Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
22. Di Kota raja Pagaruyung.


__ADS_3

La Barani terbang tinggi ke atas awan. Dari sana dia dapat melihat Markas Kerajaan Tanah loka. Dia memperhatikan, belum ada pergerakan dari pasukan musuh.


" Berarti besok mereka belum menyerang " batinnya.


" Aku sebaiknya memeriksa, keadaan sekitar kerajaan Pagaruyung " kata La Barani dalam hati.


Lalu La Barani terbang kearah timur, menuju kota raja Pagaruyung. Sebelum mencapai gerbang kota raja, dia lalu turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Di gerbang, terlihat beberapa petugas, sedang memeriksa penduduk yang ingin masuk ke kota raja.


Akhirnya giliran La Barani, ia lalu memperlihatkan tanda pengenal klan ibunya.


" Klan Bungaya, apa yang kau lakukan disini ? bukankah negaramu akan berperang? " tanya seorang pejaga pos.


" Aku akan berkunjung ketempat temanku, kalau masalah perang, itu bukan urusanku. Aku kan masih kecil paman ! " kata La Barani beralasan.


" Iya benar juga, silahkan masuk adik kecil " kata prajurit penjaga.


" Terima kasih paman !" kata La Barani.


La Barani lalu memasuki kota raja, sepanjang jalan ia melihat bangunan besar yang berjejer rapi. " Tampaknya kerajaan Pagaruyung melakukan penataan kota dengan baik " gumamnya.


La Barani memutuskan akan menginap di kota raja Pagaruyung. Dia lalu mencari penginapan, setelah berjalan beberapa saat, ia melihat sebuah restoran yang juga menyiapkan kamar untuk menginap.


Restoran itu berlantai dua, dengan gaya arsitektur yang sangat unik.


La Barani lalu melangkah masuk, untuk memesan sebuah kamar.


" Kakak,! apakah masih ada kamar kosong? " tanyanya kepada seorang pelayan perempuan.


Pelayan yang ditanya, sejenak perhatikan La Barani. Lalu sambil tersenyum ia melayani nya.


" Sepertinya anak ini, adalah tuan muda dari sebuah keluarga kaya. Aku harus melayaninya dengan baik " batinnya.


" Masih ada, tuan muda mau menginap berapa hari? " tanya pelayan dengan sikap hormat.


" Tolong siapkan kamar yang bagus ! aku hanya menginap semalam saja " kata La Barani, sambil memberikan tiga koin emas.


" Tuan muda, ini kebanyakan ! " kata pelayan itu.


" Sisanya buat kakak saja ! "


Pelayan itu sangat senang, lalu mengantar La Barani Ke kamarnya, yang berada dilantai dua.

__ADS_1


Di dalam kamar, La Barani langsung mandi lalu berganti pakaian. Setelah itu iapun menuju restoran, yang berada di bawah penginapan.


Di bawah, ternyata telah banyak pengunjung yang sedang makan, memang saat ini hari sudah malam. Lampu2 penerangan, telah dinyalakan berjejer rapi di dinding restoran.


La Barani kemudian menuju meja yang kosong, lalu memesan makanan kepada pelayan yang datang menghampirinya.


Ia kemudian mengedarkan pandangannya, di meja sebelahnya, seorang pria berumur lima puluh tahun, sedang menikmati hidangan nya bersama dua orang gadis. Yang satu mengenakan baju warna putih, sedang yang seorang lagi memakai baju warna merah.


Usia gadis yang berbaju putih, lima belas tahun sedang yang disebelah nya berusia tujuh tahun. kedua gadis itu sangat cantik, wajah mereka yang tirus, sangat serasi dengan mata mereka, yang di hiasi dengan bulu mata yang lentik.


Tidak lama kemudian, seorang lelaki berusia kira2 tiga puluh tahun. Yang duduk di sudut menghampiri mereka.


" Gadis...,! boleh aku duduk Disini? " tanya lelaki itu, dengan mata jelalatan memandangi gadis yang berbaju putih.


" Maaf tuan, kami tidak ingin diganggu !" kata orangtua di samping sang gadis.


" Aku tidak berbicara denganmu pak tua !" kata lelaki itu ketus.


" Ayah...,! izinkan aku menghajar mulut orang gila ini !?" kata gadis berbaju putih marah.


" Jangan galak2 sayang ! nanti kamu cepat tua " katanya sambil mejilati bibirnya.


" Dasar otak mesum, pergi dari sini ! " kata gadis berbaju putih marah.


" Jaga bicaramu tuan, asal kamu tahu aku tidak suka diusik " kata orang tua, yang ternyata ayah gadis itu dengan tenang.


Sebelum tangannya menyentuh da** gadis itu. Sebuah koin perak melayang, menancap di telapak tangan orang itu.


