Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
Mendung di kubu Tanah Loka


__ADS_3

Sementara itu, di perkemahan pasukan kerajaan Tanah loka.


" Bagaimana bisa pasukan kalian hanya tersisa enam puluh ribu prajurit ?" tanya Raja Mangkendek geram, setelah mengetahui jumlah pasukan koalisi nya tinggal sedikit.


" Kita telah meremehkan musuh, ternyata mereka dibantu oleh puluhan ribu kultivator, Yang Mulia !" jawab Jendral Tahang dengan kaki gemetar saking takut nya dengan kemarahan Sang Raja.


" Terlebih lagi kemampuan seorang anak kecil yang menamakan diri nya Satria Bungaya, dia sangat merepotkan untuk diatasi " Kata Raja Tompo Raja kerajaan Galesong.


" Cis...,! menghadapi seorang anak kecil saja kalian tidak mampu " kata Kadawang bersuara.


" Jaga sikap mu gendut, apa kamu pantas ber suara di sini ?" kata Raja Tompo tidak senang di remehkan oleh Kadawang.


" Memang kenapa? kalian Raja kecil saja sudah sombong " balas Kadawang memprovokasi Raja Tompo.


" Kamu....,! bang**t rendahan berani menghina ku !" kata Raja Tompo dengan wajah yang merah, dia sangat marah dengan orang yang memandang rendah diri nya.


" Cukup,! kalian jangan berdebat di sini, buktikan saja kemampuan kalian di medan perang besok " kata Raja Mangkendek sambil mengeluarkan aura pendekar suci tingkat puncak nya, yang di selimuti aura kegelapan yang sangat padat, membuat orang2 yang berada di tempat itu menjadi tertekan.


Setelah melihat mereka semua telah lemas, Raja Mangkendek lalu menarik aura nya.


Raja Tompo dan yang lain nya merasa lega dan bisa bernafas kembali, setelah tekanan aura itu lenyap.


Sedang Kadawang hanya merasakan sedikit tekanan. Itu pun hanya sedikit, karena tingkat kultivasi nya sama dengan Raja Mangkendek, hanya saja aura kegelapan yang sangat padat itu yang membuat nya sedikit tertekan.


" Pastinya anak kecil yang kalian maksud memiliki kelebihan khusus, bukan begitu saudara Tompo ?" tanya Raja Mangkendek setelah keadaan kembali tenang.


" Benar, saudara Raja Mangkendek. Dialah yang telah membunuh Raja Arya dan kedua Jendra kita, jendral Karibo dan Jendra Kambo serta dua belas pendekar suci tingkat menengah kita " jelas raja Tompo.


" Apa...? anak kecil mampu membunuh orang kuat sebanyak itu? siapa dia? " tanya Raja Mangkendek terkejut.


" Menurut informasi yang kami terima, dia bernama La Barani anak kedua Raja Petta Sompe Raja kerajaan Bungaya. Dan usia nya baru tujuh tahun, saudaraku " jawab Raja Tompo menjelaskan latar belakang La Barani.

__ADS_1


" Braaaakt....,! usia yang masih bau kencur begitu, bisa membunuh lawan yang begitu kuat, apa kalian bercanda? " kata raja Mangkendek sambil menggebrak meja yang seketika hancur berantakan, antara terkejut dan kesal.


" Jendral Tahang apa jawabanmu mengenai La Barani ini, kenapa tak ada laporan mengenai anak itu di setiap surat mu ?" tanya Raja Mangkendek penuh selidik, dia sangat kecewa dengan kinerja Jendral nya.


" Ampun Yang Mulia,! aku tak tahu dengan anak kecil yang dimaksud kan oleh Raja Tompo. Aku hanya pernah bertemu dengan seorang anak kecil, sebelum di serang oleh pasukan kerajaan Pagaruyung "


" Anak kecil itu menghadang pergerakan pasukan kita dengan mengajakku berduel. Yang ternyata ia sengaja, agar pasukan kerajaan Pagaruyung dapat menjangkau kita " jawab Panglima Tahang dengan suara bergetar karena takut akan kemarahan Raja Mangkendek.


" Kenapa tidak kamu bunuh pada saat itu !" kata Raja Mangkendek kesal.


