
Setelah Komandan Kalia pergi, pak tua beserta anaknya menghampiri La Barani.
" Terima kasih tuan kecil, untung ada kamu yang membantu kami " katanya merendah.
" Aku Kaseng, dan mereka anakku Selasih dan adiknya bernama Bidara " katanya memperkenalkan diri.
" Ini hal yang biasa paman, ! aku yakin, paman bisa dengan mudah mengalahkan mereka " kata La Barani.
Ia telah mengukur tingkat kultivasi Kaseng, yang berada ditingkat pendekar raja tingkat lima. Sedang anaknya Selasih ditingkat pendekar perwira puncak, sedang Bidara masih berada di tingkat pendekar utama.
" Namaku La Barani paman, aku dari kerajaan Bungaya " La Barani pun memperkenalkan diri.
La Barani sebenarnya salah tingkah, sebab matanya selalu saja melirik kearah Bidara. Dia sebenarnya selalu mengalihkan pandangannya, tapi matanya tidak mau di ajak kerjasama.
" Dasar mata buaya ! bikin malu saja " Batinnya.
" Kalau boleh tahu,! ada urusan apa, tuan Barani ke Pagaruyung? Dan dengan siapa kemari? " tanya Kaseng penasaran.
" Aku hanya seorang pengelana paman, kebetulan saja aku lewat, lalu mampir disini. Aku datang hanya seorang diri, dan malam ini rencananya menginap disini" Katanya beralasan.
Mereka pun berbincang selama satu jam. Lalu La Barani beralasan akan mengunjungi temannya. Dia meninggalkan restoran, di iringi pandangan serta senyum manis kedua gadis yang sedari tadi saling berbisik, sambil tersenyum kearahnya.
" Ada apa dengan ku? kenapa pikiranku selalu tertuju kepada Bidara, inikah yang namanya cinta monyet ? " La Barani mendengus, merasakan perasaannya yang galau.
Setelah menanyakan arah ke Istana, kepada orang yang di jumpainya, Ia lalu berjalan menuju Istana Pagaruyung. Sesampai di depan gerbang, ia lalu dihampiri seorang penjaga.
" Anak muda,! apa yang kau lakukan disini ? ini daerah terlarang !!! " kata seorang penjaga menghadangnya.
" Aku ingin bertemu dengan raja kalian " kata La Barani.
" Baginda raja sedang istirahat, dan dia tidak terima tamu malam2 begini " kata penjaga itu tegas.
" Ada apa prajurit ? " terdengar seseorang menghampiri mereka. Ternyata komandan Kalia yang baru keluar dari istana menghadap raja, melaporkan kejadian direstoran tadi.
" Ada seorang anak kecil, yang ingin menemui raja komandan " kata sang penjaga.
Komandan Kalia terkejut setelah mengenali La Barani. " Ada keperluan apa adik kecil mau menemui raja ? " tanyanya sopan, dia sejak tadi merasa bahwa La Barani adalah sosok, yang tidak boleh di singgung.
__ADS_1
" Paman komandan, berikan pada yang mulia raja. Katakan bahwa aku ingin menemuinya " kata La Barani sambil memberikan sebuah token kepada komandan Kalia.
Komandan Kalia mengambil token itu, lalu memperhatikan sejenak. Setelah itu dia bergegas masuk melaporkan kepada raja.
Tidak lama kemudian, Komandan Kalia keluar dengan tergesa gesa.
" Silahkan masuk Pangeran, raja kami telah menunggu di dalam Istana " Katanya sambil bersujud kepada La Barani. Ia mengetahui identitas La Barani setelah raja memberitahunya.
" Bangunlah komandan, antarkan aku menemui beliau " kata La Barani dengan penuh wibawa.
Mereka pun masuk kedalam istana.
Didalam Istana, raja Mappesona telah menunggunya disinggasananya yang megah. Disampingnya, duduk seorang wanita cantik dengan seorang anak gadis yang berumur enam tahun.
" Selamat datang di Istanaku pangeran, " kata raja Mappesona setelah melihat La Barani, sambil mempersilahkan duduk dikursi tamu kehormatan.
" Ada apa sehingga pangeran berkunjung kemari, bukankah musuh sedang bergerak keperbatasan ? " kata raja Mappesona.
" Yang mulia, aku datang kemari untuk berkoordinasi dengan prajurit Pagaruyung, mengingat perang akan segera berlangsung " kata La Barani.
