
Raja Petta Sompe akhirnya tiba di ruangan itu dia tampak gagah dengan pakaian perangnya. Dia sangat senang sekali ketika melihat La Barani ada diruangan itu.
" Salam ayah," kata La Barani memberi salam.
Raja Petta Sompe kemudian mendatangi La Barani kemudian memeluknya.
" Anakku, kali ini kita harus berjuang keras untuk melawan musuh," kata Raja Petta Sompe lalu melangkah kekursi kebesarannya.
" Tenang saja ayah, akan kupastikan mereka akan menerima karma karena berani menyerang kita," kata La Barani dengan meyakinkan.
" Semoga saja anakku," kata Raja Petta Sompe.
" Panglima,! bagaimana dengan seluruh pasukan kita? aku ingin kita bergerak secepatnya !" kata Raja Petta Sompe.
" Pasukan kita telah siap, Yang mulia,! tinggal menunggu perintah kapan kita akan bergerak," kata Panglima Polin.
" Bagaimana dengan strategi kemarin, apa pasukan pemanah sudah siap di Array jebakan?" Tanya Sang Raja sekali lagi.
Gambar Ilustrasi Pasukan panah kerajaan Bungaya.
" Mereka saat ini sudah berada dilokasi, Yang Mulia " kata Panglima Polin.
" Pasukan Pagaruyung juga sudah siap ayah, tinggal menunggu instruksi dari kita," kata La Barani pula.
" Kalau begitu, kita bergerak sekarang dengan kekuatan penuh," perintah Raja Petta Sompe.
Mereka akhirnya menuju tempat dimana Pasukan berkumpul. Tampak sepuluh prajurit ber armor lengkap mengelilingi Raja Petta Sompe. Penampilan Sang Raja sangat Agung ketika dikawal oleh prajurit asing itu.
Para prajurit saling bertanya dengan heran kepada rekan mereka tentang siapa mereka. Seandainya mereka tahu bahwa itu adalah Prajurit Langit mungkin mereka akan muntah darah.
" Mungkin itu prajurit bayaran yang disewa Raja kita," kata salah satu prajurit.
" Itu prajurit bayangan, pelindung Raja " terdengar suara
" Itu prajurit dari klan Raja kita, Raja kita kan bukan penduduk Bungaya " kata seorang prajurit.
Mereka semua terlihat saling berbisik mengenai prajurit yang mengawal Raja Petta Sompe. Bahkan Panglima Polin penasaran dengan sepuluh prajurit itu. Karena sebagai Panglima dia seharusnya tahu siapa prajurit yang mengawal Raja saat ini.
" Siapa mereka, Panglima! " tanya Datuk Basalama penasaran.
" Aku tak tahu siapa mereka, Datuk, " Jawab Panglima Polin.
__ADS_1
Setelah berada di depan seluruh prajuritnya. Raja Petta Sompe kemudian berbicara memberikan semangat, kepada seluruh anggota pasukan baik itu prajurit Bungaya, maupun pasukan bantuan dari gabungan perguruan dan klan.
Akhirnya merekapun bergerak menuju kearah musuhnya berada. Karena hanya berjarak satu kilo meter, tidak lama kemudian mereka pun tiba dihadapan prajurit Tanah Loka yang telah siap menyambut kedatangan pasukan mereka.
Ketiga raja koalisi maju dengan menunggang kuda kehadapan pasukan Bungaya. La Barani maju pula menemui musuh ditemani Panglima Polin dan Datuk Basalama.
" Ternyata kalian berjiwa Ksatria, cara kalian menjemput ajal aku hargai, Hahaha....! " kata Tompo Raja Galesong mengejek mereka.
" Cis..,! mendengar kalian anj**ng Tanah Loka menggonggong membuatku sangat jijik " kata La Barani memprovokasi mereka.
" Bang**t, kita lihat saja nanti anak kecil, aku akan membuatmu menangis mencari ibumu, " kata Badola Raja Kanyuara.
" Berhadapan dengan manusia sepertimu, hanya membuang buang tenaga secara percuma," Kata La Barani kembali memprovokasi.
" Dasar sombong, kamu akan merasakan akibatnya nanti, anak kecil, " kata Sengkong Raja Dongi.
" Buktikan saja ucapanmu, " kata La Barani sambil berbalik arah menuju kembali kearah pasukannya diikuti oleh Panglima Polin dan Datuk Basalama.
