
Sepuluh kilo meter dari arah selatan gunung Buntu kabobong.
Sebuah pasukan besar sedang bergerak kearah pertempuran berlangsung. Pasukan besar itu bergerak dengan tujuh puluh ribu pasukan Kavaleri.
Jumlah pasukan itu secara keseluruhan, dua ratus ribu prajurit dengan pasukan elit sebanyak seratus ribu orang.
Pasukan tersebut bersenjatakan lengkap, dengan baju perang dan perisai serta tombak sepanjang tiga meter.
Senjata pelontar batu pun mereka bawa sebanyak lima ratus buah.
Pasukan itu dipimpin langsung oleh Raja Mangkendek yang segera berangkat ke gunung buntu kabobong, setelah mendapat laporan dari merpati pos yang dikirim oleh Panglima Tahang, tentang situasi terakhir pasukan mereka yang terkepung.
" Jendral Tapioka, berapa lama lagi kita sampai ketujuan ?" tanya Raja Mangkendek kepada salah satu Jendralnya.
" Sekitar dua jam lagi kita akan sampai, Yang Mulia " jawab Jendral Tapioka dengan perasaan was2, takut jika dia salah bicara sedikit saja. Karena dalam situasi seperti ini, Raja Mangkendek biasanya bawaannya suka marah.
" Wah...,! terlalu lambat, percepatan pergerakan pasukan kita, situasi Jendral Tahang telah terkepung."
" Jangan sampai pasukan kita yang ada disana, telah habis setelah kita tiba disana " kata Raja Mangkendek dengan nada gusar.
" Baik, Yang Mulia !" jawab jendral Tapioka sambil berlalu untuk mengarahkan semua prajuritnya untuk mempercepat langkah mereka.
" Tenang saja, Yang Mulia ! walau dengan pasukan yang kita bawa saat ini, aku yakin dengan adanya kami berdua serta ratusan pendekar lainnya, kita pasti akan memenangkan pertempuran ini " kata seorang pendekar yang sedari tadi diam saja, dengan penuh percaya diri.
Orang itu bertubuh tambun dengan perut yang buncit sedang rekan nya yang dia maksud ber perawakan sedang.
" Kalau itu sudah pasti, hanya jika kehilangan ratusan ribu prajurit bukankah sebuah kerugian besar Kadawang " kata raja Mangkendek dengan pongahnya.
Orang yang di panggil Kadawang hanya menyeringai, ketika mendengar perkataan Raja Mangkendek. Aura kegelapan yang di pancarkan nya sangat pekat.
Kadawang dan adik seperguruan nya yaitu Kaso, adalah kultivator golongan hitam yang berjuluk Sepasang Hantu Jalanan. Tingkat kultivasi mereka berdua berada diranah pendekar suci tingkat puncak.
Mereka adalah momok yang menakutkan bagi dunia persilatan wilayah selatan. Mereka selama ini mempraktekkan sebuah ilmu terlarang yang harus memberikan tumbal untuk menambah kekuatan mereka.
Mereka seringkali melakukan penculikan serta pembunuhan tanpa mendapat halangan. Kerajaan Tanah Loka sepertinya membiarkan perbuatan mereka selama ini
__ADS_1
Dan ternyata mereka adalah antek Raja Mangkendek, pantas saja mereka bisa berbuat semaunya. Tanpa harus takut dikejar oleh pasukan kerajaan Tanah Loka.
####
Sementara itu di alam dimensi
La Barani sedang menanyai Datuk Bagenda tentang kekuatan pasukan Raja Mangkendek.
" Jadi begitu !? mereka membawa tiga ratus orang pendekar suci, dan dua ratus orang diranah pendekar pertapa dewa, serta seratus ribu pasukan elit yang setara pendekar raja. Sungguh merupakan kekuatan yang tidak bisa diremehkan " kata La Barani dengan mimik wajah yang serius.
" Benar tuan muda, dan yang paling patut di perhitungkan adalah dua orang pendekar suci mereka yang berjuluk Sepasang Hantu Jalanan " kata Datuk Bagenda dengan wajah yang penuh kebencian setelah mengatakan julukan itu.
" Ada apa dengan kedua orang itu Datuk? " tanya La Barani sedikit tertarik melihat reaksi sang Datuk.
" Mereka lah yang aku curigai bersekutu dengan iblis dan mempengaruhi Raja Mangkendek untuk datang kesini " jawab Datuk Bagenda masih dengan ekspresi wajah yang geram, sambil tinjunya di pukulkan ke telapak tangan nya.
