Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
12. Persiapan perang


__ADS_3

Ke esokan harinya, di aula utama


Para menteri, panglima serta jendral hadir, mengikuti rapat persiapan perang yang di gelar mendadak.


Rencananya raja Petta Sompe akan mengecek, sejauh mana persiapan dari Panglima serta para jendralnya.


" Panglima ! bagaimana dengan perbatasan timur, barat dan utara, apa tidak ada serangan dari arah itu ?" tanya sang raja.


" Menurut pengamatan telik sandi kita, tidak ada pergerakan dari wilayah tersebut. Bahkan mereka telah melakukan pengintaian, sejauh lima ratus kilo meter dan tidak di temukan adanya musuh, dari wilayah2 tersebut." jawab Panglima polin.


" Baiklah kalau begitu,! aku akan menyurati kerajaan Kotu di wilayah barat, kerajaan Sidenreng di wilayah utara dan kerajaan Tuppu di wilayah timur. Agar membantu mengamankan wilayahnya. Dengan begitu, kekuatan kita bisa fokus menghadapi serangan musuh dari gerbang selatan " kata raja Petta Sompe.


" Para jendral sekalian, aku berharap disaat genting ini. Kalian segera memobilisasi pasukan, sesuai arahan yang telah kuberikan kepada Panglima semalam " kata raja Petta Sompe.


" Siap, Yang mulia,! kami segera melaksanakan titah yang mulia " jawab para jendral serempak.


" Silahkan para jendral sekalian, laksanakan tugas masing2 " kata sang raja kemudian.


Para jendral langsung berlutut, dan segera meninggalkan aula utama. kini tinggal Panglima Polin serta para menteri di aula itu.


Tidak lama setelah itu, datang seorang prajurit melaporkan. Bahwa ada utusan dari kerajaan Pagaruyung, meminta untuk menghadap.


" Persilakan mereka masuk ! " perintah raja Petta Sompe.


Tidak lama berselang, utusan itu masuk. Dua prajurit dari Kerajaan Pagaruyung itu langsung berlutut di hadapan sang raja.


" Bangkitlah....! hal apa gerangan yang kamu bawa prajurit " tanya sang raja Petta Sompe.


" Hamba diutus, untuk menyampaikan surat dari raja kami, Yang mulia " jawab salah seorang utusan, sambil mengeluarkan sebuah gulungan.


Panglima Polin segera mengambil surat tersebut, lalu menyerahkan surat itu kepada sang raja.


Raja Petta Sompe menerima surat itu, lalu membacanya dengan seksama. Setelah paham beliau lalu menyimpan surat itu, di dalam gelang penyimpangannya. Surat itu pun lalu hilang di ketiadaan, kedua utusan yang membawa surat, terkejut dengan apa yang dia lihat barusan.

__ADS_1


Raja Petta Sompe lalu menulis surat balasan, setelah itu dia memberikan nya kepada kedua utusan.


" Sampaikan salamku kepada Raja kalian,! katakan kerajaan Bungaya, tidak gentar dengan Kerajaan Tanah Loka beserta sekutunya " Kata raja Petta Sompe dengan penuh wibawa.


" Baik, Yang mulia ! kalau begitu kami mohon undur diri " mereka pun lalu keluar dari aula utama.


" Panglima...! tampaknya Kerajaan Pagaruyung masih setia kepada kita, mereka saat ini telah menyiapkan pasukan mereka. Jumlah pasukan mereka saat ini sebanyak tujuh puluh lima ribu, dan siap berkoordinasi dengan pasukan kita dan menunggu waktunya kapan mereka mulai turut menyerang." kata petta sompe, menyampaikan isi surat dari kerajaan Pagaruyung.


" Dan aku telah sampaikan kepada mereka, melalui surat balasanku tadi. Meminta mereka agar bersabar menunggu instruksi dari kita " jelasnya lagi.


" Wah...! bagus yang mulia, dengan adanya bantuan mereka. Aku optimis, kita akan memenangkan peperangan dengan cepat " jawab Panglima Polin, sambil tersenyum senang.


" Betul sekali..! tapi kita jangan menganggap remeh musuh kita. Karena kita ketahui bersama, musuh kita adalah kerajaan besar. Yang mengerti betul dengan kekuatan kita, pasti mereka telah mempersiapkan pasukannya dengan matang, sebelum menyerang kita." kata sang raja.


" Yang jadi pikiranku, siapa yang akan memimpin pasukan dari perguruan serta klan, yang akan ikut serta dalam peperangan ini."


" Walaupun mereka memiliki ilmu yang tinggi, mereka sama sekali belum paham dengan cara bertempur seperti ini."