" Pasukan Panah, bersiap...!" teriak Panglima Polin dengan suara lantang.
" Tembak...,! teriak panglima Polin setelah mendapat anggukan dari Raja Petta Sompe.
Puluhan ribu panah membentuk Hujan panah, seketika meluncur mengarah ke pasukan Tanah Loka.
" Swing... ting... ting !" bunyi anak panah, ketika berbenturan dengan tameng ataupun ditangkis pasukan Tanah Loka.
Kini giliran pasukan Tanah loka menembakkan panahnya. Puluhan ribu anak panah meluncur kearah pasukan Bungaya, Prajurit Langit segera membentuk formasi pelindung untuk melindungi Sang Raja dari hujan panah itu.
Gambar ilustrasi Prajurit Langit
" shuut... whuut... whuut ! " Bunyi deringan anak panah yang meluncur deras, kearah pasukan Bungaya.
La Barani seketika membuat formasi ruang dan waktu, untuk membelokkan arah serangan anak panah kembali menuju prajurit Tanah Loka.
" Bang**t,! serbuuu...! " teriak raja Tompo saat menyaksikan perbuatan La Barani. Jarak kedua pasukan saat ini seratus meter.
La Barani serta Panglima Polin langsung maju menyambut serbuan musuh.
" Serbuuu....!" Teriak Panglima Polin.
Pasukan Kavaleri Bungaya yang berjumlah dua puluh ribu personil bergerak dengan kecepatan tinggi menghadang laju pergerakan pasukan Tanah Loka.
__ADS_1
Gambar Ilustrasi pertemuan kedua pasukan.
Teriakan kekacauan menggema disepanjang wilayah pertempuran itu. ketika kedua kubu bertemu terdengar dentingan senjata serta jeritan kematian silih berganti.
La Barani memilih bergerak secara perlahan, bersama Raja Petta Sompe dan Panglima Polin, diikuti tiga ratus ribu pasukan invantri. Serta mengawasi dari jauh jalannya pertempuran.
" Hari ini kita mendapat perlawanan yang sengit dari musuh," kata Raja Petta Sompe.
" Tenang saja ayah, mereka tidak mungkin menang melawan kita " kata La Barani dengan santainya.
La Barani kemudian melompat tinggi ke udara dari atas kudanya lalu dia mengibaskan tangannya memanggil keluar raja gajah.
" Whuut.... whuut !"
Raja gajah kemudian keluar dari dimensi sumberdaya, lalu La Barani turun dan mendarat di atas punggung gajah yang berbulu lebat itu.
Orang2 yang menyaksikan hal itu sontak saja menjatuhkan rahangnya.
" Ayah ! ayo naik Keatas gajah ini, dari sini kita bisa memantau jalannya pertempuran " ajak La Barani melalui telepati.
Raja Petta Sompe lalu terbang ke atas gajah. Saat ini Sang Raja telah mencapai tingkat pendekar suci tingkat dua, setelah memakan semangka dewa pemberian La Barani. Sehingga diapun juga bisa terbang saat ini.
" Suma, bunuh semua musuh yang ada disekitar kita, " kata La Barani kepada gajah yang bernama Suma itu.
" Nguuuuaaaaht..! " jawab sang gajah yang artinya hanya diketahui oleh La Barani.
Suma lalu berlari mendekati pertempuran pasukan berkuda, lalu membantai satu persatu pasukan Tanah Loka. Anehnya, dia seakan tahu siapa musuhnya karena dia tidak menyerang pasukan Bungaya.
Tentu saja, karena Suma adalah bukan jenis gajah biasa. Ia adalah jenis hewan buas yang berkultivasi. Tingkatan kultivasinya saat ini berada di tingkat pendekar suci tingkat puncak.
Ketiga raja koalisi terlihat cemas, menyaksikan Suma mengamuk membantai pasukan berkuda mereka.
" Ini adalah alamat buruk bagi kita, kita harus mencari cara untuk mengatasi gajah itu," kata Badola Raja Kanyuara.
" Kirim sepuluh pendekar suci, untuk membunuh gajah Itu " kata Tompo Raja Galesong, memerintahkan salah seorang jendralnya.
" Baik, Yang Mulia !" jawab sang Jendral.
Sang Jendral kemudian memerintahkan sepuluh pendekar suci tingkat menengah untuk membunuh gajah Suma.
" Swuusht...,! sepuluh pendekar suci musuh lalu terbang menghampiri gajah Suma.
__ADS_1
######