Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
26. Perang dimulai 2


__ADS_3

La Barani kemudian mendatangi Palima Polin dan Datuk Basalama. Yang telah siap memimpin pasukan.


" Pangeran sangat hebat, mampu mengalahkan mereka dengan cepat " puji Datuk Basalama.


" Itu biasa saja, datuk !" kata La Barani merendah.


Datuk Basalama sedari tadi, memang kagum dan takjub melihat jurus2 La Barani. Sampai saat ini, dia hanya memperkirakan kultivasi La Barani, berada di tingkat pertapa dewa menengah.


Datuk Basalama tidak tahu bila tingkat kultivasi La Barani, berada pada tingkat pendekar suci tingkat enam, setingkat diatasnya. Andai tahu, mungkin Datuk Basalama akan muntah darah. Mustahil baginya seorang anak kecil mencapai tingkat pendekar suci, apalagi anak umur tujuh tahun.


Bagaimana tidak,! datuk Basalama telah berusia delapan puluh dua tahun. Sepanjang hidupnya diabdikan hanya untuk mengejar kekuatan, setelah mencapai tingkat pendekar suci tingkat lima, tingkat kultivasinya pun mandek. Hal ini berlangsung selama lima belas tahun.


Karena frustasi dengan tingkatannya yang stagnan. Kemudian dia memutuskan untuk terjun kedunia persilatan. Dan akhirnya menerima La galigo menjadi muridnya atas permintaan raja Petta Sompe.


" Tembakkan panah...!" teriak komandan pasukan Tanah Loka.


Prajurit Tanah Loka akhirnya memulai serangan, ribuan panah telah meluncur menuju prajurit Bungaya. .


" Prajurit, buat perisai...!" perintah panglima Polin. Prajurit Bungaya lalu bergerak membentuk perisai pertahanan, hujan panah seketika turun, menghantam pasukan Bungaya dari jarak tembaknya. Walaupun perisai pertahanan telah terbentuk, tetap saja banyak pasukan Bungaya yang tewas terkena panah. puluhan bahkan ratusan prajurit Bungaya tewas saat itu juga.


" Serbuuu...,! bunuh musuh sebanyak banyaknya " Teriak Tompo raja Galesong, sambil bergerak maju dengan kudanya.


Setelah hujan panah berakhir, pasukan kavaleri berkuda Tanah Loka, memimpin pasukan invantri maju menyerang. Seratus delapan puluh ribu prajurit menyerbu kearah pasukan Bungaya.


" Siapkan pasukan panah, jendral !" kata Panglima Polin.


" Tembak...!" teriak jendral gara, saat pasukan Tanah Loka sudah berada pada jarak tembak pasukan pemanah.

__ADS_1


Hujan panah seketika meluncur membelah langit, menerjang pasukan Tanah loka. Banyak prajurit berjatuhan ketika terkena hujan panah.


" Siapkan panah tombak, musuh telah dekat !" perintah panglima Polin. Panah besar yang sedari tadi disiapkan dibelakang prajurit, maju untuk memuntahkan anak panahnya. Panah tombak ini dibuat berdasarkan pengetahuan raja Petta Sompe yang dipelajari dari ayahnya yang langsung belajar di Klan Kawaru yang ahli penempa senjata. Panah ini dapat menembakkan anak panah yang sepanjang satu setengah meter, yang khusus digunakan untuk menghancurkan pasukan berkuda lawan.


" Tembak..,! teriak jendral Dondi, yang 8'membawahi pasukan panah tombak.


" Datuk Basalama, pangeran ! bersiaplah. Musuh telah mendekat " kata panglima Polin mengingatkan.


Bunyi ringkikan kuda terdengar sahut menyahut akibat terkena panah. Ribuan pasukan berkuda jumpalitan dari atas kudanya yang terkena panah tombak.


" Serbuuu....,! serang.....,! jangan biarkan mereka lolos " teriak panglima Polin memerintahkan pasukannya untuk bergerak menyerang.


Pertempuran jarak dekat pun pecah seketika. La Barani kemudian memimpin pasukan gabungan klan, sedang datuk Basalama memimpin pasukan gabungan perguruan dan Panglima Polin memimpin pasukan elit Garnisun Bungaya. Mereka menghadang laju pasukan musuh dengan gagah berani.


