
Bunyi derap langkah kaki kuda semakin dekat kearah pasukan jendral Tahang. Dalam hati, jendral Tahang sangat cemas dan berharap semoga saja bukan pihak musuh yang sedang menuju kearah mereka.
" Kemana anak kecil tadi? " tanya Jendral Tahang kepada seorang jendral yang mendampinginya.
" Aku juga tidak melihatnya pergi, Panglima !" jawab jendral itu yang tidak melihat anak kecil yang dimaksud Jendral Tahang.
####
La Barani yang menghilang secara tiba2 dari pandangan orang2, telah melesat terbang keatas awan. Dia merasakan ada seseorang yang sedang mengintainya, ketika sedang menghancurkan Array jebakan tadi.
La Barani kemudian merasakan aura yang kuat itu bersembunyi dibalik awan. Setelah memastikan posisi penguntit itu, ia lalu menyerangnya.
" Jurus Megananda, Tinju Baja " teriaknya sambil tinjunya di arahkan ke posisi pengintai tersebut.
" shuuuut.... shuuuut !".
Tinju sebesar kerbau dewasa, menghantam awan tempat orang yang bersembunyi.
" Dhuuar...., dhuuar...,!"
Suara dentuman yang lumayan keras terdengar, saat jurus La Barani ditahan oleh seseorang. La Barani langsung terjajar mundur sejauh sepuluh meter, sambil mememegangi tangannya yang kesemutan akibat pertemuan pukulan tadi.
" Ini menarik..,! dia ternyata sangat kuat," batin La Barani tersenyum senang mendapatkan lawan yang kuat. Ia tadi hanya menggunakan empat puluh persen qi nya.
" Hahahaa..., tak kusangka anak kecil seperti kamu, dapat merasakan kehadiranku " kata orang yang bersembunyi tadi.
Kemudian orang itu menampakkan diri. Ternyata dia seorang sepuh yang berumur seratus tahun.
Pakaian yang digunakannya berbentuk jubah yang longgar berwarna hitam, rambutnya yang putih dibiarkan panjang terurai tanpa diikat sama sekali.
Mata orang tua itu berwarna merah, memberi kesan keji diwajahnya yang sangar. Terlihat dia sepertinya dari golongan hitam.
" Siapa namamu, anak kecil !" tanyanya dengan nada datar tanpa ekspresi.
" Namaku adalah La Barani, senior " jawab La Barani singkat
" Sedari tadi kamu menarik perhatianku anak kecil, kamu tampak hebat dengan segala aksimu."
" Tapi setelah menahan seranganmu tadi, ternyata kamu belum ada apa2nya " lanjutnya lagi, meremehkan kekuatan La Barani. Karena saat ini, La Barani menekan tingkat kultivasinya ditingkat pendekar suci tingkat dua.
__ADS_1
" Perkenalkan, aku adalah Datuk Bagenda dari Tanah Loka, aku datang kemari atas undangan Raja Mangkendek " ujarnya panjang lebar.
" Ternyata senior adalah antek musuh, sayang sekali kita harus berseberangan senior " kata La Barani masih terlihat menghargai musuhnya, ia tertawa dalam hati mendengar perkataan Datuk Bagenda yang meremehkannya.
" Kau bukan lawanku anak kecil, kamu hanya seperti seekor semut dihadapanku " kata Datuk Bagenda dengan sombongnya merendahkan La Barani.
" Ya kah? kalau begitu, mari kita mencari tempat yang baik untuk bermain !" tantang La Barani sambil menjentikkan tangannya dengan hukum ruangnya.
" Thing.... thing..!."
Dia lalu membawa Datuk Bagenda, ke padang luas di tengah hutan yang masih berada diwilayah kerajaan Pagaruyung.
" Boleh juga kemampuanmu, anak kecil !" seru orang tua itu takjub dengan hukum ruang La Barani.
" Bagaimana Datuk, apa sudah bisa dimulai ?" tanya La Barani yang sudah tidak sabar, untuk menghajar orang yang sombong itu.
" Silahkan anak kecil " lalu ia mengeluarkan aura pendekar suci tingkat puncaknya, berharap La Barani tertekan dengan aura itu. Tapi La Barani tampak biasa2 saja mendapat serangan itu, hal ini membuat Datuk Bagenda menjadi waspada.
" Hanya aura kacangan, aku juga bisa " kata La Barani mengejek, kemudian aura pendekar suci tingkat puncak juga terpancar dari tubuhnya.
" Ternyata tingkat kultivasi anak ini sama sepertiku " batin Datuk Bagenda terkejut dengan tingkat kultivasi La Barani.
" Jangan menyalahkanku kalau kamu terluka anak kecil " kata Datuk Bagenda bersiap memulai serangannya.
" Harimau mencengkeram mangsa " kata Datuk Bagenda menyebutkan jurusnya.
