
Di taman Kampus Flora sedang duduk berhadapan dengan Adrian. Flora terlihat gugup untuk memulai pembicaraan. Flora meremas-remas tangannya yang gemetar untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Mau ngomongin apa Flo?" Suara Adrian memecah kesunyian.
"Aku akan memberi jawaban atas pertanyaan Bang Adrian tentang perasaan Flo," Flora semakin gugup.
"Jadi apa jawaban apa kamu?" Adrian menatap Flora serius.
Flora menarik nafas panjang dan mulai bicara dengan suara berat.
"Maaf, Aku tidak bisa menerima perasaan Bang Adrian," Flora menatap Adrian dengan perasaan merasa bersalah.
Adrian hanya diam mendengar pernyataan Flora. Perasaannya sungguhlah kecewa, tapi dia berusaha untuk menguasai dirinya.
"Apakah karena Leo? Apa kamu masih menyukainya?"
"Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Leo," Flora mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Apakah aku kurang baik untuk menjadi pacar kamu?" tanya Adrian sendu.
"Bang Adrian baik kok, baik bangat. Aku sungguh menyukai Bang Adrian tapi bukan sebagai lawan jenis, aku menganggap kamu seperti seorang Kakak. Aku nyaman berada di dekat Bang Adrian karena kamu orangnya ramah dan hangat.
"Apakah tidak ada ruang dihatimu untuk menjadi seorang pacar?" Adrian bertanya untuk memastikan.
"Maaf, jika Flo mengecewakan Bang Adrian. Tapi sungguh perasaan ini tidak lebih dari seorang teman. Aku rasa ada seseorang yang sangat menyukai kamu."
"Apakah karena orang itu, kamu menolak saya?"
"Bukan, tapi aku rasa orang ini tulus sama kamu. Dia cantik dan juga baik. Tidak seharusnya aku menghalangi perasaannya kepada Bang Adrian," Flora memandang Adrian penuh arti.
"Mungkinkah dia Ranti?"
"Bukan Ranti, dia sahabat aku. Dia sedari dulu menyukai Bang Adrian. Aku harap kamu memberinya kesempatan karena dia gadis yang menyenangkan."
"Tapi siapa diantara kedua sahabatmu?" tanya Adrian penasaran.
"Aku harap kamu segera mengetahuinya tanpa aku beritahu. Kalau begitu aku permisi dulu!" Flora tersenyum lebar.
Flora berdiri dan melangkah untuk meninggalkan taman tapi tiba-tiba saja dia terpeleset. Adrian yang melihat Flora secara spontan berdiri dan menangkap tubuh Flora dan merangkulnya.
Seperti sebuah kebetulan Leo tidak sengaja lewat dan melihat mereka. Leo yang melihat momen itu langsung berpikiran yang tidak seharusnya.
"Kalau mau bermesraan jangan di kampus! Kayak tidak ada tempat lain aja," sindir Leo.
Flora yang menyadari kedatangan Leo langsung memperbaiki posisi tubuhnya. Kemudian menghadap ke Leo berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ini tidak seperti yang kamu kira kok, tadi Bang Adrian cuma menolong aku yang terpeleset."
"Bukan urusan gue juga, terserah kamu mau ngapain! Toh, kita juga udah putus," Leo tersenyum ketus.
"Leo, kamu jangan salah paham?" Flora meraih tangan Leo.
"Gue paham bangat kok, kalau perasaan loh gak pernah betah untuk satu orang saja. Gue juga tau kalau loh mudah berpaling," kata Leo menampis tangan Flora.
Flora yang merasa di tuduh yang tidak benar langsung membelah diri. Dia sangat sensitif jika menyangkut harga dirinya.
"Bang, bisa tinggal kami sebentar!"
"Baiklah, tapi tolong jaga emosi kamu!" Adrian pun pergi.
"Gue gak suka kalau loh nuduh yang gak benar. Kata-kata itu cocoknya untuk diri loh bukan gue." Flora menatap Leo tajam.
"Hhaaahh, udah tau salah masih ngeles. Loh yang mempermainkan perasaan gue Flo! Loh menghancurkan harapan gue!" tatapan Leo berapi-api.
"Loh yang seharusnya minta maaf! Loh dengan mudahnya melupakan gue dan bertunangan dengan orang lain. Loh tidak pernah merasa bersalah atas apa yang loh lakuin ke gue. Tidak pernah sekali pun loh berusaha menjelaskan ke gue alasan loh tiba-tiba tunangan dengan Raisa. Bahkan, loh terlihat begitu bahagia. Seharusnya loh menanyakan perasaan gue! Harusnya loh mutusin gue kemudian bertunangan dengan orang lain," emosi Flora meledak, dia meluapkan semua uneg-unegnya.
"Siapa yang tunangan dengan Raisa?" Leo menjadi bingung.
"Lihat sekarang, siapa yang ngeles? Apa loh pura-pura hilang ingatan sekarang?" Flora tersenyum sinis melihat Leo.
