
Kajao langsung memasang kuda kudanya, dia tidak terburu2 untuk menyerang lawannya, pedangnya dia silangkan didepan dadanya.
Kajao memasang strategi bertahan, sambil mempelajari jurus lawan.
Disisi lain, Salempang menghunus pedang kembarnya. Aura pendekar tingkat perwira puncak keluar dari tubuhnya. Dia berusaha menekan musuhnya dengan aura penindasan yang pekat. Namun sayang, dia berhadapan dengan musuh yang setingkat dengan kultivasinya sehingga usahanya menjadi sia2.
" Tebasan tak berujung " teriaknya sambil melompat menerjang Kajao, begitu wasit memberi tanda pertarungan dimulai. Dengan mengerahkan delapan puluh persen tenaga dalam nya.
Angin serangan pedang kembarnya, mendesing mengarah ketubuh Kajao. Bayangan pedang kembarnya, tampak tiada putusnya melesat dengan cepat.
Kajao melihat serangan lawan, diapun lalu mengeluarkan jurus pertahanannya.
" Tameng sakti di terpa hujan " seketika kajao memutar pedangnya dengan cepat seperti baling baling, angin yang di hasilkan oleh jurus itu menyambut serangan Salempang.
" Dhuar.....! " suara ledakan terdengar ketika dua serangan bertemu. Kajao dan Salempang, sama2 terjajar mundur dua langkah kebelakang.
Salempang tidak berhenti sampai disitu, dia lalu mengeluarkan jurus pedang andalannya, kajao dengan serius menyambut serangan Salempang.
Tidak terasa, sudah puluhan jurus telah mereka keluarkan, tapi belum ada tanda2 salah satunya terdesak.
Hingga suatu saat, Kajao melihat celah diapun melayangkan tendangan kilatnya ke arah perut Salempang yang tidak terjaga dengan baik. Salempang yang terlambat menyadarinya hanya mampu pasrah.
" Buuk...! " Tendangan Kajao bersarang telak di perut Salempang. Dia pun terbang keluar arena, sambil memuntahkan darah segar.
Tampaknya tendangan yang di lancarkan Kajao tadi bukan tendangan biasa. Itu adalah tendangan Kilat, salah satu jurus andalan yang dia persiapkan untuk menghadapi musuhnya di turnamen.
" Ahrgt...! sungguh sial " Salempang memaki didalam hatinya, menyayangkan kekalahannya.
" Kajao dari perguruan Tapak kebenaran, lolos ke babak final " teriak wasit mengumumkan.
Lima menit berlalu,
Sundari dari perguruan Gadis suci, melompat dengan kecepatan tinggi Keatas panggung, dia sangat optimis akan memenangkan pertandingan semi final ini.
Mengingat lawannya Sasena dari perguruan Tapak api, masih berada di tingkat perwira menengah, sedang dia telah berada di tingkat perwira puncak.
Setelah wasit memberi tanda untuk mulai, Sundari dengan pedangnya langsung memulai serangan.
Sasena yang bersenjatakan tombak. Dengan percaya diri, menyambut serangan dengan jurus tombaknya.
" Thing.....Thing..... Ting...! " terdengar bunyi suara, ketika kedua senjata mereka beradu.
Beberapa saat pun berlalu, telah puluhan jurus mereka keluarkan. Sasena walaupun dibawah tingkatan Sundari bisa mengimbangi jurus2 pedang Sundari.
" Bakat2 yang hebat " Seru salah satu penonton.
" Iya....! mereka benar2 adalah jenius ! " kata temannya yang di sebelahnya.
Sundari tiba2 mengganti jurusnya dengan jurus pedang ilusi, tampak pedangnya menjadi banyak.
" Trik murahan ! " gumam Sasena ketus, sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
Sasena lalu melompat setinggi dua meter, lalu diapun mengayunkan tombaknya kebawah kearah Sundari, diapun mengganti jurusnya.
" Seribu tombak mengamuk ! " teriaknya, puluhan bayangan tombak langsung mengarah ke Sundari, menghantam ilusi pedang Sundari.
Ilusi pedang Sundari langsung menghilang, begitu puluhan bayangan tombak mengenainya.
Sundari melompat salto mundur kebelakang, begitu serangan tombak sedikit lagi akan mengenainya.
" Buum.....dhuar ! " suara pukulan tombak beradu dengan lantai arena, tampak lantai panggung berlubang besar.
Sundari tidak berhenti sampai disitu saja, begitu selesai kakinya menginjak lantai. Ia langsung melompat menyerang dengan jurus andalannya.
" Jurus gadis suci, pedang menyayat kalbu " teriaknya, sambil menusukkan pedangnya mengarah ke jantung lawan. Tampak cahaya kebiruan keluar dari ujung pedangnya.
Sasena melihat serangan lawan, langsung menyambut serangan Sundari.
" Jurus Tombak tiada banding " dari tombak Sasena terpancar cahaya putih menyilaukan, langsung menyambut tusukan jurus pedang lawan.
" Taar.....dhuar ! bunyi suara terdengar begitu keras ketika kedua senjata beradu. Tampak Sasena terhuyung mundur lima langkah kebelakang.
Tidak sampai disitu, Sundari langsung mengeksekusi dengan jurus pamungkasnya.
