Kisah Pendekar Dewata

Kisah Pendekar Dewata
Memperkuat pondasi kultivasi


__ADS_3

La Barani tersenyum puas ketika semua Armor yang telah dia buat, telah terpasang seluruh nya.


" Pangeran, mereka semua mau tinggal di tempat ini dan mengabdi kepadamu " kata salah satu tetua pemimpin para kultivator yang jadi pekerja disana.


" Mereka telah betah dan merasa esensi energi alam di dimensi ini, sangat menjanjikan bagi peningkatan kultivasi mereka di masa depan " jelas tetua itu yang Bernama sammane.


" Sammane, aku tidak keberatan dengan permintaan mereka. Tapi setelah aku mengembara nanti banyak suka dan duka yang akan aku lewati nantinya. Dan aku tak mau mereka berada dalam bahaya bila bersamaku " jelas La Barani kepada Sammane.


" Mereka siap bersumpah setia dengan jiwa dan raga nya, Pangeran " kata Sammane menjelaskan keteguhan mereka.


" Bagaimana dengan dirimu Sammane " tanya La Barani.


" Aku tentu ikut pula dengan Pangeran, sebab aku ini hanya hidup sebatangkara selama ini " jawab Sammane dengan mantap.


" Begini saja, nanti setelah perang baru kita bicarakan kembali " kata La Barani kepada Sammane pada akhirnya, karena saat ini bukan waktu yang tepat menurutnya.


" Baiklah kalau begitu keputusan Pangeran " jawab Sammane dengan wajah yang sedikit kecewa, karena La Barani belum mengambil keputusan saat ini.


" Sammane bagikan buah Anggur Langit dan Semangka Dewa ini lalu seraplah, nanti minta saja petunjuk dari Datuk Bagenda " kata La Barani sambil mengeluarkan Anggur Langit dan Semangka Dewa dari gelang penyimpanan nya .


" Setelah selesai menyerap buah itu, berlatihlah mengendarai gajah2 itu, karena seminggu lagi kalian akan bertempur bersamanya " kata La Barani lalu mencari datuk Bagenda yang sejak tadi tidak tampak batang hidung nya.


Setelah mencari kesana kemari, akhir nya Datuk Bagenda dia temukan sedang bersemedi di belakang istana, di bale bale tempat La Barani dulu berlatih.


" Aura kultivasi Datuk semakin kental, tinggal sedikit saja tingkat kultivasi nya akan naik ke tingkat Dewa " batin La Barani, lalu menghilang pergi ke dimensi sumber daya.


Di sana, ia mendapati Datuk Basalama yang juga sedang berkultivasi memperbaiki pondasi kultivasinya, aura pendekar suci tingkat delapan memancar dari tubuh nya.


Datuk Basalama yang menyadari kehadiran La Barani, lalu membuka kedua mata nya.


" Selamat Datuk atas kenaikan tingkat kultivasi nya, aku senang melihat perkembangan mu " kata La Barani ketika Datuk Basalama membuka kedua mata nya.


" Ini berkat bantuan dari Pangeran " jawab sang Datuk jujur.

__ADS_1


" Tapi sebaiknya Datuk memakan lagi buah Semangka Dewa, agar bisa naik lagi di puncak pendekar suci " jelas La Barani menyarankan agar Sang Datuk makan buah Semangka Dewa lagi.


" Apa masih bisa Pangeran? apa itu tidak terburu buru " tanya Datuk Basalama.


" Tidak apa2 Datuk, masih ada seminggu lagi waktu untuk memperkuat pondasi kultivasimu " jelas La Barani mengingatkan.


" Baiklah aku akan menuruti saran Pangeran " kata Datuk Basalama kemudian turun dari saung, untuk memetik buah Semangka Dewa yang banyak tumbuh di sekitarnya.


Tak lama kemudian dia datang membawa satu buah Semangka Dewa.


" Kenapa hanya satu, seharus untuk kedua kalinya Datuk harus memakan sebanyak tiga buah, karena setelah memakan satu khasiatnya akan berkurang bila memakan dengan angka yang sama " jelas La Barani.


" Jadi aku harus memakan tiga buah Pangeran? apa tidak berlebihan? " tanya Datuk Basalama kurang yakin.


" Tidak Datuk.! Makan lah kemudian serap lah esensi nya. Aku senang bila Datuk naik tingkat secepat nya " kata La Barani.


