
Sudah dua jam lebih Alsa terbaring di ranjang rumah sakit, suhu tubuhnya sudah menurun akan tetapi kesadarannya masih belum kembali.
Ken yang memutuskan tak jadi berangkat sekolah, masih setia duduk di samping ranjang rumah sakit Alsa. Mata kelam yang selalu menyorot tajam itu kini meredup, terus menerus menatap wajah gadis cantik yang masih setia menutup kedua manik kelabu miliknya.
Sesekali tangan kanannya terulur untuk menyibak poni tipis Alsa,tak sampai di situ saja ia juga mengelus pipi tirus adik kelasnya yang memucat.
"Ngghh ...," lenguh Alsa membuat Ken terkesiap, segera ia meraih tangan Alsa dan menggenggam erat.
"Ca?" panggil Ken lembut. Alsa menoleh lemah ke arah Ken dan lelaki itu tersenyum lega.
"Kok aku di sini?"
"Lo tadi pingsan di jalan, jadi gue bawa lo ke rumah sakit. Gimana keadaan lo sekarang?" raut khawatir kembali tercetak jelas di wajah Ken, lelaki itu berharap keadaan Alsa sudah membaik.
"Aku cuma sedikit pusing," jawab Alsa jujur.
"Lo belum makan ya? Kata dokter maag lo kambuh."
Alsa menggeleng, ia kembali sedih saat mengingat dirinya diusir oleh Frans.
"Lo makan dulu, ya?" tawar Ken. Namun dijawab gelengan lagi oleh Alsa, nafsu makannya bahkan sudah hilang entah kemana.
"Kok lo bisa sampai sini sih, Ca? Ini jauh dari apartemen lo."
" ... ." Alsa hanya diam tak menjawab, ia bingung harus bercerita perihal masalahnya atau tidak.
Ia takut dianggap cari perhatian oleh orang yang ia sukai.
"Lo cerita aja sama gue, siapa tahu gue bisa bantu," bujuk Ken tak mau kalah.
"Aku diusir dari rumah Kak Davin sama Papanya," jelas Alsa akhirnya, ia sudah tak peduli mau dibilang caper atau akting oleh Ken. Yang jelas sekarang ia butuh teman curhat.
"Papanya Pak Davin? bukannya dia bokap lo juga?" tanya Ken yang mengira Davin dan Alsa adalah saudara kandung, ia bingung dan tak percaya kenapa papanya tega mengusir anak sendiri.
"Kak Davin itu orangtua angkat aku," jawaban Alsa membuat Ken melongo tak percaya, jadi selama ini perkiraannya salah. Yang ia tahu adalah Davin kakak kandung Alsa.
"Lo dari panti asuhan?" tanya Ken hati-hati takut menyinggung.
"Dulu kak Davin menikah dengan kakak perempuanku, tapi kak Alea meninggal beberapa tahun yang lalu bersama dengan mama dan papa.jadi sejak saat itu aku dirawat kak Davin."
__ADS_1
"Orang tua kak Davin gak pernah suka sama aku dan kak Alea karena kita datang dari keluarga menengah kebawah, Om Frans selalu bilang ke kak Alea kalau dia gak pantas buat jadi istri anaknya."
"Saat kak Davin rawat aku, Om Frans menentang keras sampai Kak Davin memutuskan pergi dari rumah orang tuanya.dan kita tinggal berdua, di apartemennya yang dulu waktu mendiang kak Alea masih ada."
Kenzo terdiam, ia merasa hidupnya yang dianggap paling menderita ternyata jauh lebih beruntung dari Alsa.
Ia menyesal karena selama ini selalu mengeluh perihal hal yang tidak penting, Ken merasa kalah tegar dari Alsa yang dua tahun lebih muda darinya.
Ia menghela nafas lelah, ditatapnya Alsa yang menatap kosong pada mangkuk bubur yang dia pegang.
