Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
Banjir darah di Buntu Kabobong


__ADS_3

La Barani terkejut ketika Datuk Bagenda berlutut dihadapannya, ia memang mendengar apa yang dikatakan oleh orang tua itu. Tapi ia tak menyangka Datuk Bagenda serius dengan ucapannya.


" Kenapa kamu mau menjadi abdiku Datuk? pikirkanlah baik2 terlebih dahulu, sebelum mengambil keputusan " kata La Barani mengingatkan orang tua itu.


" Aku sudah menetapkan hati untuk mengikutimu, tuan muda."


" Pantang seorang lelaki sejati mengingkari ucapannya, walaupun aku adalah kultivator golongan hitam, tapi aku masih memegang amanah leluhur, yakni " Taro Ada Taro Gau " yang artinya sesuai kata dan perbuatan," tegas Datuk Bagenda dengan mengatakan prinsip hidupnya.


" Tapi buktinya kamu mengkhianati rajamu, Datuk !" pungkas La Barani dengan mimik minta penjelasan dari orang tua itu, dia belum percaya dengan ketulusan sang Datuk yang dengan mudah berpaling mengabdi kepada musuhnya.


" Cis...,! siapa yang mengabdi pada Mangkendek Raja lalim itu. Aku hanya terpaksa mengikutinya, buktinya aku tidak ikut bertempur di medan perang " jawab Datuk Bagenda, tidak suka dikatakan abdi raja Mangkendek.


" Aku malah mencurigainya bersekutu dengan iblis, hanya aku belum menemukan buktinya," jelas Datuk Bagenda. Lalu ia lantas menjelaskan secara rinci tentang dugaannya itu kepada La Barani.


Tampak wajah La Barani memerah, ketika mendengar penjelasan Datuk Bagenda. Ia jadi bertambah yakin untuk membasmi semua pasukan kerajaan Tanah Loka beserta Rajanya.


" Kalau begitu aku harus membunuhnya bersama dengan antek2nya " kata La Barani kemudian, marah karena Raja Mangkendek ternyata bersekutu dengan iblis.


" Tuan muda, tolong terimalah aku sebagai abdimu, untuk melaksanakan sumpahku " pinta datuk Bagenda, sangat berharap diterima jadi abdi La Barani.


" Memangnya apa sumpahmu, Datuk !" tanya La Barani dengan penasaran.


" Aku dulu pernah bersumpah, karena aku sudah berada di puncak kultivasi. Bahwa barang siapa yang mampu mengalahkanku, maka aku akan mengabdi padanya dengan seluruh jiwaku " kata Datuk Bagenda mengatakan isi sumpahnya.


" Apa aku tak salah dengar datuk? kamu bilang sudah berada dipuncak kultivasi? " tanya La Barani sambil tersenyum.


" Benar...,tuan muda ! memangnya ada yang salah ?" tanya Datuk Bagenda sambil memijit mijit hidungnya.


" Hahahaa..,! kamu salah Datuk,! tingkat pendekar suci masih jauh dari kata puncak kultivasi, masih ada beberapa tahap lagi setelahnya Datuk," kata La Barani tanpa menjelaskan tahapan apa saja setelah pendekar suci.


" Apa? masih ada beberapa tahapan lagi ?" kata Datuk Bagenda terkejut dengan perkataan La Barani.


" Benar datuk, masih ada empat tahap lagi setelahnya " jelas La Barani.


" Baiklah datuk, karena kamu memaksa maka aku menerimamu sebagai abdiku, saat ini kamu abdiku yang pertama dari ras manusia " kata La Barani menjelaskan.


" Apa..? Tuan muda memiliki abdi selain manusia? " Datuk Bagenda terkejut dengan perkataan La Barani.

__ADS_1


La Barani kemudian membawa Datuk Bagenda kedalam alam dimensi tempat pelatihannya.


" Swhuus.... Swhuus...! "


Mereka seketika berada didepan istana buatan La Barani.


" Wah tempat apa ini ? Betapa indahnya pemandangan serta istana ini. Apa aku tidak sedang bermimpi, tuan muda? " seru Datuk Bagenda takjub dengan apa yang dilihatnya.


######


Sementara itu, di medan perang.


Raja Petta Sompe dengan gagahnya berdiri diatas gajah Sumo, dihadapan pasukan koalisi Tanah Loka. Pasukan koalisi Tanah Loka saat ini telah bergabung dengan pasukan Jendral Tahang, posisi mereka telah terkepung dari dua sisi.



