
Ke esokan harinya, saat hari masih gelap. La Barani meninggalkan penginapan, terbang dengan kecepata tinggi.
Sewaktu mencapai perbatasan, pasukan Bungaya telah siap dibalik benteng perbatasan. Tampak Panglima Polin bersama Datuk Basalama telah siap dengan pasukannya masing2.
Dia lalu turun menuju array pelemah untuk mengaktifkannya. Setelah mengaktifkan array pelemah, dia kemudian menuju keatas benteng tempat Panglima Polin berkumpul.
" Swush......!"
Panglima Polin dan lainnya terkejut dengan kemunculan La Barani dengan tiba2.
" Pangeran dari mana saja !?, yang mulia dari kemarin mencarimu, " Tanya Panglima Polin.
Datuk Basalama berusaha mengukur tingkat kultivasi La Barani, tapi dia tidak bisa mengukurnya.
" Anak ini menyembunyikan kekuatannya selama ini, sebuah bakat yang luar biasa, melebihi bakat muridku La galigo. Siapakah guru nya? " batin Datuk Basalama.
" Aku kemarin sedang ada urusan di Pagaruyung Panglima " jawab La Barani.
Tak lama kemudian raja Petta Sompe tiba di atas benteng. Setelah duduk dikursi yang megah, dia lalu bertanya kepada La Barani tentang pergerakan pasukan Tanah Loka.
" Ayah...,! saat ini pasukan Tanah loka telah berada di tiga titik, yaitu markas utama mereka dipinggiran hutan karajae, dengan kekuatan pasukan sekitar dua ratus ribu prajurit."
" Titik kedua markas mereka saat ini, berada sepuluh kilo meter dari benteng ini, dengan kekuatan pasukan seratus sampai seratus lima puluh ribu prajurit."
" Titik ketiga berada satu kilo meter dari sini, dengan kekuatan pasukan sekitar dua ratus ribu prajurit " Kata La Barani melaporkan hasil pengamatannya.
" Jadi, mereka tidak langsung menyerang secara penuh !? " tanya raja Petta Sompe.
" Benar ayah,! tapi itu malah bagus untuk kita, dengan begitu kita bisa memanfaatkan array yang telah kupasang."
" Setelah kita memukul mundur pasukan mereka. Pada serangan pertama, aku akan mengaktifkan array jebakan yang akan mengarahkan mereka ke lubang besar yang kubuat di sana " kata La Barani menjelaskan, sambil menunjuk ke daerah lubang.
" Bagus anakku, ! bagaimana kamu bisa yakin, kita akan memukul mundur musuh di pertempuran awal ini? " tanya Petta Sompe.
" Itu hanya perkiraan ku saja ayah, tapi dengan informasi yang aku dapat, aku yakin kita akan memenangkan pertempuran awal ini " kata La Barani yakin.
" Bagaimana dengan pengamatanmu Panglima? apa sama dengan analisa pangeran? " tanya sang raja.
" Aku belum ada gambaran peta kekuatan lawan saat ini, karena informasi yang diberikan oleh telik sandi kita, sangat minim yang mulia !" kata Panglima Polin.
__ADS_1
" Semalam, aku bertemu dengan yang mulia Mappesona raja Pagaruyung, beliau menitipkan salam kepada ayah. Aku juga telah berkoordinasi dengan pihak mereka, dan telah meminta pasukan mereka untuk berada di zona tempur " kata La Barani.
" Apa..? sejauh itu kamu pergi " raja Petta Sompe terkejut mendengar La Barani telah berkunjung ke kota raja Pagaruyung, yang jaraknya lebih dari seratus kilo meter dari perbatasan.
Tapi setelah mengingat kultivasi anaknya, ia hanya geleng kepala.
" Maaf pangeran,! dalam keadaan yang sedang genting ini. Bila bepergian, sebaiknya kamu meminta pengawalan dari kami, kami khawatir dengan keselamatanmu " kata datuk Basalama.
" Lihat...! pasukan mereka telah bergerak !" kata salah satu jendral. Pembicaraan mereka pun terhenti saat pandangan mereka tertuju kearah yang ditunjuk oleh jendral itu.
" Panglima..,! siapkan prajurit di luar benteng, kita akan berhadapan langsung dengan mereka."
" Dan ingat dengan strategi yang telah kita siapkan " kata raja Petta Sompe.
" Baik yang mulia! "
Prajurit Bungaya segera keluar menempati posisi masing2, bersama seluruh bantuan dari perguruan dan klan.
Panglima Polin serta datuk Basalama, telah berada digaris depan menyambut kedatangan pasukan musuh.