Mata gadis itu tersirat akan luka dan kesedihan yang mendalam, kesan lelah terpancar jelas di netranya. Meski begitu, Alsa masih tak meneteskan air mata barang sebutir.
Ken penasaran, setegar apa gadis yang ada di depannya ini. Karena normalnya seorang gadis pasti akan mudah untuk menangis, namun berbeda dengan Alsa yang selalu terlihat tegar dan kuat tanpa adanya air mata.
***
Saat malam tiba, Ken masih setia berada di samping Alsa. Gadis itu terus mengigau memanggil nama Davin membuat Ken yang sudah mengetahui hubungan keduanya merasa tak suka saat Alsa menggumamkan nama pria lain di mimpi gadis itu.
Mengambil ponsel pintarnya, pria tersebut mencoba menghubungi Davin. Ia ingin memberi tahu perihal Alsa yang tengah sakit, namun sama sekali tak ada jawaban.
Kesal dengan sikap Davin yang menurutnya sangat acuh pada Alsa membuatnya bersumpah dalam hati bahwa tak akan pernah melepaskan Alsa untuk Davin.
Ia semakin cemas dan tak bisa tidur semalaman ketika panas Alsa mulai meninggi lagi, nama Davin terus mengalun serak pada bibir mungil Alsa.
Dokter telah memberikan pertolongan pada Alsa hingga akhirnya demamnya menurun ketika hari beranjak pagi, dan barulah Ken menjemput alam mimpi.
***
Grace yang merawat Davin semakin cemas tatkala sang kakak belum juga turun demamnya padahal hari sudah menjelang pagi, Davin terus mengigau memanggil nama Alsa.
Beberapa kali Grace mencoba menghubungi ponsel adik angkatnya tersebut, namun ponsel Alsa tidak aktif membuat hatinya semakin resah.
__ADS_1
Ia yakin betul bahwa Davin mencintai Alsa hanya saja pria itu belum menyadarinya.
Hingga seorang lelaki datang menghampiri Grace yang tengah duduk di sofa sambil memijit keningnya yang mendadak pusing.
Secangkir teh hangat yang dibawa pria tadi diletakkan di meja depan Grace.
"Minum dulu, Sayang," ucap lelaki itu yang dituruti oleh Grace.
"Aku bingung harus gimana sekarang. Dokter udah kasih abang obat. Tapi, demamnya belum turun juga, mana ponsel Alsa gak aktif." Grace semakin kalut mengingat tak ada siapapun yang bisa ia tanyai kabar tentang Alsa.
"Gimana kalau kamu coba hubungi Mama kamu?" usul Gerry, kekasih Grace.
"Aku coba deh." Grace pun menghubungi mamanya.
"Halo?"
"Ma," panggil Grace gamang.
"Kenapa, Grace?" tanya mamanya khawatir.
"Apa Mama tau kabar soal Alsa?" tanya Grace akhirnya.
"Grace ... Papa kamu udah usir Alsa, Nak," jawaban mama Grace membuat hati gadis itu nyeri, tanpa terasa air matanya menetes. Pikirannya kacau sekarang, Alsa masih terlalu muda untuk berada di luaran sana.
"Alsa diusir sama Papa, Ma?" tanya Grace tak percaya, Mamanya hanya diam dan itu menjawab bahwa semuanya memang benar.
Segera Grace menutup sambungannya tanpa mengucapkan salam, Gerry memeluk Grace dan menenangkan gadisnya.
"Gimana ini? Alsa sendirian di luar sana, aku harus gimana? Kakak aku sakit, dan adik aku gak tau pergi kemana ... hiks ... hiks ... Gerry, aku takut terjadi sesuatu ke Alsa." Garce semakin terisak dalam.
"Apa?! Papa usir Alsa?!" suara seseorang di belakang mereka membuat keduanya menoleh, mereka semakin terkejut saat melihat wajah penuh amarah pria tersebut.
"Abang," lirih Grace.
________Tbc.
__ADS_1