"Gue gak tunangan sama Raisa. Jangan memalingkan pembicaraan seolah-olah gue yang salah," Leo membelah diri karena merasa dia tidak salah.
"Bahkan sekarang pun loh tidak ada niat sama sekali untuk meminta maaf ke gue," Flora berpaling dan meninggalkan Leo.
Semua beban yang terpendam dihatinya akhirnya bisa terlepas juga dengan meluapkan semua amarah dan keresahan yang selalu mengganjal hatinya. Flora tidak menyesal meskipun harus berteriak di depan Leo. Dia hanya melakukan hal yang semestinya dia lakukan sejak awal.
Leo merenungkan perkataan Flora. Dia tidak mengerti mengapa Flora menuduhnya bertunangan dengan Raisa. Leo berpikir keras kemudian menyadari sesuatu yang salah, suatu hal yang mehadirkan kesalahpahaman.
"Mungkinkah Flora berpikir gue tunangan dengan Raisa sehingga dia memutuskan hubungan kami? Sebenarnya apa yang telah Raisa lakukan?" guman Leo.
Di lain waktu di sebuah Indomart pertemuan yang tidak disengaja terjadi. Tante Sinta bertemu dengan tante Lina. Setelah saling memandang begitu lama mereka akhirnya daling mengenali satu sama lain.
"Mbak Sinta?"
"Mbak Lina kan?" tante Sinta tidak percaya.
"Iya Mbak, bagaimana kabarnya?" tante Lina memeluknya.
"Baik, kamu bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali terakhir kita bertemu," tante Sinta terlihat bahagia.
"Sudah 10 tahun Mbak, aku tidak menyangka bisa bertemu di sini."
__ADS_1
"Ini sebuah kebetulan yang aku damba-dambakan. Ayo kita cari tempat yang lebih bagus untuk mengobrol! Aku sangat merindukan kamu," senyum tante Sinta.
Mereka meninggalkan Indomart menuju sebuah Restaurant di ujung jalan.
"Sejak kapan Mbak kembali dari luar kota?" tante Lina membuka pembicaraan.
"Sebenarnya sudah lama sekali, kami sudah menetap di sini sekitar 5 tahun yang lalu."
"Ternyata sudah lama sekali."
"Iya, maaf karena tidak pernah menghubungi Mbak Lina," tante Sinta merasa bersalah
"Tidak perlu minta maaf! Bagaimana kabar suami dan anak Mbak?
"Seperti yang kamu tau Bang Haris selalu sibuk di luar kota sedangkan anakku juga sibuk dengan pekerjaannya. Bagaimana dengan anakmu?"
"Dia tumbuh menjadi gadis yang tangguh. Sekarang masih sibuk dengan kuliahnya."
"Aku yakin dia adalah gadis yang cantik dan periang, ingin rasanya aku bertemu dengannya." tante Sinta tersenyum.
"Sebenarnya, sejak kepergian Bang Haris dia menjadi gadis yang penyendiri, meskipun dia gadis yang periang tapi dia lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri. Dia merasa terpukul dengan kepergian Bang Haris dan sekarang pun dia masih sangat membenci suami Mbak," tante Lina telihat sedih.
Tante Sinta menghela nafas mendengar cerita Tante Lina.
"Maafkan kami karena pergi tiba-tiba! Wajar jika anakmu marah dan benci dengan suamiku. Waktu itu kami tidak punya pilihan lain," tante Sinta merasa bersalah.
"Bukan salah kalian, suami Mbak sudah banyak membantu kami. Suatu hari nanti anakku akan mengerti dan memahami kebenarannya. Jadi jangan pernah merasa bersalah, aku tidak tau apa yang akan terjadi seandainya Bang Haris tidak menolong kami," tante Lina memegang tangan tante Sinta.
"Bagaimana mungkin aku tidak merasa bersalah, sedangkan kalian menderita karena suamiku," tante Sinta menunduk.
"Mbak, Bang Haris sudah melakukan segalanya untuk menebus kesalahannya. Lagian tidak sepenuhnya Bang Haris yang salah, suamiku juga melakukan kesalahan. Aku tidak pernah menyalahkan suami Mbak, kita anggap saja ini sebuah takdir," tante Lina meyakinkannya.
"Tapi apakah anakmu akan memaafkan kami?" cemas tante Sinta.
"Jangan khawatir! Anakku adalah gadis yang bijaksana, dia pandai dalam menyikapi berbagai hal."
"Aku harap begitu, kapan-kapan kita harus makan bersama."
"Aku juga pikir begitu, senang sekali bisa bertemu dengan Mbak hari ini. Semoga ke depannya kita sering bertemu," harap tante Lina.
"Ini nomor ponselku! Tolong hubungi aku!"
"Baiklah," sambil menekan tombol ponselnya untuk menyimpan nomor tante Sinta.
"Maaf tidak bisa lama-lama. Aku harus pulang sekarang," tante Sinta berdiri.
__ADS_1
"Iya Mbak, silahkan! Nanti aku hubungi."