
.
.
.
.
.
.
.
Frans terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus tertancap di tangannya, sudah sejak pagi Alsa menunggunya di rumah sakit seorang diri. Grace tengah melakukan operasi pasien usus buntu, sedangkan Camelia dan Davin baru pulang ke apartemen setelah semalaman menunggu.
Pagi ini Davin ada meeting penting di kantornya, dan Camelia akan kembali ke rumah sakit menggunakan taksi.
Ketika tengah asik membaca novel yang dibelikan Gerry, Alsa dikagetkan dengan Frans yang tiba-tiba membuka mata.
Ia yang masih takut dengan Frans langsung berdiri dari tempatnya duduk dan mundur tiga langkah, bayangan saat dirinya ditampar dan dicaci Frans masih berputar di otaknya.
"Jangan takut, Nak. Om tidak akan menyakitimu," ucap Frans dengan suara terbata, lelaki tua itu kemudian hendak duduk bersandar. Ia terlihat kesusahan melakukannya, sehingga Alsa mau tidak mau membantunya.
"Om, saya panggilkan Dokter, ya?" tanya Alsa sedikit takut, ia berfikir mungkin jika ada Dokter di tengah-tengah mereka akan mengurangi rasa canggung yang tengah menyelimuti keduanya.
Namun Frans menggeleng, ia pandangi wajah cantik Alsa. Dan dia sekarang tahu mengapa putra sulungnya begitu menyayangi Alsa. Frans tersenyum kemudian mengisyaratkan Alsa untuk duduk di kursi samping ranjang rumah sakitnya.
"Om minta maaf, selama ini sudah jahat sama kamu, Nak. Om menyesal, sangat menyesal." Frans menerawang jauh disaat dulu dirinya begitu jahat pada Alsa yang masih kecil, sehingga berdampak pada Davin yang pergi meninggalkan rumahnya. Memilih tinggal di apartemen dan menjaga jarak dengan dirinya.
"Om salah, Nak. Sekarang Tuhan telah memberikan mukjizat-Nya pada Om, dan telah menyadarkan Om dari keserakahan yang selama ini telah membutakan mata hati Om. Maafkan Om, Alsa. Kamu adalah gadis baik, Om salah menilaimu selama ini."
"Saya gak pernah marah sama Om," hanya itu yang mampu Alsa katakan. Alsa tidak tahu harus berkata apa lagi pada Frans.
Frans tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
******
Sorenya Camelia, Grace dan Gerry sudah berada di rumah sakit. Mereka tersenyum senang saat melihat Alsa yang berceloteh entah menceritakan apa dengan Frans, bahkan terlihat mereka tertawa lepas ketika ada bagian cerita yang lucu.
Seumur hidup Grace, baru kali ini melihat Frans tertawa. Gadis itu merasa bahagia melihat keluarganya kembali berkumpul harmonis.
"Dek, abang belum ke sini, ya?" tanya Grace sembari mengupas buah apel untuk Frans.
"Belum, Kak."
"Ada hubungin kamu?"
Alsa kembali menggeleng, ia sebetulnya juga menunggu chat dari Davin. Namun hingga sore tiba, chat yang ditunggu tidak juga datang.
Alsa sedikit merasa kecewa, pasalnya di sela-sela jam kerja Davin, pria itu selalu menanyai kabar Alsa. Tapi sekarang, satu chat pun tak ada yang dikirim olehnya.
Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah pintu yang di buka, ternyata Davin yang datang.
Lelaki itu terlihat sangat tampan dengan setelan formalnya, Alsa tersenyum lega melihat sang kakak sudah ada di depan matanya.
Namun senyuman itu luntur seketika tatkala seorang wanita dewasa yang anggun datang dari arah belakang pria itu, wanita berhijab yang tak lain adalah guru Alsa dulu.
Bu Rena.
Wanita itu meletakkan buah-buahan yang ia bawa ke nakas, ia terlihat sangat akrab dengan Davin. Bahkan sesekali mereka berbisik kemudian tertawa singkat.
Alsa merasa dadanya sangat sesak dan nyeri, gadis itu seakan tak rela jika Davin bersama perempuan lain.
Tapi, jika dilihat dari manapun mereka memang serasi sebagai pasangan kekasih. Sama-sama dewasa, tampan dan cantik, apalagi Bu Rena adalah guru yang sangat bijak dan penyabar. Cocok dengan Davin yang memliki sifat keras.
__ADS_1
"Om, Tante. Alsa pamit pulang dulu, besok Alsa ke sini lagi," pamit Alsa yang tak tahan melihat keakraban Davin dan Rena, bahkan pria itu sedikitpun tak menoleh padanya. Ia terlalu asik dengan Rena.
"Davin, anterin Alsa pulang, gih." Camelia menyuruh Davin mengantar Alsa, padahal ia tengah asik ngobrol dengan Rena. Terlihat pria itu memasang wajah malas dan berdecak pelan, Alsa pun semakin sakit dibuatnya.
"Ger, anterin Alsa bentar, ya? Soalnya kan gue baru pulang ngantor, capek." Davin beralasan. Padahal jika ia mau, pria itu bisa beristirahat di apartemen.
"Tap-"
"Alsa pamit, assalamualaikum." Alsa pun pergi meninggalkan mereka.
"Wa'alaikumsalam," jawab Camelia heran.
"Dasar cowok gak peka!" sindir Grace sadis sambil melirik Davin.
"Giliran ilang dicariin, udah ketemu dicuekin. Ilang lagi mampus lo!" imbuh Gerry kesal, ia segera berlari mengejar Alsa. Lelaki itu masih trauma dengan kejadian adiknya di culik oleh Ken.
Davin yang mendengar sindiran Grace dan Gerry, baru tersadar jika sedari tadi ia sibuk sendiri. Seketika dirinya yang ingat tatapan terluka Alsa, merasa sakit dan kecewa pada dirinya sendiri yang melupakan kehadiran gadis itu.
Ia segera berlari keluar untuk menyusul Alsa, mengabaikan tatapan heran dari Rena. Namun percuma, gadis itu sudah berlalu pergi bersama Gerry.
Dan kini Davin benar-benar merutuki kebodohannya.
______Tbc.
__ADS_1