Di tempat lain pasukan reguler Bungaya terlihat melakukan pembantaian. Musuh yang telah melalui array pelemah memang se olah2 datang mengantarkan nyawa. Mayat pasukan Tanah Loka menumpuk di sepanjang kedua array pelemah. Ketiga raja yang tersisa, heran dengan apa yang dilihatnya. Tetapi mereka tidak berkesempatan untuk memikirkan hal itu. Sebab, lawan sudah datang menerjang masing2 dari mereka.


La Barani hanya mengeluarkan kekuatannya sebanyak dua puluh persen, dengan kekuatan fisiknya yang ditempa oleh gurunya selama di alam dimensi, La Barani merasa cukup untuk menghadapi lawan saat ini. Tumpukan mayat yang menggunung tercipta di sekeliling La Barani, sampai2 prajurit Tanah Loka menjauh darinya.


Tanpa terasa, perang telah berlangsung selama tiga jam lebih. La Barani kemudian memandang sekelilingnya, dari tempat ia berdiri, tampak datuk Basalama sedang terdesak melawan dua orang pendekar suci. Satu berada di tingkat enam dan satunya berada di tingkat empat pendekar suci. Dikeroyok dua orang pendekar suci, membuat datuk Basalama tak dapat bertahan lama.


Hingga keduanya akhirnya, menggabungkan kekuatan untuk menyerang datuk Basalama.


" Jurus Iblis kematian, pedang pemusnah " teriak mereka, menyerang dengan jurus andalannya.


" Jdarr...., buum...., arght....!" datuk Basalama terlempar sejauh sepuluh meter dan memuntahkan darah kental.


" Datuk...,!" teriak Panglima Polin, ketika melihat kearah datuk Basalama.

__ADS_1


Salah seorang lawannya yang seorang pendekar suci tingkat empat merangsek maju, kembali menyerang datuk Basalama. Tampak sang lawan tidak mau memberi kesempatan baginya untuk memulihkan diri.


Sinar pedang yang sangat menyilaukan berbentuk energi, melesat dengan cepat mengarah ke datuk Basalama. Datuk Basalama hanya bisa pasrah menanti serangan lawan, begitu serangan lawan telah berjarak satu meter, tiba2 La Barani telah muncul dihadapan datuk Basalama, iapun menangkis serangan lawan dengan enam puluh persen qi.


" Pangeran..., jangan...!" teriak datuk Basalama. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan La Barani.


" Jurus Megananda, Tinju baja api " La Barani meneriakkan jurusnya,


Tampak sebuah tinju api sebesar kepala kerbau menghantam energi pedang. Energi pedang seketika lenyap begitu bersentuhan dengan tinju api. Tinju api terus meluncur menghantam pedang lawan.


" Dhuuarrrrrr...., arght !" ledakan keras terdengar disertai teriakan Ladong. Pendekar suci tingkat empat yang menyerang datuk Basalama.


Terlihat pedang pusaka bumi miliki Ladong hancur, meninggalkan gagangnya yang juga gosong terbakar. Sedang tangan Ladong juga ikut hangus terbakar.


" Adik...! kep***t kau anak kecil !" teriak Gandong histeris, memaki La Barani.


La Barani tidak peduli dengan mereka, ia lalu berbalik menghampiri datuk Basalama yang terbengong menyaksikan kehebatan La Barani. Dia lalu memberikan sebuah pil penyembuh dan sebuah pil energi kepada datuk Basalama, kemudian menyalurkan qi kepunggungnya setelah kedua pil tadi ditelan oleh datuk Basalama.


La Barani kemudian berbalik kearah Ladong dan Gandong. Ladong ternyata telah pulih setelah dibantu oleh kakaknya.


" Aku lawan kalian orang tua !" kata La Barani dengan santai, sambil mengeluarkan Badik pembunuh naga dari gelang penyimpanannya. Badik itupun seketika meluncur menyerang Ladong.


La Barani kemudian maju pula menyerang Gandong, dengan menggunakan jurus pedang ajaibnya.


" Jurus pedang dewa, pedang ajaib " teriaknya. La Barani menyerang gandong dengan mengerahkan tujuh puluh persen qi nya, pertarungan setingkat pun terjadi. La Barani sangat bersemangat, karena baru kali ini mendapat lawan yang setingkatan dengannya.


Gandong terkejut dengan kemampuan lawannya. Dia tak menyangka, anak kecil yang menjadi lawannya memiliki tingkat kultivasi setingkat dengannya. Dan terkesan dengan jurus pedang lawan, yang begitu lincah dan sangat mematikan.

__ADS_1


Suara ledakan keras sering terdengar ketika kedua senjata mereka beradu.


__ADS_2