
Alsa tengah mengemasi baju-baju miliknya dan Davin ke dalam koper, Davin memutuskan untuk pindah secepat mungkin dari rumah Orangtuanya, lagi pula rumah baru mereka juga sudah siap ditempati.
"Sayang, kamu capek ya? Sini biar aku aja yang beresin, kamu tinggal duduk aja di sini." Davin menuntun Alsa agar istrinya itu duduk di samping koper mereka. Ia merasa Alsa memang pucat akhir-akhir ini, Davin sangat khawatir mengenai kesehatan Alsa.
"Aku nggak papa kok, Kak."
"Sstt." Davin mengecup bibir Alsa singkat dan membuat wanita itu langsung diam tak lagi membantah sang suami.
Ia membiarkan Davin mengemasi baju-bajunya. Fokus mereka teralihkan oleh dering ponsel milik Davin yang menandakan seseorang tengah menelpon dirinya, pria itu keluar dari kamar untuk mengangkat panggilan dari orang yang sangat dikenalnya.
"Ya?" Davin bertanya pada wanita di seberang sana. Terdengar lawan bicaranya itu berdehem pelan.
"Aku sedang ada masalah,. Aku butuh kamu buat nemenin aku, Vin."
"Maaf, saya nggak bisa. Lain kali aja, ya?" tolak Davin kemudian ia melihat Alsa yang tengah bersandar pada kepala ranjang dan terlihat semakin lemas.
"Tapi--"
"Maaf, Ren. Alsa sedang sakit, saya tidak bisa meninggalkannya!" tegas Davin kemudian memutuskan panggilan sepihak karena sang istri sudah jatuh pingsan.
"Sayang," panggil Davin panik. Segera ia membaringkan Alsa di tempat tidur. Davin keluar dari kamar untuk menelpon Dokter dan memanggil Mamanya agar menemani Alsa sebentar.
Frans dan Camelia panik melihat Alsa terbaring lemah dengan kondisi sangat pucat. Frans semakin khawatir jika harus membiarkan Alsa hanya tinggal berdua dengan Davin.
***
Dokter yang dipanggil Davin telah kembali ke rumah sakit setelah selesai memeriksa kondisi Alsa. Wanita berjas putih tersebut mengatakan bahwa Alsa mengalami stres dan banyak pikiran yang ia pendam seorang diri.
__ADS_1
Davin mendekati istri kecilnya, ia meraih tangan pucat Alsa dan menggenggamnya dengan erat. Davin sangat menyayangi Alsa, ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.
"Sayang, maafin aku. Aku nggak becus jagain kamu, aku bukan suami yang baik." Davin mengelus pipi istrinya yang terasa panas pada ounggung tangannya.
"Ikut Papa, Davin!" Frans berkata dingin pada Davin, ia harus menyadarkan putra sulungnya yang berpikiran entah ke mana.
Davin mengikuti Frans setelah posisinya yang mengompres Alsa digantikan Camelia, wanita itu sedikit khawatir jika dua lelaki tersebut akan kembali berdebat karena perbedaan pendapat.
"Ada apa, Pa?" tanya Davin setelah mereka sampai di ruang tengah. Frans menatap putra sulungnya dalam, seakan ingin menyelami isi hati Davin lewat tatapannya.
"Apa hubunganmu yang sebenarnya dengan wanita itu?" Davin mengernyitkan keningnya bingung, ia tak mengerti dengan pertanyaan Frans.
"Wanita? Siapa?" tanya Davin yang sebetulnya konsentrasi pria itu terpecah ke mana-mana. Ia hanya fokus memikirkan kondisi Alsa sekarang sehingga sedikit tak menyimak pertanyaan Frans.
"Rena yang Papa maksut!" Frans berkata dingin pada Davin. Ia terlalu kesal pada kedekatan mereka berdua yang seakan tak memikirkan perasaan Alsa.
"Berteman? Untuk apa kamu berteman dengan wanita lain saat kamu sudah memiliki seorang istri?" tanya Frans semakin mengeraskan suaranya karena emosi.
"Pa, Davin hanya berteman dengan Rena karena dia membutuhkan teman untuk berbagi keluh kesah hidupnya, Pa. Tidak lebih," jawab Davin.
