Kusut

Kusut
9


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alsa diantar pulang oleh Levin, mereka sampai di apartemen tepat pukul 15.20 WIB. Levin segera memarkirkan mobil miliknya, kemudian membukakan pintu untuk Alsa



"Mampir dulu yuk, Vin." Alsa berharap Levin mau mampir sebentar, ia tak enak jika membiarkan sahabatnya itu langsung pulang. Rumah Levin dan Apartment Alsa berbeda arah dan lumayan jauh harus memutar kembali, sehingga gadis itu merasa tak enak hati pada Levin.



"Boleh deh, gue juga haus," ucap Levin jujur. Alsa tersenyum senang kemudian menggandeng tangan Levin masuk ke apartement mewah tersebut. Levin memandangi tangannya yang tengah digenggam Alsa, ada rasa senang dan nyaman yang membuat pria badboy itu menarik sudut bibirnya ke atas.



"Lo tinggal sendiri, Al?" Tanya Levin yang kini sudah duduk disofa ruang tamu, Alsa berjalan ke arah dapur kemudian kembali membawa dua gelas jus jeruk segar.



"Enggak, aku tinggal sama kakak," jawab Alsa yang diangguki Levin. Pemuda itu sangat kehausan sehingga langsung menenggak habis jus jeruknya. Membuat Alsa terkekeh pelan.



"Alsa, kamu udah pulang?" suara seorang wanita memecah keheningan antara keduanya, dan muncullah sosok Sherly dari kamar Alsa.



Wanita itu bingung melihat ada pria berseragam sekolah dengan penampilan yang menurutnya tidak rapih.



"Siapa dia?" tanya Sherly setelah sampai di depan keduanya. Alsa tersenyum dan mengenalkan mereka.



"Kak, kenalin ini Levin temen sekelas aku." Alsa mengenalkan Levin pada Sherly dan mereka berjabat tangan.



"Levin," ucap Levin singkat.



"Sherly, kakaknya Alsa." Sherly sedikit memicing tak suka pada pria yang menurutnya sangat tampan namun terkesan urakan.



Bahkan kemeja sekolahnya saja sudah tidak rapi, tidak dimasukkan dan tak terkancing lagi. Blazer hitam juga menggantung di bahu kanannya, benar-benar berbeda dengan Davin yang rapih. Pikir Sherly.



"Al, masuk kamar gih. Istirahat," ucap Sherly menyuruh Alsa segera masuk ke kamarnya agar Levin tak berlama di apartement mereka. Hal ini pun disadari oleh Levin dan hanya tersenyum remeh pada Sherly yang dipikirnya sebagai wanita sok sempurna.



"Ya udah deh, Al, gue pulang. Makasih minumnya," pamit Levin kemudian mengacak rambut Alsa pelan. "Cepet sembuh."



"Makasih, Vin."



Kemudian Alsa mengantar Levin sampai ke pintu utama.

__ADS_1



"Kalau ada apa-apa hubungi gue, ya," ucap Levin serius, Alsa tertegun melihat keseriusan yang jarang ditunjukkan Levin padanya. Kemudian gadis itu mengangguk dan tersenyum.



Levin pun meninggalkan apartemen Alsa dengan perasaan senang karena merasa lebih dekat dengan sahabat perempuannya tersebut.





***





Davin mengantar Rena sampai ke depan pintu gerbang rumah wanita itu. Rena mempersilakan masuk dan mereka ngobrol ringan di beranda rumah. Davin merasa senang berbincang dengan Rena yang ramah dan tidak seperti wanita yang selama ini ditemuinya. Ganjen dan berisik.



Tapi Rena berbeda, Davin menilai wanita di depannya ini memiliki sikap tenang sehingga membuat pria itu nyaman.



"Makasih ya, Pak, saya jadi merepotkan," ucap Rena tak enak.



"Gak usah terlalu formal, panggil aja Davin kalau lagi di luar sekolah atau kalau lagi berdua," ucap Davin dan dibalas senyum malu-malu wanita itu.



"Ternyata kamu orangnya ramah juga ya, saya fikir selama ini kamu orang yang sombong dan sulit didekati," ucap Rena jujur, Davin terkekeh pelan mendengar penuturan Rena.




"O iya, kamu juga guru yang perhatian ya. Tadi saya lihat kamu nungguin Alsa yang sedang sakit, saya salut sama kamu."



"Alsa gadis yang baik," ucap Davin singkat. Ia mengingat Alsa yang sudah semakin dewasa dan merasa semakin jauh dari lelaki itu. Tampak sedikit kesedihan di mata Davin.



"Iya, dia memang baik. Dia juga pintar. Tapi sangat sulit bergaul, dia tidak mempunyai teman seperti anak-anak yang lain." Rena mengingat kejadian beberapa waktu lalu di mana Alsa dibully oleh beberapa siswi, namun tak ada yang menolong gadis itu.



"Ya udah, Ren. Saya pamit dulu, sudah sore."



"Makasih ya, Vin."



"Hn," gumam Davin kemudian pergi meninggalkan rumah berlantai dua tersebut.



Davin menyetir dengan pikirannya yang melayang pada Alsa, ia merasa semakin jauh dengan gadis itu semenjak ia beranjak dewasa.





***


__ADS_1




Malam semakin larut, namun kedua mata Alsa belum juga mau terpejam hingga sebuh nada pesan masuk mengalihkan konsentrasinya dari novel yang ia baca.



From : Tyas



Alsa~


Gue lagi sedih nih~



To : Tyas



Sedih kenapa?



From : Tyas



Gue di putusin sama Ken~



Deg.



Haruskah Alsa merasa senang mendengar bahwa orang yang ia cintai telah putus dengan kekasihnya?



Namun Alsa tak mau menjadi orang yang jahat dan egois dengan berbahagia di atas kesedihan teman barunya.



To : Tyas



Yang sabar ya



Read.



Hanya itu yang mampu Alsa katakan. Entahlah bagaimana perasaannya pada Ken. Bukankah seharusnya ia merasa senang sekarang, namun yang ada justru perasaan sedih dan sedikit menyayangkan kandasnya hubungan Ken dan Tyas.



Tak mau pusing dengan masalah orang lain, Alsa segera menarik selimut hangatnya. Memejamkan mata hingga alam mimpi menjemputnya.







_______Tbc.



__ADS_1


__ADS_2