
Adrian berdiri di depan toko buku menunggu Flora yang belum juga sampai. Bebeberapa kali Adrian melirik jam tangannya kemudian mondar mandir cemas karena Flora belum juga sampai. Kemudian beberapa menit kemudian Flora akhirnya muncul juga.
"Maaf, udah bikin Adrian menunggu lama," Flora merapikan rambutnya yang berantakan.
"Iya gak apa-apa, aku kira kamu tidak jadi datang," Adrian terlihat begitu senang.
"Flora tidak pernah ingkar janji. Jadi mana mungkin aku tidak datang," Flora kemudian tersenyum lebar.
"Ooohhh..keren," Adrian menggoda Flora kemudian mengajaknya masuk ke toko buku.
Adrian dan Flora terlihat sibuk memilah beberapa buku kemudian akhirnya memutuskan untuk membeli buku yang mana.
"Buku ini bagus bangat, tapi kayaknya uang aku gak cukup," Flora meletakkan kembali bukunya setelah melihat harganya yang tidak sesuai dengan kantongnya.
Adrian yang memperhatikan Flora diam-diam mengambil buku tersebut. Flora melirik ke sekelilingnya karena merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya.
"Bang aku tunggu di depan yah?"
"Ok," Adrian menuju ke tempat kasir untuk membayar bukunya.
Adrian menyelesaikan pembayarannya dan keluar menghampiri Flora.
"Ini buat kamu!" Adrian menyodorkan sebuah buku.
"Ini kan buku yang tadi, kok Bang Adrian tau," Flora tersenyum sumringah sambil memeluk bukunya.
"Aku liat kamu sangat menyukai buku ini, jadi kubelikan buat kamu," Adrian membalas senyuman Flora.
"Padahal harganya mahal bangat," Flora memasang wajah bersalah.
"Anggap itu sebagai hadiah karena sudah meluangkan waktu untuk menemaniku hari ini."
"Terima kasih."
"Kamu masih ada waktu gak?"
"Iya, hari ini Aku tidak ada kegiatan. Kenapa Bang?"
"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan?" Adrian begitu antusias.
"Baiklah. Kita mau ke mana?"
"Bagaimana kalau kita makan dulu, Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," Adrian terlihat begitu semangat.
"Apakah ada kejutan?"
"Cuma kejutan kecil."
"Ok. Kalau begitu sebaiknya kita pergi sekarang, aku udah gak sabar pengen liat kejutannya.
Adrian mengajak Flora makan kemudian membawanya ke suatu tempat tang sudah di janjikannya.
"Kita mau ke mana Bang?"
"Kamu ikut aja, pasti kamu bakalan suka dengan tempatnya," Adrian membuat Flora penasaran.
Adrian membawa Flora ke sebuah pantai di pusat Kota. Melihat pantai tidak membuat Flora begitu senang. Flora tidak menyukai pantai, dia lebih suka suasana pegunungan.
__ADS_1
"Kamu gak suka pantai?" tanya Adrian sedikit kecewa.
"Jujur sih iya. Tapi karena kita sudah di sini jadi mari kita bersenang-senang," Flora berusaha untuk tidak mengecewakan Adrian.
Flora kemudian mengajar Adrian menyusuri bibir pantai tapi dihentikan oleh Adrian. Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 8 malam.
"Flo, kita duduk di sini aja! Ada sesuatu yang akan aku tunjukin ke kamu," Adrian menunjuk ke arah langit.
Flora berbalik melihat ke arah yang ditunjuk Adrian. Senyum bahagia seketika terpancar di wajahnya saat melihat langit malam yang penuhi dengan kembang api yang berwarna warni. Matanya tidak berhenti menatapnya.
"Waahhh...indahnya," Flora berdecak kagum.
"Kamu suka?"
"Hmmm..jadi kembang api yang jadi kejutannya bukan pantainya," Flora menatap Adrian tersenyum.
Adrian menarik tangan Flora kemudian menatapnya lekat penuh arti.
"Flo, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kamu?" kata Adrian serius.
"Masalah apa Bang?"
"Sebenarnya, selama ini aku menganggap kamu seseorang yang special. Bukan sekedar dosen dengan mahasiswi, jyga bukan sekedar teman, tapi ada yang lebih dari itu."
Flora yang menyadari arah pembicaraan Adrian segera mengalihkan pembicaraan.
"Bang, kayak Flo haus deh, kita beli minum dulu yah!" Flora berdiri mengusap-udap tenggorokannya.
"Flo, jangan pura-pura tidak tau dengan perasaanku. Jangan mengalihkan pembicaraan," Adrian mengenggam tangan Flora.
