays, gue dengar ada dosen baru loh?" ujar Ranti tiba-tiba.


"Oh ya, di panggil Bapak atau Ibu?" tanya yang lain.


"Yaa Bapaklah, lebih tepatnya di panggil Mas soalnya dia masih mudah dan ganteng," jawab Ranti sambil bercermin.


"Wah kerennya, kemaren cowok ganteng sekarang dosen ganteng. Kelas kita di penuhi dengan orang-orang yang luar biasa," kata Lila semangat.


"Kenapa bukan cewek cantik atau dosen cantik yang datang?" timpal Bima mengeluh.


"Bagaimana kalau kita demo meminta cewek atau dosen cantik supaya di kirim ke kelas kita?" sahut yang lain.


"Gue setuju." sahut mahasiswa Cowok serempak.


Semuanya kembali tertawa dengan pernyataan Bima dan yang lainnya.


"Gays, gue ada pengumuman penting, tolong di dengerin baik-baik!" kata Ranti sambil berdiri.


"Pengumuman apaan?" tanya yang lain


"Ingat ya tidak ada yang boleh mendekati si dosen baru kecuali Ranti, kalau ada yang berani berusan sama gue."


"Huuuu..dasar genit," teriak yang lain.


"Awas aja yah kalau ada berani ngelawan gue, pokoknya dosen baru itu milik gue. tiiiitik."


"yaa ampun cepat bangat loh berpaling, kemarin loh ngejar-ngejar Leo sekarang pindah ke dosen baru." protes Davina.


"Cinta itu memang harus di kejar gays, itu prinsip gue." jawab Ranti bangga.


Tidak lama kemudian Dosen baru itu memasuki kelas. Hampir semua mahasiswa cewek ternganga melihat kedatangan dosen baru itu.


"Wah ganteng bangat." ujar Lila tak berkedip.


"Selamat siang semua, perkenalkan Nama saya Adrian Samuel dosen baru untuk mata kuliah Psikologi Diagnose. Saya harap kerja samanya."


"Pak kerja sama dalam rumah tangga juga Ranti siap." jawab Ranti iseng.


Semua orang tertawa dengan pernyataan Ranti termasuk dengan Adrian.


"Kalian bisa panggil saya Bang Adrian aja soalnya tidak enak dipanggil Pak."


"Dipanggil sayang, boleh Bang?" Celoteh Ranti.


"Ada-ada aja kamu." Adrian kembali tertawa dengan celoteh Ranti.


"Untuk hari ini kita isi dengan perkenalan aja dulu, selanjutnya saya akan bagi beberapa kelompok khusus untuk mata kuliah saya."


Adrian yang dari tadi berbicara di depan kelas ternyata diam-diam memperhatikan Flora yang duduk di bangkuh ke tiga dari depan.


Sedangkan Flora hanya diam cuek

__ADS_1


memperhatikan setiap kata yang dilontarkan oleh dosen baru. Adrian merasa tertarik dengan kepribadian Flora yang cuek. Saat yang lain teriak dia hanya diam dengan muka datarnya.


"Baiklah sekian untuk pertemuan pertama kita semoga ke depannya kita menjadi lebih akrab lagi. kalian bisa bubar!"


"Kecuali untuk Flora Aurelia saya mohon untuk tinggal sebentar!"


"Kenapa Bang?"


"Mengenai pertemuan kita selanjutnya saya mau kamu..."


Adrian belum sempat menyelesaikan pembicaraannya tapi Flora langsung menyelahnya.


"Maaf Bang saya bukan Ketua tingkat, kalau ada keperluan silahkan hubungi ketua tingkat kami Bima. Saya permisi."


"Baiklah."


Flora pergi meninggalkan kelasnya dengan raut wajah tanpa bersalah.


"Unik," batin Adrian.


Leo yang sedari tadi melihat perlakuan Adrian merasa Jengkel. Leo tahu bahwa Adrian berusaha mendekati Flora.


"Awas aja loh kalau berani mendekati Flora," batin Leo kemudian pergi.


"Bima, maaf soal Flora?"


"Oh Flora, dia orangnya emang gitu Bang cuek. tidak usah diambil hati."


"Oh begitu ya, terima kasih infonya."


"Ngomong-ngomong Bang, mau ngebahas soal apa?"


"Eh, oh itu kita bahas dipertemuan selanjutnya ."


"Baiklah, Bang saya permisi."


"Silahkan."


