
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Levin mengantarkan Alsa ke toko buku langganan gadis itu. Namun karena mama lelaki tersebut menelpon untuk segera pulang, maka ia meninggalkan Alsa di sana setelah pamit dengan gadis tersebut.
"Dek?" ketika tengah membaca sinopsis sebuah novel, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara yang sedikit asing ditelinganya.
"Kak Grace?" Tanya Alsa memastikan, pasalnya wanita yang juga berprofesi sebagai dokter itu terlihat begitu cantik dan dewasa.
"Apa kabar, Sayang?" tanya Grace yang langsung menarik Alsa ke dalam pelukannya.
"Baik, Kak. Kakak sendiri gimana?" Grace hanya mengembangkan senyumnya setelah mengangguk sekilas.
"Kakak baik juga kok, Sayang." Grace kini menarik tangan Alsa untuk duduk di bangku panjang yang tersedia di sana. Di samping rak buku yang ada diurutan paling pinggir itu.
"Udah lama ya kita gak ketemu, terakhir ketemu waktu kamu masih kelas 2 SMP, kan?" Grace ingat saat itu kakaknya membawa Alsa ke rumah sakit tempat dia bekerja, karena gadis kecil itu alergi parah.
"Iya," jawab Alsa singkat. Kemudian Grace mengambil sebuah novel yang sama dengan milik Alsa dan membaca sinopsis cerita di balik buku bersampul ungu tersebut.
"Ceritanya bagus, kamu mau beli ini?"
"Iya sih, Kak. Tapi harganya lumayan mahal, uang aku gak cukup." Alsa kembali meletakkan novel tersebut dan memilih membawa sebuah novel dengan harga terjangkau untuk dibawa ke kasir.
"Ambil aja, Sayang. Nanti kak Grace yang bayar." Grace tersenyum dan memberikan dua buah novel dengan judul berbeda yang memang di inginkan Alsa.
"Kak Grace serius? Ini mahal lho, Kak, nanti Alsa dimarahin kak Davin kalau minta dibeliin sama kak Grace," ucap Alsa sedikit takut jika Davin tahu Grace membelikan novel mahal untuknya dan lelaki itu menyebut Alsa matre.
"Sayang, kok mikirnya gitu sih? Yang ada kak Grace yang bakalan dimarahin bang Davin kalau adik kesayangan dia sampai gak terpenuhi keinginannya." Grace menggandeng tangan Alsa ke meja kasir dan membayar semua novel yang gadis itu beli. Dulu sekali saat Alsa masih sd, Grace sering mengajak Alsa jalan-jalan bahkan menginap di rumah Grace.
Namun setelah orang tuanya terang-terangan menolak kehadiran Alsa, Grace pun dilarang berdekatan dengannya. Padahal adik dari Davin tersebut sudah menganggap Alsa seperti adiknya sendiri.
Mereka jalan-jalan ke mall dan memakan es krim bersama, nonton sekaligus melepas rasa rindu keduanya hingga sore pun tiba dan Grace mengantar Alsa pulang.
Namun, saat di parkiran tak sengaja mereka bertemu dengan Kenzo, Grace sedikit mengernyit saat melihat lelaki tampan tersebut.
kayak pernah lihat, tapi dimana ya? -batin Grace.
"Hati-hati ya sayang, hubungin kak Grace kalau udah sampai rumah." Grace mencium kedua pipi Alsa saat gadis itu memutuskan untuk pulang dengan Kenzo.
"Iya, Kak! Kak Grace juga hati-hati ya?"
"Pasti, Sayang."
Dan mereka pun berpisah menuju rumah masing-masing.
***
__ADS_1
Alsa mengernyit bingung saat Ken menghentikan mobilnya di sebuah taman bunga, lelaki itu mengajak Alsa turun.
"Kok ke sini, Kak?" tanya Alsa bingung setelah mereka duduk disebuah bangku panjang.
"Ini tempat favorit gue sama Tyas, Ca." Alsa sedikit tersentak mendengar jawaban Ken. Gadis itu melihat kesedihan terpancar dari mata kelam lelaki itu, dan rasa nyeri juga menusuk jantungnya hingga terasa sedikit ngilu.
" ... ."
"Gue gak pernah nyangka kalau hubungan gue sama Tyas berakhir, padahal kita sudah melalui banyak hal bersama."
"... ."
"Gue selalu berusaha untuk jadi yang terbaik buat dia, tapi dia malah tega selingkuhin gue. Dan kita ... putus."
" ... ."
"Gue sayang banget sama Tyas, tapi kayaknya dia terlalu curiga ke gue. Awalnya gue kira kecurigaan dia karena terlalu cinta, tapi ternyata cuma buat nutupin perselingkuhannya."
" ... ."
"Ca, lo bilang ke gue, apa yang kurang dalam diri gue sampai-sampai Tyas tega selingkuh kayak gitu?"
