Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
Mendapat seorang abdi


__ADS_3

Datuk Bagenda sangat marah mendengar kesombongan La Barani, ia lalu mengeluarkan jurus2nya yang sangat jarang dia keluarkan.


" Bayangan Pedang Hantu " teriak Datuk Bagenda menyebutkan nama jurusnya.


" Whuut.... shuuuut !"


Tampak ribuan bayangan hantu keluar dari punggung Datuk Bagenda, dengan kecepatan tinggi seolah tiada habisnya.


Langit seketika menjadi gelap, tertutup bayangan hitam yang berjumlah ribuan. Aura kegelapan yang sangat pekat terasa begitu kuat, bisa membuat bulu kuduk merinding bila seseorang merasakannya.


La Barani bersiap menerima jurus lawan, ia kemudian menyalurkan qi nya sebanyak delapan puluh persen dan dipadukan dengan kekuatan cahaya sebanyak dua puluh persen ke pedangnya.


" Aku harus menggunakan sedikit kekuatan cahaya untuk melawan kekuatan kegelapan orang itu," batinnya.


La Barani tidak mau ber main2 kali ini, untuk menyambut serangan lawan.


Tampak tangan kiri Datuk Bagenda diangkat keatas, kearah bayangan hitam berada. Bayangan hitam seketika menjadi ribuan pedang.


" Mati...!" bentaknya sambil mengayunkan tangan kanannya yang memegang pedang kearah La Barani.


Ribuan bayangan pedang yang memenuhi langit, bergerak turun menuju kearah La Barani berada.


" Jurus Pedang Cahaya, Menari Ditengah Hujan " teriak La Barani menyebut nama jurusnya. Tampak ribuan siluet cahaya keluar menyambut datangnya pedang hantu.


" Whuuus.... whuuus....!"


Pedang hantu langsung lenyap, ketika bertemu dengan siluet cahaya. Keadaan yang tadi gelap seketika terang kembali.


Datuk Bagenda terkejut tak menyangka, serangannya akan dengan mudah dipatahkan oleh lawannya. Dia lalu merepalkan sebuah mantra, kemudian tubuh datuk Bagenda berubah menjadi asap hitam.


Asap hitam jelmaan Datuk Bagenda, kemudian melayang Keatas setinggi tiga puluh meter keudar. Kemudian asap hitam itu membentuk sebuah pedang sepanjang sepuluh meter dengan badan pedang yang menyala membara lalu menukik tajam kerah La Barani.


" Mati !"


La Barani dengan tenang menanti serangan lawan, setelah jurus lawan tinggal berjarak satu meter, dia kemudian menyambut serangan itu dengan gerakan terakhir Jurus Selamat Datang Cinta, yang dia pelajari dari dewa Bhatara dengan pengerahan qi delapan puluh persen.


" Jurus Pedang Patah Hati, Selamat Datang Cinta " teriak La Barani sambil mengayunkan pedangnya menyambut serangan lawan.


" Dhuuarrrrrr....,! Dhuuarrrrrr... , !"


Ledakan besar tercipta akibat benturan kedua jurus tadi, area sekitar tempat pertarungan tadi sekarang meninggalkan kawah sedalam lima meter, dengan luas sepuluh meter persegi.

__ADS_1


La Barani dan datuk Bagenda sama2 terlempar sejauh lima puluh meter kebelakang. Akibat dari benturan tadi keduanya mengalami luka dalam.


Tampak La Barani sedang duduk bersila, dikeluarkannya sebuah pil tingkat langit penyembuh luka dalam lalu meminumnya, kemudian dia menyerapnya.


Ditempat lain Datuk Bagenda lebih parah lagi, dia sampai muntah darah. Kini dia juga sedang duduk bersila setelah menelan sebuah pil.


La Barani kemudian menghampiri datuk Bagenda yang masih belum selesai mengobati luka dalamnya. Dia hanya menunggu lawannya mengobati luka dalamnya, tidak ada keinginan dihatinya untuk menyerang lawannya disaat orang itu sedang tidak siap.


Sebenarnya sejak awal La Barani bisa melumpuhkan Datuk Bagenda. Tapi dia hanya berniat menguji jurus2 barunya, andaikan dia memang mau membunuh lawannya dia tentu sedari tadi menggunakan salah satu pusakanya.


" Hebat..., hebat...,!" kata Datuk Bagenda setelah selesai menyerap pil penyembuhnya.


" Ketahuilah anak muda, selama ini belum ada yang mampu lolos dari jurusku tadi " jelas Datuk Bagenda, mengganti panggilannya kepada La Barani, ia sangat kagum dengan kemampuan La Barani.


" Itu belum seberapa Datuk, aku belum serius bertarung denganmu tadi," kata La Barani dengan wajah datar.


" Apa? kamu jangan sombong anak muda," katanya tak percaya.


" Kamu terlalu naif, Datuk. Akan kubuktikan sekarang !" tantang La Barani sambil bersiap menyerang.


