
" Byur...! "
La Barani kemudian melompat mendatangi cahaya yang ada didasar sungai. Setelah tiba didasar, La Barani tersedot kedalam pusaran cahaya yang amat menyilaukan didasar sungai.
" Arght...! tamat riwayatku !" La Barani terkejut, mendapati dirinya yang hanya bisa pasrah, tak mampu melawan sedotan pusaran cahaya itu.
Ia tak tahu, berapa lama ia terombang ambing dipusaran cahaya. Ketika cahaya tersebut menghilang, iapun terdampar dikegelapan. Dari tempatnya berdiri, La Barani melihat sebuah lorong yang berjarak lima puluh meter dengan cahaya diujungnya.
" Tampaknya itu sebuah pintu " batinnya
" Dimana aku saat ini,? sepertinya, aku terjebak di sebuah dimensi."
La Barani kemudian menjentikkan tangannya, mengeluarkan elemen apinya agar ia bisa melihat disepanjang lorong. Setelah melangkah sepuluh langkah, pandangan matanya tertuju pada sesosok manusia yang duduk bersemedi, membelakangi altar pemujaan. Diatas altar Itu tampak sebuah kotak emas, berbentuk persegi panjang.
La Barani kemudian mendatangi orang yang duduk bersemedi itu. Diperhatikannya dengan teliti dan dia dapati, ternyata itu hanya sebuah kerangka manusia.
" Ternyata hanya tinggal tulang belulang, mungkin dia pemilik tempat ini sebelumnya," batin La Barani.
" Kotak apa ini? " La Barani kemudian menyentuh kotak emas yang berada diatas altar pemujaan.
" Swush.... swush...! "
Tiba2 saja asap putih keluar dari badan kotak itu, sekitar lima menit barulah asap putih itu menghilang.
" Kamu tak akan bisa menyentuh kotak itu, sebelum bertemu denganku, anak muda " suara seseorang, menggema didalam ruangan itu.
" Si -Siapa..kamu !" tanya La Barani terkejut.
" Perlihatkan dirimu kalau berani " tantang La Barani.
" Aku ada di belakangmu anak muda " jawab suara itu.
La Barani kemudian berbalik dan melihat sosok roh seperti Kuti gurunya.
" Siapa kamu? " tanya La Barani.
" Aku adalah Roh pemilik pedang itu anak muda! " katanya.
" Jadi yang didalam kotak itu, sebuah pedang?" tanya La Barani.
" Betul sekali anak muda " jawab Roh itu.
__ADS_1
" Perkenalkan, namaku La Barani. Maaf, kalau aku telah mengusikmu tuan Roh " kata La Barani memperkenalkan diri.
" Panggil saja aku Bhatara, aku yang seharusnya minta maaf padamu, karena aku yang menarikmu kemari, anak muda " Kata sang Roh menyebut namanya.
" Jadi..., tuan Bhatara yang tadi yang menarikku dengan kekuatan jiwa?."
" Apa maksudmu memanggil aku Ketempatmu ini, tuan Bhatara ?" tanya La Barani.
" Aku ingin kamu menjadi pewarisku, anak muda " kata Bhatara.
" Pewaris apa tuan ? tolong jelaskan !?" tanya La Barani sekali lagi.
" Aku ingin kamu menjadi pewaris kekuatanku, senjataku serta seluruh hartaku anak muda " kata Roh Bhatara.
" Maafkan aku tuan Bhatara, aku telah memiliki semua yang telah kau sebutkan tadi, aku tak mau menjadi orang yang serakah tuan."
" Aku hanya ingin keluar dari tempat ini tuan."
" Tolong keluarkan aku dari sini tuan Bhatara " pinta La Barani sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
" Aku tak akan membantumu, bila kamu tak mau menjadi pewarisku " kata Roh Bhatara kecewa, kepada La Barani. Dia tidak habis pikir, kenapa ada orang bodoh yang menolak diberikan sesuatu yang besar.
" Tuan Bhatara, tolonglah !" teriak La Barani, tapi tak ada sahutan sama sekali.
La Barani bisa saja menghancurkan tempat itu, tapi dia tak punya alasan untuk berbuat semacam itu. Karena Roh Bhatara tidak berbuat salah kepadanya, malah Roh itu mau memberikan sesuatu padanya. Kalau di pikir2 tidak ada salahnya kalau dia menerima pemberian Roh Bhatara.
