
.
.
.
.
.
Alsa meringkuk takut pada kaki ranjang usang yang ada di rumah tua itu, rumah yang sangat besar dengan dinding yang catnya telah terkelupas.
Juga tanaman rambat dan akar pohon besar yang ikut menghiasi sebagian dinding rumah besar itu. Ken kini duduk santai di sebuah kursi goyang tepat di depan Alsa, sambil menghisap sebatang rokok ia menatap Alsa penuh minat.
Sesekali terkekeh pelan melihat raut ketakutan Alsa, baju gadis itu sudah koyak sana sini bahkan nyaris tak berbusana.
Gadis itu meringkuk takut sembari menggigit kuku jarinya, ia menatap Ken seakan menatap hantu. Ketakutan, namun ia tak bisa menangis.
"Kita nikmati malam ini, Sayang." Ken berjalan mendekati Alsa, sedangkan gadis itu beringsut mundur seiring langkah kaki Ken yang kian mendekat.
"Jangan ... Kak ... jangan ..." racau Alsa dengan cepat mengulang kalimat yang sama. Tubuhnya gemetar serta bola matanya yang terus menatap Ken dengan ketakutan yang begitu kentara.
"Hey ... jangan takut, Sayang. Bukannya kamu cinta sama aku, kan?" tanya Ken berbisik, lelaki itu berjongkok di depan Alsa. Menyentuh lembut pipi tirus sang gadis yang di respon teriakan histerisnya.
Ken membekap mulut Alsa dengan telapak tangan besarnya, kemudian menarik gadis itu ke ranjang. mengikat kedua tangannya menyatu pada kepala ranjang, yang kemudian di akhiri tawa kepuasan Ken melihat Alsa yang sudah tak mungkin bisa lari lagi.
__ADS_1
"Kamu harus menjadi milik aku, apapun yang aku mau harus aku dapetin." Ken berbisik serak di telinga Alsa. Ken mulai mencium Alsa dengan agresif.
Seumur hidup ia tak pernah menerima penolakan. Rasanya sangat sakit jika ditolak oleh orang yang kita cintai.
Kehidupan menyakitkan masa lalu membuatnya ingin bersikap egois, ia juga berhak bahagia, kan?
Jika tak ada orang yang bisa memberikan kebahagiaan untuknya, maka ia akan mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
Sedangkan Alsa, kini gadis itu menangis dengan histeris, air matanya keluar dengan deras, ia meraung meminta tolong juga merintih pilu kala Ken semakin menggila.
Sementara itu Luna menangis di luar bersama Damar. Mereka dengan jelas mendengar tangisan Alsa yang menyayat hati, sungguh jika bukan karena Ken menjebak mereka, tak sudi kedua remaja itu membantu Ken menculik Alsa.
"Gimana ini, Mar? Gue takut Alsa kenapa-napa! Ken itu gak waras, Mar! Perilaku dia gak wajar. Kalau kita diem terus, Alsa bakalan-"
"Tapi gimana sama vidio kita yang ada di tangan Ken? Masa depan kita juga bakalan hancur kalau sampai Ken nyebarin vidio itu. Apa lo siap kehilangan masa depan lo?" pertanyaan Damar membuat Luna kembali bungkam. Kini masa depan ketiga remaja itu ada di tangan satu orang, Kenzo.
Davin mengumpat kesal saat GPS ponsel Alsa mengarah pada sebuah hutan pinggiran kota. Beberapa saat yang lalu Gerry menghubunginya, mengabarkan kalau Alsa telah di culik seseorang.
Sampai akhirnya pukul 02.45 pagi, Davin dan Grace menuju kota tempat tinggal Gerry. Hingga pagi menjelang mereka tiba di sana dengan keadaan Davin yang sudah kalap, seakan ia ingin menghajar Gerry yang tak becus menjaga Alsa.
Dan kini mereka telah mengikuti jejak mobil yang membawa Alsa, Davin menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Membuat Gerry dan Grace terus berdoa akan keselamatan nyawa mereka, beberapa kali Gerry mencoba menggantikan Davin. Namun justru umpatan dan makian kasar yang diterima keduanya.
Melihat Davin yang kesetanan, Grace tersenyum puas. Kini ia tahu kepada siapa hati kakaknya itu berlabuh. Seakan bersyukur dengan hilangnya Alsa, wanita itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi penumpang bagian belakang. Menikmati raut cemas dan berbagai ekspresi kakaknya menjadi hiburan tersendiri untuk Grace.
"Vin, biar gue aja ya yang gantiin lo nyetir. Semaleman lo gak tidur, pasti lo capek. Biar gue-"
__ADS_1
"DIAM B*****T! Kalau elo terus ngoceh, gue gak akan segan buat lempar lo ke jalan sekarang!" teriak Davin emosi, pikirannya sudah di penuhi oleh Alsa. Ia sungguh merutuki kebodohannya, merutuki kecerobohannya, dan kesal dengan dirinya sendiri yang lebih mementingkan Rena. Padahal Alsa jauh lebih membutuhkan perlindungannya.
Air mata Davin mengalir, ia mencengkram erat kemudi dan berteriak frustasi. Membuat Gerry mengeratkan pegangannya dan Grace yang terkikik geli.
"Baek-baek Bang nyetirnya, gue kagak mau mati sebelum kawin sama Gerry," ucap Grace santai. Ingin rasanya Davin mengutuk Grace menjadi batu dan melemparnya ke laut, benar-benar adik durhaka. Pikirnya.
***
Luna memberikan makanan untuk Alsa, namun gadis itu hanya duduk diam memeluk lututnya. Luna menangis melihat Alsa yang hanya memakai selimut dan menatap lurus dengan pandangan kosong.
"Tenang aja, gue belum rusak dia kok." Luna menoleh mendengar suara dingin seseorang. Ia kemudian berdiri hendak menampar Ken yang mencoba mendekati Alsa. Namun dengan cepat Ken menangkap tangan Luna dan menekuknya ke belakang.
Gadis itu mengaduh kesakitan.
"Kalau lo berani macem-macem sama gue, gak akan segan buat gue singkirin lo dan Damar. Ngerti!" desis Ken tajam. Aura pekat Ken membuat nyali Luna menciut, ia di hempaskan lelaki itu ke lantai.
"Pergi!!" bentak Ken membuat Luna berlari meninggalkan mereka berdua.
"Jangan sentuh, Kak. Jangan ... ." Alsa terus meracau dengan kalimat yang sama, Ken kembali mendekati gadis itu. Menyuapinya dengan penuh ancaman yang membuat Alsa mau tak mau memakan suapan Ken.
"Gadis pintar," puji Ken sambil mengelus rambut Alsa lembut. Air mata Ken mengalir melihat sosok Alsa di depannya, penuh ketakutan dan tertekan.
Bukan ini yang Ken mau, bukan dengan cara seperti ini yang lelaki itu inginkan untuk mendapatkan Alsa.
Namun rasa cintanya pada Alsa yang besar, sudah menutup mata hatinya. Melakukan hal yang kotor sekalipun asalkan bisa memiliki gadis itu, akan ia lakukan dengan senang hati.
__ADS_1
Ia berhak bahagia, pikir Ken egois.
_________Tbc.