
La Barani melihat sepuluh orang pendekar melayang terbang mendekati mereka.
" Hmm..,! sepuluh orang pendekar suci tingkat menengah " gumam La Barani dengan santainya.
" Kesemua pendekar suci itu lelaki paruh baya berumur empat puluh tahun, Sepertinya mereka dari satu perguruan, sebab pakaian warna hitam yang mereka pakai seragam.
" Ayah, Suma, Prajurit Langt, biar aku yang menghajar mereka semua " kata La Barani melalui telepati.
Tidak berapa lama, kesepuluh orang itu telah berada sepuluh meter dihadapan mereka.
" Tunggangan yang bagus, biar kalian kubunuh dulu, agar aku bisa memilikinya, hahahaa...!" kata orang yang berkepala botak, setelah berada sepuluh meter dari hadapan mereka, sepertinya ia pemimpin dari sepuluh orang itu.
" Buktikan omonganmu, botak !" kata La Barani sambil tersenyum sinis, memprovokasi musuhnya.
" Dasar anak Kurang a**r,! rasakan ini," kata orang itu tak terima diejek, kedua telapak tangannya lalu disorongkan kedepan menyerang La Barani.
" Tapak Kematian " teriaknya menyebutkan nama jurusnya.
" Sangat lemah,! biar pasukanmu saja yang mati " kata La Barani mengejek. Lalu dia menggerakakan tangannya membuka ruang dan membelokkan arah serangan itu, ketengah pasukan musuh.
" Dhuar....,dhuar....,!"
" Aarght....,!
Terdengar dentuman keras menghantam ditengah pasukan koalisi Tanah Loka. Serta merta terdengar jeritan puluhan prajurit yang tewas terkena serangan itu.
" Kurang a**r...,! mari kita serius anak muda " kata lelaki botak itu geram, setelah melihat serangannya malah membunuh kawan mereka sendiri.
" Untuk melawanmu aku tak perlu serius, botak," balas La Barani meyombongkan diri untuk memprovokasi lawan.
Sebenarnya La Barani bisa dengan mudah mengalahkan mereka, mengingat tingkatan kultivasi mereka berbeda jauh. La Barani saat ini berada di tingkat pendekar suci puncak, sedang mereka hanya di ranah menengah.
" Majulah kalian semua " tantang La Barani sambil memperagakan kuda2 Singgasananya.
" Dasar anak yang sombong, biar aku cincang mulutmu yang sombong itu " kata salah seorang teman Si botak, yang tak sabar mendengar ejekan La Barani.
" Serangan Pedang Kilat, " teriaknya menyebutkan nama jurusnya.
"Whuut... shuut,! "
Tampak pedangnya mengeluarkan sinar terang menyilaukan, dia lalu terbang menyerang La Barani dengan kecepatan tinggi serta dengan kekuatan penuhnya
__ADS_1
La Barani yang diserang hanya diam saja, dia lalu melapisi tubuhnya dengan pengerahan qi dengan kekuatan penuh. Siap menyambut serangan lawan.
" Mati..! "
Raja Petta Sompe serta seluruh orang yang menyaksikan, terkejut dengan keberaniannya. Mereka sontak berteriak agar La Barani menghindari serangan.
" Anakku...! "
" pangeran !"
" Dhuuar.... Dhuuarrrrrr !"
Suara ledakan yang keras terdengar, setelah tubuh La Barani dihantam oleh pedang lawan yang berniat membelah tubuhnya.
" Aaaaaarht...! "
Suara jeritan yang menyayat hati terdengar dari dalam kabut asap, akibat dari benturan senjata dengan tubuh La Barani.
Setelah kabut asap lenyap, barulah terlihat pendekar suci tadi tampak kelojotan seperti ayam yang baru dipotong. Tangan kanannya hingga kebahu sudah hilang, darah segar mengucur deras dari lengannya yang hancur itu.
Sedang La Barani masih terlihat segar bugar tanpa mendapat luka sedikitpun, hanya pakaiannya saja yang robek terkena sayatan pedang.
" Apa? ".
" Dia Si anak ajaib, Otot Kawat Tulang Besi " kata seorang tetua perguruan, yang ikut membela kerajaan Bungaya.
Mata semua orang yang melihat kejadian tadi, sampai melotot dengan rahang jatuh. tidak terkecuali dengan Raja Petta Sompe, ia tadi sempat cemas dengan anaknya La Barani. Tapi setelah melihat kejadian barusan iapun terkejut.
" Anak ini, apa masih anakku ?" batinya, seakan tak percaya.
Si botak serta kedelapan orang yang tersisa, langsung waspda ketika mengetahui kekuatan La Barani.