Kelas di hari itu berjalan dengan lancar. Flora pergi ke perpustakaan untuk memcari referensi buku untuk tesisnya yang belum selesai. Flora mencari buku dari rak pertama ke rak selanjutnya sampainya dia menemukan buku yang dicari.


"Kalau mau minta tolong bilang aja." Kata Leo mengambilkan buku.


Flora terdiam dan tidak berani memutar posisi badannya karena dia tau Leo ada di belakangnya.


"Nih bukunya."


"Jantung gue kenapa?" batinnya.


"Jangan gugup kalau dekat gue," bisik Leo.


"Siapa yang gugup?" berjalan mencari tempat duduk.


"Terus kenapa muka loh merah gitu?" goda Leo.


"Itu karena gue kecapean." jawab Flora mencari alasan.


"Gak percaya gue."


Di tengah perdebatan mereka, Adrian menghampiri mereka dan duduk di depan Flora.


"Hay Flo, kamu di sini juga?" tanya Adrian tiba-tiba.


"Iya Bang, lagi nyari buku untuk referensi. Ngapain di sini Bang?"


"Bosan di ruang dosen, saya emang biasanya menghabiskan waktu di Perpustakaan."


"Oh gitu ya? Emang bagusan di perpustakaan sih tenang dan nyaman."


"Kamu juga suka baca buku?"


"Gak juga, tapi kalau lagi pusing biasanya saya datang ke sini."


"Kayaknya kita memiliki beberapa kesamaan?"


"Sama-sama suka baca buku." sambung Flora sambil tertawa.

__ADS_1


Flora mulai mencairkan suasana dengan Adrian dan bercerita lepas dengannya


"Ternyata kamu asyik juga?"


"Oh yah?"


"Iya, di kelas kamu terlihat sangat cuek."


"Sorry, tapi saya tidak sengaja dengan itu


"Hmm..hmmm.."Leo pura-pura batuk karena merasa tidak mendapat perhatian dari Flora.


"Loh batuk Leo?" tanya Flora.


"Gak." jawabnya kesal.


"Oh Leo yah, yang tidur di sudut kelas?"


"Iya Bang." Jawab Flora tidak memberi kesempatan Leo menjawab.


"Maaf saya tidak memperhatikan."


"Ya iya lah mata loh kan cuma liatin Flora doang." gerutu Leo dalam hati.


"Kalian ngapain di sini berdua?"


"Tadi dia bantuin saya ngambil buku." jawab Flora.


"Apa-apaan ini, kenapa ngomongnya lembut gitu giliran ngomong sama gue dia marah-marah," batin Leo marah-marah.


"Kalian pacaran yah?" tanya Adrian iseng.


"Gak kok, siapa yang pacaran, kita cuma teman," jawab Flora spontan sambil melambaikan tangannya.


"Sekarang belum pacaran tapi nanti kita akan pacaran," jawab Leo dengan nada tinggi.


"Maksud loh apaan, kapan gue bilang akan pacaran sama loh?"


"Iya ada waktunya, tunggu aja loh pasti akan jadi pacar gue."


"Oh ya, tapi sekarang belum pacaran ya?"


"Gak usah di dengerin Bang!" Flora memcubit lengan Leo.


"Eh Adrian, awas loh yah deketin calon pacar gue!" ancam Leo..


"kalau ngomong itu yang sopan!" ujar Flora


"Terus emang loh sopan kalau ngomong sama gue?" protes Leo.


"Udah deh gak udah nyari masalah."


"Flo, Aku tinggal dulu yah." ujar Adrian.


"Iya Bang, maaf ya."


"Ngapain loh minta maaf?"


"Loh kenapa sih, marah-marah gak jelas gini?" tanya Flora.


"Emang gue kenapa, loh tuh yang kenapa?"


"Emang gue kenapa?"


"Ngapain loh ngomong akrab gitu sama Adrian?"


"Adrian kan dosen kita, gak enaklah kalau gak diladenin."


"Loh naksir karena dia dosen? Apa hebatnya coba?"


"Dia kan emang hebat masih mudah tapi udah jadi dosen."


"Hebat apanya? Yang ada juga pekerjaan gue jauh lebih hebat daripada si Adrian itu."


"Capek ngomong sama loh marah-marah mulu, mendingan gue cabut. Bay."

__ADS_1


"Flo gue belum selesai. Hey, Flo." teriak Leo tapi Flora sudah pergi.


__ADS_2