Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
09. Persiapan Pembukaan


__ADS_3

Keesokan harinya


Di ruangan khusus Raja.


Labarani datang menghadap ayahnya, dia menyampaikan ke inginannya untuk turut berpartisipasi dalam acara pembukaan.


" Ayah bolehkah aku turut dalam acara pembukaan " pinta La Barani.


" Hey...! Kamu mau ikutan apa sebenarnya anakku ? sedang kamu belum pernah belajar silat ! " kata ayahnya.


" Aku hanya mau ikuti atraksi kesenian, di acara pembuka turnamen ! " kata La Barani.


" Terserah kamu saja anakku, yang penting kamu atur secara baik, hubungi saja para panitia " kata La Barani.


" Baik ayah...! " Ujar La Barani. Langsung pergi menemui panitia.


Aku harus secepatnya membeli sebuah kecapi, untuk itu aku harus keluar Istana, tapi sebaiknya aku menyamar.


######


Di pusat kota raja diluar Istana


Seorang gadis kecil berjalan bersama seorang kakek tua, dia tampak antusias dengan pemandangan Kota raja yg begitu ramai. Gadis kecil itu tidak henti2nya berdecak kagum, tampak kalau dia baru pertama kali ke Kota raja.


Gadis kecil berumur tujuh tahun itu sangat cantik, dengan wajah tirus serta memiliki bola mata yg bulat, serta bulu mata yg lentik. Ia adalah Enci, anak La Domeng, ayahnya adalah tetua pertama dari perguruan angsa putih. Umurnya baru tujuh tahun saat ini. Enci salah satu peserta turnamen yang termasuk jenius di perguruannya.


Saat ini, dia meminta ayahnya untuk jalan2, sambil melihat lihat pemandangan kota yg ramai.


Namun tiba2 dari arah belakang, sebuah kereta kuda yang di kemudikan dengan kencang, menyambar kedua orang itu. Sang ayah dengan refleks, menghindar sambil menarik tangan anaknya, tapi naas semuanya sudah terlambat. bahu kanan gadis kecil itu terhantam badan kereta.


" Anakku.... ! " teriak La Domeng panik, dia seketika memeluk anaknya. Ia lalu memeriksa nadi enci yang pingsan, setelah memeriksa bahwa anaknya masih hidup, diapun berpaling kearah kereta kuda yang juga berhenti.


" Bang*****t...!! " Siapa yang menjalankan kereta di dalam kota secara ugal2an.


" Pak tua, ! berani2 nya kamu menghina anak jendral panglima kerajaan " kata seorang pemuda ber usia 15 tahun.


Pemuda itu turun dikawal dua orang pengawal. Ia adalah La Baco putra dari panglima kerajaan, La Baco adalah pemuda yang angkuh serta arogan, reputasinya selama ini sangat buruk dimata masyarakat.

__ADS_1


" Anak muda,! maaf kalau aku salah, tapi bagaimana dengan anakku ?" La Domeng seketika merendahkan suaranya, dia menyadari siapa yang sedang di hadapinya. Dia berusaha menekan amarahnya.


" Kamu yang salah pak tua ! kamu jalan terlalu ketengah, makanya sampai bisa kesenggol kereta " kata La Baco menyalahkan La Domeng.


" kamu..! dasar tidak punya akhlak ! sudah salah masih bertingkah " Kata La Domeng tidak terima di salahkan, walaupun dia sudah tahu dengan siapa dia berhadapan, tapi dia tidak gentar.


" Jadi kamu mau apa Pak Tua ? Haa.. ?!?" bentak La Baco.


" Hajar dia....! " Perintahnya kepada dua orang pengawalnya.


Dua orang pengawal La Baco, merangsek maju langsung menyerang La Domeng. Tingkat kultivasi mereka, berada di tingkat pendekar Raja tingkat satu.


Mereka langsung menyerang La Domeng dengan jurus terkuat mereka.


" Mati.....! "


Melihat serangan yang datang kepadanya begitu kuat, La Domeng menyambut dengan mengerahkan jurusnya pula.


" Tameng sakti menerjang badai " La Domeng meneriakkan nama jurusnya.


" Dhuar.....! "


Nampak di sela bibir dua pengawal La Baco mengeluarkan darah, sedang La domeng tidak karena tingkat kultivasi La Domeng masih diatas mereka.


Tingkat kultivasi La Domeng saat ini ada di tingkat pendekar raja tingkat lima, jadi wajar saja kalau mereka bisa terluka walaupun mereka maju ber dua.


Menyadari lawan mereka kuat, La Baco ikut maju menyerang. Tingkat kultivasinya saat ini berada di tingkat pendekar raja tingkat tiga.