" ... ." Alsa hanya diam tak mampu menjawab. Hatinya saja sudah sangat hancur mendengar betapa lelaki itu sangat terpuruk akibat rasa cintanya yang terlalu dalam pada Tyas harus kandas.
Sedangkan dia juga tak jauh berbeda dengan Ken, hati Alsa bahkan sudah tak berbentuk lagi akibat cinta bertepuk sebelah tangannya.
Gadis itu tidak bisa menangis di depan orang lain selain Davin. Pernah sekali ia menangis akibat perbuatan bully saat masih smp dan hal itu berakibat fatal.
Mereka menganggap Alsa lemah hingga gadis itu selalu menjadi korban kekerasan teman-teman sebayanya. Sempat mengalami trauma dan depresi hingga akhirnya Davin meyakinkan bahwa Alsa bisa menangis sepuasnya jika bersama Davin. Karena lelaki itu tak akan menganggapnya lemah atau menyakiti Alsa.
Semenjak itu Alsa tak pernah meneteskan air mata lagi di depan orang lain.
"Kak, aku harus pulang." Alsa bangkit dari tempatnya duduk, Ken memandangnya sedikit kesal akibat tak mendapat respon apapun dari Alsa. Namun ia tetap melangkah mengikuti Alsa dan mengantarnya pulang.
***
Davin yang baru pulang dari rumah orang tuanya setelah membicarakan masalah bisnis, bingung melihat Alsa yang menonton tv dengan saluran statis.
Mendekatinya kemudian Davin melihat Alsa tengah melamun.
"Sayang," panggil Davin dan membuat Alsa sedikit tersentak kaget.
"Eh."
"Kamu kenapa? Kok nglamun?" tanya Davin khawatir, pasalnya Alsa jarang sekali terlihat seperti ini.
"Gak papa kok, Kak."
__ADS_1
"Sayang, cerita sama Kakak kalau kamu ada masalah."
" ... ."
"Ada masalah apa? Hm?" tanya Davin sembari menggenggam tangan kanan Alsa, memberikan ketenangan untuk gadis itu. Dan Alsa merasa lebih baik karena perbuatan kecil Davin.
"Kenzo," ucap Alsa yang membuat Davin mengangkat satu alisnya, bingung.
"Kenzo? Kenapa sama dia?"
" ... ." Alsa masih ragu untuk menceritakannya, karena Davin sangat tidak suka jika Alsa dekat apa lagi sampai menjalin hubungan dengan seorang pria.
"Kenapa?" tanya Davin sedikit menuntut. Kini perasaannya tiba-tiba tidak enak.
"Alsa ... emmm ... ."
"Apa?" Davin semakin dibuat bingung oleh Alsa, pria itu semkain tak sabar mendengar lanjutan perkataan sang adik.
"Alsa, suka sama Kenzo, Kak."
Jeddeeerrr..
Bagai disambar petir tanpa hujan, Davin langsung menatap Alsa dengan pandangan tak percaya.
Tak percaya bahwa Alsa yang selalu menuruti nasehat Davin, kini malah melanggar larangan paling utama yang dia buat. Menyukai lelaki atau malah sampai pacaran, Davin merasa tak suka dan kesal mendengar adiknya menyukai pemuda lain.
"Al--"
"Iya, Kak, Alsa tahu ini adalah kesalahan fatal karena membangkang dari kakak, tapi kan Alsa juga gak pernah minta hati Alsa buat jatuh cinta sama Ken. Alsa udah coba lawan, tapi gak bisa." Alsa memotong ucapan Davin dengan cepat, ia berharap Davin tak akan murka padanya.
"Tidur sekarang, Dek. Istirahat!" Davin menggeram menahan emosi yang siap meledak kapan saja, dada pria itu sesak dan rasa kesal benar-benar membuatnya ingin memindahkan Alsa ke sekolah lain agar tak bertemu Ken lagi. Namun ia juga tak ingin egois karena Alsa juga berhak bergaul dan bahkan menjalin kasih seperti gadis remaja seusianya.
"Kakak." Alsa menggoyangkan lengan kanan Davin, berharap pria itu tak marah padanya. mendengar nada memelas dari sang adik, pria itu segera melupakan emosinya sesaat dan tersenyum meyakinkan Alsa bahwa ia tak marah.
"Tidur ya," ucap pria itu lembut, kemudian mengecup kening Alsa dan gadis itu beranjak dari sana untuk menuju kamarnya.
Davin berniat membuat teh hangat untuk meredam emosi dan menghilangkan sakit di kepala yang tiba-tiba muncul.
Namun ketika ia membuka lemari penyimpanan, ia menemukan sebuah botol selai yang sedikit asing untuknya.
Ia tak pernah membeli selai dengan rasa itu, tapi kenapa ada botol selai yang asing tersebut di lemari dapur.
Davin mengambilnya dan menggeram kesal setelah mengingat kejadian Alsa alergi di sekolah beberapa waktu lalu.
Berengsek!! -batin Davin
_______Tbc.
__ADS_1