" Baiklah, datuk di sini saja dulu ber istirahat, nanti minta saja keperluan mu kepada prajurit langit " kata La Barani sambil manggil seorang prajurit langit untuk menghadap.
Untuk diketahui, prajurit langit memiliki aula khusus dengan ruangan yang luas, kamar mereka disatukan seperti barak prajurit.
Mereka tak akan muncul tanpa diminta oleh La Barani karena sejatinya mereka hanya menerima perintah.
" Dia siapa tuan ?" tanya Datuk Bagenda takjub melihat penampilan prajurit yang memakai Armor lengkap.
" Dia yang ku maksud salah satu abdiku, Datuk !" kata La Barani menjelaskan.
" Dia kan hanya seorang manusia? " kata Sang datuk yang bingung melihat prajurit itu.
" Dia adalah dari Ras Dewa, seorang Prajurit Dewa tepatnya " jawab La Barani singkat.
" Apa? Prajurit Dewa? berapa banyak Prajurit Dewa yang tuan miliki? " tanya Datuk Bagenda terkejut dan penasaran dengan latar belakang La Barani.
" Aku hanya memiliki seratus Prajurit Dewa, sedang dari Ras Binatang Buas ada sekitar lima puluh ribu yang aku tempat kan di dimensi lain nya " jawab La Barani yang membuat Datuk Bagenda menatapnya dengan mata melotot dengan rahang yang jatuh.
" Prajurit, siapkan segala keperluan Datuk Bagenda dia adalah bagian dari kita sekarang " perintah La Barani kepada Prajurit Langit.
__ADS_1
" Datuk, aku pergi dulu " kata La Barani langsung menghilang dari tempat itu.
####
Sementara itu di medan perang
Panglima Polin serta Datuk Basalama sedang bertempur di garis depan. Pasukan bayangan serta dari pihak gabungan perguruan serta klan, terlihat melakukan pembantaian kepada prajurit koalisi Tanah Loka, yang semangat tempur mereka telah hilang sejak mengetahui bahwa mereka telah terkepung.
Bunyi dentingan senjata serta jeritan kematian, terdengar sampai ke kota raja Pagaruyung.
Pembantaian benar2 terjadi saat itu, mengingat jumlah kekuatan yang menyerang sangat berbeda jauh dengan pasukan Tanah Loka.
Disisi lain nya Raja Mappesona, Raja kerajaan Pagaruyung juga dengan gagah berani memimpin para prajuritnya menyerang prajurit Tanah Loka.
Panglima Tahang walaupun dalam keadaan terjepit masih gigih melakukan perlawanan. dalam hati, dia sangat berharap pasukan Raja Mangkendek segera tiba.
" Swhuus.... Shuut...!" La Barani kemudian tiba2 hadir disamping Raja Mappesona.
" Paman, sebaiknya paman menarik pasukan Pagaruyung secepatnya " kata La Barani ditengah tengah dentingan pedang serta teriakan kesakitan para prajurit yang terkena senjata musuh nya.
" Kenapa Pangeran ?" tanya sang raja heran dengan permintaan La Barani.
" Pasukan Raja Mangkendek sebentar lagi akan tiba disini,"
" Sebaiknya semua pasukan paman, bergabung dengan pasukan Bungaya " jelas La Barani.
" Kenapa tidak sekalian kita gempur mereka saat ini? " tanya Sang Raja lagi, ia heran atas himbauan La Barani karena menurutnya saat ini adalah waktu yang tepat untuk menghancurkan musuh.
" Itu bukan keputusan bijak paman, pasukan Raja Mangkendek berkekuatan dua ratus ribu prajurit dengan persenjataan lengkap " jelas La Barani berharap Raja Pagaruyung itu mau mendengarkan seruannya.
" Apa? kalau begitu, kami akan mundur, Pangeran " terkejut Raja Mappesona setelah mendengar kekuatan musuh.
" Panglima Palimbong, beri tahu semua prajurit agar secepatnya mundur " perintah Raja Mappesona.
" Sebaiknya kamu cari jalan memutar yang terdekat ketempat pasukan Bungaya " katanya sekali lagi.
__ADS_1
" Baik, Yang Mulia " kata Jendral Palimbong bergegas memerintahkan bawahan untuk segera mundur dan bergabung dengan pasukan kerajaan Bungaya.
######