
La Barani kemudian mengangkat Pedang dewa Cahaya tinggi2 keatas, seketika cahaya putih menyilaukan meliputi seluruh ruangan yang ada.
" Siiit.... siit...! "
La Barani menutup kedua matanya, tak mampu menahan pendaran cahaya itu.
" Bukalah matamu, anak muda " sebuah suara terdengar menggema.
Ketika La Barani membuka kedua matanya, ia hanya melihat cahaya yang tak berujung. Tapi anehnya, dia tak merasakan silau seperti sebelumnya.
" Ini dimana?, Kemana pedangku?" gumam La Barani sambil melihat tangannya yang menggenggam pedang tadi.
" Kamu berada didalam diriku, anak muda " kata suara yang tadi.
" Maaf...,! apakah kamu tuan Bhatara? " tanya La Barani menyangka Dewa Bhatara yang berbicara dengannya saat ini.
" Hmm....! aku bukan Dewa cengeng itu, yang melupakan tugasnya hanya karena seorang perempuan."
" Jangan samakan aku dengan Budak Cinta itu, yang hanya meratapi cintanya sepanjang hidupnya " kata suara itu dengan tegas.
La Barani hanya tersenyum kecut mendengar suara itu, ia jadi takut bila Dewa Bhatara mendengarnya.
" Lalu siapa tuan ini? Maaf..,!perkenalkan namaku La Barani tuan " kata La Barani sopan, tak mau menyinggung sang pemilik suara.
" Swhus...,Ting...!"
Seketika seorang pemuda yang sangat tampan, hadir dihadapannya saat ini. Wajah pemuda itu bersinar bagai rembulan, pemuda itu sepertinya berumur dua puluh lima tahun. Baju berwarna kuning yang dikenakannya, sangat kontras dengan penampilannya yang sangat berwibawa.
Nampak mahkota dikepalanya serasi dengan tatanan rambutnya, yang panjang menjulai sampai kebahunya. Sungguh penampakan wujud seorang pria yang sempurna.
La Barani sampai melongo menjatuhkan rahangnya. Memandang wajah tampan rupawan yang sepertinya tak ada pria didunia yang menyamai ketampanannya. Terlebih, aura yang keluar dari tubuhnya begitu sangat Agung.
" Selamat datang diduniaku, anak muda " sapanya dengan suara yang sangat berwibawa, membuat La Barani tersadar dari kekagumannya.
" Eh..., salam kembali Yang Mulia " jawab La Barani dengan gugup.
__ADS_1
" Panggil aku dengan nama Nurnila Putih, anak muda " Kata pemuda tampan itu.
" Kalau boleh tahu, siapa tuan sebenarnya? " tanya La Barani penasaran.
" Aku adalah Dewa Cahaya, tapi karena aku hanyalah serpihan, jadi panggil saja aku dengan nama Nurnila Putih " katanya menjelaskan siapa dirinya.
" Maafkan aku yang tidak mengetahui tentang anda " kata La Barani lalu membungkuk memberi penghormatan.
" Agar kamu tidak penasaran dengan identitasku, sebaiknya kuceritakan sedikit tentangku untukmu."
" Aku adalah Cahaya, yang diciptakan oleh " Yang Hak " jutaan tahun yang lalu. Karena dunia semesta ini berada dalam kegelapan dalam masa itu, sehingga " Yang Hak " memerintahkanku untuk menerangi seluruh semesta ini " jelasnya.
" Dengan kehendaknya, inti jiwaku menjadi serpihan2 untuk menerangi alam semesta ini. Dan terakhir, serpihan jiwaku berubah menjadi sebuah pedang, yaitu pedang yang ada dalam genggamanmu tadi " Kata Nurnila Putih menjelaskan dengan gamblangnya.
" Jadi...,! tuan adalah pencipta dunia ini? lalu siapa Dewata Yang Agung ?" tanya La Barani tak mengerti.
" Aku hanya seorang Dewa Cahaya yang ditugaskan untuk menerangi alam semesta. Sedang Dewata adalah Dewa pengatur yang ditugaskan untuk menjaga keseimbangan alam semesta " jawab Nurnila Putih.
" Jadi siapa Dewa yang menciptakan alam semesta tuan? " tanya La Barani sekali lagi.
La Barani hanya termenung setelah mendengar penjelasan tadi. Walaupun belum mengerti tapi akhirnya, kepalanya manggut2 seakan mengerti. Jelas saja dia belum bisa mencerna semua informasi, karena usianya baru tujuh tahun saat ini.