" Baik,! begini saja, kalau kamu mampu mengalahkanku, aku akan menjadi pelayanmu seumur hidup " kata Datuk Bagenda.


La Barani kemudian berpindah tempat dengan hukum ruangnya tepat dibelakang Datuk Bagenda, kemudian dia menyerang punggung Datuk Bagenda dengan Jurus Tapak Suci dari Kitab Pammasena Dewata dengan tangan kirinya.


" Whuuus.., whuut...,!"


Datuk Bagenda segera menghindar ketika merasakan angin serangan lawan dari arah belakang.


" Kamu kira semudah itu dapat melumpuhkanku, anak muda," kata Datuk Bagenda sambil tersenyum sinis kearah La Barani.


" kalau begitu terimalah ini !" La Barani lalu melompat salto diudara, tapak kirinya di sorongkan kebawah, kearah datuk Bagenda.


Puluhan bayangan tapak sebesar kepala kerbau dewasa, mengarah kepada datuk Bagenda.


" Shuuuut... shuuuut...!


" Dhuuar.... Dhuuarrrrrr....,!"


Bunyi suara ledakan menggema silih berganti, ketika puluhan tapak menyentuh tanah. Datuk Bagenda tidak berani menerima serangan La Barani, setelah tahu musuhnya memiliki kekuatan yang begitu besar, ia hanya menghindar kesana kemari.


" Ayo serang lagi, anak muda " katanya mengejek sambil tersenyum meremehkan.

__ADS_1


" Jurus Megananda, Gelang Dewa !" teriak La Barani,


Seketika lingkaran spiral mengurung Datuk Bagenda, setelah musuhnya masuk kedalam perangkap jurusnya, La Barani kemudian mengeluarkan jurus selanjutnya.


" Jurus Megananda, Pemeluk Raga,!" teriaknya kemudian.


Tali jiwa seketika keluar dari tangan kiri La Barani, kemudian masuk kedalam tanah, lalu menggelung kaki Datuk Bagenda.


" Jhahaha...,! kamu tak bisa menangkapku dengan jurus seperti ini, anak muda " teriaknya meremehkan lawannya.


Tubuh Datuk Bagenda kemudian berubah menjadi asap hitam, lalu masuk kedalam tanah, keluar dari jeratan jurus La Barani. Tali jiwa pun seketika terlepas dari kaki musuh.


" Benar2 licin, awas kamu " geram La Barani.


Kemudian La Barani kembali menangkap kaki Datuk Bagenda yang telah berubah kewujud semula. Sebelum lawannya melarikan diri lagi, La Barani kemudian melapisi tali jiwanya dengan energi cahaya, kemudian tubuh Datuk Bagenda di putar2 semakin lama semakin cepat membentuk tornado kecil.


" Jurus apaan ini? Kenapa aku tak bisa terlepas, tenagaku juga seperti tersedot," batin Datuk Bagenda cemas.


" Gawat...,! Ahk... aaaa, am...pun, anak muda " teriak Datuk Bagenda memilukan.


La Barani tersenyum ketika mendengar teriakan Datuk Bagenda, ia tidak langsung menghentikan putaran tali jiwanya, malah menambah kecepatan putarnya.


Walau mendengar jeritan datuk Bagenda meraung raung. La Barani belum menghentikan putaran tali jiwanya.


La Barani sengaja membiarkannya untuk memberi pelajaran kepada orang tua itu. Setelah jeritan Datuk Bagenda sudah tak terdengar lagi, barulah La Barani menghentikan putaran tali jiwanya.


Setelah putaran tali jiwa berhenti, terlihat Datuk Bagenda sudah tak sadarkan diri lagi, keadaan sang Datuk sangat berantakan, bajunya yang longgar sudah tidak berbentuk lagi dengan sobekan disana sini. Apalagi rambutnya yang memang berantakan jadi tambah berantakan.


La Barani kemudian memeriksa keadaan Datuk Bagenda, dia lalu mengeluarkan pil pemulih stamina dari balik gelang penyimpanannya, kemudian memasukkannya kedalam mulut orangtua itu, lalu menyalurkan tenaga dalam kepunggungnya membantu proses penyerapan pil tadi.


" Akh... kepalaku, kenapa langit berputar ya...! " gumam Datuk Bagenda. Tampaknya efek dari putaran tali jiwa tadi masih terasa, membuat kepalanya pening.


" Datuk masih belum pulih, sebentar lagi sakit kepalanya akan hilang " kata La Barani sambil tersenyum.


Datuk Bagenda hanya menatap La Barani dengan pandangan yang kosong. Kelihatannya dia belum sepenuhnya sadar.


Sepeminum teh kemudian, Datuk Bagenda berlutut dihadapan La Barani.


" Hamba siap menjadi abdimu seumur hidup, tuan muda !" katanya dengan suara yang lirih.


######

__ADS_1


__ADS_2