" Aaaghk....! tanganku,! siapa yang melakukannya? " tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, sambil mencabut koin di tangannya.


" Aku yang lakukan itu, paman cabul ! " kata La Barani, yang muak dengan tingkah pemuda itu.


" Bangs**t, ! kamu cari mati anak kecil " kata pemuda itu marah, lalu tiba2 dia sudah berada di depan La Barani. Sambil tangannya diayunkan, bermaksud menampar wajah La Barani.


" Mati "


Melihat lawan menyerang, dengan santai La Barani menangkis pukulan lawan. Dan dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata biasa, ia memukul lawannya.


" Plak.....buuukk...!?! " tahu2 lawan telah terbang sejauh lima meter, menghancurkan beberapa meja.


Sembilan kawan pemuda, yang sedari tadi hanya melihat dari jauh aksi pemuda itu. Mendatangi kawan mereka yang sedang mengerang kesakitan, yang wajahnya telah bengkak terkena pukulan La Barani.


" Jendral, ! hajar anak kecil itu " pintanya kepada lelaki yang berbaju merah, yang ternyata adalah pemimpin mereka.

__ADS_1


Sambil berjalan kearah La Barani, matanya memandang sekilas, ke arah gadis berbaju putih. kilatan nafsu nampak dari pandangannya.


" Hehehee...,! urusan kita nanti setelah bocah itu, cantik !" katanya dengan gaya congkak.


" Ada apa ini ? berani sekali kalian berbuat onar di kota raja, apa kalian sudah bosan hidup? " bentak salah seorang, dari lima orang yang baru masuk.


Rupanya ia prajurit kota, yang kebetulan melintas dan melihat keributan di restoran itu.


" Cuma prajurit Pagaruyung, berlagak hebat dihadapan prajurit Tanah loka, siapa takut !?! " kata komandan, dengan gaya yang arogan.


Ternyata, mereka adalah prajurit Tanah loka yang menyamar. Tampak sekali bahwa prajurit Tanah loka, memandang sebelah mata kekuatan prajurit Pagaruyung. Dengan entengnya mereka membongkar identitasnya.


Prajurit Pagaruyung terkejut, ketika mereka tahu pemuda itu prajurit Tanah Loka yang menyamar.


" Maaf tuan2, aku adalah Kalia. Komandan pasukan kota raja, kami tidak bermaksud menyinggung kalian. Hanya aturan disini, melarang seseorang untuk bertarung di dalam kota " kata komandan Kalia, memperkenalkan diri.


" Komandan, ! aku adalah Komba, jendral pasukan inti kerajaan Tanah Loka. Aku akan memberi muka kepadamu, tapi tolong kau urus anak kecil ini. Dia telah melukai bawahanku " katanya sambil menunjuk ke arah La Barani.


" Baik jendral ! biar aku yang akan mengurusnya " kata komandan Kalia.


La Barani yang di tunjuk, hanya tersenyum sinis dengan acuh. Hatinya sebenarnya marah, tapi dia berusaha menahannya.


" Aku akan membunuh mereka, setelah mereka keluar dari kota ini " batin La Barani.


Jendral Komba lalu meninggalkan restoran itu, bersama dengan kesembilan anggotanya.


" Kita akan mencegat gadis tadi, setelah mereka keluar dari kota raja " Katanya setelah mereka telah jauh dari restoran.


Sementara itu di restoran, Komandan Kalia lalu menghampiri La Barani.


" Mengapa kamu bisa berurusan dengan jendral tadi adik kecil? " tanyanya sopan.


" Aku hanya membantu mereka dari ke jahilan bawahan jendral tadi " kata La Barani sambil menunjuk kearah orang tua serta kedua gadis cantik.


Diapun lalu menceritakan kejadian tadi. Komandan lalu menggangguk kan kepala setelah mendengar penjelasan La Barani.


" Aku tidak takut bertindak kepada mereka, tapi aku tidak berani bertindak walau mereka salah tanpa melaporkan kejadian ini kepada Panglima atau raja, karena pasukan Kerajaan Tanah Loka saat ini telah berada di wilayah kami dengan kekuatan penuh " kata Komandan Kalia menjelaskan situasinya.


" Tidak apa komandan, aku juga tidak protes. Selama aku tidak disalahkan atas kejadian tadi " kata La Barani, memaklumi tindakan komandan Kalia.


" Kalau begitu, aku permisi dulu " kata komandan Kalia, sambil melangkah keluar. Di ikuti oleh lima orang bawahannya.


######

__ADS_1


Maaf teman2 terlambat up. soalnya, banyak yang harus aku revisi dari novel ini terutama dari bab pembuka.


Mohon dukungannya ya! teman2 🙏🙏🙏


__ADS_2