"Aku suka sama kamu. Perasaan ini bukan baru kemarin, tapi sudah sejak lama saat perrtama kali aku melihat kamu di kelas. Jadi tolong jangan menghindar," raut wajah Adrian terlihat begitu serius.
"Tapi Bang.."
Ucapan Flora langsung dipotong oleh Adrian.
"Aku tau kamu baru putus dengan Leo, mungkin juga hatimu masih di isi dengan Leo. Tapi aku akan menunggu sampai kamu siap. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa, tapi akan aku pastikan kamu matamu tidak meneteskan air mata dan hanya akan ada senyum di raut wajahmu.
"Aku gak tau mau ngomong apa. Aku gak nyangka kamu akan mengatakan hal seperti ini," kata Flora tidak berkedip.
"Tolong kasih aku kesempatan, kamu tidak perlu jawab sekarang! Aku akan menunggu sampai kamu sudah siap dengan jawaban kamu," Adrian terlihat begitu berharap.
"Baiklah, akan aku pikirkan."
"Terima kasih."
"Kita balik yuk, mama pasti udah cemas sekarang!"
"Baiklah, ayo kita pulang."
Flora membalikkan badannya hendak pulang tapi matanya langsung terbelalak kaget melihat Leo ada di sana bersama Raisa.
"Ngapain loh ke sini?" tanya Leo.
"Harusnya gue yang nanya, loh ngapain di sini?" Flora balik bertanya.
"Ini kan tempat umum, jadi terserah gue dong."
__ADS_1
"Loh ngikutin gue yah?" tuduh Flora.
Leo tergagap karena ketahuan telah mengikuti Flora seharian.
"Si..siiss..siapa yang ngikutin loh? Gue emang mau ke sini sama Raisa."
"Loh ngikutin gue kan seharian ini? Emang loh pikir gue gak liat loh di toko buku?" Flora menyipitkan matanya dan menunjuk Leo.
"Emang gue kurang kerjaan mau ngikutin loh?"
"Terus yang dibalik rak buku, pake topi hitam selalu mengintip ke arah gue siapa kalau bukan loh?"
"Gak usah ke PD-an deh loh," Raisa membelah Leo.
"Ayo Bang kita pulang!" Flora menarik tangan Adrian pergi.
Leo terlihat kesal melihat Flora yang menarik tangan Adrian. Dia menendang kaleng minuman yang ada di depannya kemudian berteriak. Leo tidak bisa menerima bahwa Adrian menyukai Flora.
"Kamu yang sabar yah Leo!" Raisa menenangkan Leo.
"Kenapa gue gak bisa menerima bahwa Flora lebih memilih Adrian ketimbang gue?"
"Flora memang bukan gadis baik-baik, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari dia," Raisa memeluk Leo.
"Tapi gue tidak bisa melupakan Flora dan sampai kapanpun perasaan gue tidak akan berubah."
"Ada aku Leo. Tidak bisakah kamu melirik ke arahku, sekali saja!" Raisa memelas.
"Tapi gue maunya Flora bukan loh," Leo melepaskan pelukan Raisa.
"Aku pernah melakukan kesalahan, tapi tidak bisakah kamu kasih aku kesempatan Leo? Tidak adakah rasa kasihan di hatimu sedikit saja?" mata Raisa menjadi sendu.
"Apakah loh mau menjalani hubungan yang didasari rasa kasihan. Hahh?" kata Leo sinis.
"Bahkan jika kamu tidak memiliki perasaan pun aku mau jadi pacar kamu. Leo yang paling penting adalah dendam ini harus berhasil," kata Raisa lirih.
"Loh bilang apa?"
"Tidak ada apa-apa, mendingan kita pulang."
Di dalam mobil Flora hanya diam. Pikirannya melayang-layang, mengetahui Leo berada di pantai membuat perasaannya cemas. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya.
"Apakah Leo mendengar semuanya?" bati Flora.
"Kamu kenapa diam saja Flo?" tanya Adrian membubarkan hayalan Flora.
"Gak apa-apa Bang, Flo cuma ngantuk aja," Flora pura-pura menguap.
"Bukan karena Leo kan?"
"Ngapain ngebahas Leo, bukan lagi waktunya aku mikirin Leo. Kita udah punya kehidupan masing-masing," Flora menenangkan perasaannya.
"Baguslah, aku harap kamu segera melupakan dia."
"Aku juga harap begitu," Flora tersenyum melirik ke arah Adrian.
"Meskipun Aku tidak yakin, apakah aku bisa melupakannya?" batinnya.
__ADS_1