"Berbagi keluh kesah? Huh, konyol! Jika memang dia ingin berbagi keluh kesah, untuk apa ia mencari teman berbagi seorang lelaki. Apa lagi kamu sudah memiliki seorang istri. Seharusnya ia mencari teman berbagi yang sama-sama seornag wanita, agar tak menimbulkan fitnah. Bukan tanggung jawab kamu untuk selalu ada buat Rena, Davin! Biarkan dia mengurus dirinya sendiri, kamu hanya cukup mengurus Alsa dan rumah tangga kalian!" nasehat Frans yang membuat Davin terdiam.
Ia dulu pernah berjanji untuk melepas Rena dan membiarkan wanita itu mengurus masalahnya sendiri. Namun, beberapa bulan setelah Davin menjauhinya, Rena melakukan aksi bunuh diri akibat tak sanggup menjalani kehidupannya seorang diri.
Davin yang merasa iba akhirnya kembali menemani Rena ketika wanita itu membutuhkan teman bercerita. Mengabaikan dan menomor duakan Alsa yang mana berstatus istri sahnya.
Bahkan ia juga ingat ketika Alsa masuk rumah sakit, justru Kenzo lah yang menemani dan mengurus Alsa dengan sangat baik.
__ADS_1
"Maafin Davin, Pa," ucap Davin menyesal.
"Papa nggak tau ke mana jalan pikiran kamu, Nak. Papa nggak tau kenapa kamu bisa selabil ini, kamu bahkan bisa melupakan hari ulang tahun Alsa dan malah tertukar dengan hari ulang tahun Alea. Kamu mikirin perasaan Alsa nggak sih, Davin?"
"Davin lupa, Pa. Banyak pekerjaan di kantor jadi Davin nggak konsen." Davin benar-benar merutuki sikap kekanakannya. Ia merasa gagal menjadi suami yang baik untuk Alsa.
"Kamu memang anak Papa, tapi Papa nggak akan tinggal diam kalau kamu terus menyakiti Alsa seperti itu, Nak. Kasihan Mama kamu yang selalu sedih melihat Alsa yang menangis diam-diam. Bahkan Mama kamu juga ikut menangis melihat Alsa yang seperti itu!"
Davin hanya diam tak bisa lagi menyahuti ucapan Papanya. Ia baru tahu kalau selama ini istrinya semenderita itu hidup dengannya. Davin membayangkan bagaimana kesakitan hati Alsa hingga wanita muda tersebut menangis diam-diam.
"Pikirkan itu, Davin!" Frans pergi meninggalka Davin yang kini menyandarkan dirinya pada dinding. Kembali, ia merenungi kesalahannya untuk yang entah ke berapa kalinya.
***
Kenzo kini tengah menggeram kesal lantaran gadis muda berpakaian minim di depannya terus saja menggoda lelaki itu. Bahkan dengan sengaja ia memamerkan belahan dadanya yang sama sekali tak terlihat menggoda bagi Kenzo.
"Nggak tertarik, Ra. Tutup aja deh!" Kenzo seakan jengah menghadapi karyawannya yang satu itu. Jika saja ia tak merasa kasihan pada Dara yang tinggal di panti asuhan, sudah lama ia memecat gadis SMU tersebut.
"Kak, aku bisa kok jadi lebih baik dari Alsa. Lagian dia juga udah jadi milik orang lain!" ucap Dara kesal. Ia melihat Kenzo yang tengah sibuk menggunting daun bonsai yang terlihat sedikit tak beraturan.
"Nggak! Gue setia sama satu cewek. Lagian gue udah iklasin dia buat dimiliki laki-laki lain, asalkan dia bahagia gue juga ikut bahagia." Kenzo berkata tegas pada Dara yang seakan tak hilang semangat untuk mengejar cinta Kenzo.
"Ya udah, kalau gitu Kakak coba buka dong hati Kakak buat aku. Aku juga cantik kok," puji Dara untuk dirinya sendiri berharap Kenzo mau membuka hati untuknya.
"Sorry, Ra, gue memperkerjakan lo di sini buat ngurus toko gue sama kayak karyawan yang lain. Bukan buat kecentilan godain bosnya sendiri! Lo mungkin lebih cantik dari Alsa, tapi gue nggak pernah mencintai seseorang hanya dari fisiknya aja. Paham?" Kenzo memilih pergi meninggalkan Dara yang diam mematung.
Dara sangat kesal dengan Alsa yang seakan memberikan mantra pengikat untuk Kenzo. Ia mengucapkan doa yang buruk untuk Alsa yang jauh di sana.
__ADS_1
_________Tbc.