Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
15. La Barani beraksi


__ADS_3

" Dhuar...... boom....!!! "


Suara ledakan yang keras terdengar begitu kedua jurus bertemu, nampak asap mengepul menutupi pandangan semua orang.


Setelah beberapa saat berlalu, asap pun menghilang. Kajao berdiri dengan tegak, sedang Sundari duduk berlutut dihadapkannya, dengan kepala tertunduk tidak mampu ia angkat lagi.


" Uhuuk....uhuk...!!! "


Sundari memuntahkan darah kental kehitaman, tanda dia terluka dalam, Diapun sudah tidak sadarkan diri lagi.


Wasit sesat memeriksa keadaan Sundari. Setelah memastikan kondisi Sundari baik2 saja hanya terluka dalam, wasitpun memgumumkan pemenangnya.


" Kajao dari perguruan Tapak kebenaran menang...! " teriak wasit, penonton pun langsung bertepuk tangan sambil meneriakkan nama Kajao.


" Pertandingan yang sangat seru, aku tidak menyangka perguruan menengah bisa sampai kebabak final " Kata seorang penonton.


" Aku juga...! dua perguruan besar selama ini, yaitu perguruan Macan putih dan Biara hitam bahkan tidak lolos ke babak semi final " kata penonton yang berada di sampingnya.


" Saudara2 sekalian, kini saatnya penyerahan hadiah untuk para pemenang turnamen " kata pembawa acara dengan pengerahan tenaga dalam, agar semua orang mendengarkan.


" Penyerahan hadiah akan di serahkan langsung, oleh yang mulia raja Petta Sompe "


Raja Petta Sompe, memberikan hadiah kepada para pemenang.


Hadiah yang diberikan kepada pemenang pertama, tiga buah pedang pusaka, lima buah kitab tingkat bumi, hadiah lima juta koin emas dan sumber daya serta pil2 tingkat tinggi.


Hadiah pemenang ke dua adalah dua buah pedang pusaka, tiga buah kitab tingkat bumi serta hadiah tiga juta koin emas dan sumber daya serta pil2 tingkat tinggi.


Hadiah pemenang ke tiga, satu buah tombak pusaka, satu buah kitab tingkat bumi serta hadiah satu setengah juta koin emas dan sumber daya serta pil2 tingkat tinggi.


Para peserta pun sangat senang, saat menerima hadiahnya. Garaga menjadi pemenang ke tiga karena Sasena tidak sanggup melajutkan pertandingan, akibat cedera yang di alaminya.


Untuk peserta yang gagal, diberikan hadiah satu juta koin emas.Tampak pada turnamen ini kerajaan Bungaya mengeluarkan berjuta juta koin emas.


Raja Petta Sompe memang seorang raja yang dermawan. Hal itu juga dilakukannya untuk meningkatkan kualitas, para kultivator di daerahnya. Bagaimana pun juga mereka semua adalah pilar kerajaan.


Setelah menyerahkan hadiah kepada para peserta, Raja Petta Sompe baru mengumumkan penyerangan, yang akan segera di lakukan oleh kerajaan Tanah Loka.

__ADS_1


Para penduduk yang mendengarkan, merasa takut dan cemas, tapi sang raja menenangkan mereka.


" Rakyat ku semua...! tak usah takut akan kehadiran musuh. Kita memiliki kekuatan yang besar, serta prajurit yang sudah terlatih. Para kultivator kita, perguruan2 serta klan yang kita miliki akan ikut bertempur bersama dengan kita."


Untuk itu kalian tidak usah panik, biarkanlah kami mengurus mereka. Para penduduk kemudian meninggalkan alun2, setelah Raja Petta Sompe kembali menuju istana.


####


Di dalam kamar, La Barani memikirkan langkah apa yang harus dia ambil. Akhirnya, iapun memutuskan untuk melihat pergerakan musuh.


La Barani merubah penampilannya menjadi pengemis, kemudian dia keluar melalui jendela kamarnya.


karena sudah senja dan diluar sudah mulai gelap, La Barani bisa bergerak dengan leluasa tanpa diketahui oleh penjaga.


Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, La Barani melesat dengan kecepatan tinggi. Setelah mencapai perbatasan, diapun memperlambat larinya ketika dekat pos penjagaan.


" Hai.....anak kecil, kamu mau Kemana?" tanya penjaga perbatasan.