Gambar ilustrasi Raja Petta Sompe diatas gajah sumo


Pasukan Tanah Loka telah terjepit dari dua pasukan besar saat ini, dari arah utara ada pasukan kerajaan Bungaya sedang dari arah selatan pasukan kerajaan Pagaruyung telah siap pula dengan puluhan ribu prajuritnya.


" Apa yang harus kita lakukan sekarang, Panglima !?! " tanya raja Tompo, ia panik menghadapi situasi yang diluar perkiraannya.


" Raja Petta Sompe juga ternyata berkemampuan tinggi, terlebih lagi dia kebal terhadap serangan pukulan kita " kata raja Badola tak menyangka kekuatan musuh begitu hebat.


" Yang sangat merepotkan adalah sepuluh prajurit Elit Raja Petta Sompe, mereka sangat lihai dalam pertempuran berkelompok. Mereka begitu solid melindungi Rajanya, sehingga kita kesulitan mendekatinya " Kata Raja Kanyuara.


" Tunggangan Raja Petta Sompe juga mempunyai kemampuan bertarung setara pendekar suci tingkat puncak " lanjut Raja Sengkong.


" Kalian tenang saja, saat ini raja Mangkendek telah dalam perjalanan " kata Panglima Tahang menenangkan rekannya.


" Mungkin dua atau tiga jam lagi telah sampai disini, kalian tak perlu risau dengan kekuatan musuh. Karena Raja kita sangat hebat serta mempunyai pendekar pelindung yang lebih hebat dari para pendekar musuh " lanjut Panglima Tahang berusaha membuat semangat mereka kembali lagi.


" Yang bisa kita lakukan saat ini adalah bertahan sampai pasukan Yang Mulia Raja tiba " kata Panglima Tahang meyakinkan ketiga Raja koalisinya.


####


Sementara itu di kubu Raja Petta Sompe.

__ADS_1


Raja Petta Sompe sedang berkoordinasi dengan Panglima Polin serta Datuk Basalama sebagai perwakilan para perguruan serta klan.


" Ada berapa banyak jumlah pendekar, mulai tingkat raja sampai pendekar suci yang tersisa Datuk !" tanya Sang Raja kepada Datuk Basalama.


" Pendekar suci ada sekitar dua ratus lima puluh orang, pendekar pertapa dewa sekitar seribu dua ratus orang, sedang pendekar raja dua puluh ribu orang. Sisanya pendekar perwira, sekitar tiga puluh ribu orang, Yang mulia " jawab Datuk Basalama.


" Sekitar dua puluh ribu orang, gabungan pendekar dan klan yang telah gugur dipihak kita, Yang Mulia " katanya lagi selanjutnya.


" Berarti, jumlah pasukan kita secara keseluruhan yang gugur selama perang berlangsung, sebanyak empat puluh ribu orang " Kata Raja Petta Sompe.


" Tapi kita tak perlu cemas, pasukan musuh mendapatkan kerugian yang lebih besar dari kita " lanjut Sang Raja.


" Panglima Polin, sampaikan kepada para jendral untuk bersiap menghabisi musuh " perintah Raja Petta Sompe kepada bawahannya.


" Datuk, atur para pendekar agar menghemat tenaganya. Aku rasa akan ada kejutan dari musuh kita. Karena saya yakin, masih banyak pendekar musuh yang belum terlibat diperang ini "


" Baik, Yang Mulia " jawab Datuk Basalama sambil berlalu dari hadapan Raja Petta Sompe.


Sepenanakan nasi kemudian.


" Tembakkan panah !" teriak Panglima Polin memerintahkan bawahannya.


Ribuan anak panah seketika meluncur kearah pasukan Tanah Loka. Pasukan tanah Loka kemudian membentuk pertahanan untuk melindungi diri dari hujan panah tersebut.


####


" Panglima Palimbong, pihak Bungaya telah memulai serangan " Kata Raja Mappesona yang telah hadir ditengah mereka.


" Tembak.....,! " teriak Panglima Palimbong mengomandoi para bawahannya.


Hujan panah menerpa pasukan koalisi Tanah Loka sekali lagi dari arah yang Berbeda.



Gambar ilustrasi saat pasukan Tanah Loka membentuk pertahanan dari hujan panah.


Menghadapi serangan panah dari arah yang berbeda, membuat pasukan Tanah Loka jadi kelabakan. Banyak prajurit tak mampu bertahan, sehingga korban dipihak Tanah Loka semakin besar layaknya ladang pembantaian saja.

__ADS_1


Kaki gunung Buntu kabobong menjadi saksi bisu kejadian ini. Panglima Tahang hanya bisa menatapi anak buahnya yang tewas dengan pandangan yang penuh kemarahan kepada pihak musuhnya.


######


__ADS_2