
Hari terus berganti, hubungan antara Flora dan Leo juga semakin lama semakin bembentuk jarak yang semakin jauh, hubungan mereka menjadi renggang. Komunikasi yang semakin jarang atau sekedar kabar mengabari pun tidak lagi terjalin. Leo terlalu fokus dengan Raisa yang selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Bahkan Raisa tidak memberikan ruang kepada mereka berdua untuk bertemu atau sekedar mengobrol. Dunia Leo dipegang penuh oleh Raisa.
Sampai suatu ketika Leo benar-benar muak dengan prilaku Raisa yang terlalu membatasi ruang geraknya
"Raisa mari kita hentikan semuanya!"
"apa maksud kamu Leo?"
"apa yang loh lakuin ini udah kelewatan, sampai kapan loh akan ngikutin gue terus, gue capek dengan tingkoh loh?"
"bukankah kita sedang menjalani hubungan Leo?"
"hubungan apa maksud loh?, gue gak merasa menjalani hubungan sama loh."
"tapi selama ini kita selalu sama-sama, apa namanya kalau bukan menjalin hubungan."
"itukan keinginan loh, gue gak pernah berpikir untuk kembali sama loh. Gue cuma berusaha balas budi atas kebaikan loh aja, itu doang."
"trus yang selama ini kita lakuin itu gak ada artinya buat kamu?"
"emang apa yang kita lakuin?, sekali pun gue gak pernah nyentuh loh, gue bukan cowok brengsek yang sembarangan mainin cewek."
"apa kamu gak ingat yang udah kita lakuin di apartemen ini Leo?"
"please, jangan mengarang cerita Raisa, jelas-jelas kita gak pernah lakuin hal-hal yang loh maksud. Gue masih waras."
"kamu jahat Leo, apa karena Flora?, apa kamu masih menyukainya?"
"kalaupun bukan Flora, gue tetap gak bakal kembali sama loh."
"Aku yakin semua ini karena Flora."
"gue emang sangat menyukai Flora, dan gara-gara loh hubungan kami menjadi renggang, jadi tolong berhenti ngikutin gue."
"yah udah putusin aja Flora, gue yakin kamu bisa menerima Aku kembali kalau kalian udah putus."
"apa loh gila, gak mungkin gue mutusin Flora buat cewek kayak loh, Flora sangat berarti buat gue dan tidak ada yang bisa menggantikan dia."
"Aku tidak akan berhenti ngikutin kamu sampai kamu mau menerima Aku kembali."
"ayo katakan, apapun yang kamu minta akan gue kasih. Uang, mobil, atau apartemen ini pun silahkan loh ambil semuanya yang penting berhenti ngikutin gue."
__ADS_1
"kamu jahat Leo, Aku cuma ingin kamu menemani wanita sakit-sakitan ini, sakit ini juga karena kamu Leo."
"gue ngerti, maka biarkan gue balas kebaikan loh dengan memberikan apa saja yang loh mau. Jadi katakan saja semuanya!"
"gue gak nyangka loh akan bilang kayak gitu, Aku gak mengharapkan harta kamu Leo, aku cuma butuin kamu, jadi tolong jangan tinggalin Aku."
"Raisa, jangan membuat gue merasa bersalah, gue juga ingin menjalani hidup gue sama Flora."
"terus bagaimana dengan Aku yang harus menanggung derita demi kesembuhan loh?"
"gue janji akan menanggung semua biaya pengobatan loh?"
Raisa hanya terdiam menatap Leo. Dia diam bukan berarti dia setuju tapi sedang menahan emosinya dan memikirkan suatu rencana.
"baiklah, kalau itu mau loh, tapi gue pastiin bentar lagi kalian putus. Gue akan maksa Flora mutusin loh." batin Raisa
"baiklah Aku akan usahakan untuk tidak mengikuti kamu."
"terima kasih Raisa, sekarang gue bisa menemui Flora dan menjelaskan semua tentang kita agar dia tidak salah paham."
