
Hari-hari kemarin yang suram dan melelahkan berlalu dengan cepat tanpa menyisahkan sedikit bekas apapun. Tiada lagi beban yang mengganjal perasaan Flora, ya terkecuali perseteruannya dengan sang Mama yang belum juga usai. Tiada lagi mimpi buruk tentang hubungannya dengan Leo tergantikan dengan nyanyian-nyanyian syahdu dan tarian elok khayalan Flora.
Kicauan burung yang merdu terdengar begitu indah. Angin yang berhembus dengan sepoi-sepoi menyapa pagi Flora dengan lembut. Flora terbangun dengan senyum indahnya, dia tidak lagi bermalas-malasan dengan waktunya. Dia bangkit dari tidurnya dan menuju jendela kamarnya kemudian membukanya. Dengan perlahan dia menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya.
“Tuhan, aku tidak meminta banyak darimu, tapi tolong berpihak padaku kali ini saja. Aku hanya ingin bersamanya untuk waktu sekarang dan seterusnya. Aku hanya ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamanya. Jadi tolong, berhenti mengkhianatiku dan dengarkan doaku.”
Flora membuka kedua matanya dengan tersenyum. Dia kemudian berlalu setelah mendengar suara nada panggilan dari ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Dia menatap layar ponselnya dan melihat nama Davina di sana.
Beberapa hari setelah kecelakaan Leo, Flora tidak pernah lagi pergi ke kampus. Bahkan untuk sekedar menghubngi teman-temannya dia tidak lagi punya kesempatan. Tapi untuk saat ini, Flora akhirnya bisa menikmati waktunya lagi sebagai Mahasiswa jurusan Psikologi. Setelah beberapa menit, dia meninggalkan kamarnya dan bersiap untuk berangkat ke kampus.
Di meja makan Mamanya sudah menyiapkan sarapan untuknya. Meskipun perseteruan mereka belum juga usai. Tapi yang dinamakan hubungan orang tua dan anak tidak bisa terabaikan begitu saja. Tante Lina tetap menjadi orang tua yang harus memenuhi kebutuhan anaknya dan anak juga tidak boleh mengabaikan orang tuanya.
Flora menghampiri meja makan, dia mengambil segelas susu hangat dan meminumnya sekali teguk. Kemudian berpamitan ke kampus.
“Aku berangkat.” Katanya singkat.
“Hati-hati sayang!”
“Love you.”
Meskipun terdengar canggung, Flora tidak lupa dengan ucapan sayangnya yang selalu diucapkannya ketika hendak meninggalkan rumah.
Di kampus tanpak Davina sedang asyik berbincang dengan seseorang, mereka terlihat begitu akrab sambil sesekali melepaskan tawa.
“sejak kapan?” tanya Flora menghampiri mereka.
Orang yang ditanya menjadi bingung, entah memang karena tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak mengerti.
“Yaa ampun, jangan sok tidak tau maksud gue deh.” Flora menyeringai.
“Tapi siapa yang ngasih tau loh? Lila ya?” tanya Davina.
“Ketemu Lila aja belum. Kalian itu terlalu menonjol, orang ynag baru liat aja bisa langsung tau hubungan kalian seperti apa.” Flora kemudian menyentil jidat Davina.
“Aduh.” Davina merintih dan mengusap jidatnya.
“Ini juga Pak asisten Dosen, tidak bisa bersikap profesional, di kampus ya berwibaya dikit dong. Sok jual mahal kek, ini malah kayak anak SMA yang baru pacaran.”
__ADS_1
Adrian dan Davina hanya tersenyum tipis dan saling bercolek lengan mendengar omelan Flora.
“Maaf Flo, lain kali tidak lagi deh.” Kata Adrian.
“Lila mana?”
“Kayaknya belum datang, karena dari tadi gue belum ngeliat dia juga.”
“Yaa, bagaimana loh bisa ngeliat dia kalau kalian kerjanya pacaran mulu.”
“hehehe, sorry.” Davina tertawa bersalah dan memeluk lengan Flora.
“Beb, aku duluan ya, ada kelas nih.” Adrian kemudian pamit setelah melihat jam tangannya.
“Iya Beb, nanti hubungi aku yah!” davina melambaikan tangannya ke arah adrian yang semakin menjauh.