" Kami pihak kerajaan Bungaya, berterima kasih atas kesediaan Pagaruyung, untuk membantu kami menghadapi serangan Kerajaan Tanah Loka " kata La Barani, sambil menjelaskan rencananya dalam menghadapi serbuan musuh.
" Sungguh aku takjub pada Pangeran, diusia lebih sepuluh tahun kamu telah menjadi seorang ahli strategi " kata raja Mappesona memuji La Barani.
" Ini semua ide dari ayahku, dan usiaku saat ini baru tujuh tahun, yang mulia " kata La Barani merendah sambil tersenyum malu2, ketika mengatakan usianya yang sebenarnya.
" Apa? pangeran masih umur tujuh tahun ? sebuah bakat yang langka, kerajaan Bungaya akan menjadi besar di kemudian hari dengan adanya pangeran " kata raja kagum dengan La Barani.
" Lalu bagaimana dengan prajurit yang direstoran tadi pangeran? " tanya komandan Kalia.
" Nanti aku yang akan mengurusnya , akan ku pastikan mereka tidak akan kembali malam ini ke pasukan induk mereka." kata La Barani meyakinkan.
" Kalau begitu aku pamit yang mulia, soalnya ada sesuatu hal yang harus aku kerjakan. Bila ada perlu, komandan Kalia tahu dimana aku menginap malam ini "
" Baik pangeran, sampaikan salamku kepada ayahmu " kata raja Mappesona.
La Barani kemudian menghilang di hadapan semua orang, raja Mappesona begitu terkejut dan kagum akan kehebatan La Barani.
__ADS_1
" Betul2 seorang anak yang berbakat, masih kecil sudah memiliki ilmu yang tinggi " kata raja Mappesona.
####
Setelah meninggalkan Istana Pagaruyung, La Barani segera terbang keluar kota raja dengan kecepatan tinggi. Saat ini dia begitu cemas, akan keselamatan Kaseng dan kedua anaknya.
Entah mengapa dia begitu tertarik, dengan Bidara anak gadis Kaseng. Dia khawatir akan keselamatan mereka terutama dengan Bidari.
Setelah diluar gerbang kota raja, ia lalu memperlambat kecepatan nya. Dia memperhatikan sekeliling, setelah lama mencari matanya lalu tertuju ke sepuluh orang yang sedang bersembunyi dipersimpangan jalan.
Tak lama kemudian, nampak bayangan tiga orang, yang sedang berlari dengan ilmu meringankan tubuh.
Ketiga orang itu adalah Kaseng bersama kedua anaknya. Langkah mereka terhenti, setelah sepuluh orang yang bersembunyi tadi, keluar menghadang mereka.
" Apa yang kalian lakukan disini?, mengapa menghalangi jalan kami?" bentak Selasih.
" Cantik,! jangan galak2 pada calon suamimu " kata jendral Komba dengan pandangan penuh nafsu.
" Kurang a**r! " kamu sudah bosan hidup tampaknya " kata Kaseng marah.
Kaseng lalu mencabut pedangnya, lalu mengayunkannya ke leher jendral Komba.
Sinar biru menyilaukan terpancar keluar dari badan pedang Kaseng, Jendra Komba menangkis sabetan pedang Kaseng dengan tombak pusaka bumi miliknya.
" Dhuuar..... Booooom ! ledakan dahsyat terdengar ketika kedua senjata itu bertemu.
mereka sama2 tersurut mundur sepuluh langkah kebelakang. lalu kemudian mereka sama2 maju mengeluarkan jurus mereka, tidak berapa lama pertarungan keduanya telah berlangsung puluhan jurus. Nampaknya kekuatan mereka seimbang,
La Barani yang menyaksikan pertempuran itu dari ketinggian. ia lalu turun mengatur jarak agar kehadirannya tidak diketahui.
Tak lama kemudian, datang pasukan yang berjumlah dua ratus prajurit mengelilingi pertempuran itu. Dari seragam mereka La Barani tahu, bahwa mereka adalah prajurit Tanah Loka.
" Jhahaha.....! pak tua menyerahlah, kamu telah terkepung " kata jendral Komba sangat senang dengan kedatangan prajuritnya.
" Hmm......! lebih baik aku mati dari pada menyerah pada orang mesum seperti kamu ! " kata Kaseng
" Selasih, Bidara, cepat lari anakku !!" perintah Kaseng pada kedua anaknya.
__ADS_1
" Tidak ayah, kita akan bertempur bersama " kata Selasih sambil menyerang prajurit yang datang hendak menangkap nya.
######