Dengan langkah santai dia melangkah keluar. Ketika seorang penjaga mendekatinya, La Barani langsung melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan penjaga perbatasan.


" Maaf paman...! aku sedang buru2 " katanya sambil berlari.


" Jangkrik....! pengemis dari mana tuh !" umpatnya.


La Barani tertawa cengengesan melihat raut wajah lucu dari penjaga tadi. Kemudian menambah kecepatan larinya, menuju sebuah desa yang jaraknya sekitar lima puluh kilo meter dari perbatasan.


Setelah berlari dengan kekuatan penuh selama tiga jam, desa yang dituju pun terlihat. Dia langsung memasuki desa, melewati penjaga yang tidak menghiraukan kedatangannya.


" Mungkin karena aku anak kecil serta dandananku yang seperti pengemis, sehingga penjaga tidak merasa perlu memeriksaku " batin La Barani lalu diapun tersenyum.


" Aku harus mencari rumah makan dulu, untuk mendapakan informasi " batinnya.


Setelah beberapa saat berjalan, sebuah kedai makan terlihat. La Barani lalu melangkah masuk, seorang pelayan menghadang La Barani.


" Pengemis tidak boleh masuk !" kata pelayan itu dengan perasaan jijik.


" Aku datang untuk makan paman ! bukan untuk mengemis " kata La Barani sambil memainkan dua keping perak di tangannya.

__ADS_1


" Tapi kamu tidak boleh duduk di dalam,! kamu duduk dipojok sana saja " kata pelayan itu, menunjuk sebuah meja yang ada di pojokan kedai.


" Baik paman " Kata La Barani dengan sikap yang biasa saja, dia tidak marah dengan perlakuan si pelayan. Baginya yang terpenting adalah informasi.


Dia memperhatikan beberapa pengunjung yang sementara makan, lalu diapun mendengarkan beberapa percakapan namun tidak ada yang membicarakan tentang pergerakan pasukan kerajaan Tanah loka.


" Adik kecil mau pesan apa? " tanya seorang pelayan wanita menghampirinya.


" Aku pesan ikan bakar saja ! apa ini cukup? " kata La Barani sambil memberikan dua keping perak kepada si pelayan.


" iya...,! ini sudah cukup adik kecil " jawab pelayan sambil berlalu.


" Pasukan Tanah Loka tidak lama lagi sampai di daerah kita, aku khawatir kerajaan kita juga akan di serang " kata seorang pemuda berbaju merah yang duduk tak jauh dari La Barani.


" Tidak tetua, aku dengar mereka akan menyerang Kerajaan Bungaya, mereka hanya melintas di kerajaan Pagaruyung. Karena kita berbatasan langsung dengan kerajaan Bungaya " kata temannya yang berbaju putih.


" Sudah sampai Dimana pasukan mereka saat ini? " tanya temannya yang sedari tadi diam.


" Dari tempat kita ini sekitar dua puluh kilo, pasukan mereka saat ini berkemah di tepi hutan jati wangi " kata pemuda yang dipanggil tetua tadi.


" Wah....! kalau begitu, pertempuran tinggal menunggu hari saja " kata pemuda yang berbaju putih.


Setelah mendengar pembicaraan mereka, La Barani langsung keluar dari kedai. Dia tidak jadi makan karena memang dia belum lapar.


La Barani melesat dengan kecepatan tinggi, menuju lokasi yang dimaksud. Dia tahu letak hutan jati wangi karena dia pernah melaluinya, ketika berkunjung ketempat kakeknya.


Karena hari mulai malam, tampak cahaya obor yang begitu banyak dari kejauhan. La Barani pun memastikan bahwa itu adalah perkemahan pasukan Tanah loka.


Tidak berapa lama La Barani tiba di dekat perkemahan itu, ia lalu melompat ke atas sebuah pohon yang paling tinggi. Untuk memantau keadaan sekeliling perkemahan.


" Seratus tenda ukuran sedang dengan sebuah tenda besar di tengahnya, pasti tenda yang besar itu adalah tenda pemimpin mereka " gumamnya.


" Tapi kenapa hanya sedikit ? " batinnya.


Dia menarik kesimpulan, mungkin pasukan ini hanya pasukan yang di tugaskan sebagai pasukan penyisir. Sebelum pasukan yang lebih besar datang.


La Barani memperkirakan, jumlah pasukan musuh yang ada saat ini sekitar seribu prajurit.

__ADS_1


######


__ADS_2