" Datuk, aku pergi dulu " kata nya tanpa menunggu jawaban dari Sang Datuk.


La Barani kemudian terbang kearah hutan tempat abdi nya para binatang buas berada, ia tersenyum ketika melihat La Galigo kakak nya yang sedang lari mengelilingi padang dengan penuh semangat.



Ilustrasi para binatang buas di dimensi sumber daya La Barani.


La Barani kemudian mencari tempat yang teduh untuk beristirahat. Setelah menemukan tempat yang cocok, ia lalu turun kemudian duduk bersila.


La Barani kemudian memperbaiki pondasi kultivasi nya, karena sejak mencapai pendekar suci tingkat puncak, dia belum sempat memperkuat pondasi nya.


La Barani kemudian masuk ke inti kitab Pammasena dewata, lalu masuk ke meditasi pertama yaitu tafakkur.


Dalam diam dia merasakan kesunyian, lalu keluar dari segala pikiran duniawi, dengan hati lalu dia masuk ke rasa tak ada yang memiliki kehendak selain Yang Hak. Dengan rasa, hati akan merasakan kehadiran nya, dan dengan kehendak nya alam semesta akan tunduk kepada hati yang dapat merasakan nya, dengan rasa dan kekuatan alam semesta memunculkan pemahaman akan kebijaksanaan dan merasakan bahwa segala nya hanya kosong atau hampa.


Itulah bunyi syair2 dari kitab Pammasena dewata, La Barani belum mampu melangkah ke lembaran kelima kitab pammasena dewata yaitu kehampaan, seolah ada tirai tipis yang menghalangi langkah nya.

__ADS_1


Mungkin karena faktor usia nya yang belum beranjak dewasa, sehingga dia belum mamapu memahami sepenuh nya, arti syair kelima dari kitab pammasena dewata.


Dari tubuh La Barani kemudian keluar cahaya yang samar. Sebelah kanan tubuh nya memancarkan cahaya putih sedang sebelah kiri nya memancarkan cahaya keabu abuan.


" Shuuuut..., shuuuut...,!"


Tampak nya kedua Mustika yaitu Mustika inti baja dan Mustika cahaya, sedang menyerap energi alam yang begitu padat dan kental di alam dimensi sumber daya. Yang dipengaruhi oleh banyak nya sumber daya langka yang ada disana yang berjumlah ribuan serta telah berumur ribuan tahun.


" Krakkk....., Krakkk...! "


" Arght....., Arght...! "


La Barani menjerit kesakitan, seluruh tulang La Barani bergerak memanjang, serta daging dan otot nya juga ikut bergeser kemudian membesar tapi kemudian mengecil kembali dalam hitungan detik, terlihat baju dan celana warna hitam yang dikenakan La Barani telah robek karena perubahan yang terjadi pada rubuh nya.


Kini La Barani tampak seperti anak remaja berusia dua belas tahun. Wajahnya mulai tampak dewasa dengan aura perbawa yang begitu kuat, seperti seorang Raja.


Setelah proses itu selesai, tingkat kultivasi La Barani ternyata tidak naik, hanya perasaan kekuatan nya bertambah ber kali2 lipat.


La Barani melanjutkan semedi nya dengan Syair keempat kitab Pammasena dewata yaitu kebijaksanaan. Dia lalu memeriksa ulang apa yang di berikan oleh dewa Bhatara di dalam pikiran nya.


" Hei...,! ternyata ada jurus tujuh puluh dua perubahan " batin La Barani.


Jurus inilah yang dipakai dewa Bhatara untuk mengelabui para dewa yang datang untuk menangkap nya selama pelarian nya.


" Nanti setelah perang selesai, baru aku mempelajari nya " batin nya lagi.


Kemudian ia memeriksa juga apa yang diberikan oleh dewa cahaya.


" Hei...,! ini peledak pemadatan energi, sangat berguna untuk perang saat ini " batin nya senang dengan apa yang didapat nya.


La Barani kemudian memperbaiki pemahaman nya, ia lalu mencari di kitab seribu satu pengetahuan nya dan dia dapati pula dasar2 tehnik tersebut.


" Binggo...,! akhir nya dapat juga, aku akan segera membuatnya " gumam nya sangat senang.

__ADS_1


######


__ADS_2