Tangannya membentuk cakar harimau maju menyerang La Barani, angin serangan berbentuk cakar mendahului serangan cakarnya.
La Barani kemudian mengeluarkan jurus seribu langkah ajaib, sambil menyambut cakar Lawan dengan tinju bajanya. Gelombang kejut berupa energi tercipta ketika kedua tangan itu beradu.
" Dhuuar.... dhuuar...,! "
Ledakan2 tercipta, setiap kedua tangan mereka bertemu. La Barani bergerak lincah menghindar setiap serangan lawannya yang penuh tipuan, sambil membalas dengan jurus tinju baja dengan enam puluh persen qi nya.
Akhirnya pertarungan mereka berlanjut sampai ratusan jurus, Datuk Bagenda memperlihatkan pengalaman bertarungnya. Andai kata bukan La Barani yang dihadapinya, mungkin sedari tadi lawannya sudah terluka.
Tapi yang menjadi lawannya saat ini adalah La Barani, yang menggunakan jurus seribu langkah ajaib yang merupakan jurus dewa sehingga sekuat dan secepat apapun serangan Datuk Bagenda selalu saja dapat dihindarinya.
Bahkan beberapa kali Datuk Bagenda terkena serangan tinju La Barani walaupun ia hanya terluka ringan saja.
__ADS_1
Karena kesal tidak dapat mengenai tubuh lawannya, akhirnya Datuk Bagenda mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanannya. Tampak bilah pedang datuk Bagenda berpendar mengeluarkan sinar halus berwarna merah. Tanda bahwa pedang itu berada ditingkat pusaka langit.
" Keluarkan senjatamu, anak kecil " pintanya. Sebab ia merasa tak nyaman, menyerang lawan yang tidak menggunakan senjata.
Apalagi yang dilawan hanya seorang anak kecil, dia merasa gengsi dan malu, kalau dunia persilatan sampai tahu bahwa Datuk Bagenda yang sakti, melawan seorang anak kecil yang tak bersenjata.
Memang reputasi Datuk Bagenda diwilayahnya sangat disegani oleh para pendekar beraliran putih. Apalagi pendekar aliran hitam, mereka sangat menghormatinya layaknya seorang raja, karena Datuk Bagenda seorang Kultivator beraliran hitam yang merupakan tokoh kawakan dari golongan itu.
" Baiklah kalau kau memaksa datuk " kata La Barani lalu mengeluarkan pedang pedang patah hati dari cincin penyimpanannya.
Datuk Bagenda, langsung menyerang dengan kecepata serta pengerahan kekuatan penuh, begitu La Barani telah memegang pedangnya.
" Slash.... shuut...shuut..,! "
" Ting.....ting... ting...,! "
Terdengar bunyi dentingan senjata beradu, setelah kedua senjata tingkat langit itu beradu. La Barani dengan jurus pedang ajaibnya, menyambut serangan lawan dengan mengerahkan delapan puluh persen qi nya.
" Anak ini memang sungguh jenius, dia dapat menandingi jurus2 yang kumiliki " Batin Datuk Bagenda terkejut dengan kemampuan Lawannya.
" Aku harus secepatnya mengakhiri pertempuran ini " batin datuk Bagenda, bersiap mengeluarkan jurus pamungkasnya.
" Jurus Pedang Iblis, Membakar Bumi," teriak Datuk Bagenda menyebutkan nama jurusnya.
Api yang sangat panas seketika terpancar dari pedang tingkat langit milik Datuk Bagenda. Pendaran aura api yang sangat pekat, menyelimuti area pertarungan mereka sejauh lima puluh meter, membuat tanaman yang ada disekitarnya terbakar.
La Barani juga merasakan panas dari jurus lawan. Tapi itu hanya sebentar, sebab Mustika inti baja lalu melindungi seluruh tubuhnya. Setelahnya, pendaran sinar metalic berwarna kelabu langsung menyelubungi La Barani.
" Jurus Pedang Dewa, Pedang Pemusnah Iblis " teriaknya mengeluarkan jurus ciptaannya dengan kekuatan penuh.
Aura kelabu metalic bertemu dengan aura api berwarna merah milik Datuk Bagenda, seketika menghias wilayah pertempuran mereka. Pertarungan keduanya saat ini telah membuat kekacauan ditengah hutan itu, pohon2 telah banyak bertumbangan akibat terkena serangan mereka.
" Kamu lumayan juga anak kecil, bisa bertahan dari serangan jurusku ini," kata Datuk Bagenda memuji La Barani.
"Itu belum seberapa, datuk! " kata La Barani tersenyum mengejek lawannya.
" Keluarkan semua kemampuanmu datuk, jurusmu itu hanya membuang waktuku saja " kata La Barani memprovokasi Datuk Bagenda .
######
__ADS_1