" Aku tak ingin, banyak jatuh korban di pihak perguruan, serta para klan2 itu " kata raja Petta Sompe panjang lebar.


" Boleh juga,! nanti aku sampaikan kepada para ketua klan serta ketua perguruan " jawab sang raja, merasa senang dengan rekomendasi Panglima Polin.


Beliau paham dengan reputasi dari Datuk Basalama. Para ketua perguruan serta ketua klan, pasti akan setuju bila dipimpin oleh Datuk Basalama.


Setelah itu, raja Petta Sompe mengakhiri pertemuan, lalu dia menuju ruang keluarga. Dia berencana memanggil kedua anak serta istrinya, untuk menghadiri babak ketiga turnamen bela diri.


####


Di ruang keluarga


Tampak La galigo bercengkerama dengan La Barani bersama ibunya, setelah melihat kedatangan ayahnya. Mereka dengan antusias bertanya tentang pasukan musuh, yang akan datang menyerang kerajaan mereka.


" Bagaimana ayah ? apa kekuatan kita akan sanggup menghadapi musuh ayah ? " tanya La Galigo cemas. Ia begitu takut mendengar kekuatan musuh yang akan datang menyerang.

__ADS_1


Berbeda dengan La Barani, ia sangat antusias akan situasi saat ini, dia diam2 berencana ikut andil dalam pertempuran.


" Tak usah risau anakku,! memang kekuatan musuh yang akan kita hadapi sangat besar, tapi dengan kekuatan kita saat ini, kerajaan kita masih mampu menghadapi mereka " jawab Petta Sompe, menenangkan kekhawatiran keluarganya.


Petta Sompe melirik La Barani, sambil diam2 mengamati anaknya itu. Selama beberapa bulan ini, dia perhatikan anaknya itu tampak menyembunyikan sesuatu.


" La Barani, apa yang ada di lenganmu itu nak ? bolehkah ayah melihatnya ?" tanya Petta Sompe, setelah lama memperhatikan La Barani.


" Hanya gelang biasa ayah ! gelang akar bahar pemberian teman " jawab La Barani sambil membuka lengan bajunya. Iapun diam2 terkejut, ketika tiba2 ayahnya menanyakan gelang penyimpanannya.


" Boleh ayah lihat ? " pinta Petta Sompe selanjutnya.


La Barani lalu mengeluarkan gelangnya, kemudian Petta Sompe mengamati gelang berukiran Naga yang saling membelit.


" Ini..! dari mana kamu memperolehnya ?" Kejut Petta Sompe.


" Cuma pemberian dari teman ayah ! " jawab La Barani.


" Memang ada apa dengan gelang itu ayah ?" tanya La galigo, heran dengan ekspresi ayahnya.


" Gelang ini adalah gelang Naga sikoi, ini adalah gelang penyimpanan dewa. Yang berhak memilikinya hanya klan kuno kita, Gelang ini hanya dimiliki oleh kakek buyut kalian. Kami keturunan kedua, sampai keturunan sekarang hanya memiliki duplikatnya " kata Petta Sompe, sambil mengeluarkan gelang akar bahar yang ada di lengan kirinya.


Nampak besar perbedaan dari kedua gelang itu. Gelang milik La Barani hitam kekuningan, pada kepala naganya berwarna kuning keemasan. Sedang milik Petta Sompe berwarna hitam polos.


" Apa...? adik, jawab dengan jujur. Dimana kamu mendapatkan gelang ini ?" Tanya La galigo kepada adiknya.


La Barani seketika salah tingkah, mendengar perkataan ayah dan pertanyaan kakaknya, dia menjadi serba salah .


Setelah lama berpikir, akhirnya diapun berterus terang. soalnya, walau bagaimana pun mereka harus tahu, karena mereka toh keturunan La Kawaru juga.


" Ayah, ibu dan kakak, maafkan kalau selama ini, aku tidak berterus terang kepada kalian. Memang gelang ini adalah gelang Naga sikoi, seperti yang ayah katakan. Tapi gelang ini adalah gelang ke delapan, bukan salah salah satu dari ketujuh gelang klan kita " kata La Barani. Sambil membuka serta memperlihatkan isi, dari gelang penyimpanannya.


" Apa...? bagaimana kamu bisa memiliki harta sebanyak itu anakku ?" tanya ibunya takjub. Harta yang di perlihatkan La Barani didalam gelangnya sangat banyak. Bahkan mungkin bila harta dari beberapa kerajaan di gabungkan, belum bisa menyamai harta La Barani.

__ADS_1


" Panjang ceritanya ibu " jawab La Barani sambil menghela nafas pelan.


######


__ADS_2