" Jurus gadis suci, hati gadis suci " teriaknya menyebut jurusnya.
Satu tebasan dengan energi pedang menghantam Sasena. Sasena yang sedang terhuyung, hanya mampu bertahan dengan menggunakan perisai apinya, yang tidak terbentuk secara sempurna.
" Seleaai juga akhirnya " gumam Sundari, sewaktu jurusnya membentur perisai api milik Sasena.
Sasena terbang keluar arena, menabrak dinding formasi yang di buat panitia dengan kerasnya.
Wasit langsung menghampiri Sasena yang tergeletak pingsan, memeriksa keadaannya sejenak. Setelah memastikan Sasena tidak apa2, maka diapun lalu mengumumkan pemenangnya.
" Sundari dari Perguruan Gadis suci menang......! " para penonton langsung heboh, sesaat setelah wasit mengumumkan pemenang nya. Tepuk tangan yang riuh terdengar meng elu2kan Sundari.
Pertandingan final akan dilanjutkan setelah jeda selama satu jam, guna memberi waktu kepada Sundari untuk memulih kan diri.
Setelah jeda
kedua peserta di persilahkan untuk naik ke panggung. Untuk menentukan siapa, yang akan berhasil menjadi pemenang turnamen.
" Adik,! siapa yang kamu jagokan sebagai pemenang di babak final ini? " tanya La galigo kepada La Barani.
" Aku merasa Kajao akan memenangkan pertarungan final, sebab pertahanan Kajao sangat solid. Aku rasa Kajao masih belum mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya, dalam pertandingan sebelumnya " jawab La Barani.
" Iya dik ! kakak juga merasa Kajao akan menjadi juara " kata La galigo lagi.
Di panggung nampak kedua peserta sudah berhadap hadapan, kemudian wasit pun memberi tanda untuk mulai.
" Mulai....! "
Kedua peserta pun saling menjajal kemampuan lawan, posisi mereka hanya berjarak dua meter saat ini.
__ADS_1
Untuk sesaat, mereka hanya saling memadang lawan mereka, sambil ancang2 untuk melakukan serangan.
Para penonton sangat tegang dengan pertarungan ini. Mata mereka begitu serius tanpa berkedip sekalipun.
Akhirnya Kajao memulai serangan. Ia lalu melompat maju, sambil memukulkan pedangnya dari atas mengarah kepala Sundari.
Sundari tidak tinggal diam, sesaat lagi pedang Kajao mengenai kepalanya, diapun langsung menangkis dengan pedangnya.
Pertarungan saling serang pun dimulai. Tampak kekuatan mereka berimbang, tapi Sundari merasa tangannya kesemutan setiap kali pedang mereka berbenturan. Sundari pun langsung mengeluarkan salah satu jurus andalannya.
" Jurus gadis suci, tarian pedang suci " Sundari meneriakkan nama jurusnya.
Pedang ditangan Sundari meliukkan liuk, gerakan tubuhnya seakan menari.
Sesuai nama jurus nya, pedang ditangan Sundari menari nari mengincar beberapa titik vital dari lawannya.
Kajao yang diserang, masih terlihat tenang. Rupanya dia sedang mempelajari arah pergerakan jurus lawannya.
Setelah mengamati sejenak, diapun mengeluarkan jurus pedangnya.
" Jurus pedang kebenaran " Kajao meneriakkan nama jurusnya.
Tampak pedang Kajao mengeluarkan sinar putih yang samar.
" Ting.....ting.... dhuar ! " bunyi kedua senjata sewaktu saling beradu.
mereka sama2 terjajar mundur dua langkah, membuat posisi mereka saling menjauh.
Sundari tidak mau menunggu lama. Dia kemudian melesat dengan kecepatan tinggi, sambil mengeluarkan salah satu jurus andalannya.
" Jurus pedang suci, pedang menyayat kalbu " Iapun meneriakkan jurus nya.
Tampak Sundari melompat sambil menusukkan pedangnya mengarah ke jantung lawannya.
Di ujung pedang Sundari keluar pisau angin. Kajao yang telah tahu kehebatan dari jurus lawan, langsung mengeluarkan jurusnya.
" Tameng sakti diterpa hujan " Kajao lalu meneriakkan jurusnya.
Pedang Kajao berputar, mengeluarkan deru angin yang besar. Menyambut datangnya tusukan lawan.
" Dhuar......! " terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga, disaat jurus pedang mereka beradu.
Sundari yang sedang terbang diudara terlempar sejauh lima meter, sedang Kajao terjajar mundur tiga langkah.
Kajao tidak menunggu lagi, begitu keseimbangan nya telah pulih, diapun langsung mengeluarkan jurusnya. Tapak kirinya seketika bersinar terang menyilaukan, dia lalu memegang badan pedangnya, pedang Kajao seketika bersinar setelah bersentuhan dengan telapaknya.
Kajao lalu maju menyerang lawannya dengan jurusnya.
" Jurus tapak kebenaran, Cahaya kebenaran ! " Kajao meneriakkan jurusnya.
Disisi lain, Sundari yang baru berdiri, tidak mau ketinggalan. Diapun langsung mengeksekusi jurus pamungkasnya.
__ADS_1
" Jurus pedang suci, hati gadis suci " diapun meneriakkan nama jurusnya.
######