Ketika kedua pasukan telah berjarak seratus meter, pasukan Tanah Loka berhenti. Terlihat sepuluh orang menunggang kuda, maju memisahkan diri menghampiri pasukan Bungaya.
" Aku Arya..,! raja kerajaan Dompu. Ingin mengajak duel, seseorang yang menamai dirinya Satria Bungaya " teriaknya dengan pengerahan tenaga dalam.
" Jreng.... jreng.... teng.... teng "
" Raja sombong...,! tidak tahu tingginya langit dalamnya samudra. Aku...,Satria Bungaya, menerima tantanganmu. Bunyi kecapi serta syair La Barani."
" Whuut.... swhus !
La Barani tahu2 telah berada sepuluh meter dihadapan raja Dompu. Petta Sompe terkejut setelah melihat anaknya telah ada di depan musuh, padahal tadi La Barani masih duduk disebelahnya di atas benteng.
Raja Dompu sebenarnya terkejut dengan kemunculan La Barani. Tapi setelah melihat, yang datang hanya anak kecil, dia jadi meremehkannya.
" Jhahaha.....hahaha ! apa tidak ada orang lain lagi di kerajaan Bungaya, hingga menyuruh seorang anak kecil maju malayaniku " katanya merendahkan.
" Swush....shuut....! tampak sebuah pedang telah berada di tangan La Barani. sedang jendral Kambo juga telah berlutut didepannya menghadap raja Dompu.
" Slash....! kepala jendral Kambo menggelinding ditanah.
__ADS_1
" Apa kamu masih bisa tertawa raja sombong? " kata La Barani dingin kepada raja Dompu.
" Jendral Kambo...! bagaimana bisa!? " katanya tak percaya dengan yang dilihatnya.
" Jendral Karibo dan jendral Kambo telah kubunuh, apa kau masih meragukan aku " Satria Bungaya? " kata La Barani tersenyum sinis.
" Kamu baj****an kecil ! rasakan ini " raja Dompu telah kehilangan kendali, Ia lalu melompat dari kudanya menyerang La Barani dengan jurus pedangnya.
" Mati !"
Melihat lawan menyerang, La Barani lalu mengerahkan empat puluh persen qi nya. dengan jurus kedua pedang dewa, pedang pelenyap sukma. Dia menyambut serangan lawan.
" Dhuuar...... Arght ! " raja Dompu terbang dua puluh meter kebelakang. Tak tahu, apa ia masih hidup.
" Yang mulia...! " teriak salah satu pengawal raja Dompu.
" Serang dia !! " teriaknya kepada rekannya.
ke sembilan penunggang kuda, memacu kudanya dengan kencang menyerbu La Barani.
La Barani pun maju. Melesat dengan kecepatan tinggi, menyambut datangnya kesembilan orang penunggang kuda. Dengan elemen besinya, dia menyerang empat orang lawannya seperti melempar senjata rahasia.
" Slahss.... Slahss....Arght...! " empat penunggang kuda langsung tersungkur dari atas kudanya, tewas dengan serangan energi besi milik La Barani.
Kini tinggal lima orang penunggang kuda, setelah jarak mereka tinggal dua meter, La Barani bersalto di atas mereka. Kemudian masih di udara, ia mengembangkan telapak tangannya, menyerang mereka dengan jurus belenggu raga.
" Jurus megananda, belenggu raga " teriaknya menyebutkan nama jurusnya.
Tali jiwa seketika menjerat leher kelima penunggang kuda, begitu kaki La Barani menjejak tanah diapun menyentak tali itu. seketika leher mereka putus, dengan kepala jatuh ketanah.
La Barani kemudian mendatangi raja Dompu yang sedang sekarat. kemudian dia memotong lehernya. Dia lalu mengangkat kepala raja Dompu tinggi2.
" Hidup Bungaya....! " teriaknya dengan keras.
Kedua kubu sama2 takjub dengan pertempuran yang sangat singkat itu. Pihak musuh terlihat kehilangan semangat tempur, Sedangkan pasukan kerajaan Bungaya seketika berteriak, menyambut kemenangan La Barani.
Mereka pun bersorak, meneriakkan...."Hidup Satria Bungaya."
" Anak ini begitu kuat, aku rasa dia belum mengeluarkan kekuatan penuhnya " batin datuk Basalama, kagum dengan kehebatan La Barani.
__ADS_1
Raja Petta Sompe yang dari tadi menyaksikan dengan cemas pertarungan anaknya. Menjadi gembira sekaligus bangga, Bagaimana pun ini baru pertama kalinya dia melihat kekuatan La Barani.
######