" Anak ini ternyata sangat tangguh, kita harus berhati hati melawannya " kata si botak melalui telepati kepada kawan2nya.
" Sekarang giliranku !" Kata La Barani sambil mengeluarkan Pedang patah hati dari cincin penyimpanan nya. Kemudian melesat kedepan, menyerang musuh.
" Jurus Pedang Cahaya, Bayangan Kematian, " teriak La Barani menyebut jurusnya, sambil menyerang lawannya.
Tampak ratusan bayangan pedang menyerang kesembilan pendekar suci yang tersisa.
" Cis..., ilmu ilusi kacangan " kata si botak meremehkan serangan La Barani.
__ADS_1
" Aarght.... arght...!
Satu persatu mereka tumbang, dengan luka sayat yang lebar di beberapa bagian tubuh mereka. Sibotak saat ini hanya bisa menatap tak percaya kearah La Barani, sambil mememegangi bagian tubuhnya yang terluka oleh serangan jurus La Barani.
" Saatnya aku mengakhiri pertarungan ini " batin La Barani lalu melompat setinggi dua puluh meter keudara.
" Jurus Pedang Meteor, Menerjang Bumi, " teriak La Barani dari atas udara, lalu memukulkan pedangnya yang terlapisi dengan api panas seperti lahar. Kearah sembilan pendekar suci itu, dengan menggunakan kekuatan penuhnya.
Bola api sebesar rumah, keluar menerjang dari pedang La Barani menghantam kearah sembilan pendekar suci, mereka yang sekarat hanya terdiam menunggu kematian mereka.
" Dhuuar,..... Dhuuar..,! "
Suara Ledakan seperti bunyi gunung meletus, terdengar setelah Jurus Pedang Meteor itu menyentuh tanah. Tanah bergetar seolah gempa dan seketika asap tebal berbentuk cendawan, terlihat dari hasil serangan itu.
La Barani yang sedari tadi telah memasang dinding pelindung untuk membentengi pasukannya guna mengurangi efek dari jurus tadi, terkejut dengan kekuatan dari jurus yang dikeluarkannya.
" Benar2 jurus tingkat dewa, lain kali aku takkan sembarangan mengeluarkan jurus ini " gumam La Barani yang baru tahu kekuatan dari jurus tadi.
Pertempuran yang sedang berlangsung pun terhenti, bunyi dentingan pedang beradu seketika lenyap. Kedua kubu memandangi asap cendawan itu.
Mereka saling bertanya tentang kejadian barusan, karena memang tempat mereka bertempur, jauh dari tempat La Barani. Tapi tetap saja mereka terkena hempasan debu dari jurus tadi.
Ketika asap tebal hilang dari pandangan, mata semua orang melihat sebuah kawah sedalam sepuluh meter serta berdiameter seratus meter persegi.
Asap kematian dan bau daging terbakar, seketika tercium dari bangkai pasukan Tanah Loka, yang berada persis dibelakang kesembilan pendekar suci tadi.
Seribu lima ratus prajurit koalisi tanah Loka tewas terkena dampak dari jurus tadi. Memang tadi La Barani menggunakan qi nya dengan kekuatan penuh serta dia mengeluarkan pula dua puluh persen kekuatan cahayanya.
" Ayah,! aku pergi dulu memastikan keadaan pasukan Pagaruyung " kata La Barani kemudian menghilang dengan menggunakan ilmu ruangnya.
" Anak ini...,! perkembangan kultivasinya sangat pesat, aku akan memintanya melatih kakaknya La Galigo.
Setelah mengamati keadaan sekeliling, dan melihat pasukan musuh telah terdesak. Raja Petta Sompe akhirnya memerintahkan pasukan bayang yang bersembunyi di balik pasukan Garnisum untuk bergerak.
Jumlah personil pasukan bayang Raja Petta Sompe, sepuluh ribu orang yang masing2 dari mereka setara dengan pendekar raja puncak.
- - - - - -
Sementara itu ketiga raja koalisi terlihat cemas, karena pasukan bantuan pimpinan Panglima Tahang belum tiba dilokasi.
" Kalau begini caranya sebaiknya kita mundur saja, soalnya prajurit kita bertiga akan habis, sedang prajurit Tanah Loka belum ada yang ikut bertempur. Jadi kerugian semata mata hanya pada pihak kita bertiga " Kata Raja Tompo sangat kesal dan kecewa dengan pihak Tanah Loka.
__ADS_1
" Sabar, mungkin mereka dalam perjalanan sekarang ini," Kata Raja Badola mengingatkan temannya itu.
######