" Mendekatlah kemari anak muda, aku akan memberikan sesuatu padamu " pinta Nurnila Putih.
La Barani kemudian mendekat, Nurnila putih kemudian menyentuh kening La Barani dengan ujung jarinya. Lalu dari ujung jari telunjuk Nurnila Putih, keluar cahaya yang menerobos masuk kedalam pikirannya.
Dalam pikiran La Barani, langsung membayang beberapa jurus pedang Cahaya tingkat tinggi, bayangan ilmu Formasi, ruang dan waktu juga masuk kedalam pikirannya.
Setelah semua bayangan terserap masuk kedalam pikiran La Barani, Nurnila Putih kemudian menarik telunjuknya.
" Aku sudah memberikan hadiah untukmu."
" Pesanku...,! pergunakanlah kemampuanmu dengan bijaksana. Jangan sekali kali kamu pergunakan dijalan yang sesat. Gunakanlah serpihan jiwaku ini bila kamu dalam keadaan mendesak." pesannya.
" Baik...! pesan tuan akan aku ingat selalu, terima kasih atas hadiahnya tuan !" kata La Barani sambil membungkuk dengan penuh hormat.
__ADS_1
Setelah Nurnila Putih memberikan pesan terakhirnya, dia lalu menghilang dari pandangan La Barani. Setelah Nurnila Putih menghilang, La Barani mendapati dirinya kembali ketempat semula dia berada, dengan tangan mengangkat pedang Nurnila Putih tinggi2, tetapi cahaya yang menyilaukan sebelumnya telah hilang. Hanya bilah pedang Nurnila Putih yang memancarkan Cahaya.
La Barani kemudian memasukkan pedang itu kedalam warangkanya. Pendar cahaya yang tadi menerangi lorong itu, akhirnya lenyap meninggalkan kegelapan semata.
La Barani kemudian memasukkan Pedang Nurnila Putih kedalam cincin penyimpanan barunya, yang belum pernah dilihat apa saja isi didalamnya. Tak lupa pula ia memasukkan kotak emas, yang menjadi wadah pedang sebelumnya.
" Hei..,! apa yang kamu pikirkan tadi,? kenapa kamu lama sekali memandang Pedang barumu itu " tanya Roh Bhatara penasaran.
" Tuan Bhatara tidak melihat kejadian barusan?" tanya La Barani.
" Bukankah kita tadinya bertemu dengan Dewa Cahaya? " katanya sekali lagi.
" Dewa Cahaya? apa betul kamu bertemu dengannya?" tanya Roh Bhatara terkejut.
" Bukankah tuan berada di pikiranku saat ini, masa tuan tidak melihatnya?" kata La Barani heran dan takjub, dengan pertemuannya dengan Dewa Cahaya tanpa diketahui oleh Roh Bhatara yang merupakan Dewa juga.
" Keberuntungan langit bersamamu anak muda, aku saja tidak pernah bertemu dengannya, karena kami beda masa " kata Roh Bhatara.
" Lupakan soal itu, sebaiknya kamu keujung lorong ini " kata Roh Bhatara.
" Baik, Kemana lagi kita sekarang? soalnya waktuku sangat mendesak, negeriku sedang dalam keadaan perang, sedang besok aku harus ikut berperang." kata La Barani cemas.
" Tidak usah risau akan hal itu, waktu disini berbeda dengan waktu duniamu. Setahun Disini sama dengan sehari diduniamu, paling kamu disini hanya dalam hitungan menit saja " kata Roh Bhatara.
La Barani akhirnya lega, setelah mendengar penjelasan dari Roh Bhatara. Ia akhirnya melangkah ke ujung lorong yang di maksud Roh Bhatara.
" Wah...,,! Indahnya, tempat apa ini."
La Barani di buat terkagum kagum setelah sampai di ujung lorong. Didepannya terhampar panorama alam yang begitu indah, didepannya terhampar padang yang begitu luas. Dan di sepanjang Padang itu banyak tumbuh bunga2 beraneka ragam jenisnya.
" Ada yang ingin aku perlihatkan padamu," kata Roh Bhatara.
Terdengar Roh Bhatara membaca mantra, tak lama berselang satu persatu binatang penghuni hutan yang tingginya rata2 dua meter, dengan panjang empat meter datang kehadapan La Barani, sambil tunduk seakan akan berlutut dihadapan La Barani.
######
__ADS_1