" Ayo serang ber sama2 !" serunya, kemudian maju menyerang sambil mengayunkan senjatanya, berupa badik sepanjang setengah meter.


Badik di tangan La Baco adalah badik pusaka tingkat menengah. Tampak cahaya merah samar keluar dari batang badik pusakanya itu.


" Whuus...,!" Suara badik La Baco mengarah keperut La Domeng.


La Domeng melihat senjata lawan mengarah keperutnya, diapun tidak mau ketinggalan seketika di keluarkan senjatanya berupa pedang yang berukir gambar elang di gagangnya, dengan sigap diapun menangkis senjata lawannya.


" Ting.... " bunyi kedua senjata mereka ketika bertemu memercikkan api, tanda bahwa kedua senjata diakhiri dengan tenaga dalam.

__ADS_1


Baru selesai menangkis serangan lawan, La Domeng mendapat serangan lagi dari atas dan samping kanannya. Diapun menagkis serangan lawannya yang dari samping, setelah itu dia mundur dua langkah, menghindari serangan pedang dari atas.


Pertarungan mereka, telah berlangsung selama sepenanak nasi, tampak La Domeng sudah mulai kelabakan di keroyok tiga orang pendekar raja. Walaupun kultivasinya di atas mereka, namun menghadapi mereka bertiga secara bersamaan, La Domeng mustahil bisa menang.


Para penonton yang ada di sekitar mereka, merasa kasihan kepada La Domeng, tapi mereka tidak ada yang berani membantunya.


Kombinasi serangan yang dilakukan oleh La Baco cs, begitu sangat kompak dan mematikan. Tidak menunggu lama lagi, akhirnya La Domeng pun terdesak, tampak sudah banyak luka disekujur tubuhnya. Walau tidak begitu dalam, tapi tetap saja mempengaruhi konsentrasinya.


La Baco akhirnya mempergunakan kesempatan itu dengan sebuah jurus yang mematikan.


" Jurus naga menghantam bumi " teriaknya mengatakan nama jurusnya. Seketika dari atas, badiknya telah memanjang sepanjang dua meter, menghantam tubuh La Domeng.


" Mati....! " serunya sambil tersenyum sinis.


La Domeng yang sudah terluka, hanya bisa pasrah melihat serangan yang datang. Iapun menutup kedua matanya, berharap kematiannya tidak begitu menyakitkan.


Di saat yang kritis, seseorang dengan kecepatan yang sulit dilihat dengan mata telanjang, menyambut serangan La Baco dengan tangan kosong.


" Duarh....krakt.... Ting...! " suara senjata beradu dengan tangan terdengar begitu kerasnya. La Baco terlempar kebelakang sejauh dua puluh meter menabrak penonton. Tubuhnya baru berhenti, setelah menabrak dinding bangunan yang serta merta hancur.


Tampak badik kesayangannya tinggal menyisakan gagangnya, diapun langsung memuntahkan darah kental dari mulutnya.


" Tidak sepantasnya seorang bangsawan mengeroyok orangtua yang tidak bersalah " Kata seorang anak kecil, yang memakai caping dan berbaju lusuh serta compang camping.


Dia adalah La Barani, dia keluar dengan menyamar sebagai pengemis, untuk membeli sebuah kecapi.


Sewaktu keluar dari toko, setelah membeli sebuah kecapi. Dia mendengar suara pertarungan, dengan penasaran ia lalu melihat siapa yang bertarung.


Diapun marah setelah melihat La Baco sedang mengeroyok seseorang. Untung saja dia datang tepat pada waktunya, sehingga orang yang dikeroyok La Baco bisa ia selamatkan.


" Pengemis mana yang berani melukai junjungan kami " tanya salah satu pengawal La Baco, dia marah kepada La Barani. Tapi setelah dia melihat kekuatan pemuda itu, ia hanya bisa bertanya tapi tidak berani untuk menyerang.


" Bagaimana keadaanmu paman ?" tanya La Barani, tanpa peduli pertanyaan pengawal La Baco.


" Aku baik2 saja nak, tapi tolong anak saya " Diapun menunjuk posisi anaknya, yang tergeletak disudut jalan. Posisinya saat ini berjarak sepuluh meter dari anaknya yang terluka.


" Baik..! aku akan memeriksa keadaannya paman ! " kata La Barani sambil melangkah kearah Enci, yang lagi pingsan.

__ADS_1


Diapun memeriksa keadaan Enci, lalu ia memasukkan sebuah pil kedalam mulut Enci sambil menyandarkan tubuh gadis tersebut ke dinding. Tidak lupa pula, ia menyalurkan hawa murni kedalam tubuh gadis itu, untuk membantu proses penyerapan pil yang telah dia minumkan.


######


__ADS_2