La Barani kemudian mengambil sikap semedi lalu dia memulai masuk ke bab keempat Kitab Pammasena Dewata yaitu kebijaksanaan, agar dirinya bisa berpikir dengan jernih.
Satu jam kemudian. Dia lalu mengakhiri semedinya, setelah dia benar2 tenang dan dapat mengambil sikap.
" Tuan Bhatara, aku setuju dengan permintaanmu " kata La Barani kemudian.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya Roh Bhatara menampakkan diri.
" Swush...swush...! "
" Apa kamu sudah memikirkannya dengan matang anak muda. Ketahuilah, bahwa kekuatan yang akan kuberikan, adalah salah satu kekuatan tertinggi. Dan pedang yang akan kuberikan, juga sangat kuat. Bahkan di dunia dewa sekalipun, pedang itu sangat disakralkan." jelas Roh Bhatara.
" Apa sekuat itu? " tanya La Barani ragu.
" Apa kamu meragukanku anak muda " tanya Roh Bhatara.
__ADS_1
" Tidak...,! bukan itu maksudku tuan Bhatara, karena aku juga mempunyai senjata yang kuat " kata La Barani sambil mengeluarkan Badik Pembunuh Naga.
" Swung...wus... wus..! " suara sang Badik pun mendesing diudara, dengan ujungnya menghadap ke Roh Bhatara.
" Apa? Badik Pembunuh Naga ? bagaimana bisa senjata ini ada padamu, anak muda ?" kata Roh Bhatara terkejut ketika mengenali sang Badik.
" Kamu mengetahui nama Badik ini? tuan Bhatara? " kata La Barani tersenyum melihat ekspresi Roh Bhatara.
" Sungguh kamu sangat beruntung anak muda. Pantas saja kamu menolak menjadi pewarisku, ternyata kamu telah memiliki senjata yang kuat."
" Apa hubunganmu dengan La Pajung Karama serta Sang Dewata Yang Agung ?" tanya Roh Bhatara, penasaran dengan latar belakang La Barani.
" Mereka berdua adalah moyangku " jawab La Barani singkat.
" Apa? mana bisa ? itu tidak mungkin." Roh Bhatara terkejut, melompat mundur mendengar jawaban La Barani.
Dia seakan tak percaya dengan jawaban La Barani, sebab setahunya La Pajung Karama adalah Jomblo sejati yang dingin terhadap lawan jenisnya.
La Barani kemudian menceritakan apa yang pernah disampaikan oleh gurunya Roh Kuti. Roh Bhatara menyimak apa yang disampaikan oleh La Barani, dengan ekspresi yang berubah ubah, sampai ia meneteskan air mata tanpa disadari oleh La Barani.
" Huu... huu... huu, We Cudai sampai hatimu kepada diriku." tangis Roh Bhatara pecah, ia tak sanggup lagi menahannya.
" Hei...,! ada apa dengannya " batin La Barani, sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Kenapa bisa engkau terpikat dengan si gunung es itu! " sesal Roh Bhatara, hatinya begitu sakit mendengar cerita La Barani.
La Barani hanya bisa menatap Roh Kuti dengan perasaan iba. Ia tak menyangka, orang yang begitu terlihat hebat didepannya, bisa begitu cengeng ketika berhadapan dengan yang namanya cinta. La Barani tertawa didalam hati, ketika membayangkan seorang pendekar, cengeng karena cinta.
" Pendekar apaan...! lebay...! " batin La Barani, ia bisa memiliki pikiran seperti itu, karena memang dia belum mengerti dengan yang namanya cinta. Andai dia mengerti, mungkin dia tak akan berkata seperti itu.
" Sabar...,! tuan Bhatara." hibur La Barani.
" Siapa tuan sesungguhnya ? dan kenapa bisa mengenal Moyangku?" cecar La Barani.
Roh Bhatara tampak terdiam sejenak, lalu kemudian duduk ditanah sambil bersila.
" Masukkan dulu senjatamu itu, aku merasa tak nyaman bercerita di bawa todongan senjata. Walau dia tak bisa melukaiku karena aku berwujud Roh " kata Roh Bhatara.
La Barani kemudian memasukkan Badik Pembunuh Naga kedalam gelangnya, sesuai permintaan Roh Bhatara. Kemudian dia juga ikut duduk bersila dihadapan Roh Bhatara.
Roh Bhatara kemudian menceritakan kisah hidupnya.
__ADS_1