Flora yang melihat tingkah mereka spontan saja tertawa geli. Dia tidak menyangkah sahabatnya bisa menjadi orang lain saat jatuh cinta.
“sejak kapan?”
“yaa ampun, sok dewasa loh.”
“kita ke kantin yuk! Lila pasti ada di sana.”
Di kantin, terlihat Lila duduk sendirian dengan berbagai makanan di depannya. Satu-persatu makanan itu dilahapnya tanpa tersisah sedikit pun.
“Selerah makan loh semakin menjadi-jadi, tidak takut gendut loh?”
Lila menghentikan suapannya dan mendongakkan kepalanya melihat ke arah suara itu datang. Tanpa berpikir panjang, lila bangkit dan memeluk Flora erat.
“Flo, gue kangen sama loh.” Lila berujar manja.
“Ada apa? Emang udah lama yah kita tidak ketemu?” Flora tertawa.
Lila melepas pelukannya dan kembali ke duduknya. Dia memalingkan wajahnya dari Davina.
“Apa kalian bertengkar?” tanya Flora yang memperhatikan sikap Lila.
__ADS_1
“Davina buka teman gue lagi, bayangin sejak dia jadian sama sih si Adrian itu, dia udah tidak peduli lagi sama gue. Bahkan gue selalu makan sendirian di kantin ini.” Lila mengaduh.
“Iya maaf. Lain kali tidak lagi deh.” Davina mengangkat jarinya membentu huruf V tanda serius.
“Sampai di mana keseriusan hubungan kalian?” tanya Flora.
“Kami udah merencanakan semuanya. Tidak lama lagi kita akan selesai kuliah dan setelah itu kami akan menikah.” Davina tersenyum senang.
“Oh ya, apa tidak terlalu cepat?” tanya Lila.
“menikah itu bukan masalah cepat atau lambatnya, bukan masalah siap atau tidak siapnya, bukan juga masalah jodoh atau bukan jodoh. Tapi menurut gue, ketika kita merasa nyaman dengan seseorang, maka tidak ada yang perlu diragukan untuk melangkah ke tahap yang lebih serius.” Davina panjang lebar.
“Bagaimana dengan hubungan kalian Flo?” tanya Lila.
“Gue bersyukur setidaknya untuk sekarang hubungan kami kembali membaik. Tidak ada lagi kesalahpahaman, tidak ada lagi orang ketiga. Gue harap ini menjadi awal yang baru buat hubungan kami lebih baik.
“gue juga turut senang. Terus ke depannya bagaimana?” Lila kembali bertanya.
“Gue tidak yakin, tapi setelah keluar dari rumah sakit dia akan ngenalin gue ke Papanya. Katanya mau minta restu untuk halalin gue kalau kita udah dapat gelar sarjana.”
“Yaa, tinggal gue dong.” Lila cemberut tanda protes.
“Tapi kenapa loh terlihat cemas?” tanya Davina.
“Entahlah, seperti ada yang mengganjal perasaan gue. Atau mungkin karena gue gerogi mau ketemu sama papanya Leo.”
“jangan berpikiran yang tidak-tidak, itu hanya akan semakin membebani pikiranmu.” Nasehat Davina.
“Gue berharap semuanya baik-baik saja.” guman Flora.
“tinggalkan dulu masalah di luar, mendingan fokus dengan kuliah kita. Tidak terasa kita udah sampai ditahap ini, hanya beberapa langkah lagi tujuan kita tercapai. Jadi pikirkan saja Skripsi loh! Semua masalah pasti ada cara menyelesaikannya.” Davina menepuk bahu Flora.
“Iya Flo, jangan diambil pusing. Mendingan loh makan sama gue, hilangkan semua beban yang terus menggantung di pikiran loh. Silahkan makan sepuasnya deh! Hari ini gue yang traktir, karena siapa yang tau kita mungkin tidak akan punya waktu untuk bertemu lagi kalau kita udah selesai kuliah.”
Lila terdengar seperti bergurau tapi tatapan matanya tanpak berkaca-kaca.
Ketiga sahabat ini tertawa sambil menikmati makanan mereka. Walaupun begitu, hati mereka dipenuhi perasaan campur aduk. Entah masalah kampus, masalah keluarga, masalah dengan pasangannya mereka, tapi mereka terhanyut dalam masalah masing-masing.
__ADS_1