" Dia mengeluarkan senjata yang bisa bergerak sendiri, banyak prajurit kita terbunuh oleh senjata itu " jawab Jendral Tahang.


" Teruskan...! " kata Raja Mangkendek penasaran.


" Sebelum aku maju untuk menyerang nya, kami telah di serang dari belakang oleh ribuan anak panah pasukan kerajaan Pagaruyung " jawab Jendral Tahang menjelaskan situasinya saat itu.


" Hmm...,! anak itu memang cerdik rupa nya, aku jadi penasaran dengan anak itu " gumam Raja Mangkendek dengan mata berkilat, seperti ingin memakan bulat2 La Barani bila mereka bertemu.


####


La Galigo terlihat sedang menjalani latihan fisik nya. Ia telah berlari sebanyak lima puluh putaran dari seratus putaran yang telah di tentukan oleh La Barani, di awasi oleh guru nya Datuk Basalama serta La Barani.


" Datuk sebaik nya memakan buah anggur langit agar kultivasi Datuk meningkat " kata La Barani kepada datuk Basalama.


Datuk Basalama yang sedari tadi penasaran dengan makam Dewa Bhatara, tidak menjawab nya. Malah dia bertanya perihal makam itu.


" Apa benar ini makam Dewa Bhatara, Pangeran ?" tanya nya penasaran.


" Benar Datuk, aku yang memakamkan jasad nya di sini " jawab La Barani membenarkan.


Lalu La Barani menceritakan pertemuan nya dengan Dewa Bhatara, tapi dia hanya menceritakan secara singkat, tanpa memberitahu tentang pertemuan nya dengan Dewa Cahaya.

__ADS_1


" Apakah dia adalah gurumu? soal nya aku tak pernah melihatmu berlatih, Pangeran " tanya datuk Basalama masih penasaran.


" Bukan Datuk, tapi bisa juga di katakan demikian, karena beliau telah mengajarkan beberapa jurus kepadaku tepat nya aku adalah pewaris nya seperti yang kuceritakan tadi " jawab La Barani lagi.


" Guru ku adalah Roh Kuti, aku tak mengetahui seperti apa wajah nya karena dia berwujud roh tanpa wajah " jelas La Barani memberitahu siapa guru nya yang sebenarnya.


" Nanti di kesempatan yang lain, aku menceritakan dengan jelas Datuk, yang penting sekarang makanlah buah anggur langit ini " Kata La Barani memberikan sebutir buah anggur langit kepada Sang Datuk.


" Kenapa hanya satu, Pangeran ?" tanya nya.


" Buah ini untuk pertama kali sebaiknya di makan satu saja, fungsi nya untuk mengeluarkan kotoran yang menghambat kenaikan tingkat kultivasi kita serta menambah sedikit energi kita " jelas La Barani sambil tersenyum ke arah Sang Datuk.


" Sebaik nya Datuk mengkonsumsi nya sekarang dan menyerap nya di saung itu " kata La Barani sambil menunjuk ke arah saung, tempat selama ini La Barani ber kultivasi .


Datuk Basalama melangkah ke saung. Kemudian menghabiskan buah anggur langit itu, lalu duduk bersila menyerap khasiat buah itu.


La Galigo akhirnya menyelesaikan lari nya kemudian menghampiri La Barani.


" Kakak, aku akan pergi untuk suatu keperluan, nanti berikan kepada Guru mu buah semangka Dewa ini setelah dia menyelesaikan penyerapan buah anggur langit "


" Jangan lupa tunjukkan tempat dia membersihkan diri di sungai kecil diujung sana " kata La Barani kepada kakak nya.


" Terus aku harus melakukan apa setelah ini ?" tanya La Galigo.


" Bersemedilah karena dimensi ini sangat padat dengan energi bumi dan langit, seraplah sebanyak banyak nya agar kakak bisa lebih kuat lagi " jelas La Barani.


" Baiklah kalau begitu " kata La Galigo akhirnya. Mereka kemudian bercanda sebentar sebelum La Barani pergi.


La Barani kemudian meninggalkan dimensi sumber daya untuk keluar membeli beberapa keperluan. Ia lalu membeli banyak kain yang tebal, serta dia menyewa puluhan penjahit untuk di bawa ke alam dimensi nya.


######

__ADS_1


__ADS_2