"Leo, maaf kalau kamu tidak keberatan biar Aku aja yang ngasih tau Flora tentang hubungan kita. Selama ini pasti dia sudah salah paham karena kedekatan kita dan mungkin sekarang dia sangat benci sama Aku."
"please Leo, biar Aku aja yah sekalian Aku juga mau minta maaf sama dia. Flora mungkin mengira Aku ngerebut kamu dari dia."
Setelah lama berpikir akhirnya Leo menyetujui permintaan Raisa
"baiklah, gue serahkan semuanya sama loh, tolong jelasin ke dia kalau gue cuma berusaha jagain loh karena loh sedang sakit karena gue."
"kamu jangan kwatir, serahkan semuanya sama Aku."
"terima kasih Raisa."
"kamu bodoh Leo." batin Raisa
Di kampus seperti biasa Flora akan berada di perpustakaan jika dia tidak memiliki kelas. Hari itu pum dia bermaksud untuk membaca di perpustakaan tapi bukan karena memang ingin membaca tapi dia cuma berusaha menghindari Leo yang selalu diikuti oleh Raisa. Perasaan Flora selalu kacau melihat mereka berdua.
"emang gak ada tempat lain apa?, kenapa harus di kampus berduaannya?, dasar nyonya prangko." batin Flora
Di perpustakaan Flora tidak bisa fokus membaca, pikirannya selalu terbayang Leo dan Raisa. Dia pun menutup bukunya dan membuka laptopnya
"mendingan gue nonton deh, Oppa gue juga pasti udah kangen karena gak pernah gue temuin. Daripada pusing mikirin si Leo."
__ADS_1
Flora memutar beberapa vidio
"ceritanya dalam banget, apa mungkin hubungan mereka akan tetap bertahan?"
"cowoknya jahat banget ninggalin kamu."
Flora mulai berbicara sendiri seolah-olah dia yang ada dalam drama. Kemudian Flora mulai memikirkan hal-hal lagi
"kalau emang kisah gue sama dengan drama korea, bisa jadi gue akan putus dengan Leo. Terus gue akan nangis sepanjang malam dan besoknya gue cuma di kamar dan gak pergi ke kampus." kata Flora mengerutkat alisnya
"gak mungkin, gak mungkin, ini cuma pikiran gue doang." guman Flora sambil menepuk-nepuk pipinya
"apapun yang terjadi, gue gak mungkin putus dengan Leo. Ini cuma masalah waktu doang. Flo loh gak boleh berpikiran yang tidak-tidak." guman Flora
Tidak lama kemudian ponsel Flora bergetar tanda ada pesan masuk. Flora melihat ponselnya dan melihat nomor pengirim tapi merasa tidak mengenal nomor pengirim tersebut
"pesan dari siapa kok gak ada di kontak gue?" batin Flora
Betapa terkejutnya Flora melihat sebuah foto dalam pesan yang diterimanya. Foto di mana Raisa duduk bahagia sambil berhadapan dengan seseorang yang sedang memakaikan cincin di jari manisnya
"apa mereka merencanakan pertunangan?"
"gak mungkin, gue harus pastiin sama Leo."
Flora menutup laptopnya dan segera mencari Leo. Setelah bebarapa saat Flora akhirnya menemukan Leo di kelas
"hay Flo, dari mana aja dari tadi Aku nyariin kamu!"
"Leo, ada yang mau aku omongin sama kamu, ini penting bangat."
"maaf Flo, gue harus pergi ada urusan mendadak di kantor." kata Leo sambil melihat ponselnya
"tapi Leo, ini sangat penting."
"maaf Flo, ini juga sangat penting, lain kali aja ya."
"masalah kantor atau masalah Raisa?, apa mungkin kalian benar-benar akan tunangan?, tapi kenapa kamu gak bilang apa-apa Leo, kamu benar-benar berubah sekarang."
"atau apa Aku yang tidak bisa menerima kenyataan?, ahh kenapa dada ini sesak?" guman Flora dan mengusap dadanya
Semakin Flora ingin bertahan, semakin besar pula rasa sakit yang diterimanya. Leo seakan tidak mau mengerti dengan penderitaannya.
__ADS_1